Melahirkan

10 Komplikasi Persalinan, Kenali Penyebab hingga Cara Mengatasinya

May 27, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tidak semua persalinan berjalan lancar. Beberapa ibu hamil ada yang mengalami komplikasi persalinan. Beberapa kondisi membutuhkan bantuan khusus. 

Komplikasi persalinan ini lebih berisiko untuk mereka yang pernah operasi caesar sebelumnya atau hamil di usia cukup tua. Berikut penjelasan lebih lengkap tentang komplikasi yang terjadi selama proses melahirkan. 

Baca Juga: Ini Lho! Berbagai Reaksi Kecemasan Jelang Persalinan, Moms Perlu Tahu!

10 komplikasi persalinan yang umum terjadi

Berikut daftar komplikasi persalinan, penyebabnya hingga perawatan dan tindak pencegahan yang bisa dilakukan oleh ibu hamil

1. Proses persalinan yang lama

American Pregnancy Association mendefinisikan persalinan lama berlangsung lebih dari 20 jam, jika itu adalah persalinan pertama. Bagi yang sudah pernah melahirkan, proses persalinan dianggap gagal berlanjut jika sudah lebih dari 14 jam. 

Beberapa penyebab persalinan lama di antaranya:

  • Pelebaran serviks lambat
  • Penipisan serviks lambat
  • Bayi besar
  • Jalan lahir atau panggul kecil
  • Bayi lebih dari satu
  • Faktor emosional, khawatir, stres dan ketakutan.

Untuk mengatasinya dokter akan menyarankan rileks dan menunggu. Jalan-jalan, tidur atau mandi air hangat juga mampu membantu proses melahirkan lebih cepat. 

Jika tidak juga berhasil, dokter akan memberikan obat pemicu persalinan atau merekomendasikan operasi caesar. 

2. Kondisi janin yang tidak sehat

Kondisi janin yang tidak meyakinkan atau yang disebut dengan istilah gawat janin, adalah salah satu komplikasi persalinan yang perlu mendapat perhatian. 

Beberapa kondisi yang termasuk gawat janin antara lain:

  • Detak jantung bayi tidak teratur
  • Adanya masalah dengan otot dan gerakan
  • Cairan ketuban yang rendah
  • Penyebab dan kondisi yang mungkin mendasarinya yaitu:
  • Tingkat oksigen yang tidak mencukupi
  • Ibu mengalami anemia
  • Hipertensi saat kehamilan
  • Retardasi pertumbuhan intrauterine (IUGR) atau bayi tumbuh tidak sesuai harapan
  • Cairan ketuban bercampur dengan mekonium (tinja pertama yang dikeluarkan bayi setelah dilahirkan).

Komplikasi persalinan ini mungkin terjadi pada kehamilan yang berlangsung selama 42 minggu atau lebih. 

Untuk mengatasinya, dapat dilakukan beberapa hal seperti:

  • Meningkatkan hidrasi pada ibu hamil
  • Menjaga oksigenasi
  • Amnioinfusion, yaitu cairan dimasukkan ke dalam rongga ketuban untuk mengurangi tekanan pada tali pusat
  • Tokolisis, yaitu penghentian sementara waktu kontraksi jika diperlukan untuk menunda persalinan prematur
  • Dekstrosa hipertonik intravena, yaitu suntikan kalori dan sumber air untuk menghidrasi tubuh
  • Operasi caesar juga mungkin dilakukan untuk beberapa kasus tertentu. 

3. Asfiksia perinatal

Ini adalah komplikasi persalinan berupa gagal memulai dan mempertahankan pernapasan saat melahirkan. Ini bisa disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak memadai. 

Bisa juga disebabkan oleh:

  • Kadar oksigen rendah atau hipoksemia
  • Tingkat karbondioksida yang tinggi
  • Asidosis atau terlalu banyak asam dalam darah.

