Kamus Penyakit

Demensia

September 30, 2020 | Arianti Khairina | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Semakin bertambahnya usia dan karena beberapa faktor lain seseorang dapat mengalami penurunan fungsi kognitif otak. Hal tersebut yang dapat menyebabkan daya ingat sesorang menurun atau penyakit demensia (pikun).

Lalu apa saja sih gejala-gejala seseorang terkena demensia? Yuk simak penjelasannya di bawah ini:

Baca Juga: Banyak Menyerang Lansia, Kenali Cara Mencegah Alzheimer

Apa itu penyakit demensia?

Dilansir mayoclinic.org, demensia atau pikun adalah suatu kondisi yang menggambarkan sekelompok gejala yang memengaruhi daya ingat, pemikiran, dan sosial yang cukup parah sehingga kehidupan sehari-hari kamu akan sangat terganggu.

Meskipun demensia umumnya melibatkan kehilangan memori, namun penyebabnya berbeda dengan pikun biasa. Kehilangan ingatan saja tidak berarti kamu menderita demensia.

Penyakit alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia progresif pada orang dewasa yang lebih tua, tetapi ada sejumlah penyebab demensia. Tergantung pada penyebabnya, beberapa gejala demensia mungkin dapat disembuhkan.

Perlu kamu ketahui bahwa demensia tidak melulu dipengaruhi karena bertambahnya usia, penyakit ini bisa juga disebabkan karena beberapa faktor lain.

Apa penyebab demensia?

Demensia disebabkan oleh kerusakan atau hilangnya sel-sel saraf dan koneksi di otak. Bergantung pada area otak yang dipengaruhi oleh kerusakan, demensia dapat memengaruhi dan menyebabkan gejala yang berbeda.

Penyakit ini sering dikelompokkan berdasarkan kesamaannya, seperti protein yang tersimpan di otak atau bagian otak yang terpengaruh.

Tak hanya soal usia, beberapa penyakit juga dapat menyebabkan seseorang menderita demensia.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena demensia?

Banyak faktor yang akhirnya dapat menyebabkan pikun. Salah satunya seperti usia yang memang tidak dapat diubah karena seiring berjalannya waktu tubuh seseorang akan semakin menua.

Berikut ini beberapa faktor lainnya yang dapat menyebabkan demensia:

Usia

Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 65 tahun.

Namun, demensia bukan bagian normal dari penuaan, dan demensia dapat terjadi pada orang yang lebih muda.

Riwayat kesehatan keluarga

Riwayat keluarga demensia membuat kamu memiliki risiko lebih besar terkena kondisi tersebut. Namun, banyak juga orang dengan riwayat keluarga tidak pernah mengalami gejala tersebut bisa terkena demensia.

Apa gejala dan ciri-ciri demensia?

Tanda-tanda awal demensia dapat memengaruhi perubahan secara kognitif dan psikologis. Tentu saja hal ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari saat berinteraksi dengan banyak orang. Tanda-tanda tersebut meliputi:

  • Perubahan memori jangka pendek
  • Perubahan mood
  • Kesulitan menemukan kata yang tepat
  • Apatis
  • Kebingungan
  • Menjadi berulang
  • Sulit mengikuti alur cerita
  • Kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari
  • Selalu memiliki perasaan yang buruk
  • Kesulitan beradaptasi dengan perubahan.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat demensia?

Ketika kamu terserang penyakit demensia, ada beberapa hal yang dapat memengaruhi banyak sistem dan fungsi dari organ tubuh:

Nutrisi buruk

Banyak penderita demensia akhirnya mengurangi atau berhenti makan, akhirnya memengaruhi asupan nutrisi mereka. Mereka mungkin tidak bisa mengunyah dan menelan.

Radang paru-paru

Kesulitan menelan meningkatkan risiko tersedak atau aspirasi makanan ke dalam paru-paru, yang dapat menghalangi pernapasan dan menyebabkan pneumonia.

Menurunnya fungsi organ tubuh

Ketika demensia berkembang, seseorang dapat terganggu rutinitas sehari-harinya, termasuk untuk mandi, berpakaian, menyikat rambut atau gigi, menggunakan toilet secara mandiri, dan minum obat sendiri dengan benar.

Tak hanya itu saja beberapa situasi sehari-hari dapat menimbulkan masalah keamanan bagi penderita demensia, termasuk mengemudi, memasak, dan berjalan sendirian.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati demensia pada lansia?

Pengobatan demensia pada lansia dapat dilakukan dengan beberapa cara, berikut adalah penjelasan selengkapnya.

