Info Parenting

Lingkar Kepala Balita Normal Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin, Moms Wajib Tahu!

June 22, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Sebagai orangtua, Moms perlu mengetahui tentang ukuran lingkar kepala balita normal. Sebab, ukuran yang terlalu kecil atau terlalu besar bisa mengindikasikan adanya masalah, seperti kondisi mikrosefali atau makrosefali.

Lantas, berapa ukuran lingkar kepala bayi yang normal? Bagaimana cara mengukurnya yang benar? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Mengatasi Perut Kembung pada Bayi Tak Boleh Sembarangan! Berikut Ini Caranya

Sekilas tentang lingkar kepala bayi

Lingkar kepala adalah jarak antara bagian tengah dahi dan bagian belakang kepala. Banyak orangtua mengabaikan hal tersebut. Padahal, lingkar kepala bayi yang tidak normal bisa mengindikasikan berbagai gangguan, misalnya masalah pada tulang tengkorak dan otak.

Sejak dilahirkan, lingkar kepala bayi berukuran sekitar dua sentimeter lebih besar dari dadanya. Ini akan berlangsung hingga bayi berusia enam bulan. Setelah memasuki usia empat bulan, pertumbuhan ukuran kepalanya akan cenderung melambat.

Dalam rentang usia enam bulan hingga dua tahun, ukuran lingkar kepala bayi akan sama dengan lebar dadanya. Namun, sesudah beranjak dari usia dua tahun, tubuh bayi akan tumbuh lebih cepat dari kepalanya.

Mengukur lingkar kepala bayi

Pemantauan ukuran lingkar kepala dan ubun-ubun bayi merupakan penilaian pertumbuhan anak yang bisa menunjukkan kesehatan dan pertumbuhan otaknya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan, pengukuran sebaiknya dilakukan hingga anak berusia dua tahun.

Menggunakan pita ukur yang tidak elastis, lingkar kepala diukur dari bagian atas alis, melewati bagian atas telinga, sampai bagian paling menonjol di belakang kepala.

Ukuran lingkar kepala balita normal

Ukuran lingkar kepala bayi setelah dilahirkan hingga usia dua tahun berkisar antara 35 sampai 49 cm. Namun, hal itu dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelaminnya. Ya, anak laki-laki dan perempuan punya ukuran lingkar kepala yang berbeda.

Berikut lingkar kepala balita normal berdasarkan jenis kelamin dan rentang usianya, seperti dikutip dari laman resmi IDAI:

Bayi laki-laki:

  • Usia 0 – 6 bulan: 34 – 43,5 cm
  • Usia 6 -12 bulan: 43,5 – 46 cm
  • Usia 1 –  2 tahun: 46 – 48,3 cm
  • Usia 2 –  3 tahun: 48,3 – 49,5 cm
  • Usia 3 – 4 tahun: 49,5 – 50,3 cm
  • Usia 4 – 5 tahun: 50,3 – 50,8 cm

Bayi perempuan:

  • Usia 0 – 6 bulan: 34 – 42 cm
  • Usia 6 -12 bulan: 42 – 45 cm
  • Usia 1 –  2 tahun: 45 – 47,2 cm
  • Usia 2 –  3 tahun: 47,2 – 48,5 cm
  • Usia 3 – 4 tahun: 48,5 – 49,4 cm
  • Usia 4 – 5 tahun: 49,4 – 50 cm

Ukuran kepala yang terlalu besar atau kecil

Penting untuk selalu melakukan pengukuran secara berkala kepada kepala bayi. Seperti yang telah disebutkan, lingkar kepala balita yang tidak normal (terlalu besar atau terlalu kecil) bisa mengindikasikan adanya masalah, seperti mikrosefali atau makrosefali.

Mikrosefali

Mikrosefali adalah kondisi neurologis yang langka. Bayi atau anak yang mengidapnya memiliki ukuran kepala yang lebih kecil. Terkadang, hal itu juga berdampak pada ukuran otaknya. Perkembangan otak yang abnormal kerap terjadi pada bayi dengan kondisi tersebut.

Mikrosefali bisa berkembang setelah bayi dilahirkan atau dalam periode tahun pertama kehidupan. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut, yaitu:

  • Kelainan genetik atau kromosom, seperti down syndrome
  • Infeksi virus selama kehamilan, seperti rubella, toksoplasmosis, cacar air, dan Zika
  • Gizi buruk
  • Anoksia serebral, yaitu kondisi penurunan pengiriman oksigen ke otak janin
  • Paparan ibu hamil terhadap alkohol, racun, dan obat-obatan terlarang, menyebabkan bayi mengalami kelainan otak

Mikrosefali bisa berdampak pada banyak aspek dalam kehidupan bayi dan anak, seperti sulit belajar dan berjalan, masalah pada keseimbangan, gangguan pendengaran, penglihatan berkurang, hingga hiperaktif.

Makrosefali

Makrosefali adalah kebalikan dari mikrosefali, yaitu kondisi yang mengacu pada ukuran kepala terlalu besar. Keadaan tersebut bisa dipicu oleh banyak hal, misalnya faktor keturunan atau kelebihan cairan pada otak (hidrosefalus). Makrosefali juga bisa disebabkan oleh:

  • Tumor otak
  • Perdarahan intrakranial
  • Sindrom genetik dan kondisi metabolisme tertentu
  • Infeksi tertentu

Makrosefali dibedakan menjadi dua, yaitu jinak dan parah. Bayi dengan makrosefali jinak hanya mengalami gejala pembesaran lingkar kepala. Sedangkan pada kasus yang parah, ini dapat memicu banyak gangguan, seperti keterlambatan perkembangan mental dan pertumbuhan tubuh.

Nah, itulah ulasan tentang lingkar kepala balita normal dan cara mengukurnya yang bisa Moms terapkan. Untuk deteksi dini dan meminimakan risiko makrosefali dan mikrosefali, selalu ukur lingkar kepala buah hati tercinta secara berkala, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan anak dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Firstcry Parenting, diakses 14 Juni 2021, Infant Head Circumference – Age By Age Chart.
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diakses 14 Juni 2021, Kurva Pertumbuhan WHO.
  3. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), diakses 14 Juni 2021, PENTINGNYA PENGUKURAN LINGKAR KEPALA DAN UBUN-UBUN BESAR.
  4. Medical News Today, diakses 14 Juni 2021, What to know about microcephaly.
  5. Healthline, diakses 14 Juni 2021, Macrocephaly.

    register-docotr