Biasanya kondisi ini akan menunjukkan gejala seperti detak jantung rendah, tingkat pH rendah yang menunjukkan keasaman tinggi. 

Berdampak pada bayi yang dilahirkan dengan skor APGAR (penilaian kondisi yang baru lahir) yang kurang. Dengan indikasi seperti:

  • Warna kulit yang kurang baik
  • Detak jantung rendah
  • Tonus otot lemah
  • Terengah-engah
  • Napas lemah
  • Cairan ketuban bernoda mekonium.

Setelah melahirkan, untuk mengatasi kondisi yang terjadi dapat memberikan pernapasan mekanis atau pengobatan tertentu sesuai kondisi. 

4. Distosia bahu

Distosia bahu adalah ketika kepala bayi sudah keluar melewati vagina tetapi bahu bayi masih tersangkut dan tidak bisa keluar. 

Ini tidak banyak terjadi, tetapi komplikasi persalinan ini mungkin terjadi dan menyebabkan setengah dari orang-orang yang mengalaminya berakhir dengan operasi caesar. 

Untuk yang akan melahirkan pervaginam atau normal, dokter sebelumnya sudah mengetahui kemungkinan distosia bahu dan mungkin melakukan:

  • Mengubah posisi ibu
  • Memutar bahu bayi secara manual
  • Mungkin juga dilakukan episiotomi atau operasi pelebaran jalan lahir untuk memberi ruang untuk bahu bayi. 

Komplikasi persalinan ini bersifat sementara dan dapat diatasi. Tetapi jika detak jantung bayi bermasalah, mungkin juga terjadi kondisi seperti:

  • Cedera pleksus brakialis janin, yang merupakan cedera saraf yang memengaruhi bahu, lengan dan tangan tetapi bisa sembuh seiring waktu.
  • Fraktur janin, yaitu tulang selangka patah, yang biasanya bisa disembuhkan.
  • Cedera otak hipoksia-iskemik, merupakan kondisi rendahnya suplai oksigen ke otak. Meski jarang terjadi, tetapi kondisi ini dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kerusakan otak.

5. Perdarahan hebat

Wanita yang melahirkan normal biasanya akan kehilangan sekitar 500 mililiter darah. Sementara saat operasi caesar rata-rata kehilangan darah hingga 1000 mililiter. 

Tapi perdarahan bisa terjadi setelahnya. Bisa 24 jam setelah melahirkan atau sampai 12 minggu kemudian untuk kasus perdarahan sekunder. 

Biasanya disebabkan karena tonus uterus. Umumnya juga, perdarahan terjadi setelah plasenta dikeluarkan, karena kontraksi rahim terlalu lemah dan tidak dapat memberi tekanan yang cukup pada pembuluh darah di tempat plasenta menempel. 

Perdarahan bisa menyebabkan tekanan darah rendah, gagal organ, syok hingga kematian. 

Perawatan yang dapat dilakukan untuk menghentikan perdarahan:

  • Penggunaan obat
  • Pijat rahim
  • Pengangkatan sisa plasenta
  • Mengikat pembuluh darah yang rusak
  • Operasi, kemungkinan laparotomi, untuk menemukan penyebab perdarahan, atau histerektomi, untuk mengangkat rahim.

Perdarahan yang berlebihan bisa mengancam jiwa, tetapi dengan bantuan medis yang cepat dan tepat, bisa diatasi baik.

Baca Juga: Mencukur Rambut Kemaluan Sebelum Melahirkan, Perlu atau Tidak?

6. Komplikasi persalinan berupa malposisi

Malposisi adalah posisi bayi yang dapat menyulitkan proses persalinan pervaginam. Posisi itu di antaranya:

  • Bayi menghadap ke atas
  • Sungsang, yaitu posisi bokong lebih dulu atau kaki lebih dulu
  • Menyamping, horizontal atau melintang.

Masalah posisi lainnya juga bisa berkaitan dengan tali pusar. Misalnya tali pusar melilit bayi, dikompresi atau tali pusat muncul sebelum bayi. 

