Kamus Penyakit

Ketahui Penyebab Rematik yang Juga Bisa Serang Anak Muda

February 11, 2021 | Putri Prima Soraya | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Pasti kamu menganggap penyebab rematik adalah karena usia tua. Tapi, faktanya menurut data, rematik banyak dialami juga oleh anak muda. Sebanyak 8 dari 100.000 orang berusia 18 hingga 34 tahun menderita rematik, lho.

Nah, melihat data tersebut, tentu penting bagi kita yang berusia muda untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab rematik. Hal ini penting, agar kita bisa  meminimalisir faktor risiko atau juga mendapatkan pengobatan sebelum penyakit rematik menjadi parah.

Rematik tidak cuma menyerang sendi saja, jika tidak diobati rematik bahkan bisa menyerang berbagai organ tubuh lainnya. 

Baca Juga: Suplemen Vitamin untuk Melawan COVID-19, Efektif atau Tidak?

Apa itu rematik

Rematik atau juga disebut dengan rheumatoid arthritis adalah gangguan peradangan kronis yang dapat memengaruhi lebih dari sekadar persendian.

Tidak seperti kerusakan akibat keausan pada osteoarthritis, rematik memengaruhi lapisan sendi kamu, menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan dan pada akhirnya dapat menyebabkan erosi tulang dan deformitas sendi.

Rematik cenderung memengaruhi bagian-bagian berikut dari sistem muskuloskeletal:

  • Sendi
  • Otot
  • Tulang
  • Tendon dan ligamen.

Gejala rematik

Gejala dan tanda-tanda rematik dapat mencakup:

  • Kelelahan
  • Kehilangan energi
  • Kurang nafsu makan
  • Demam ringan
  • Nyeri otot dan sendi
  • Kemerahan pada sendi
  • Pembengkakan sendi
  • Kaku
  • Hilangnya fungsi sendi.

Penyebab rematik

Penyakit rematik disebabkan oleh autoimun, yang berarti sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh yang sehat. Namun, belum diketahui pasti apa yang memicu hal ini. Sistem kekebalan tubuh kamu biasanya membuat antibodi yang menyerang bakteri dan virus, membantu melawan infeksi.

Jika kamu menderita rematik, sistem kekebalan tubuh kamu secara keliru mengirimkan antibodi ke lapisan sendi kamu, tempat mereka menyerang jaringan di sekitar sendi.

Ini menyebabkan lapisan tipis sel sinovium yang menutupi sendi menjadi sakit dan meradang, melepaskan bahan kimia yang merusak tulang rawan dan tulang di sekitar sendi. 

Rematik yang tidak diobati dapat menyebabkan sendi kehilangan bentuk dan keselarasannya. Akhirnya, hal itu bisa menghancurkan sendi sepenuhnya.

Faktor risiko rematik

Ada beberapa faktor yang membuat kita lebih tinggi risikonya untuk terkena rematik, di antaranya:

1. Usia

Rematik dapat dialami oleh segala usia, baik itu muda maupun usia lanjut. Kasus paling umum, rematik dialami oleh mereka dengan rentan umur 40 dan 60 tahun. Namun, penyakit ini bukan hal normal yang dialami karena penuaan.

2. Riwayat keluarga

Jika seseorang dalam keluargamu ada yang mengidap rematik, kamu mungkin juga akan mengalami rematik. Segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui informasi yang lebih mendalam tentang penyakit ini.

3. Jenis kelamin

Rematik, lebih sering dialami oleh wanita daripada pria. Ini lebih mungkin terjadi pada wanita yang belum pernah hamil dan mereka yang baru saja melahirkan.

Hal ini karena wanita memiliki hormon estrogen, hormon yang terkadang bisa menyebabkan fluktuasi pada sistem imun. 

Nah, gangguan sistem imun ini dapat membuat imun tubuh salah mengenai jaringan tubuh sendiri, sehingga menyerang sistemnya sendiri.

4. Obesitas

Berat badan yang berlebih juga bisa menjadi faktor risiko kamu mengalami rematik. Apalagi jika sudah berusia 55 tahun. Seperti yang kita tahu, sendi seperti lutut dan pinggul bertugas untuk menopang berat badan.

