Puasa

Pola Tidur Berubah Saat Puasa? Simak Tips Menyikapinya Yuk!

April 15, 2021 | Arianti Khairina | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Selain pola makan, perubahan pola tidur juga terjadi selama bulan puasa Ramadan. Banyak orang mengatakan bahwa selama siang hari saat berpuasa menjadi lebih cepat merasa kantuk. Lalu, bagaimana tips ampuh menyikapi perubahan pola tidur saat puasa? 

Benarkah ada perubahan pola tidur saat puasa? 

Melansir penjelasan dari Journal of Research Medical Science, diketahui bahwa puasa Ramadan dapat memengaruhi pola tidur seseorang. Perubahan pola tidur tersebut terjadi karena, umat Islam bangun untuk makan sahur dan sholat subuh selama Ramadan. 

Selama bulan Ramadan, umat Islam tidak makan dan minum mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Menurut National Library of Medicine, melaporkan Ramadan memicu pemendekan total waktu tidur malam hari hingga 40 menit, peningkatan latensi tidur, dan penurunan durasi tidur. 

Selama studi yang sama, efek puasa Ramadan yang menimbulkan kantuk di siang hari juga diteliti lebih lanjut, dan hasilnya menunjukkan bahwa puasa Ramadan menyebabkan peningkatan subyektif dan obyektif kantuk siang hari terkait dengan perubahan suhu rektal. 

Bagaimana menyikapi perubahan pola tidur saat puasa? 

Adanya perubahan pola tidur selama bulan puasa Ramadan tentu membuat kamu harus beradaptasi kembali dengan kebiasaan baru. 

Demi menyikapi perubahan pola tersebut, berikut ini beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan pola tidur yang baik bagi tubuh seperti dilansir dari laman Cleveland Clinic Abu Dhabi:

Usahakan cukup tidur di malam hari 

Tidur yang lebih lama tentu lebih bermanfaat daripada kamu harus beberapa kali tidur dengan waktu sebentar.

Usahakan untuk tidur setidaknya 4 jam di malam hari setelah berbuka puasa, sebelum bangun untuk sahur dan kembali tidur selama beberapa jam sebelum bangun untuk hari berikutnya.

Cobalah untuk mengatur pola tidur

Coba rencanakan rutinitas tidur yang disesuaikan untuk Ramadan sehingga kamu dapat tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari. Ini akan membantu tubuh mendapatkan ritme untuk tidur yang lebih nyenyak.

Jaga asupan makanan dan minuman 

Hindari makan makanan berat, berlemak, atau yang mengandung banyak gula saar berbuka puasa. Hal itu bisa menganggu saat kamu tidur karena tubuh bekerja lembur untuk mencerna makanan yang dikonsumsi. 

Selain itu, makanan yang sangat pedas juga bisa menjadi pilihan buruk karena juga bisa menimbulkan gas dan mulas saat kamu tidur. Menghindari kafein selama beberapa jam sebelum tidur juga dapat membantu kamu mendapatkan kualitas tidur yang nyenyak. 

Lingkungan tidur yang tepat

Tempat yang tenang dan gelap sangat ideal untuk tidur. Hindari menggunakan perangkat elektronik seperti ponsel, laptop, dan TV menjelang waktu tidur karena penelitian menunjukkan bahwa cahaya biru dari layar dapat mengganggu kualitas tidur.

Baca juga: Ini Lho Sejuta Manfaat Kurma bagi Kesehatan Selama Puasa

Apakah puasa baik untuk kesehatan?

Hasil studi yang dilansir dari Nutrition tentang efek puasa Ramadan bagi kesehatan beragam, mungkin karena lamanya puasa dan kondisi cuaca yang dialami berbeda-beda tergantung pada waktu dan negara tempat berpuasa. 

Beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang kelebihan berat badan atau obesitas mengalami penurunan berat badan dan lemak tubuh selama Ramadan (meskipun mereka cenderung mengembalikan berat badan setelah Ramadhan). 

Jika kamu kelebihan berat badan dan ingin menurunkan berat badan serta mempertahankannya, maka membuat rencana untuk menjaga pola makan yang sehat dan aktif saat Ramadan selesai dapat membantu mempertahankan berat badan yang turun karena puasa.

Puasa selama Ramadan juga memberi orang kesempatan untuk mengatur ulang metabolisme mereka, memaksa tubuh untuk bekerja lebih keras selama berjam-jam tanpa makanan dan minuman, menggunakan sumber lemak dan membuang racun.

Puasa juga bisa berdampak positif bagi produktivitas otak. Sebuah studi yang dilakukan menemukan bahwa puasa mendorong otak ke dalam keadaan stres.

Hal itu menghasilkan protein yang dikenal sebagai faktor neurotropik yang diturunkan dari otak- yang membantu mendorong peremajaan sel induk otak. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Clevelandclinicabudhabi.ae (2021) diakses pada 14 April 2021. The common effects of lack of sleep and how to prevent them
  2. Ncbi.nlm.nih.gov (2013) diakses pada 14 April 2021.  The effects of Ramadan fasting on sleep patterns and daytime sleepiness: An objective assessment
  3. Nutrition.org.uk (2021) diakses pada 14 April 2021. A healthy Ramadan
  4. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2003) diakses pada 14 April 2021. Daytime sleepiness during Ramadan intermittent fasting: polysomnographic and quantitative waking EEG study
  5. Researchgate.net (2007) diakses pada 14 April 2021. Does Ramadan fasting affect sleep?
  6. Researchgate.net (2004) diakses pada 14 April 2021. Effect of fasting during Ramadan on sleep architecture, daytime sleepiness and sleep pattern 
    register-docotr