Kamus Penyakit

Penyakit Dismenore Penyebab Nyeri Haid Luar Biasa, Bagaimana Cara Mengatasinya?

July 4, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Waktu-waktu mendekati menstruasi dan saat menstruasi beberapa wanita kerap mengalami gangguan fisik seperti nyeri haid. Nyeri haid ini juga tidak bisa diabaikan, jika rasanya sangat menyakitkan dan berlangsung lama, bisa saja kamu menderita penyakit dismenore.

Jika kamu menderita dismenore, menstruasi bisa sangat menyakitkan dan melelahkan karena selain rasa nyeri, kamu juga mungkin mengalami gejala lainnya. Ingin tahu lebih jelasnya? Mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini, ya!

Apa itu penyakit dismenore

Penyakit dismenore adalah istilah medis untuk keluhan kram yang terasa nyeri saat menstruasi. Mengalami kram perut ringan di hari pertama atau kedua haid adalah hal yang normal, tapi 10 persen wanita mengalami rasa sakit yang hebat.

Dan membuat mereka tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. 

Tipe penyakit dismenore

Ada dua tipe penyakit dismenore, primer dan sekunder.

1. Dismenore primer

Dismenore primer adalah nyeri haid yang bukan merupakan gejala kelainan ginekologis yang mendasarinya tetapi terkait dengan proses normal menstruasi. Nyeri biasanya terjadi tepat sebelum menstruasi dimulai, ketika tingkat prostaglandin meningkat di lapisan rahim.

Pada hari pertama periode menstruasi, kadarnya tinggi. Ketika menstruasi berlanjut dan lapisan rahim terlepas, levelnya menurun. Nyeri biasanya berkurang karena kadar prostaglandin menurun.

Nyeri dapat berkisar dari ringan hingga berat, biasanya dapat berlangsung 12 hingga 72 jam, dan dapat disertai dengan mual dan muntah, kelelahan, dan bahkan diare.

Dismenore primer paling sering terjadi pada remaja akhir dan awal 20-an. Dan seiring bertambahnya usia, rasa sakit ini akan semakin berkurang dan berhenti saat kamu punya bayi. 

2. Dismenore sekunder

Nyeri akibat dismenore sekunder biasanya dimulai lebih awal dalam siklus menstruasi dan berlangsung lebih lama dari kram menstruasi biasa dan bahkan tidak setelah menstruasi berakhir. Nyeri biasanya tidak disertai mual, muntah, kelelahan, atau diare.

Dismenore sekunder lebih cenderung memengaruhi wanita saat dewasa.

Penyebab dismenore sekunder

Dismenore sekunder adalah nyeri yang disebabkan oleh kelainan pada organ reproduksi wanita, seperti:

1. Endometriosis

Dalam kondisi ini, jaringan dari lapisan rahim ditemukan di luar rahim, seperti di ovarium dan saluran tuba, di belakang rahim, dan di kandung kemih. Seperti lapisan rahim, jaringan endometriosis rusak dan berdarah sebagai respons terhadap perubahan hormon.

Perdarahan ini dapat menyebabkan rasa sakit, terutama saat menstruasi. Jaringan parut yang disebut adhesi dapat terbentuk di dalam panggul tempat perdarahan terjadi. Adhesi dapat menyebabkan organ saling menempel, menghasilkan rasa sakit.

2. Adenomyosis

Ini adalah kondisi langka di mana lapisan rahim tumbuh ke dinding otot rahim, menyebabkan peradangan, tekanan, dan rasa sakit. Ini juga dapat menyebabkan periode yang lebih lama atau lebih berat.

3. Fibroid

Fibroid adalah pertumbuhan yang terbentuk di luar, di dalam, atau di dinding rahim. Fibroid yang terletak di dinding rahim dapat menyebabkan rasa sakit.

4. Stenosis serviks

Stenosis serviks adalah kondisi langka di mana serviks sangat kecil atau sempit sehingga memperlambat aliran menstruasi, menyebabkan peningkatan tekanan di dalam rahim yang menyebabkan rasa sakit.

5. Penyakit radang panggul

Penyakit radang panggul adalah infeksi rahim, saluran tuba, atau indung telur yang sering disebabkan oleh bakteri menular seksual yang menyebabkan peradangan pada organ reproduksi dan rasa sakit.

Penyebab dismenore primer

Dismenore primer diduga disebabkan oleh kadar prostaglandin yang berlebihan, hormon yang membuat rahim berkontraksi saat menstruasi dan melahirkan.

Selama menstruasi, rahim berkontraksi lebih kuat. Jika rahim berkontraksi terlalu kuat, ia dapat menekan pembuluh darah di sekitarnya, memotong pasokan oksigen ke jaringan otot rahim. 

Nyeri terjadi ketika bagian otot secara singkat kehilangan suplai oksigennya.

Faktor risiko dismenore

Ada faktor-faktor yang dapat membuat nyeri dismenore lebih buruk adalah 

  • Rahim yang miring ke belakang (uterus yang terbalik). 
  • Periode menstruasi yang lebih lama, lebih berat, atau tidak teratur.
  • Kurang olahraga. 
  • Tekanan psikologis atau sosial.
  • Merokok. 
  • Minum alkohol. 
  • Kelebihan berat badan.
  • Riwayat keluarga dismenore. 
  • Mulai menstruasi sebelum usia 12.

