Kanker Lain

Deodoran Antiperspirant Disebut Memicu Kanker, Mitos atau Fakta?

February 5, 2021 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Apakah kamu suka menggunakan deodoran antiperspirant? Lalu pernahkah kamu mendengar kabar bahwa deodoran antiperspirant dapat memicu kanker? Kabar ini ternyata tersebar luas lewat sosial media, internet, maupun secara mulut ke mulut di masyarakat. 

Mitos yang beredar pun menyebutkan kalau deodoran antiperspirant memiliki kandungan aluminium yang kemudian diserap ke dalam kulit sehingga dapat mencegah racun keluar dari tubuh. Lantas benarkah begitu? Bagaimana faktanya dalam dunia medis?

Sekilas tentang deodoran dan antiperspirant 

Kamu mungkin sering menggunakan deodoran antiperspirant setelah mandi atau sebelum beraktivitas di luar rumah. Deodoran antiperspirant dianggap sebagai produk kombinasi yang praktis menggabungkan dua zat agar mencegah tubuh dari bau, keringat, serta bakteri.

Deodoran dan antiperspirant pada dasarnya adalah dua zat yang berbeda. Deodoran adalah zat berfungsi untuk membunuh bakteri. Biasanya deodoran mengandum parfum dan etanol yang bekerja sebagai antibakteri.

Dilansir dari BBC, Dr Gavin Thomas, dari Departemen Biologi di Universitas York, pun menjelaskan cara kerja deodoran.”Deodoran modern bekerja seperti bom nuklir di ketiak. Ia akan menghambat atau membunuh banyak bakteri untuk mencegah bau badan,” jelasnya. 

Sementara antiperspirant merupakan zat kimia yang mengandung aluminium klorida. Antiperspirant bekerja untuk mengurangi jumlah keringat yang dikeluarkan dengan menyumbat pori-pori kulit yang mengarah ke kelenjar keringat untuk sementara. 

Kedua zat tersebut bekerja dengan cara dan tujuan berbeda. Kamu juga bisa menemukan produk yang mengandung deodoran saja, antiperspirant saja, atau kombinasi keduanya. 

Baca juga: Benjolan di Payudara Tak Selalu Kanker, Ini Ulasannya!

Penelitian terkait deodoran antiperspirant dan kanker

Banyak orang yang menjadi khawatir setelah mendengar mitos yang beredar tersebut. Kandungan aluminium yang ada dalam produk deodoran antiperspirant juga disebut memicu kanker payudara. 

Namun faktanya beberapa penelitian tidak dapat menemukan bukti tersebut. Lewat penelitian yang dilakukan pada 2016, ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan antiperspirant maupun deodoran dengan risiko terkena kanker payudara.

Beberapa lembaga besar seperti National Cancer Institute dan American Cancer Society juga sudah memberikan konfirmasi bahwa kabar deodoran atau antiperspirant dapat memicu kanker adalah mitos belaka. 

Baca juga: Kanker Payudara pada Pria: Kenali Gejala dan Penyebabnya

Kandungan dalam deodoran dan antiperspirant 

Kabar soal deodoran dan antiperspirant yang dianggap sebagai pemicu kanker juga seringkali dikaitkan dengan bahan dasar produk. Terutama alumunium dan paraben yang banyak membuat masyarakat khawatir. 

Efek alumunium

Baik deodoran maupun antiperspirant umumnya mengandung alumunium sebagai bahan aktif. Aluminium membantu mencegah keringat dengan cara menghalangi kelenjar keringat agar tidak mencapai permukaan kulit.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa aluminium dapat diserap ke dalam tubuh dan mengubah cara sel payudara menerima estrogen.

Memang penelitian menemukan bahwa alumunium dapat terserap oleh tubuh sebesar 0,012 persen. Namun kandungan aluminium tersebut dianggap tidak memengaruhi risiko kanker payudara.

Namun bila kamu memiliki gangguan ginjal, tanyakanlah kepada dokter apakah harus menghindari produk yang mengandung aluminium.

Jika ginjal  tidak dapat menghilangkan aluminium yang terserap dalam tubuh karena fungsinya menurun, produk ini mungkin tidak aman

Efek paraben

Paraben adalah bahan kimia yang sering digunakan dalam produk makanan maupun kulit dan kecantikan sebagai pengawet. 

Dilansir dari American Cancer Society, mengonsumsi terlalu banyak paraben dapat mengkhawatirkan karena paraben memiliki sifat seperti estrogen.

Estrogen ini dapat menyebabkan sel-sel di payudara membelah dan menggandakan diri. Sehingga wanita yang memiliki kadar estrogen tinggi lebih berisiko lebih terkena kanker payudara.

Namun estrogen alami dalam tubuh wanita diperkirakan ribuan kali lebih kuat dari paraben. Sehingga belum ada bukti yang kuat menunjukkan apakah paraben cukup kuat untuk menyebabkan perubahan pada sel payudara. 

Temuan ini tentunya dapat kembali menegaskan bahwa deodoran maupun antiperspiran tidak memicu kanker. Di samping itu menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, sebagian besar merek deodoran dan antiperspiran tidak mengandung paraben

Lewat berbagai bukti dan temuan, produk deodoran dan antiperspirant tidak terbukti memicu kanker. Dengan begitu, kamu bisa menggunakannya tanpa rasa khawatir. Namun bila kamu mengalami iritasi kulit akibat penggunaan produk tersebut, berkonsultasilah dengan dokter.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!  

Reference
    register-docotr