Kehamilan

Wajib Tahu, Ini Penyebab Janin Tidak Berkembang dan Cara Penanganannya

March 6, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Janin tidak berkembang bisa menimbulkan beberapa gejala, termasuk gejala awal kehamilan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor tertentu. Yuk, ketahui selengkapnya mengenai penyebab janin tidak berkembang berikut ini.

Baca juga: Begini Tanda Rahim Sudah Bersih atau Belum setelah Alami Keguguran

Mengenal kondisi janin tidak berkembang

Janin tidak berkembang dalam dunia medis dikenal sebagai blighted ovum. Bligted ovum juga dikenal sebagai kehamilan kosong. Kondisi ini dapat terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim tidak berkembang menjadi embrio (bakal janin).

Blighted ovum berbeda dengan intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR sendiri merupakan suatu kondisi yang terjadi ketika pertumbuhan janin terjadi secara tidak normal.

Pada kondisi janin tidak berkembang dan tidak terdapat embrio, sementara plasenta tetap menghasilkan hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon ini dirancang untuk mendukung kehamilan.

Berdasarkan laporan Webmd, janin tidak berkembang akan meyebabkan keguguran pada trimester pertama kehamilan.

Sebelum mengetahui penyebab janin tidak berkembang, ketahui terlebih dahulu gejalanya

Pada awalnya, kondisi ini terasa mirip dengan kehamilan normal. Sebab, tubuh terus memproduksi hormon, termasuk hCG, yang mana ini dapat menyebabkan gejala awal kehamilan.

Seorang wanita yang mengalami kondisi ini masih mendapatkan hasil tes kehamilan positif serta mengalami gejala awal kehamilan.

Ketika sel telur yang telah dibuahi tidak dapat berkembang menjadi embrio, kadar hCG mulai turun dan gejala kehamilan mulai menghilang. Pada titik ini, tanda-tanda keguguran dapat terjadi.

Adapun beberapa gejala dari blighted ovum yang berhubungan dengan kehamilan di antaranya adalah:

  • Tes kehamilan yang positif
  • Payudara terasa nyeri
  • Tidak mengalami menstruasi

Sedangkan, gejala keguguran di antaranya adalah:

  • Munculnya bercak darah (spotting) atau perdarahan vagina
  • Kram perut
  • Nyeri payudara yang hilang dengan sendirinya

Penyebab janin tidak berkembang

Melansir dari laman Healthline, kondisi ini tidak disebabkan oleh apapun, baik itu selama atau sebelum kehamilan. Pada dasarnya, penyebab pasti dari kondisi ini masih belum diketahui.

Meskipun demikian, kelainan kromosom yang terjadi di dalam sel telur yang telah dibuahi diduga sebagai penyebab dari janin tidak berkembang. Faktor genetik atau kualitas sel telur atau sperma yang kurang baik juga dapat menyebabkan hal tersebut.

Di sisi lain, kondisi ini juga dapat terjadi karena pembelahan sel yang tidak normal. Tubuh dapat menghentikan kehamilan karena tubuh mengenali ketidaknormalan tersebut.

Baca juga: Tak Hanya USG! Pemeriksaan Kehamilan secara Rutin Penting Dilakukan bagi Ibu Hamil Lho

Cara penanganan janin tidak berkembang

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) diperlukan untuk mendeteksi kondisi ini. Kondisi ini dapat terjadi antara minggu ke-8 dan 13 kehamilan.

Lamanya periode kehamilan, riwayat kesehatan, serta faktor lainnya akan dipertimbangkan ketika dokter akan memutuskan suatu pilihan pengobatan.

Dikutip dari What to Expect, berikut adalah beberapa pengobatan untuk menangani kondisi ini.

Expectant management

Expectant management adalah menunggu keguguran terjadi secara alami. Jika tubuh mengenali embrio tidak berkembang, isi dari dalam rahim akan dikeluarkan, yang mana ini dapat menyebabkan perdarahan yang kondisinya mirip dengan menstruasi berat.

Penggunaan obat-obatan tertentu

Jika hormon yang dihasilkan embrio menyebabkan rahim tetap menopang kehamilan, pemberian obat-obatan tertentu mungkin saja akan digunakan untuk mengeluarkan janin yang tidak berkembang dari dalam rahim.

Meskipun demikian, pengobatan ini memerlukan waktu beberapa hari bagi tubuh untuk mengeluarkan janin. Tak hanya itu, perdarahan lebih hebat dan efek samping tertentu juga dapat terjadi. Namun, kondisi tersebut dapat diobati.

Pembedahan

Penanganan kondisi ini juga dapat melibatkan prosedur pembedahan. Prosedur pembedahan untuk menangani kondisi ini dikenal sebagai prosedur dilatasi dan kuretase (D dan C). Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat jaringan plasenta dari rahim.

Apakah kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi pada kehamilan selanjutnya?

Ketika kondisi ini terjadi, tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Penting untuk diketahui bahwa seorang wanita yang pernah mengalami kondisi ini dapat memiliki kehamilan yang sehat.

Sebaiknya, konsultasikanlah pada dokter, sebelum mencoba hamil kembali. Pada umumnya, dokter akan menyarankan untuk menunggu hingga tiga siklus menstruasi.

Hal tersebut dilakukan agar tubuh memiliki waktu untuk pulih sepenuhnya sehingga siap mendukung kehamilan yang sehat.

Selama masa tersebut, sebaiknya berfokuslah pada gaya hidup sehat, seperti:

  • Mengonsumsi makanan bergizi dan makan dengan baik
  • Hindari stres
  • Berolahraga
  • Konsumsi suplemen prenatal dengan kandungan folat

Itulah beberapa informasi mengenai gejala, penyebab, serta penanganan janin tidak berkembang. Untuk mengetahui informasi ini lebih lanjut, kamu juga dapat berkonsultasi dengan dokter ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline (2017). Diakses pada 25 Februari 2021. What You Should Know About Blighted Ovum, Miscarriage, and Future Pregnancies

What to Expect (2020). Diakses pada 25 Februari 2021. What Is a Blighted Ovum? 

What to Expect (2021). Diakses pada 25 Februari 2021. Intrauterine Growth Restriction (IUGR) in Pregnancy 

Webmd (2019). Diakses pada 25 Februari 2021. Blighted Ovum 

    register-docotr