Jika lilitan terjadi di leher, tali pusar tertekan atau muncul sebelum bayi, dibutuhkan bantuan medis untuk mengatasinya. 

7. Komplikasi persalinan plasenta previa

Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta menutupi jalan lahir. Mungkin terjadi pada mereka yang:

  • Pernah melahirkan sebelumnya, terutama yang sudah empat kali hamil atau lebih
  • Memiliki riwayat plasenta previa sebelumnya
  • Pernah operasi caesar
  • Riwayat operasi uterus
  • Kehamilan multiple
  • Berusai di atas 35 tahun
  • Memiliki fibroid
  • Merokok.

Jika terjadi biasanya dilakukan perawatan berupa:

  • Diawasi di rumah sakit untuk kasus yang parah
  • Transfusi darah
  • Operasi caesar, jika terjadi perdarahan tak berhenti atau jika detak jantung janin tidak meyakinkan.

Plasenta previa dapat memicu terjadinya plasenta akreta, yaitu suatu kondisi yang berpotensi mengancam nyawa. Di mana plasenta tidak dapat dipisahkan dari dinding rahim.

8. Komplikasi persalinan disproporsi sefalopelvis

Disproporsi sefalopelvis adalah kepala bayi tidak dapat melewati panggul ibu. Biasanya terjadi karena:

  • Bayi yang besar atau ukuran kepala besar
  • Posisi bayi yang tidak biasa
  • Panggul ibu kecil atau bentuknya yang tidak biasa.

Untuk mengatasinya biasanya diperlukan tindakan operasi caesar.

9. Uterus pecah

Uterus atau rahim yang pecah dapat meningkatkan risiko bayi kekurangan oksigen. Karena itu, biasanya diperlukan operasi caesar. 

Tanda-tanda terjadinya pecah rahim di antaranya:

  • Detak jantung bayi abnormal
  • Nyeri pada perut atau bekas luka ibu yang pernah operasi caesar
  • Pembukaan lambat
  • Perdarahan
  • Detak jantung ibu cepat dan tekanan darah rendah .

Perawatan dan pemantauan yang tepat dapat mengurangi risiko seirus. 

10. Persalinan cepat

Tahapan normal persalinan bisa memakan waktu selama 6 hingga 18 jam. Tetapi beberapa bisa terjadi dalam waktu yang lebih singkat, mulai dari 3 hingga 5 jam. Persalinan itu disebut persalinan cepat. 

Beberapa kondisi yang menyebabkan persalinan cepat:

  • Ukuran bayi yang lebih kecil dari rata-rata
  • Kontraksi rahim yang efisien dan kuat
  • Jalan lahir yang baik
  • Riwayat persalinan cepat.

Jika mengalaminya dapat memberikan dampak seperti:

  • Ibu merasa tidak terkendali
  • Tidak cukup waktu pergi ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan
  • Meningkatkan robekan pada vagina, perdarahan dan syok setelah melahirkan.

Risiko pada bayi meliputi:

  • Bayi minum cairan ketuban
  • Kemungkinan infeksi yang tinggi, jika persalinan terjadi di lokasi yang tidak steril.
  • Segera hubungi dokter jika merasakan tanda persalinan segera tiba, gunakan teknik pernapasan dan tenangkan pikiran agar lebih terkendali. 
  • Tetap berada di tempat steril dan berbaring miring atau telentang sambil menunggu datangnya bantuan medis. 

Demikian beberapa komplikasi persalinan yang umum terjadi. Semoga informasi ini dapat membantu ibu hamil yang sedang menyiapkan persalinannya. 

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Medical News Today, diakses 25 Mei 2021
Ten common labor complications
WebMd, diakses 25 Mei 2021
Childbirth Complications
Healthline, diakses 25 Mei 2021
Complications During Pregnancy and Delivery
Verywellfamily, diakses 25 Mei 2021
Complications During Labor and Delivery

    register-docotr