Kamus Penyakit

Yuk, Kenali Penyakit ADHD pada Anak Sejak Dini

June 8, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Memiliki adik atau sepupu yang terlihat tidak bisa diam dan terus-terusan bergerak tanpa lelah? Bisa jadi dia bukannya kelebihan energi, tapi mengidap penyakit ADHD.

Jika kamu masih asing dengan penyakit yang satu ini, yuk sama-sama mengenal lebih jauh tentang penyakit ADHD.

Apa itu penyakit ADHD?

Attention-deficit hyperactivity disorder atau yang juga biasa disebut ADHD adalah gangguan kesehatan mental yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif dan impulsif lebih dari biasanya.

Penyakit ADHD umumnya diderita oleh anak-anak. Anak dengan ADHD akan terlihat lebih aktif dibanding anak pada umumnya. Mereka juga mungkin kesulitan untuk fokus dan memerhatikan sesuatu. Ini dapat mengganggu mereka di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Meski umumnya terjadi pada anak-anak, ternyata orang dewasa juga dapat mengalami penyakit ini. Tak jauh berbeda dengan anak-anak, orang dewasa yang mengalami ADHD menjadi lebih sulit fokus.

Mereka biasanya sulit mengatur waktu, sulit menetapkan keinginan dan juga kesulitan dalam membereskan pekerjaan mereka. Selain itu, masih banyak lagi daftar gejala yang menunjukkan seseorang mengalami ADHD seperti penjelasan di bawah ini.

Jenis penyakit ADHD

American Psychiatric Association (APA) mengelompokkan ADHD menjadi tiga jenis, agar membuat diagnosis ADHD lebih konsisten. Tiga jenis tersebut yaitu:

  • Dominan tidak memperhatikan (predominantly inattentive). Tipe ini paling umum pada anak perempuan yang mengalami ADHD. Biasanya pasien akan sulit fokus dan lalai saat mengerjakan sesuatu.
  • Dominan hiperaktif-impulsif (predominantly hyperactive-impulsive). Sesuai namanya orang dengan ADHD jenis ini akan menunjukkan hiperaktif dan impulsif, termasuk seringkali gelisah dan sulit untuk menunggu giliran.
  • Kombinasi hiperaktif-impulsif dan tidak perhatian (combined hyperactive-impulsive and inattentive). Ini adalah gabungan dari dua tipe diatas.

Dengan mengetahui jenis ADHD akan memudahkan dokter untuk menentukan perawatan yang sesuai. Tipe ADHD ini juga bisa berubah, sesuai dengan gejala yang ditunjukkan.

Perubahan gejala juga bisa berpengaruh pada perubahan perawatan yang diputuskan oleh dokter. Untuk itu perlu diketahui gejala mendetail dari seseorang yang mengidap ADHD.

Gejala penyakit ADHD

Gejala penyakit ini dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu gejala pada anak-anak dan juga gejala yang ditunjukkan orang dewasa. Sementara gejala pada anak-anak, dapat dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu sulit memperhatikan, hiperaktif dan impulsif.

Gejala ADHD pada anak

Kategori sulit memperhatikan. Pada kategori ini biasanya anak akan menunjukkan perilaku:

  • Mudah teralihkan.
  • Tidak mengikuti arahan atau menyelesaikan tugas.
  • Tampak tidak mendengarkan.
  • Tidak memperhatikan dan ceroboh.
  • Tidak mengingat kegiatan sehari-hari.
  • Memiliki masalah mengatur tugas sehari-hari.
  • Tidak mau melakukan kegiatan yang dikerjakan sambil duduk diam.
  • Sering kehilangan barang.
  • Cenderung melamun.

Kategori hiperaktif. Pada kategori ini biasanya anak akan menunjukkan perilaku:

  • Sering menggeliat, gelisah, atau tidak bisa diam saat duduk.
  • Tidak bisa duduk dalam waktu lama di satu tempat saja.
  • Kesulitan bermain dengan tenang.
  • Selalu bergerak, berlari atau memanjat benda di sekitarnya.
  • Banyak bicara, lebih dari anak lainnya.
  • Selalu tak bisa diam, seolah ada yang menyetirnya.

Kategori impulsif. Pada kategori ini biasanya anak akan menunjukkan perilaku:

  • Kesulitan menunggu giliran.
  • Bicara ceplas-ceplos.
  • Mengganggu orang lain.

