10 Tips Efektif Menghadapi Anak Pelaku Bullying

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Perundungan atau bullying adalah hal yang kerap terjadi pada anak-anak. Dilansir dari Kidshealth.org, dalam sebuah survei nasional, kebanyakan anak dan remaja mengatakan bahwa perundungan memang terjadi di sekolah. 

Bullying dapat meninggalkan luka emosional yang dalam pada korbannya. Dalam situasi ekstrem, bullying dapat melibatkan ancaman kekerasan dan menyebabkan luka fisik. Namun, bagaimana jika ternyata anak Moms adalah pelaku dari bullying tersebut? 

Memahami bullying yang dilakukan anak

Bullying bisa berupa penyiksaan yang disengaja secara fisik, verbal atau psikologis. Bentuknya bisa berupa ancaman, ejekan, memeras hingga kekerasan fisik. 

Jika dibiarkan, dampaknya bisa serius dan memengaruhi harga diri anak yang mengalaminya. Dalam kasus yang parah bisa menyebabkan depresi hingga tindakan bunuh diri. 

Alasan melakukan bullying atau perundungan

Ada berbagai alasan yang mendasari terjadinya kondisi bully. Ada anak yang merasa memiliki kelebihan seperti merasa populer atau penting, menganggap ada orang lain yang lebih lemah dan dapat dijadikan sasaran rasa emosionalnya. 

Sementara ada juga yang melakukan kekerasan atau bully karena anak tersebut juga mengalami hal serupa. Mereka mungkin berpikir itu adalah hal yang normal. 

Atau bahkan ada yang mengalaminya di dalam keluarga, seperti diperlakukan kasar oleh orang tua atau saudara, sehingga menganggap bully adalah hal yang wajar. 

Namun, jika orang tua mengetahui atau mendapat laporan sang anak melakukan bully, Moms harus mencari tahu alasan lebih pastinya dari sang anak. Berikut tips yang bisa Moms lakukan jika mengetahui anak melakukan bully kepada temannya.

10 tips bagi orang tua menghadapi anak pelaku bullying

Ada banyak tahapan yang perlu dilakukan orang tua, sehingga Moms butuh realistis menerima jika masalah ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Butuh kesabaran dan melihat proses dari setiap tahapan berikut ini.

1. Bicaralah dengan anak

Anak-anak mungkin tidak mengerti jika yang mereka lakukan salah. Mereka mungkin hanya menganggapnya sebagai “senang-senang” dan tidak menyadari dampaknya. Bantu mereka memahami apa itu bully dan tekankan itu perilaku negatif dan tidak pantas.

2. Cari tahu alasan perilaku tersebut

Katakan bahwa Moms ingin mengetahui alasannya melakukan bullying. Mulailah pembicaraan dengan sikap terbuka dan tidak menghakimi. Moms dapat bertanya kepada anak bagaimana perasaannya, apakah dia ditindas oleh orang lain, atau anak juga ditekan untuk melakukan bullying.

3. Pastikan tindakan bullying bukan karena faktor anak penyandang disabilitas

Terkadang, anak penyandang disabilitas yang memiliki gangguan emosi dan perilaku tertentu atau interaksi sosial yang terbatas. Kadang itu disalahartikan sebagai penindasan. Jika anak melakukan bullying karena faktor disabilitas, Moms tetap butuh menjelaskannya kepada anak.

4. Buat rencana pencegahan agar bullying tidak terulang

Perilaku anak masih dapat diubah, tetapi itu tidak akan terjadi begitu saja. Tentunya anak butuh paham bahwa bullying adalah tindakan yang salah. Kemudian Moms perlu memahami situasinya.

Selanjutnya, mencari cara agar anak dan korban sama-sama bisa mengatasi situasi. Kemudian, menentukan siapa yang perlu dilibatkan.

5. Ajarkan empati, rasa hormat dan kasih sayang

Anak-anak yang menindas seringkali kurang menyadari perasaan orang lain. Cobalah untuk mengenalkan anak tentang memahami dan menghargai perasaan orang lain ketika mereka diintimidasi. Biarkan anak tahu bahwa setiap orang memiliki perasaan dan perasaan itu penting.

6. Jelaskan konsekuensi perbuatan anak

Beritahu anak bahwa selanjutnya bullying tidak seharusnya terjadi lagi. Tidak masalah jika sama-sama menemukan konsekuensi atas perilaku mereka, jika bullying terulang.

Tegas menjalankan konsekuensi jika anak terbukti mengulang bullying. Dalam hal ini konsekuensi bisa berupa kehilangan hak istimewa bermain atau melakukan hal yang disukainya. Atau hal lain yang akan memberi efek jera.

7. Berikan contoh pada anak

Bantu anak memahami berbagai cara untuk menyelesaikannya konflik dan menghadapi perasaan seperti kemarahan, ketidakamanan, atau frustrasi. Ajarkan dan hargai perilaku yang sesuai.

Misalkan Moms memberikan pikirannya seolah Moms adalah anak korban bullying, agar anak memahami dampak tindakannya.

8. Berikan apresiasi pada anak

Ketika anak berhasil mengatasi konflik dengan baik, berhasil menunjukkan empati dan menghargai orang lain, atau menemukan cara yang positif untuk mengatasi perasaan, berikan anak apresiasi.

Hal positif dapat membantu meningkatkan perilaku dan biasanya lebih efektif daripada hukuman.

9. Bicara kepada guru atau pihak sekolah

Bicara pada pihak sekolah bisa membantu untuk mengawasi anak atau mungkin ada cara-cara lain yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk membantu anak. Kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua dapat membantu mengatasi bullying di sekolah.

10. Mintalah bantuan dari profesional

Jika belum merasa tenang dengan kondisi anak yang menjadi pelaku bullying, cobalah konsultasi dan mendengarkan dukungan dari dokter anak, profesional berbasis agama atau psikolog yang dapat membantu Moms memahami kondisi anak.

Demikian tips yang bisa Moms coba lakukan, jika mengetahui anak menjadi pelaku bullying

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info parenting lainnya? Silakan chat langsung dokter kami untuk konsultasi. Caranya, buka aplikasi Grab kemudian pilih fitur Kesehatan, atau langsung klik di sini.

Kidshealth.org, diakses 9 Oktober 2020 Helping Kids Deal With Bullies
Childmind.org, diakses 9 Oktober 2020 My Child Is a Bully: What Should I Do?
Pacer.org, diakses 9 Oktober 2020 What if Your Child Is the One Showing Bullying Behavior?

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin