Kesehatan Anak

Ini Tanda-Tanda Muntah pada Bayi dan Anak yang Harus Moms Waspadai!

March 17, 2021 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Muntah adalah kondisi yang umum dan normal terjadi pada bayi dan anak-anak kecil. Pada banyak kasus, muntah-muntah akan membaik dalam sehari hingga dua hari.

Namun, ada kondisi tertentu di mana muntah merupakan gejala dari kondisi medis yang berbahaya. Pelajari apa saja tanda muntah-muntah pada anak dan bayi yang harus diwaspadai pada ulasan berikut ini!

Perbedaan muntah dan “gumoh”

Selama tahun pertama kehidupan, biasanya bayi sering meludah atau spit out dan gumoh. Bayi baru lahir memiliki sfingter yang belum matang antara esofagus dan perut, yang memungkinkan makanan untuk keluar lagi dengan mudah.

Pada bayi yang lebih tua, sedikit susu bisa keluar saat bersendawa. Muntah, di sisi lain, lebih kuat dan mungkin disebabkan oleh infeksi atau kondisi mendasar yang mungkin memerlukan perhatian medis.

Muntah juga bisa menjadi tanda atau gejala dari adanya suatu kondisi medis tertentu. Maka dari itu Moms harus memahami berbagai kondisi medis yang mungkin sebabkan muntah pada si Kecil.

Sementara jika bayi tidak memiliki gejala lain dan keluarnya cairan tampak biasa saja, kemungkinan bayi hanya gumoh atau mengeluarkan ludah biasa.

Meludah seharusnya berkurang seiring bertambahnya usia. Pastikan untuk berbicara dengan dokter jika bayi gumoh setiap kali dia makan dan berat badannya tidak bertambah. 

Baca Juga : Daftar Makanan yang Tepat Diberikan saat Anak Mengalami Muntah Berat

Penyebab muntah pada bayi dan anak-anak

Ada banyak faktor penyebab yang bisa membuat anak muntah, termasuk penyakit, mabuk perjalanan, stres, dan masalah lainnya.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab muntah pada bayi dan anak serta gejala lain yang mungkin menyertainya:

1. Gastroenteritis

Penyebab paling umum dari muntah pada anak dan bayi adalah gastroenteritis. Ini adalah infeksi usus yang biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri, yang juga menyebabkan diare .

Gastroenteritis, sering disebut “flu perut”. Selain menyebabkan muntah, juga bisa menyebabkan mual, sakit perut, dan diare. Infeksi gastroenteritis biasanya tidak berlangsung lama dan lebih mengganggu daripada berbahaya. 

Tetapi anak-anak (terutama bayi) yang tidak cukup minum dan juga diare bisa mengalami dehidrasi. Ini berarti tubuh mereka kehilangan nutrisi dan air, yang menyebabkan penyakit lebih lanjut.

Selain muntah, berikut beberapa gejala gastroenteritis:

  • Diare
  • Demam
  • Sakit perut.

2. GERD

Pada bayi dengan GERD, makanan kembali dari perut ke kerongkongan karena otot esofagus tidak cukup kuat untuk menahannya, menyebabkan komplikasi dari refluks asam.

Jika gumoh bayi memburuk seiring berjalannya waktu dan dia memiliki gejala lain, dokter mungkin mendiagnosis GERD.

Selain bayi muntah, gejala GERD umum lainnya meliputi:

  • Penolakan untuk makan
  • Menangis atau melengkungkan punggung saat menyusui, yang mungkin berarti bayi kesakitan
  • Kerewelan setelah menyusui
  • Darah atau warna hijau di ludah
  • Desah 
  • Batuk.

3. Mabuk perjalanan

Anak-anak juga kerap mengalami muntah akibat mual di tengah perjalanan. Mabuk perjalanan terjadi saat kita bergerak dan sinyal dari telinga bagian dalam, mata, otot, dan persendian tidak sesuai dengan cara otak memproses gerakan. 

Selain muntah, berikut gejala lain yang mungkin terjadi pada anak-anak saat mabuk perjalanan:

  • Mual
  • Menguap
  • Berkeringat
  • Kulit pucat atau biru atau selaput lendir
  • Kurang minat pada makanan.

4. Alergi atau intoleransi makanan

Jika bayi dan anak muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu, bisa jadi itu adalah tanda alergi atau intoleransi pada makanan tertentu.

