Kesehatan Anak

Apa Saja Risiko dan Dampak yang Timbul akibat Anak Tidak Diimunisasi?

August 3, 2022 | Arianti Khairina
feature image

Menurut Kemkes, imunisasi merupakan sebuah proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memasukkan vaksin, yaitu virus atau bakteri yang sudah dilemahkan. Tujuannya agar anak mendapatkan sistem kekebalan tubuh dan terhindar dari penyakit berbahaya. Namun, apa saja risiko dan dampak yang akan timbul akibat anak tidak diimunisasi? 

Risiko dan dampak yang timbul akibat anak tidak diimunisasi

akibat anak tidak diimunisasi
Source: freepik.com

Melansir penjelasan dari laman UNICEF, terdapat 7 risiko muncul akibat anak tidak diimunisasi. Tak hanya berdampak pada anak itu sendiri, namun juga akan memengaruhi keluarga hingga lingkungan sekitarnya. 

1. Anak jadi lebih rentan terkena penyakit  

Perlu kamu ketahui bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai macam penyakit. Padahal jika melakukan imunisasi dengan benar, maka dapat mencegah penyakit-penyakit seperti hepatitis, TBC, batuk rejan, dan difteri. 

Tak hanya itu saja, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan lain seperti campak, diare, pneumonia, kebutaan, bahkan hingga malnutrisi. 

2. Meningkatkan risiko sakit bagi anggota keluarga lain 

Anak yang tidak diimunisasi juga lebih berisiko menulari orang lain di sekitarnya seperti keluarga terdekat yang berada di dalam satu rumah. Begitu pula sebaliknya, anak yang tidak diimunisasi pun lebih berisiko tertular penyakit. 

3. Berisiko menyebabkan wabah penyakit di lingkungan

Kasus-kasus penyakit menular dapat berkembang luas menjadi wabah mematikan di masyarakat. Berdasarkan alasan tersebut, pemerintah masih terus memberikan imunisasi polio kepada anak. 

Namun, bila jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi bertambah banyak, maka penyakit-penyakit berbahaya yang selama bertahun-tahun berhasil dicegah dapat kembali mewabah dengan cepat. 

4. Anak yang mengalami komplikasi penyakit, membutuhkan banyak biaya tinggi untuk pengobatan dan perawatan

Ketika seorang anak terkena penyakit, maka tidak hanya sekadar berdampak langsung terhadap penderita dan keluarganya, tapi juga pada aspek lain. Di mana dalam proses penyembuhannya akan membutuhkan banyak biaya dan memakan waktu.

5. Terjadinya penurunan kualitas hidup

Perlu kamu ketahui juga bahwa penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi ternyata memiliki risiko komplikasi hingga mengakibatkan disabilitas secara permanen. 

Sebagai contohnya, campak menyebabkan kebutaan. Selain itu, ada juga kelumpuhan sebagai gejala terberat yang dikaitkan dengan polio karena dapat menimbulkan disabilitas permanen hingga kematian. 

6. Meningkatkan risiko penurunan harapan hidup

Vaksinasi tidak lengkap juga meningkatkan risiko penurunan angka harapan hidup. Pasalnya, menurut data yang dilansir dari UNICEF, menunjukkan bahwa anak tidak menerima imunisasi lengkap lebih mungkin tertular berbagai penyakit, sehingga angka harapan hidupnya pun menurun. 

7. Adanya batasan saat melakukan perjalanan dan bersekolah

Terakhir, adanya batasan saat melakukan perjalanan dan bersekolah bagi anak-anak yang belum diimunisasi secara lengkap. Pasalnya, beberapa negara telah menetapkan persyaratan imunisasi lengkap bagi warga asing yang hendak berkunjung. 

Apabila tidak diimunisasi, anak dapat kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di negara-negara tersebut. Tak hanya itu saja, kini juga semakin banyak sekolah yang mencantumkan aturan imunisasi lengkap saat melakukan pendaftaran. 

Tujuan dari aturan imunisasi lengkap tersebut tentu agar semua anak dan warga sekolah terlindung dari penyakit yang dapat dicegah. Sehingga dapat dengan nyaman menikmati hak belajarnya secara penuh di sekolah.

Jenis penyakit yang mungkin timbul akibat anak tidak diimunisasi

akibat anak tidak diimunisasi
Source: freepik.com/jcomp

Apabila anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, maka mereka akan lebih berisiko terkena beberapa jenis penyakit berbahaya berikut, seperti: 

  • Campak.
  • Gondong (peradangan kelenjar ludah di samping wajah akibat virus).
  • Rubella atau campak Jerman.
  • Difteri (infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan).
  • Tetanus (akibat bakteri yang mengakibatkan otot kaku dan tegang).
  • Pertusis atau Batuk Rejan (infeksi saluran pernapasan dan paru-paru).
  • TBC (penyakit bakteri menular yang berpotensi serius. Umumnya menyerang paru-paru).
  • Polio (virus yang dapat menyebabkan kelumpuhan).
  • Hepatitis B, yaitu peradangan di bagian organ hati yang disebabkan oleh virus.

Baca juga: Rapel Imunisasi Jika si Kecil Telat Divaksin, Apakah Diperbolehkan?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference
  1. Unicef.org (2021) diakses pada 3 Agustus 2022. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin
  2. Euro.who.int (2012) diakses pada 3 Agustus 2022. If you choose not to vaccinate your child, understand the risks and responsibilities
  3. Caringforkids.cps.ca (2022) diakses pada 3 Agustus 2022. When parents choose not to vaccinate: Risks and responsibilities
  4. Promkes.kemkes.go.id (2016) diakses pada 3 Agustus 2022. Pentingnya Imunisasi
    register-docotr