Obesitas atau berat badan berlebih dapat menyebabkan radang pada sendi karena sendi mengalami tekanan berlebihan.

5. Merokok

Jika secara genetik kamu lebih mungkin untuk terkena rematik, merokok dapat membuat rematik menjadi lebih buruk.

Hal yang perlu kamu tahu adalah meski kamu tidak memiliki faktor risiko, bukan berarti kamu tidak bisa mengidap rematik.

6. Pola makan

Ternyata, terlalu banyak memakan daging merah tanpa diimbangi dengan konsumsi vitamin C dapat meningkatkan risiko kamu untuk terkena rematik.

Untuk itu, cobalah untuk menyeimbangkan pola makan kamu, ya. Seimbangkan antara makanan dan vitamin.

Efek rematik pada tubuh

Faktanya, rematik bukan hanya sekedar penyakit nyeri sendi. Penyakit autoimun ini menyebabkan inflamasi kronis dalam tubuh. Sehingga peradangan bisa menyebar luas. Bahkan rematik dapat memengaruhi area tubuh lain, seperti:

  • Mata. Orang dengan rematik bisa mengalami gangguan mata seperti kekeringan, nyeri, peradangan, kemerahan, kepekaan terhadap cahaya dan kesulitan melihat dengan benar.
  • Mulut. Gangguan mata pada orang dengan rematik di area mulut meliputi kekeringan dan radang gusi, iritasi atau infeksi. 
  • Kulit. Orang dengan rematik mungkin mengalami gangguan kulit berupa nodul reumatoid yakni benjolan kecil di bawah kulit di atas area tulang. 
  • Paru-paru. Orang dengan rematik mungkin mengalami gangguan paru-paru berupa peradangan dan jaringan parut yang dapat menyebabkan sesak napas dan penyakit paru-paru. 
  • Pembuluh darah. Rematik juga memengaruhi kerja pembuluh darah dalam tubuh. Gangguan ini meliputi peradangan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan kerusakan pada saraf, kulit, dan organ lainnya. 
  • Darah. Gangguan pada orang dengan rematik juga bisa terjadi pada darah. Gangguan ini berupa jumlah sel darah merah yang lebih rendah dari biasanya. 
  • Jantung. Peradangan bisa merusak otot jantung dan sekitarnya. Sendi yang nyeri juga membuat tubuh sulit berolahraga, sehingga terjadi penambahan berat badan. Kondisi ini tentu meningkatkan risiko kolesterol tinggi, diabetes, penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

Ketika rematik sudah menyerang area tubuh yang lain, pasti keluhan yang dimiliki pemilik penyakit ini semakin bertambah. Inilah pentingnya perawatan rutin bagi pemilik penyakit rematik.

Seperti penyakit autoimun lainnya, rematik juga bisa membaik dan memburuk. Tergantung perawatan yang dilakukan oleh penderitanya. 

Penyebab rheumatoid arthritis memburuk 

Ketika sudah tahu memiliki penyakit rematik, tidak sedikit orang yang mengabaikannya. Terlebih saat gejalanya sudah mereda. Padahal kondisi rheumatoid arthritis bisa memburuk bila tidak dilakukan pemantauan dan perawatan dari dokter. 

Bila sudah memburuk, sendi bisa mengalami erosi dan hancur. Berikut adalah penyebab rheumatoid arthritis memburuk:

Pengobatan yang tidak rutin

Biasanya dokter akan meresepkan obat-obatan untuk mengelola gejala rheumatoid arthritis. Namun, bila kamu tidak minum obat sesuai petunjuk dokter, tidak melakukan kontrol rutin, gejala dari rematik bisa memburuk. 

Biasanya dalam kurun waktu tertentu, kamu perlu perubahan resep obat. Perubahan resep ini akan disesuaikan dengan kondisi medis dari tubuhmu. Dokter mungkin menambah obat, mengganti obat atau mengurangi dosis obat.

Tidak aktif bergerak

Meski mengalami peradangan, bukan berarti kamu harus berdiam dan tidak aktif bergerak. Kesehatan sendi juga perlu dirawat dengan latihan dan olahraga.

