Info Parenting

Helicopter Parenting, Bagaimana Dampaknya bagi Anak?

June 17, 2022 | Arianti Khairina | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Setiap orang tua pasti memiliki cara tersendiri untuk mengasuh anak. Dengan banyaknya metode pengasuhan anak saat ini membuat kamu bisa menyesuaikan mana yang kira-kira cocok untuk diterapkan pada anak. Salah satunya adalah jenis helicopter parenting

Apa itu helicopter parenting?

Menurut penjelasan dari laman Very Well Family, helicopter parenting adalah salah satu cara atau metode orang tua untuk mengasuh anaknya dengan sangat memperhatikan kegiatan dan tugas sekolah anak-anak.

Tujuannya untuk melindungi anak dari rasa sakit dan kecewa, serta membantu agar bisa mencapai  kesuksesan di masa depan. Dapat dikatakan bahwa metode helicopter parenting ini membuat orang tua menjadi terlalu terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka.

Secara sederhananya, metode ini sebenarnya menggambarkan orang tua yang terlalu protektif terhadap anak-anak. Banyak orang tua memilih metode pengasuhan seperti ini karena disebabkan oleh beberapa faktor.

Penyebab orang tua melakukan metode helicopter parenting 

Pola asuh helicopter parenting ini berkembang atau menjadi pilihan orang tua karena empat pemicu umum, yaitu: 

1. Rasa takut berlebihan jika anak mengalami kegagalan

Pemicu pertama adalah rasa takut orang tua pada anak. Contohnya seperti takut anak mendapatkan nilai rendah di sekolah, tidak dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya, tidak bisa mencapai kesuksesan di dunia kerja nantinya. Hal tersebut yang membuat orang tua merasa berhak untuk ikut terlibat dalam setiap langkah kehidupan sang anak. 

2. Perasaan cemas orang tua

Kekhawatiran tentang ekonomi, dunia pekerjaan, dan masa depan secara umum dapat mendorong orang tua untuk mengambil kendali lebih besar atas kehidupan anak. Orang tua merasa berhak karena ingin melindungi mereka. 

3. Tidak ingin membuat anak merasakan pola asuh yang dialami oleh orang tua

Pada umumnya, orang tua memutuskan untuk melakukan helicopter parenting ini karena dulunya mereka merasa tidak dicintai atau diabaikan sebagai anak.

Jadi, memberikan perhatian dan pemantauan yang berlebihan adalah upaya untuk memperbaiki kekurangan yang dirasakan orang tua dalam pengasuhan mereka dulu.

4. Adanya tekanan dari orang tua lain

Ketika melihat orang tua lain terlibat dengan kehidupan anaknya, hal itu ternyata tanpa sadar bisa menjadi pemicu timbulnya helicopter parenting. Terkadang dengan mengamati orang tua lain yang mengasuh secara berlebihan, itu akan mendorong kamu untuk melakukan hal yang sama.

Apa dampak helicopter parenting untuk perkembangan anak?

Sebenarnya menurut penjelasan Healthline, helicopter parenting adalah salah satu pola asuh modern yang kontroversial. Namun, dengan adanya keterlibatan orang tua juga membuat kehidupan anak-anak mampu mencapai keberhasilan di masa depan. 

Meskipun begitu, ternyata ada juga penelitian lain yang menunjukkan bahwa keterlibatan pada kehidupan anak secara terus-menerus dapat menyebabkan mereka kesulitan di sekolah bahkan hingga dewasa.

Berikut beberapa dampak helicopter parenting seperti dilansir dari laman International School Parent

1. Membuat anak tidak dapat mengambil keputusan sendiri

Helicopter parenting sangat melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan untuk anak-anak, sehingga mengurangi keterampilan mereka dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan sendiri. 

Hal tersebut ternyata berdampak pada fungsi otak anak saat mereka tumbuh besar. Sama halnya dengan otot, jika tidak diberi kesempatan untuk berolahraga, tentu tidak akan tumbuh secara substansial, artinya keterampilan otak bagian ini juga akan tertinggal apabila tidak dilatih sejak kecil. 

2. Reaksi emosional

Selain itu, jika orang tua terlalu memegang kendali atas situasi yang dialami oleh anak sebelum mereka mencoba menangani tantangannya sendiri, ini akan sangat menghambat kemampuannya untuk mengatur diri. 

