Info Parenting

Tenang Atasi Kolik pada Bayi, Orangtua Bisa Lakukan Langkah Ini

September 6, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Tangisan pada bayi bisa memiliki bermacam arti. Bisa karena bayi merasa lapar, merasa kelelahan, memberi peringatan atau tidak nyaman atau karena sakit. Bisa juga karena kolik pada bayi.

Apakah kamu sudah pernah mendengar tentang bayi kolik? Bagi orangtua menenangkan bayi saat kolik memiliki tantangan tersendiri. Karena bayi menangis dalam waktu lama. Berikut penjelasan selengkapnya tentang bayi kolik mulai dari arti, penyebab hingga cara mengatasinya.

Apa itu kolik pada bayi?

Bayi kolik diartikan sebagai kondisi saat bayi menangis dalam waktu yang cukup panjang. Biasanya lebih dari 3 jam dalam sehari, dan terjadi lebih dari 3 hari dalam seminggu.

Waktu terjadinya kolik biasanya memuncak saat bayi berusia sekitar 6 minggu dan menurun signifikan setelah berusia 3 sampai 4 bulan, hingga menghilang dengan sendirinya. Kondisi ini seringkali membuat orangtua merasa stres, lantaran bayi sulit untuk ditenangkan.

Kolik terjadi pada bayi yang sehat dan bukan karena bayi lapar atau kesakitan. Lalu bagaimana caranya mengenali gejalanya?

Baca juga: Perkembangan Bayi 3 Bulan: Moms Bisa Mulai Tidur Nyenyak!

Kapan kolik mulai dan berakhir?

Umumnya kolik pada bayi tidak akan berlangsung terlalu lama. Sebagian besar serangan kolik dimulai saat bayi berusia sekitar 2 hingga 3 minggu, dan memuncak di sekitar 6 sampai 12 minggu.

Pada bayi prematur keluhan kolik biasanya muncul lebih dini, dan berlangsung lebih lama dari bayi yang lahir dari usia kehamilan cukup bulan.

Setelah 3 bulan, biasanya sebagian besar bayi kolik akan pulih dengan sendirinya. Ini bisa terjadi secara tiba-tiba, maupun bertahap dengan ditandai beberapa hari dengan gejala yang mereda, dan beberapa hari di mana gejalanya memburuk.

Apa perbedaan antara kolik dan tangisan biasa?

Tidak ada definisi yang jelas tentang bagaimana membedakan kolik dengan jenis tangisan lain pada umumnya.

Namun, dokter biasanya setuju bahwa tangisan yang disebabkan kolik suaranya lebih keras, intens, dan bernada lebih tinggi daripada tangisan normal. Tidak jarang tangisan kolik juga punya ciri khas yakni bernada hampir mirip dengan jeritan.

Bayi kolik juga umumnya akan terus menangis meski sudah dihibur, dan cenderung lebih banyak menangis sepanjang hari dibandingkan bayi tanpa kolik.

Beberapa gejala kolik pada bayi

Beberapa ciri berikut bisa membuat orangtua lebih cepat mengenali kolik, karena tangisan bayi berbeda dengan jenis tangisan lainnya, dengan ciri seperti:

  • Menangis tiba-tiba tanpa ada alasan. Bukan karena lapar, bukan karena popok yang tidak nyaman, bukan juga alasan tangisan bayi pada umumnya
  • Menangis di waktu yang sama setiap hari atau biasanya bayi akan mulai menangis di malam hari
  • Menangis setidaknya selama 3 jam secara terus-menerus
  • Suara tangisan lebih intens, seperti menjerit dan bernada tinggi
  • Sulit ditenangkan.

Apa yang menyebabkannya?

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab kolik. Namun, hal tersebut bisa terjadi karena berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi:

Indera yang terlalu terstimulasi

Bayi baru lahir memiliki mekanisme bawaan untuk menghilangkan penglihatan dan suara di sekitar mereka. Ini berfungsi untuk memudahkan mereka tidur dan makan tanpa terganggu oleh lingkungannya.

Namun, di menjelang akhir bulan pertama, mekanisme ini perlahan menghilang dan membuat bayi lebih sensitif terhadap rangsangan di sekitarnya.

Dengan begitu banyak sensasi baru yang datang pada mereka, beberapa bayi menjadi kewalahan, seringkali menangis tanpa henti untuk melepaskan stres itu. Inilah mengapa stimulasi terlalu banyak, atau sensitivitas terhadap cahaya, kebisingan dan sejenisnya sangat bisa membuat bayi mengalami kolik.

Pada kasus seperti ini, kolik baru akan berakhir ketika bayi belajar bagaimana menyaring beberapa rangsangan lingkungan dan menghindari kelebihan sensorik yang mereka miliki.

Sistem pencernaan yang belum matang

Sistem pencernaan pada bayi masih mengalami proses perkembangan. Ini bisa ditandai dengan adanya otot-otot yang sering kejang dan membuat bayi merasa kesakitan.