Keseimbangan antara istirahat dan olahraga adalah kunci dari perawatan rheumatoid arthritis. Ketika kamu lebih banyak diam, rasa sakit dan kelelahan cenderung memburuk.

Konsumsi makanan tertentu

Makanan tertentu dipercaya dapat meningkatkan peradangan pada tubuh. Gula, lemak jenuh, lemak trans, asam lemak omega-6, karbohidrat olahan, MSG, gluten, aspartam, dan alkohol adalah beberapa makanan dan zat aditif lainnya dianggap meningkatkan peradangan. 

Penyebab rheumatoid arthritis yang memburuk seringkali juga datang dari diet yang tidak terjaga. Padahal pemilik penyakit ini harus menjalani diet dan memilih makanan yang tidak memicu peradangan.

Aktivitas berlebihan

Penyebab rheumatoid arthritis memburuk juga bisa datang dari aktivitas yang berlebihan. Gerakan tertentu yang terlalu dipaksakan biasanya membuat kondisi radang memburuk. Untuk itu penting bagi kamu mengenali sinyal rasa sakit dan batasan fisik tubuhmu.

Stres 

Tahukah kamu kalau orang dengan penyakit rematik seringkali mengeluhkan gejalanya timbul setelah mereka merasa stres? 

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Arthritis Research and Therapy, mekanisme kekebalan maupun mekanisme non-kekebalan mungkin bertanggung jawab atas peningkatan aktivitas penyakit dan peningkatan gejala rematik.

Sehingga stres sangat mungkin menjadi penyebab rheumatoid arthritis yang memburuk.

Dehidrasi

Dehidrasi juga berperan sebagai penyebab rheumatoid arthritis yang memburuk. Mungkin terdengar sederhana, tapi kurang minum air dikaitkan dengan nyeri sendi kelelahan, metabolisme yang lebih lambat, fungsi kognitif yang lebih buruk, hingga pembentukan batu ginjal.

Merokok

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Arthritis & Rheumatism, ditemukan bahwa orang yang merokok memiliki gejala serta kondisi rematik yang lebih buruk dibandingkan orang yang tidak pernah merokok.

Penelitian lain pun menunjukkan hubungan yang signifikan antara merokok dan kerusakan sendi yang lebih parah.

Mengabaikan kesehatan mulut

Penyebab rheumatoid arthritis yang memburuk juga bisa datang dari kondisi gigi yang terabaikan.

Para peneliti menemukan hubungan antara rematik dan penyakit mulut dan gigi. Menurut para peneliti, jaringan sendi dan mulut memiliki kesamaan dan dalam proses inflamasi yang mempengaruhinya. 

Tidak melindungi sendi

Dalam tahapan pengobatan dan perawatan rematik, perlindungan sendi juga penting dilakukan.

Tujuan proteksi sendi adalah untuk mengurangi rasa sakit, mencegah perubahan bentuk sendi, menstabilkan sendi, dan mengurangi tekanan pada sendi. Biasanya perlindungan sendi ini perlu dilakukan dengan alat bantu khusus. 

Pesimisme

Pada tahun 2015, para peneliti di Penn State University menyimpulkan bahwa suasana hati yang lebih positif dikaitkan dengan berkurangnya rasa sakit pada pemilik penyakit rematik. 

Sementara suasana hati negatif dikaitkan dengan kondisi yang lebih buruk serta pembatasan aktivitas yang lebih banyak pada penderita rematik. Untuk itu menjaga pikiran tetap positif adalah cara sederhana untuk menjaga kondisi rheumatoid arthritis tidak memburuk.

Mengonsumsi obat alternatif

Tidak sedikit obat-obatan alternatif dijual di luar sana yang mengklaim bisa menyembuhkan penyakit. Padahal, obat alternatif belum tentu terjamin kandungannya. Kebanyakan obat alternatif juga tidak bekerja efektif hingga berpotensi berbahaya. 

Biasanya orang yang tergoda untuk menggunakan produk obat alternatif akan menghentikan konsumsi obat dari dokter sehingga kondisi rematiknya berpotensi semakin memburuk. 

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
    register-docotr