Kehamilan

Hipertensi pada Ibu Hamil dan Komplikasinya yang Perlu Diwaspadai

July 17, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil adalah kondisi yang umum terjadi. Dilansir dari cdc.gov, di Amerika Serikat hipertensi pada ibu hamil memengaruhi 6 hingga 8 persen wanita yang mengandung di usia 20 hingga 44 tahun.

Meski umumnya kondisi ini dapat ditangani dengan perawatan medis, namun ada beberapa kondisi hipertensi yang dapat membahayakan kondisi ibu dan janinnya. Untuk itu, berikut penjelasan lebih lanjut mengenai hipertensi selama kehamilan yang perlu kamu ketahui.

Baca Juga: Jangan Dulu Stres, Begini Cara Mengatasi Posisi Bayi Sungsang

Apa itu hipertensi pada ibu hamil?

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat diartikan dengan kondisi tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Jika kondisi tersebut terjadi selama kehamilan, maka disebut sebagai hipertensi pada ibu hamil.

Dalam dunia medis dikenal tiga jenis hipertensi pada wanita hamil, yaitu:

1. Hipertensi kronis

Hipertensi kronis adalah kondisi saat ibu hamil sudah memiliki tekanan darah tinggi sebelum kehamilan dimulai. Atau mulai mengalami kenaikan tekanan darah 20 minggu pertama kehamilannya.

2. Hipertensi gestasional

Hipertensi ini umumnya bersifat sementara dan cenderung menghilang setelah melahirkan. Biasanya, wanita mengalami hipertensi gestasional setelah melewati 20 minggu pertama usia kehamilannya.

3. Preeklampsia

Wanita dengan preeklampsia akan memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan atau bahkan setelah melahirkan. Jika tidak ditangani serius, kondisi ini bisa membahayakan.

Jika terlambat mendapat perawatan, dapat menyebabkan komplikasi seperti keguguran, bayi lahir prematur atau gangguan pada organ tubuh lainnya pada ibu hamil.

Apa yang menyebabkan hipertensi pada ibu hamil?

Ada berbagai macam penyebab terjadinya hipertensi pada ibu hamil. Namun beberapa penyebab yang umum terjadi antara lain:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Kurang aktivitas fisik
  • Merokok
  • Minum minuman beralkohol
  • Kehamilan pertama
  • Riwayat keluarga yang mengalami hipertensi selama kehamilan
  • Usia lebih dari 35 tahun
  • Kehamilan yang dibantu teknologi seperti fertilisasi in vitro atau IVF
  • Mengidap diabetes atau autoimun tertentu.

Apakah hipertensi pada ibu hamil dapat membahayakan?

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hipertensi pada ibu hamil bisa diatasi jika terdiagnosis dengan cepat. Namun, jika kondisi dibiarkan dapat menyebabkan komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan bayinya. Berikut komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu hamil dengan hipertensi:

Komplikasi dari preeklampsia

Jenis hipertensi preeklampsia bisa dibilang kondisi yang serius dibandingkan jenis lainnya. Karena paling mungkin menyebabkan komplikasi. Komplikasi tersebut berupa kerusakan organ ibu. Organ yang umumnya terpengaruh adalah otak dan ginjal.

Selain itu, preeklampsia yang tak ditangani juga dapat memburuk, yang kemudian disebut dengan eklampsia. Eklampsia sendiri biasanya berupa serangan kejang pada ibu hamil.

Sindrom HELLP

HELLP adalah singkatan dari hemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet count. Hemolysis atau hemolisis mengacu pada kerusakan sel darah merah, yang dapat menyebabkan anemia.

Elevated liver count adalah kondisi enzim hati meningkat. Ini menandakan organ hati tidak berfungsi dengan baik. Jika sel hati meradang atau luka akan membuat sejumlah kandungan kimia tercampur ke dalam darah.

Low platelet count adalah jumlah trombosit yang rendah. Jika trombosit rendah maka seseorang akan memiliki risiko perdarahan yang lebih tinggi dari kondisi normal.

Sindrom HELLP adalah kelainan langka yang umumnya terjadi di trimester ketiga kehamilan. Meski langka dan hanya memengaruhi sekitar satu persen ibu hamil, kamu tetap perlu mewaspadainya. Karena sindrom ini seringkali hanya dianggap sebagai flu biasa.

Sindrom HELLP memang memiliki gejala seperti flu biasa, namun disertai dengan sakit perut di bagian atas, pembengkakan di tangan atau wajah dan juga sakit pada bahu.

Jika mengalami gejala tersebut selama kehamilan sebaiknya segera konsultasikan pada dokter. Karena sindrom ini dapat berkembang menjadi kondisi yang membahayakan seperti menimbulkan komplikasi pecahnya hati, gagal ginjal, perdarahan saat melahirkan serta komplikasi lainnya.

Selain dua hal di atas, hipertensi selama kehamilan juga dapat menyebabkan gangguan lain seperti:

  • Bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Bayi lahir prematur
  • Solusio plasenta atau plasenta terlepas sebelum waktunya
  • Melahirkan harus melalui operasi caesar.

Baca Juga: Hati-hati! Konsumsi Makanan Ini, Bisa Jadi Penyebab Amandel Bengkak

Bagaimana cara mengatasi hipertensi pada ibu hamil?

Sebelum menentukan perawatan hipertensi saat kehamilan, dokter akan melihat usia kandungan. Jika sudah melebihi 37 minggu, dokter mungkin akan memajukan waktu kelahiran bayi.

Jika belum 37 minggu, dokter akan memantau kondisi ibu dan bayinya, dengan beberapa prosedur seperti pemantauan denyut jantung bayi dan memeriksa pertumbuhan bayi.

Dokter juga akan memberikan beberapa obat untuk dikonsumsi selama kehamilan. Umumnya ada dua obat berbeda. Satu obat untuk menurunkan tekanan darah dan satu lagi obat antikonvulsan seperti magnesium sulfat, untuk mencegah kejang pada ibu dengan preeklampsia.

Pada kasus tertentu, dokter juga dapat memberikan suntikan steroid untuk membantu paru-paru bayi agar lebih cepat matang.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Medlineplus diakses 13 Juli 2020 High Blood Pressure in Pregnancy 
  2. CDC diakses 13 Juli 2020 High Blood Pressure During Pregnancy 
  3. Healthline diakses 13 Juli 2020 High Blood Pressure During Pregnancy
  4. Healthline diakses 13 Juli 2020 HELLP Syndrome
    register-docotr