Selain itu, kemampuan bayi dalam mencerna makanan adalah tugas besar bagi sistem pencernaan mereka. Akibatnya, makanan bisa lewat terlalu cepat dan tidak terurai sepenuhnya, sehingga mengakibatkan rasa sakit akibat gas di usus. Semua ini bisa menjadi faktor penyebab kolik pada bayi.

Alergi atau sensitivitas makanan

Beberapa ahli percaya bahwa kolik juga bisa terjadi akibat alergi terhadap protein susu sapi pada bayi yang diberi susu formula.

Dan meskipun terbilang lebih jarang, tetapi kolik juga bisa terjadi sebagai reaksi terhadap makanan tertentu yang dikonsumsi oleh sang ibu. Alergi atau kepekaan ini dapat menyebabkan sakit perut yang dapat memicu perilaku kolik.

Refluks asam pada bayi

Penelitian telah menemukan bahwa GERD bayi (penyakit gastroesophageal reflux) dapat memicu episode kolik pada bayi.

Kondisi ini sering kali merupakan akibat dari sfingter esofagus bagian bawah yang tidak berkembang, dan otot yang membuat asam lambung mengalir kembali ke tenggorokan dan mulut, sehingga dapat mengiritasi kerongkongan.

Gejala yang ditimbulkan berupa sering meludah, pola makan yang buruk, dan mudah tersinggung selama dan setelah menyusui.

Kabar baiknya adalah kebanyakan bayi bisa mengatasi GERD pada usia 1 tahun, dan kolik biasanya telah berhenti sebelum ia menginjak usia ini.

Kolik pada bayi bisa disebabkan paparan tembakau

Dilansir dari Whattoexpect, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama atau setelah kehamilan lebih mungkin melahirkan bayi dengan kolik. Begitupun dengan perokok pasif, juga bisa menjadi penyebab bayi mengalami kolik.

Meskipun ada kaitannya, sampai dengan saat ini tidak jelas bagaimana asap rokok dapat dikaitkan dengan sakit perut khas kolik pada bayi.

Faktor lain penyebab kolik pada bayi

Selain faktor-faktor yang telah disebutkan, beberapa hal di bawah ini juga bisa memicu bayi mengalami episode kolik.

  • Hormon yang menyebabkan sakit perut
  • Perkembangan sistem saraf
  • Bentuk awal migrain masa kanak-kanak
  • Terlalu banyak asupan atau kurang bersendawa
  • Ketidakseimbangan bakteri sehat di saluran pencernaan
  • Adanya gas, karena bayi biasanya berserdawa saat menangis
  • Takut, stres, atau kecemasan.

Baca juga: Tak Hanya Menggemaskan, Yuk Intip Perkembangan Bayi 1 Bulan!

Bagaimana cara mengatasi bayi kolik?

kolik pada bayi
Bayi menangis karena mengalami kolik. Sumber foto: Shutterstock

Menenangkan bayi yang mengalami kolik memang akan menjadi tantangan. Untuk itu, orangtua perlu menyiapkan mental hingga bayi berhasil ditenangkan. Selain itu, ibu dan ayah harus bekerja sama untuk mengatasi kolik. Beberapa cara mengatasi yang bisa dicoba antara lain:

Menyusun strategi

Dengan menyusun strategi akan membuat orangtua lebih fokus apa yang selanjutnya akan dilakukan. Karena tangisan bayi biasanya tak selalu langsung berhenti di percobaan pertama. Berikut daftar strategi yang bisa dicoba untuk menenangkan tangisan bayi:

  • Membawa bayi berjalan-jalan dengan stroller atau dengan mobil
  • Menggoyangkan bayi sambil berjalan-jalan
  • Menyelimuti bayi
  • Membuat bayi merasa hangat
  • Menggosok lembut perut bayi atau mengusap punggungnya
  • Memutar suara detak jantung atau suara lainnya yang menenangkan
  • Jika tak mempan gunakan white noise atau suara yang bisa menyamarkan kebisingan di sekitar. Bisa menggunakan penyedot debu atau pengering pakaian
  • Meredupkan cahaya dan membatasi stimulasi visual lainnya

Dot antikolik

Kamu bisa gunakan dot yang memang dirancang khusus sebagai antikolik untuk memberikan susu kepada bayi. Prinsip kerja dari dot antikolik adalah mengurangi udara yang bisa masuk ke tubuh bayi saat mereka sedang meminum susu.

Dot anti kolik ini memiliki harga yang relatif lebih mahal daripada dot biasa. Namun, yang perlu diingat, dia hanya mencegah kolik, bukan mengurangi kolik yang sudah terjadi pada anak.

Ubah cara pemberian susu

Jika memberikan ASI menggunakan botol, perhatikan kembali posisi botol. Pastikan posisi botol tegak untuk mengurangi asupan udara. Setelah minum ASI pastikan juga bayi berserdawa.

Baca Juga: Yuk, Kenali Penyakit ADHD pada Anak Sejak Dini

Perubahan pola makan pada ibu

Jika ibu masih memberikan ASI dan sedang meminum obat tertentu, sebaiknya konsultasikan pada dokter apakah itu berpengaruh pada bayi. Dokter mungkin saja akan meminta ibu menghentikan obat dan melakukan beberapa perubahan pola makan untuk menunjang kesehatan ibu.

