Kesehatan Anak

Ruam Popok Bikin si Kecil Rewel? Jangan Panik Moms, Begini Cara Mengatasinya!

August 18, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

LMR-CH-20210728-24

Dibanding orang dewasa, kulit bayi masih cenderung sensitif dan rentan mengalami berbagai masalah, salah satunya adalah ruam popok. Moms tentu tak ingin si Kecil menangis dan rewel terus-menerus karena tak nyaman, bukan? Nah, untuk mengatasinya, simak ulasan berikut ini, yuk!

Perbedaan kulit bayi dengan orang dewasa

Ada beberapa perbedaan pada kulit bayi dan orang dewasa. Bukan hanya tekstur permukaan, tapi juga secara fungsi dan mekanismenya, misalnya soal perlindungan matahari dan pengaturan suhu. Berikut sejumlah perbedaan antara kulit bayi dan orang dewasa1:

Tekstur kulit

Jika dilihat dari permukaannya, Moms mungkin akan langsung bisa membedakan antara kulit bayi dan orang dewasa. Ini karena kandungan air pada bayi lebih sedikit sehingga kulit si Kecil lebih kering ketika lahir. Namun, seiring bertambahnya usia, kulit bayi akan lebih terhidrasi.

Selain itu, kolagen juga ikut andil dalam kekenyalan kulit bayi. Namun seiring berjalannya waktu, volumenya akan berkurang dan memengaruhi tekstur atau struktur kulitnya. Menurut penelitian2, hal tersebut bisa dilihat dari tipisnya kulit bayi yang akan perlahan menebal.

Perbedaan fungsional

Kulit bayi sedikit lebih peka terhadap lingkungan dan faktor eksternal lain. Tekstur yang masih tipis membuat kulit bayi rentan mengalami iritasi dan gangguan seperti eksim. Secara fungsional, kulit bayi dan orang dewasa memiliki perbedaan seperti:

  • Perlindungan matahari: Kulit bayi lebih peka terhadap paparan ultraviolet dari sinar matahari. Meski, kerusakan pada kulitnya mungkin bersifat kumulatif alias dari waktu ke waktu. Bayi bisa diberi tabir surya untuk melindungi kulitnya yang masih sensitif.
  • Pengaturan suhu: Bayi mempunyai kelenjar keringat (di bawah lapisan kulit) yang lebih sedikit ketimbang orang dewasa. Artinya, bayi sangat rentan terhadap fluktuasi suhu. Itulah alasan mengapa bayi sering dipakaikan selimut atau baju berlapis agar tak kedinginan.
  • Tingkat pH: Bayi punya tingkat pH lebih tinggi, membuatnya lebih rentan mengalami masalah akibat pertumbuhan mikroba jahat3.

Kondisi ruam popok pada bayi

Seperti yang telah disebutkan, sensitivitas kulit bayi masih relatif tinggi. Ini membuat bayi berpotensi mengalami banyak masalah, salah satunya adalah ruam popok (diaper rash).

Kondisi ruam popok. Sumber foto: Shutterstock.

Ruam popok adalah salah satu peradangan yang dalam dunia medis disebut dengan dermatitis. Ruam popok sering kali ditandai dengan kemerahan pada kulit di sekitar bokong, paha, perut bagian bawah, dan alat kelamin.

Bayi juga akan berperilaku tidak nyaman seperti rewel dan menangis terus-menerus, termasuk ketika Moms sedang mengganti popok dan menyentuh kulitnya4,5.

Ruam popok sendiri bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti:

  • Kulit bayi bersentuhan dengan feses atau urine dalam waktu yang relatif lama
  • Popok bergesekan dengan kulit bayi, termasuk akibat baju yang terlalu ketat
  • Tidak ada udara yang masuk ke kulit bayi di sekitar bokong dan alat kelamin
  • Popok jarang dibersihkan dan diganti
  • Kulit bayi tidak cocok dengan kandungan sabun dan detergen yang dipakai
  • Bayi mengonsumsi antibiotik
  • Infeksi bakteri atau jamur yang terjadi sebelumnya, menyebar ke daerah bokong, paha, dan alat kelamin.

Di Indonesia sendiri, menurut penelitian6, kasus ruam popok memengaruhi sekitar 7 hingga 35 persen bayi laki-laki dan perempuan berusia di bawah tiga tahun. Jumlah balita di Indonesia diperkirakan ada 22 juta jiwa. Sepertiga di antaranya mengalami kondisi ruam popok.

Perawatan untuk ruam popok

Bayi yang mengalami ruam popok bisa rewel dan menangis dalam waktu lama karena merasa tidak nyaman. Moms tak perlu panik, karena ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, di antaranya adalah3,7,8:

Bersihkan kulit

Moms perlu membersihkan urine dan feses pada area popok setiap kali bayi buang air kecil dan buang air besar. Saat membersihkan kulitnya, jangan digosok berlebih, tapi lakukan dengan lembut.

Untuk sabun yang dipakai, usahakan jangan menggunakan pembersih dengan pH yang tinggi. Setelah dibersihkan, keringkan kulit bayi dengan cara ditepuk-tepuk atau menggunakan handuk berbahan lembut. 