Sekitar 90 persen dari semua alergi makanan disebabkan oleh kacang tanah, kacang pohon, susu, telur, kedelai, dan gandum. 

Berikut gejala lain dari alergi atau intoleransi makanan selain muntah:

  • Ruam kulit
  • Gatal-gatal
  • Pembengkakan pada bibir atau lidah
  • Mata berair
  • Bersin.

5. Keracunan makanan

Bakteri bawaan makanan seperti salmonella atau E. coli dapat menyebabkan gejala gastrointestinal termasuk muntah.

Keracunan makanan adalah tersangka utama jika seluruh keluarga sakit dengan gejala yang sama di waktu yang sama, kemungkinan karena sesuatu yang dimakan semua orang. 

Gejala keracunan makanan lainnya mungkin termasuk:

  • Diare
  • Demam
  • Sakit perut
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Kelemahan.

6. Radang usus buntu

Radang usus buntu adalah infeksi yang relatif umum tetapi serius yang paling umum terjadi pada anak-anak 10 tahun dan lebih muda tetapi sangat jarang terjadi pada anak di bawah 3 tahun. 

Selain muntah, gejala radang usus buntu antara lain:

  • Sakit perut yang biasanya terjadi di sekitar pusar dan mungkin berpindah ke bagian kanan bawah perut; itu mungkin datang dan pergi dan menjadi semakin intens
  • Kehilangan selera makan
  • Demam rendah
  • Diare 
  • Perut bengkak.

7. Stenosis pilorus 

Stenosis pilorus adalah penyempitan otot sfingter pilorus (otot yang terletak di antara lambung dan usus kecil) yang mencegah makanan masuk ke usus kecil.

Kondisi ini biasanya dimulai saat bayi kamu berusia antara 2 minggu dan 2 bulan. Dokter mungkin mencurigai adanya stenosis pilorus jika bayi muntah secara paksa setelah menyusu.

Berikut gejala yang memerlukan pemeriksaan dengan dokter:

  • Bayi muntah sangat kuat dalam waktu 30 menit setelah menyusu
  • Muntahan berdarah 
  • Rasa lapar terus menerus (karena bayi tidak cukup mencerna makanan)
  • Dehidrasi 
  • Sembelit
  • Penurunan berat badan
  • Kontraksi seperti gelombang (dikenal sebagai gerak peristaltik) di perut bayi kamu setelah makan

Baca Juga : Catat Ya, Moms! Ini 4 Pertolongan Pertama saat Anak Muntah Terus

Kapan harus menghubungi dokter?

Jika si Kecil mengalami muntah dan mengalami gejala penyerta dari faktor penyebab di atas, sebaiknya segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan tepat.

Selain itu, Moms juga harus segera melarikan si Kecil ke rumah sakit apabila kondisinya:

  • Muntah berulang kali dan tidak bisa menahan cairan 
  • Terus muntah selama lebih dari 24 jam
  • Memiliki tanda-tanda dehidrasi, termasuk lebih sedikit BAB (atau lebih jarang bepergian ke toilet), urine lebih gelap, mata cekung, tangisan tanpa air mata atau kelesuan
  • Muntahan berwarna hijau atau berdarah
  • Floppy atau tampak kurang responsif
  • Sangat mudah tersinggung
  • Mengalami sakit perut yang parah
  • Muntah secara paksa atau hebat
  • Memiliki perut yang keras atau buncit
  • Adanya pembengkakan atau nyeri pada skrotum (pada anak laki-laki)
  • Memiliki kulit pucat atau biru, kesulitan bernapas atau kehilangan kesadaran setelah makan (yang mungkin menandakan alergi makanan).

Moms juga harus segera menghubungi dokter anak jika Moms mencurigai adanya keracunan makanan dan anak mengalami:

  • Muntah lebih dari 12 jam
  • Diare yang tidak membaik dalam dua hari 
  • Demam di atas 37,5 ° C
  • Feses yang berdarah atau hitam
  • Muntahan berdarah
  • Sakit perut yang parah
  • Tanda-tanda dehidrasi .

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Kids Health. Diakses pada 16 Maret 2021. Vomiting

What to Expect. Diakses pada 16 Maret 2021. Types of Vomiting in Babies and Toddlers

NHS. Diakses pada 16 Maret 2021. Vomiting in children and babies

Fair View. Diakses pada 16 Maret 2021. What to Do When Your Child Is Vomiting

    register-docotr