Perawatan demensia di dokter

Untuk mengobati demensia harus memerlukan diagnosis terlebih dahulu. Langkah pertama biasanya akan diuji kinerja memori dan kesehatan kognitif melibatkan beberapa pertanyaan standar.

Dilansir medicalnewstoday.com, penelitian telah menunjukkan bahwa demensia tidak dapat didiagnosis dengan akurat tanpa menggunakan tes standar, namun diagnosis juga memperhitungkan faktor-faktor lain, termasuk:

Tes demensia kognitif

Tes demensia kognitif saat ini banyak digunakan oleh tim medis dan telah diverifikasi sebagai cara yang dapat diandalkan untuk menunjukkan demensia. Tes Penilaian Praktisi Umum (GPCOG) mencakup elemen tambahan untuk merekam pengamatan kerabat dan pengasuh.

Jika tes menunjukkan kehilangan memori, biasanya akan direkomendasikan untuk melakukan investigasi standar, termasuk tes darah rutin dan pemindaian otak CT.

Tes klinis akan mengidentifikasi, atau menyingkirkan, penyebab hilangnya ingatan yang dapat diobati dan membantu mempersempit penyebab potensial, seperti penyakit Alzheimer.

Cara mengatasi demensia secara alami di rumah

Seseorang yang terkena demensia sangat membutuhkan dukungan. Gejala demensia sendiri dapat berkembang seiring dengan waktu. Adapun beberapa dukungan yang bisa kamu berikan kepada seseorang dengan demensia yakni:

  • Meningkatkan komunikasi: Saat berbicara dengan seseorang yang terkena kondisi ini, sebaiknya bicaralah perlahan dengan kalimat yang sederhana, kamu juga harus melakukan kontak mata. Tak hanya itu, kamu juga dapat menunjukkan isyarat seperti menunjuk ke objek
  • Mendorong mereka untuk berolahraga: Manfaat olahraga bagi penderita demensia yakni dapat meningkatkan kekuatan, keseimbangan dan kesehatan jantung. Olahraga juga dapat membantu menangani kegelisahan
  • Merencanakan aktivitas yang disukai: Rencanakanlah aktivitas yang disukai oleh penderita demensia, seperti menari, melukis, berkebun, memasak, bernyanyi, atau bahkan aktivitas menyenangkan lainnya
  • Berikan mereka kalender: Kalender dapat membantu penderita demensia untuk mengingat acara yang akan datang, kegiatan sehari-hari, serta jadwal pengobatan

Apa saja obat demensia yang biasa digunakan?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami penyakit ini, tak perlu terlalu khawatir. Ada beberapa obat-obatan yang dapat membantu meringankan gejala demensia, yaitu:

Obat demensia di apotek

Obat-obatan yang biasa diberikan bagi para penderita demensia yaitu cholinesterase inhibitors. Contohnya seperti donepezil (aricept), rivastigmine (Exelon) dan galantamine (Razadyne). Konsumsi obat ini tidak boleh sembarangan dan harus diresepkan oleh dokter.

Obat demensia alami

Beberapa suplemen makanan, dan obat herbal telah dipelajari untuk penderita demensia. Namun, masih belum ada bukti yang menyakinkan untuk semua ini.

Sebaiknya, berhati-hatilah saat memutuskan untuk mengonsumsi suplemen makanan, vitamin, atau obat herbal, terutama jika penderita demensia mengonsumsi obat-obatan lainnya.

Adapun beberapa suplemen dan vitamin sebagai obat demensia alami di antaranya adalah:

  • Gingko biloba
  • Asam lemak omega-3
  • Ginseng
  • Vitamin B12 dan B9
  • Vitamin D
  • Minyak kelapa
  • Resveratol dan kurkumin

Sebelum mengonsumsi suplemen, vitamin, maupun obat herbal, sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu pada dokter agar terhindar dari efek samping yang bisa ditimbulkan.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita demensia?

Dilansir dari CCNIndonesia.com, terdapat diet yang dapat menurunkan risiko demensia dan alzheimer, diet ini bernama MIND (Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay).

Diet ini merupakan gabungan dari diet Mediterranean dan DASH, yang terbukti memiliki banyak sekali manfaat.

Diet ini bertujuan untuk menurunkan risiko demensia dan alzheimer dengan cara mengonsumsi makanan yang bergizi untuk otak. Beberapa makanan yang menjadi pantangan di antaranya adalah:

  • Daging merah
  • Keju
  • Mentega dan margarin
  • Kue dan pastry

Selain bermanfaat untuk menurunkan risiko demensia dan alzheimer, diet MIND juga bisa menurunkan tingkat gula darah, berat badan serta tekanan darah.

Baca juga: Bisa Bikin Pikun, Hindari 5 Makanan Ini untuk Cegah Demensia

Bagaimana cara mencegah demensia?