Ganti popok secara rutin

Jangan biarkan kontak kulit dan feses berlangsung terlalu lama, serta sebisa mungkin periksa popok setiap jam. Jika mengetahui bahwa popok telah basah atau padat, segera ganti dengan yang baru. Cara membersihkannya adalah sebagai berikut:

  1. Bersihkan seluruh area kulit sekitar paha, bokong, dan alat kelamin secara menyeluruh
  2. Usap dari depan ke belakang
  3. Gunakan tisu khusus bayi
  4. Setelah itu, keringkan area kulit yang telah dibersihkan
  5. Pastikan kulit bokong bayi benar-benar kering sebelum dipakaikan popok kembali.

Gunakan salep pelindung

Selain dua cara di atas, Moms bisa menggunakan salep pelindung yang mengandung moisturizer atau pelembap, karena dapat meningkatkan fungsi pertahanan kulit si Kecil.

Hindari salep yang mengandung asam borat, fenol, benzokain, dan difenhidramin, karena bisa menjadi senyawa berbahaya untuk kulit bayi.

Syarat dan kriteria sediaan topikal yang aman dan ideal

Memilih salep untuk mengobati ruam popok tak boleh sembarangan. Setidaknya ada sembilan syarat atau kriteria yang perlu diperhatikan, yaitu3:

  1. Terbukti keamanan dan efikasi klinisnya pada bayi
  2. Meningkatkan perlindungan alami kulit bayi
  3. Mempertahankan tingkat kelembapan secara optimal
  4. Mengandung bahan-bahan dengan keamanan dan manfaat yang terdokumentasi
  5. Tidak mengandung bahan yang tak diperlukan
  6. Tidak mengandung bahan yang berpotensi beracun
  7. Tidak mengandung bahan yang berpotensi meningkatkan sensitivitas, seperti wewangian
  8. Tidak mengandung antiseptik atau pengawet
  9. Mudah digunakan.

Sediaan topikal yang aman untuk bayi

Tergantung dari penyebabnya, penggunaan obat topikal atau salep biasanya cukup efektif dalam mengatasi ruam popok pada bayi. Berikut beberapa sediaan obat topikal yang bisa Moms pertimbangkan9:

  • Panthenol: Panthenol atau vitamin B5 mempunyai manfaat untuk memulihkan berbagai gangguan kulit, salah satunya ruam popok pada bayi.
  • Lanolin: Produk ini mengandung senyawa alami dari domba, bisa melembapkan kulit bayi yang meradang. Lanolin mengandung bahan alami, sehingga penggunaannya lebih aman untuk kulit si Kecil.
  • Beeswax: Zat yang terbuat secara alami dari sarang lebah madu, bisa menjaga kesehatan kulit dan mengobati infeksi jamur10.
  • Glyceryl oleate: Selain dapat menjaga kesehatan kulit, zat ini juga berfungsi sebagai emulsifier yang membuat banyak kandungan lain pada obat topikal bekerja sempurna11.
  • Acid mantle: Krim yang berfungsi mengembalikan pH alami kulit. Urine dan feses bersifat asam, bisa membuat kulit bayi menjadi kasar akibat pH yang berbeda. Obat topikal ini dapat membantu menenangkan luka pada ruam.

Atasi ruam popok pada bayi dengan Bepanthen

Moms tak perlu repot mencari salep dengan kandungan-kandungan seperti yang telah disebutkan, karena Bepanthen bisa menjadi solusi yang tepat. Membawa triple action formula, Bepanthen bekerja dengan cara melembutkan, melindungi, dan merawat kulit bayi setiap hari.

Itu semua tak lepas dari berbagai kandungan yang dimiliki, seperti lanolin, panthenol (vitamin B5), beeswax, glyceryl oleate, dan masih banyak lagi. Moms tak perlu khawatir soal keamanannya, karena Bepanthen sudah teruji klinis dan hanya mengandung bahan-bahan yang diperlukan oleh kulit bayi.

Cara pakainya juga sangat mudah, cukup oleskan Bepanthen secara tipis dan merata ke permukaan kulit yang akan tertutup popok serta daerah lipatan seperti paha dan selangkangan. Jadi, dapatkan segera Bepanthen agar kulit si Kecil tetap terlindungi!

Reference

1. Think Skin. Adult vs Baby Skin. Diunduh dari Think Skin. Diakses 30 Juni 2021.

2. Stamatas G, Nikolovski J, et al. National Library of Medicine. Infant skin microstructure assessed in vivo differs from adult skin in organization and at the cellular level. 2010;27(2):125-31.

3. Atherton D, Proksch E, et al. Selfcare Journal. Irritant diaper dermatitis supplement part 1: best practice management.

4. Mayo Clini Diaper rash. Diunduh dari Mayo Clinic. Diakses 30 Juni 2021.

5. NHS UK. Nappy rash. Diunduh dari NHS UK. Diakses 30 Juni 202

6. Wigati D, Sitorus E, Jurnal Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan An-Nur Purwodadi. The Effect of use olive oil on baby’s diaper. 6 No.1 Tahun 2021.

7. Diaper Rash Treatment & Management. Diunduh dari Medscape. Diakses 30 Juni 2021.

8. Diaper Rash. Diunduh dari KidsHealth. Diakses 30 Juni 2021,

9. Verywell Family. Choosing a Diaper Rash Cream. Diunduh dari Verywell Family. Diakses 30 Juni 2021.

10. WebMD. Beeswax. Diunduh dari WebMD. Diakses 30 Juni 2021.

11. SAGE Pub. 6 Final Report on the Safety Assessment of Glyceryl Oleate. Diunduh dari SAGE Pub. Diakses 30 Juni 2021.

    register-docotr