Info Parenting

4 Gaya Parenting untuk Memberi Makan Anak, Kenali Dampaknya di Sini!

September 30, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Moms, tahukah kamu bahwa perilaku makan si Kecil dapat dipengaruhi oleh interaksi orang tua kepada anak? Ya, setiap gaya makan yang diberikan orang tua dapat memengaruhi interaksi dan kebiasaan makan anak serta hubungan dengan makanan.

Memberi makan si Kecil dapat dikatakan sebagai salah satu pekerjaan orang tua yang sulit. Namun, sebagai orang tua, Moms perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan gaya makan yang diberikan pada anak.

Baca juga: Dukung Perkembangan si Kecil, Moms Harus Terapkan Makanan Sehat Ini untuk Anak

Mengenal metode memberi makan alias feeding style pada anak

Jill Castle yang merupakan ahli diet sekaligus ahli gizi anak mengatakan bahwa cara orang tua memberi makan anaknya mencerminkan pengalaman. Dalam hal ini, pengalaman orang tua dengan makanan saat dirinya masih kecil.

Misalnya saja, jika Moms diajarkan untuk menyelesaikan makan sebelum diizinkan meninggalkan meja makan, Moms mungkin akan mengajarkan hal yang sama kepada anak.  

Terdapat 4 gaya orang tua memberi makan anak yang perlu Moms ketahui. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Gaya memberi makan otoritatif

Sikap orang tua yang memberi makan anak dengan gaya otoritatif biasanya tanggap. Tak hanya itu, orang tua juga menerapkan struktur dan batasan di sekitar waktu makan, serta menunjukkan rasa hormat terhadap pilihan makanan anak.

Ini dikatakan sebagai feeding style yang paling ideal. Karena orang tua memberikan tawaran makanan kepada anak, tetapi masih mempertimbangkan perasaan anak.

Manfaat atau dampaknya

Pemberian makan dengan gaya otoritatif dikaitkan secara positif dengan upaya untuk membuat anak mengonsumsi sayuran, buah, serta susu.

Selain itu, orang tua secara aktif mendorong anak untuk makan ketika makanan telah disediakan. Orang tua juga menjelaskan aturan makan yang diperlukan dengan cara yang suportif.

Moms, gaya memberi makan otoritatif memiliki dampak yang positif lho, di antaranya adalah anak cenderung membuat pilihan makanan yang lebih sehat, memiliki berat badan yang sehat, serta dapat mempraktikkan pengaturan diri yang baik untuk makan.

2. Gaya memberi makan otoriter

Gaya pemberian makan ini juga dikenal sebagai pendekatan pemberian makan yang berpusat pada orang tua. Orang tua cenderung meminta anak untuk menghabiskan apa yang telah disiapkan, tanpa mempertimbangkan pilihan makanan si Kecil.

Orang tua mengharuskan anak untuk mengonsumsi makanan tertentu dengan jumlah yang sudah ditetapkan. Aturan makanan yang ditawarkan tidak responsif terhadap rasa lapar, kenyang, atau pilihan makanan anak.

Ini dapat terlihat seperti orang tua yang mengharuskan anak menghabiskan makanan di piring sebelum diizinkan untuk menyantap makanan penutup.

Manfaat atau dampaknya

Moms, gaya memberi makan secara otoriter ternyata memiliki dampak negatif. Anak mungkin saja kehilangan selera makan dan kemampuan pengaturan makanan dengan baik. Si Kecil juga mungkin saja makan berlebihan untuk memenuhi permintaan orang tua.

Tak hanya itu, mereka juga mungkin saja makan lebih sedikit dari jumlah yang mereka butuhkan karena didorong atau ditekan terlalu banyak.

Gaya makan ini dapat menimbulkan beberapa masalah seperti obesitas (kelebihan berat badan) atau justru kekurangan berat badan.

3. Gaya memberi makan permisif

Gaya makan ini juga disebut dengan gaya makan memanjakan. Orang tua cenderung memperbolehkan anak-anak makan apa saja dan kapan saja. Aturan seputar batasan makanan dapat dikatakan longgar.

Orang tua mengizinkan anak untuk memutuskan apa, kapan, dan di mana mereka makan untuk mendorong nafsu makan anak yang diikuti dengan sedikit aturan yang berlaku.

Manfaat atau dampaknya

Moms, anak-anak yang dibesarkan dengan gaya makan memanjakan dapat mengalami kesulitan dalam mengatur sendiri asupan makanan lho, terutama asupan makanan manis.

Akibatnya, anak dapat kelebihan berat badan dan tidak tahu berapa jumlah makanan yang sebenarnya harus dikonsumsi. Gaya ini seringkali dikaitkan dengan asupan makanan manis dan berlemak yang tinggi.

4. Gaya memberi makan tidak terlibat (neglectful)

Pada gaya pemberian makan ini, orang tua cenderung memiliki kepekaan yang rendah pada kebutuhan anak seputar makanan dan aturan makan. Orang tua tidak menuntut atau memiliki rutinitas dan tanggung jawab pada waktu makan.

Orang tua juga tidak memprioritaskan pembelian bahan makanan, perencanaan makan, serta persiapan makan.

Manfaat atau dampaknya

Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya makan ini cenderung merasa tidak aman atau gugup terhadap makanan. Si Kecil merasa tidak yakin kapan mereka dapat makan selanjutnya, apakah mereka menyukainya, atau apakah makanan tersebut cukup atau tidak.

Anak juga mungkin saja menjadi terlalu fokus pada makanan dan sering mempertanyakan waktu dan detail seputar makanan. Selain itu, anak dapat mengonsumsi makanan secara berlebihan atau bahkan kurang, serta mungkin saja memiliki masalah kepercayaan dengan pengasuhnya.

Moms, mempertimbangkan asupan makanan dan nutrisi yang diberikan memang sangat penting untuk kesehatan anak.

Namun, Moms juga tidak boleh mengabaikan gaya pemberian makan anak ya, karena ini tidak hanya dapat memengaruhi berat badan saja, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku makan si Kecil.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Jill Castle (2019). Diakses pada 28 September 2020. What’s Your Feeding Style?

Veggies & Virtue (2020). Diakses pada 28 September 2020. Parent Feeding Style

Van Der Horst, Klazine, dan Ester F C Sleddens (2017). Diakses pada 28 September 2020. Parenting Styles,Ffeeding Styles and Food-related Parenting Practices in Relation to Toddlers’ Eating Styles: A Cluster-analytic Approach. NCBI (diakses pada 28 September 2020)

Patrick, Heather, Theresa A Nicklas (2005). The Benefits of Authoritative Feeding Style: Caregiver Feeding Styles and Children’s Food Consumption Patterns. NIH  (diakses pada 28 September 2020)

    register-docotr