Atau ibu juga diminta menghindari beberapa asupan yang mungkin berpengaruh pada bayi dan menyebabkan kolik. Umumnya ibu menyusui diminta melakukan diet makanan yang berpotensi mengiritasi seperti kol, bawang atau minuman berkafein.

Selain itu, orangtua juga perlu mengingat, menghadapi kolik pada bayi dapat menyebabkan rasa kesal. Karena itu orangtua juga perlu menjaga diri dan jika merasa kelelahan cari bantuan dari keluarga atau pengasuh. Ingat ini hanya sementara dan orangtua pasti bisa mengatasinya.

Kolik abdomen

Kondisi ini merupakan sakit atau nyeri yang tajam di perut yang sifatnya hilang timbul dan bersumber dari organ yang terdapat pada abdomen. Penyebab dari kolik abdomen adalah infeksi pada organ hingga sumbatan dari organ perut.

Pada orang dewasa, kolik ini tidak hanya terjadi di abdomen saja, tapi juga di saluran kemih. Beberapa jenis kolik abdomen pada orang dewasa antara lain:

Kolik bilier

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh batu empedu. Batu empedu sendiri merupakan cairan empedu yang mengeras dan menyerupai batu serta menyumbat saluran yang menghubungkan kantung empedu dengan pankreas yang ada di hati.

Penyumbatan ini bisa menyebabkan inflamasi dan nyeri dan membuat pencernaan kamu bermasalah. Beberapa gejala yang timbul adalah nyeri yang mendadak dan terjadi di bagian kanan perut di bawah tulang dada atau lebih di tengah abdomen.

Rasa sakit yang timbul biasanya terasa sangat intens tapi secara umum dia tidak akan berlangsung lebih dari beberapa jam.

Kolik renal

Dilansir Healthline, setidaknya satu dari 10 orang di dunia akan mengalami kolik renal. Rasa nyeri yang tiba-tiba dan intensi ini biasanya berkaitan dengan batu ginjal atau sumbatan di kandung kemih.

Batu yang menyerupai kristal ini mengandung kalsium dan substansi lainnya yang dapat terbentuk di antara ginjal hingga uretra. Uretra sendiri adalah saluran yang membawa urine dari buli-buli hingga ke luar tubuh.

Rasa sakit karena kolik renal ini terjadi  di lokasi di mana batu tersebut berada. Selain rasa nyeri, gejala lain dari penyumbatan saluran kemih adalah:

  • Rasa sakit ketika buang air kecil
  • Urine berbau dan berdarah
  • Mual
  • Muntah-muntah

Kolik intestinal

Salah satu bentuk kolik abdomen ini terjadi di usus besar atau halus. Rasa sakit yang timbul biasanya disebabkan oleh sumbatan yang membuat makanan dan cairan tidak dapat melewati saluran pencernaan, penyebab pastinya adalah:

  • Terbentuknya jaringan parut akibat operasi di abdomen atau panggul yang pernah kamu lakukan
  • Kelainan pada intestinal yang menyebabkan inflamasi, salah satunya adalah Crohn’s disease
  • Inflamasi atau infeksi pada diverticula
  • Tumor dan kanker

Selain rasa sakit di abdomen, gejala dari kolik ini adalah:

  • Usus tidak bisa bergerak dengan baik
  • Muntah-muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Kembung di perut

Cara mengatasi kolik pada orang dewasa

Berbeda dengan cara mengatasi kolik pada bayi yang biasanya penyebabnya tidak berbahaya dan tidak membutuhkan obat apapun. Beberapa obat pereda nyeri yang biasa dipakai untuk kolik pada bayi adalah simethicone, dicyclomine dan cimetropium.

Sedangkan untuk orang dewasa, dibutuhkan penanganan dan obat tertentu untuk menangani kolik yang timbul. Kamu biasanya membutuhkan juga obat penghilang rasa sakit sebagai obat kolik.

Setelah itu, kamu harus melihat penyebab utama dari organ yang terlibat. Bila infeksi dari kandung kemih atau kandung empedu, kamu harus diberikan obat antibiotik untuk mengatasi kolik yang timbul, bila ada batu di kantung empedu, maka dibutuhkan operasi untuk pengangkatan batu empedu.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Mayoclinic.org diakses 8 Juni 2020 Colic 
  2. Webmd diakses 8 Juni 2020 Colic in Babies 
  3. Familydoctor.org diakses 8 Juni 2020 Colic 
  4. Healthline.com (2018) diakses 06 September 2020. Colicky Pain in Babies and Adults and How to Treat It
  5. Academia.edu, diakses 06 September 2020. Colic Abdomen
  6. Cochrane.org (2016) diakses 06 September 2020. Pain-relieving agents for infantile colic
  7. Babycentre.co.uk (2020) diakses 06 September 2020. Bottle-feeding: a guide to what you need
  8. Colic in Babies: Signs, Causes and Tips for Parents, https://www.whattoexpect.com/first-year/health-and-safety/what-is-colic/ diakses pada 17 Februari 2021
    register-docotr