Tidak ada cara pasti untuk mencegah demensia, tetapi ada beberapa langkah yang dapat kamu lakukan dan mungkin membantu mengurangi gejala-gejala yang terjadi.

Jaga pikiran kamu agar tetap aktif. Kegiatan yang merangsang secara mental, seperti membaca, memecahkan teka-teki dan melakukan permainan kata. Contoh lainnya kamu dapat juga melakukan pelatihan memori agar menunda timbulnya demensia dan mengurangi efeknya.

Pola hidup sehat untuk mencegah pikun

Beberapa faktor demensia yang sudah disebutkan di atas memang sudah tidak dapat diubah, namun tak perlu khawatir kamu masih bisa mengendalikan faktor risiko demensia tersebut dengan beberapa cara:

Diet dan olahraga

Kamu yang kurang berolahraga sebaiknya berhati-hati karena dapat meningkatkan risiko demensia. Untuk pola makan, kamu bisa juga mengikuti diet Mediterania yang mengonsumsi makan-makanan kaya akan kacang-kacangan dan biji-bijian.

Hindari asap rokok

Merokok dapat meningkatkan risiko terkena demensia dan penyakit pembuluh darah. Selain merokok aktif, menjadi perokok pasif juga sebaiknya kamu hindari, ya!

Jaga asupan vitamin dan nutrisi

Asupan yang baik sangat memengaruhi kesehatan tubuh. Begitu juga sangat kamu kekurangan kadar vitamin D, vitamin B-6, vitamin B-12, dan folat yang rendah dapat meningkatkan risiko demensia.

Penyakit pemicu risiko demensia

Berikut ini beberapa penyakit yang menyebabkan demensia progresif pada seseorang, seperti dilansir mayoclinic.org:

Penyakit alzheimer

Penyakit alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia. Oleh karenanya, demensia dan alzheimer tidak dapat dipisahkan.

Meskipun tidak semua penyebab penyakit alzheimer diketahui, para ahli tahu bahwa sebagian kecil terkait dengan mutasi tiga gen, yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak.

Sementara beberapa gen yang berbeda mungkin berkaitan dengan penyakit alzheimer. Satu gen penting yang meningkatkan risiko demensia adalah apolipoprotein E4 (APOE).

Demensia vaskular

Jenis demensia kedua yang paling umum adalah demensia vaskular. Ini disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh yang memasok darah ke otak. Masalah pembuluh darah dapat menyebabkan stroke atau kerusakan otak dengan cara lain.

Gejala yang paling umum dari demensia vaskular yaitu kesulitan untuk memecahkan sebuah masalah, pemikiran yang melambat, susah untuk fokus dan berorganisasi.

Gejala demensia vaskular tersebut cenderung lebih terlihat nyata pada kehidupan sehari-hari daripada hanya sekadar kehilangan memori.

Demensia Lewy body

Lewy body adalah gumpalan protein seperti balon abnormal yang telah ditemukan pada otak seseorang dengan demensia, penyakit alzheimer, dan penyakit parkinson. Hal ini adalah salah satu jenis demensia progresif yang lebih umum.

Tanda-tanda dan gejala umum yang dapat terjadi pada seseorang yaitu kamu akan melihat hal-hal yang tidak ada (halusinasi visual), dan masalah dengan fokus hingga perhatian. Tanda-tanda lain termasuk gerakan yang tidak terkoordinasi atau lambat, tremor, dan rigiditas (parkinsonisme).

Demensia frontotemporal

Penyakit ini adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan kerusakan (degenerasi) sel-sel saraf dan hubungannya di lobus frontal dan temporal otak yaitu area yang umumnya terkait dengan kepribadian, perilaku, dan bahasa.

Gejala umum yang akan kamu rasakan seperti memengaruhi perilaku, kepribadian, pemikiran, penilaian, dan bahasa serta gerakan dalam kehidupan sehari-hari.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. mayoclinic.org (2019) diakses 15 Juni 2020. Dementia 
  2. who.int (2019) diakses 15 Juni 2020. Dementia
  3. medicalnewstoday.com (2017) diakses 15 Juni 2020. Dementia: Symptoms, stages, and types 
  4. healthline.com (2017) diakses 15 Juni 2020. 10 Types of Dementia
  5. cnnindonesia.com (2016) diakses 30 September 2020. Mengenal Diet ‘MIND’ bagi Penyandang Demensia 
  6. psychiatric Times (2016) diakses 30 September 2020. Natural Supplements and Vitamins for Treatment and Prevention of Dementia and Cognitive Decline 
    Berita Terkait
    register-docotr