Gejala ADHD pada orang dewasa

Beberapa gejala mungkin saja berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun secara umum gejala yang dapat terlihat, antara lain:

  • Seringkali terlambat.
  • Sangat pelupa.
  • Mengalami kegelisahan.
  • Tingkat percaya diri yang rendah.
  • Sering mendapat masalah di tempat kerja.
  • Kesulitan mengendalikan amarah.
  • Impulsif.
  • Penyalahgunaan atau kecanduan zat.
  • Berantakan.
  • Seringkali menunda pekerjaan.
  • Mudah frustrasi.
  • Seringkali mengalami kebosanan.
  • Kesulitan berkonsentrasi saat membaca.
  • Mudah mengalami perubahan suasana hati.
  • Depresi.
  • Seringkali mengalami masalah dalam berhubungan dengan orang lain.

Kenapa penyakit ADHD bisa terjadi?

Hingga saat ini belum ada yang bisa memastikan alasan atau penyebab pasti seseorang mengidap penyakit ini. Tapi beberapa sumber menyebutkan ADHD bisa terjadi karena terkait beberapa hal, seperti:

  • Keturunan. ADHD cenderung menurun dari keluarga yang pernah mengalaminya.
  • Gangguan yang berhubungan dengan otak. Bisa cedera atau kelainan otak, berupa kerusakan pada bagian depan otak, yang disebut lobus frontal, dapat menyebabkan masalah dengan mengendalikan impuls dan emosi.
  • Gizi buruk, infeksi, merokok, minum, dan penyalahgunaan zat selama kehamilan. Hal-hal ini dapat memengaruhi perkembangan otak bayi.

Di luar poin yang sudah dijelaskan, banyak beredar jika ADHD terjadi karena asupan gula. Namun dugaan itu belum terbukti hingga kini. ADHD juga kerap dikaitkan dengan kegiatan menonton televisi terlalu lama.

Seringkali dikaitkan juga dengan kondisi keluarga yang tak harmonis, kondisi sekolah yang tidak mendukung hingga alergi makanan. Namun semua dugaan itu belum terbukti dapat menyebabkan seorang anak mengidap ADHD.

Bagaimana mendiagnosis penyakit ADHD?

Tidak ada tes khusus yang bisa mendiagnosis anak-anak atau orang dewasa yang mengalami ADHD. Namun, jika orang tua melihat adanya gejala ADHD pada anak, sebaiknya langsung konsultasikan pada dokter.

Dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mendiagnosis penyakit ini. Berikut pemeriksaan yang mungkin dilakukan:

  • Pemeriksaan medis, untuk membantu menyingkirkan kemungkinan gejala dari penyakit lainnya.
  • Pengumpulan informasi, seperti gangguan yang dialami saat ini, riwayat medis pribadi dan keluarga, dan catatan sekolah (pada anak).
  • Wawancara yang dilakukan kepada anggota keluarga, guru atau orang lain yang mengenal anak tersebut dengan baik. Termasuk juga pengasuh anak.
  • Melakukan evaluasi dengan menggunakan Kriteria ADHD dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental DSM-5, yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.
  • Melakukan skala penilaian ADHD. Ini dilakukan untuk membantu mengumpulkan dan mengevaluasi informasi tentang anak sebelum mendiagnosis penyakit ADHD.

Pemeriksaan ini membutuhkan banyak informasi. Dokter akan mengevaluasi kebiasaan pasien setidaknya selama enam bulan terakhir.

Jika terdiagnosis atau kuat dugaan mengidap ADHD, dokter akan merujuk pasien untuk mendatangi spesialis ADHD. Atau dokter bisa saja menyarankan konsultasi dengan psikiater atau ahli saraf.

Bagaimana cara mengobati penyakit ADHD?

Seseorang yang mengidap penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Tapi jika mengetahuinya sejak dini, dokter akan memberikan perawatan yang akan membantu pasien mengatur gejala yang dialaminya.

Pada anak-anak, perawatan yang dilakukan sejak dini memungkinkan dirinya untuk tumbuh dewasa dengan pengelolaan gejala ADHD yang lebih baik.

Ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan, khususnya pada anak, bisa dilakukan mulai dari mengonsumsi obat-obatan, menjalani terapi hingga mengikuti support group.