Menurut penjelasan juga diketahui bahwa anak berusia 2 tahun yang terpapar pola asuh semacam ini pada akhirnya kurang mampu mengatur emosi dan perilaku mereka sendiri pada usia 5 tahun. 

3. Kurangnya rasa percaya diri

Keterlibatan yang terlalu berlebihan membuat anak percaya bahwa orang tua tidak akan mempercayai mereka jika melakukan sesuatu hal secara mandiri. Oleh karena itu, ini menyebabkan kurangnya kepercayaan diri. 

Perlu kamu ketahui bahwa ketika orang tua terlalu ikut campur dengan semua urusan anak, itu akan menghilangkan kesempatan mereka untuk menjadi kreatif, memecahkan masalah, bahkan dapat menghambat untuk mengetahui siapa dirinya. 

4. Kurangnya kecerdasan emosional pada anak

Ketika orang tua selalu ada untuk mengatasi semua masalah yang ditimbulkan oleh anak, ini akan membuat mereka tidak bisa belajar melalui kegagalan, kekecewaan atau kehilangan suatu hal. 

Dengan cara seperti ini, secara tidak langsung orang tua menghilangkan kesempatan anak untuk belajar dari kesalahan yang mereka buat. Sehingga pelajaran hidup yang tidak mereka dapatkan tersebut akan berdampak besar pada kecerdasan emosional anak.

5. Menimbulkan gangguan mental pada anak 

Pola asuh helicopter parenting meningkatkan tingkat depresi dan kecemasan pada anak. Saat tumbuh dewasa mereka akan selalu mencari arahan atau petunjuk karena terbiasa mendengar dikte dari orang tua. Dan apabila dibiarkan sendiri, anak bisa menjadi terlalu gugup saat mengambil keputusan. 

Nantinya, anak-anak yang mengalami pola asuh helicopter parenting akan kurang terbuka terhadap ide dan aktivitas baru serta lebih rentan dan cemas. Tak hanya itu saja, masalah lain yang ditimbulkan yaitu rasa takut berlebihan pada anak karena mereka tidak pernah mengalami kegagalan. 

6. Menimbulkan dampak rasa memiliki yang berlebihan pada anak

Ketika orang tua melibatkan diri dalam kehidupan akademis bahkan sosial anak, tentu mereka akan terbiasa merasakan bahwa dirinya juga bisa berbuat hal yang sama sesuai dengan kebutuhan. Tentu seiring berjalannya waktu, membuat mereka menuntut hak untuk memiliki apapun yang diinginkan.

7. Memiliki sifat yang lebih dominan pada anak

Adanya kontrol dari orang tua yang berlebihan ternyata membuat bertindak lebih dominan untuk mendapatkan kembali hidup mereka. Dengan demikian, mereka cenderung menjadi mudah tersinggung dan kurang sabar ketika dihadapkan masalah yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. 

Lalu, bagaimana menghindari helicopter parenting yang berlebihan?

Agar tidak terlalu terlibat pada kehidupan anak ketika melakukan metode pengasuhan ini, kamu harus terlebih dahulu memikirkan efek jangka panjang yang ditimbulkan pada anak nantinya. 

Caranya kamu bisa tanyakan pada diri sendiri, apakah anak selalu mengandalkan orang tua untuk memperbaiki sesuatu? Apabila anak sudah cukup besar untuk melakukan sesuatu sendiri, sebaiknya biarkan tanpa campur tangan orang tua lagi. 

Kemudian, perbolehkan anak untuk membuat keputusan yang sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Selain itu, tak ada salahnya untuk membiarkan anak gagal. Meskipun sulit bagi sebagian orang tua, tetapi ini cara agar mereka bisa mengatasi kekecewaan.

Baca juga: 4 Gaya Parenting untuk Memberi Makan Anak, Kenali Dampaknya di Sini!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference

Parents.com (2019) diakses pada 14 Januari 2022. What Is Helicopter Parenting?

Verywellfamily.com (2020) diakses pada 14 Januari 2022. What Is Helicopter Parenting?

Healthline.com (2019) diakses pada 14 Januari 2022. What Is Helicopter Parenting?

Apa.org (2018) diakses pada 14 Januari 2022. Helicopter Parenting May Negatively Affect Children’s Emotional Well-Being, Behavior

Internationalschoolparent.com (2022) diakses pada 14 Januari 2022. HELICOPTER PARENTING: THE CONSEQUENCES

    register-docotr