Perawatan dengan obat-obatan

Perawatan jenis ini menggunakan obat minum yang berfungsi mengendalikan perilaku hiperaktif atau impulsif. Obat yang biasa digunakan, antara lain:

  1. Amphetamine (Adzenys XR ODT, Dyanavel).
  2. Dexmethylphenidate (Focalin).
  3. Dextroamphetamine (Adderall, Dexedrine).
  4. Lisdexamfetamine (Vyvanse).
  5. Methylphenidate (Aptensio, Cotempla, Concerta, Daytrana, Jornay, PM, Metadate, Methylin, Quillivant, Ritalin).

Obat yang telah disebutkan di atas belum tentu bekerja dengan baik. Sebagai alternatif biasanya dokter akan memberikan resep obat lainnya, khususnya untuk anak di atas 6 tahun. Obat tersebut antara lain:

  1. Atomoxetine (Strattera).
  2. Clonidine (Kapvay).
  3. Guanfacine (Intuniv).

Perawatan dengan terapi

Perawatan ini memfokuskan kegiatan yang dapat mengubah pola perilaku pengidap ADHD, dengan cara melakukan pendidikan khusus untuk membantu anak belajar di sekolah. Membiasakan struktur dan rutinitas, yang bisa membantu memperbaiki kebiasaan anak dengan ADHD.

Modifikasi perilaku

Yaitu membiasakan anak-anak mengganti perilakunya, dengan mengenalkan dan membiasakan perilaku baik. Ini juga bisa dibarengi dengan pelatihan keterampilan sosial. Seperti mengenalkan konsep bergiliran dan berbagi. Serta langsung mengajak anak mempraktikkanya.

Psikoterapi (konseling)

Ini dapat membantu seseorang dengan ADHD mempelajari cara mengendalikan emosi dan rasa frustrasi mereka. Ini juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka. Konseling juga dapat membantu anggota keluarga lebih memahami anak dengan ADHD.

Perawatan dengan perangkat medis

Kecanggihan teknologi juga dapat membantu anak atau orang yang mengidap penyakit ADHD. Salah satunya dengan menggunakan alat yang disebut External Trigeminal Nerve Stimulation (ETNS).

Alat ini berbentuk seperti smartphone yang memiliki sambungan kabel elektroda khusus. Cara penggunaannya cukup dengan menempelkan kabel pada dahi pasien.

Alat ini biasanya digunakan pada malam hari dan hanya boleh digunakan pada anak berusia minimal 7 tahun. Pasien harus dalam kondisi tidak sedang mengonsumsi obat ADHD.

Support group

Perawatan terakhir yang bisa dilakukan adalah mengikuti support group. Support group atau kelompok dukungan adalah tempat berkumpulkan pasien yang mengalami masalah yang sama. Mereka saling menguatkan dan saling berbagi informasi untuk mempelajari penyakit yang mereka alami.

Kelompok ini cocok atau bisa diikuti oleh orang dewasa pengidap ADHD. Atau bisa juga diikuti oleh orang tua yang memiliki anak dengan ADHD, agar lebih memahami kondisi sang anak dan memahami penyakit itu sendiri.

Selain perawatan yang sudah disebutkan pasien juga bisa menjalani perawatan di rumah. Salah satunya dengan memperbaiki gaya hidup. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa kegiatan yang direkomendasikan untuk mengurangi gejala ADHD antara lain:

  • Makan makanan sehat dengan gizi seimbang.
  • Aktif berkegiatan fisik, setidaknya satu jam dalam sehari.
  • Tidur yang cukup.
  • Serta batasi waktu menonton TV, melihat layar komputer dan handphone.

Beberapa cara lain juga bisa dilakukan, seperti yoga, tai chi atau menghabiskan waktu di luar rumah. Meditasi juga bisa menjadi alternatif yang bisa dilakukan oleh orang dewasa dengan ADHD.

Hal lain yang perlu diketahui, bahwa seorang pasien ADHD tetap memiliki kesempatan hidup yang sama seperti orang pada umumnya. Anak-anak yang mengidap ADHD juga bisa tumbuh dewasa dan menjadi seseorang yang sukses dan hidup bahagia.

Kuncinya adalah untuk lebih peduli pada kondisi kesehatan. Pada anak-anak, menemukan ADHD sejak dini dapat dibantu dengan melakukan perawatan.

Menurut artikel Webmd, ada banyak pasien yang tumbuh dewasa dan merasa mampu mengontrol gejala ADHD dan akhirnya menghentikan perawatannya.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
Berita Terkait
register-docotr