Gejala penyakit dismenore

Gejala utama dismenore adalah rasa sakit. Ini terjadi di perut bagian bawah kamu selama menstruasi dan mungkin juga terasa di pinggul, punggung bagian bawah, atau juga paha kamu. Gejala lain mungkin termasuk mual, muntah, diare, pusing, sakit kepala, atau kelelahan.

Bagi sebagian besar wanita, rasa sakit biasanya dimulai sesaat sebelum atau pada awal periode menstruasi mereka, memuncak sekitar 24 jam setelah dimulainya perdarahan, dan mereda setelah 2 hingga 3 hari.

Terkadang gumpalan atau potongan jaringan berdarah dari lapisan rahim dikeluarkan dari rahim, menyebabkan rasa sakit.

Nyeri dismenore mungkin spasmodik (kram panggul yang tajam pada awal aliran menstruasi) atau kongestif (nyeri pegal-pegal yang dalam). Gejala dismenore sekunder sering dimulai lebih cepat dalam siklus menstruasi daripada gejala dismenore primer, dan biasanya berlangsung lebih lama.

Komplikasi penyakit dismenore

Dismenore pada kondisi tertentu bisa menyebabkan komplikasi, misalnya endometriosis dapat menyebabkan masalah kesuburan. Penyakit radang panggul dapat melukai tuba falopi kamu, sehingga meningkatkan risiko pembuahan sel telur di luar rahim kamu (kehamilan ektopik).

Diagnosis penyakit dismenore

Jika kamu mengalami rasa nyeri yang menyakitkan saat menstruasi, dan merasa nyeri itu tidak wajar. Kamu bisa memeriksakannya kepada dokter untuk melihat apakah kamu memiliki kelainan mendasar yang menyebabkan dismenore sekunder.

Dokter akan melakukan mengevaluasi riwayat medis kamu dan melakukan pemeriksaan fisik dan panggul yang lengkap. Tes lain mungkin termasuk:

1. Ultrasonografi

Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membuat gambar organ dalam.

2. Magnetic resonance imaging (MRI)

Tes ini menggunakan magnet besar, frekuensi radio, dan komputer untuk membuat gambar rinci organ dan struktur di dalam tubuh.

3. Laparoskopi

Prosedur minor ini menggunakan laparoskop. Ini adalah tabung tipis dengan lensa dan cahaya. Ini dimasukkan ke dalam sayatan di dinding perut.

Dokter menggunakan laparoskop untuk melihat ke daerah panggul dan perut, dengan tes ini dokter dapat mendeteksi pertumbuhan abnormal.  

4. Histeroskopi

Ini adalah pemeriksaan visual dari kanal serviks dan bagian dalam rahim. Ia menggunakan alat pengamat (hysteroscope) yang dimasukkan melalui vagina.

Pengobatan penyakit dismenore primer

Dismenore primer biasanya dapat diobati dengan obat-obatan seperti obat analgesik. Dokter juga mungkin akan memberikan kamu beberapa pilihan obat-obatan seperti:

1. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)

Kamu dapat menemukan obat-obatan ini tanpa resep atau mendapatkan NSAID dengan resep dari dokter kamu.

2. Penghilang rasa nyeri

Ini termasuk opsi yang dijual bebas seperti acetaminophen (Tylenol) atau obat pereda nyeri yang lebih kuat.

3. Antidepresan

Antidepresan kadang-kadang diresepkan untuk membantu mengurangi beberapa perubahan suasana hati yang terkait dengan PMS.

Beberapa dokter mungkin meresepkan obat hormon. Kontrasepsi oral juga dapat membantu mengurangi keparahan gejala. Mual dan muntah dapat dihilangkan dengan obat antinausea (antiemetik), tetapi gejala ini biasanya hilang tanpa pengobatan karena kram mereda.

Kontrasepsi implan dan IUD progesteron, yang melepaskan hormon progesteron dalam kadar rendah, juga terbukti sangat membantu dalam mengurangi rasa sakit.

Pengobatan penyakit dismenore sekunder

Jika kamu tidak merespons setelah tiga bulan perawatan dengan NSAID dan kontrasepsi hormonal mungkin kamu mengalami dismenore sekunder. Perawatan untuk dismenore sekunder akan bervariasi sesuai dengan penyebab yang mendasarinya.

Beberapa tindakan seperti laparoskopi diagnostik, perawatan hormonal lain, atau uji coba stimulasi saraf listrik transkutan (TENS) bisa saja dilakukan untuk mengobati penyakit ini. Pembedahan untuk menghilangkan fibroid atau memperluas saluran serviks jika terlalu sempit.

Dalam kasus yang jarang terjadi, histerektomi (operasi pengangkatan rahim) adalah pilihan jika perawatan lain tidak berhasil dan rasa sakitnya parah. Jika kamu melakukan histerektomi, kamu tidak lagi dapat memiliki anak.

Opsi ini biasanya hanya digunakan jika seseorang tidak berencana memiliki anak atau berada di akhir masa subur mereka.

Ketentuan perawatan dismenore

Perawatan khusus untuk dismenore akan ditentukan oleh dokter berdasarkan beberapa hal berikut ini:

  • Usia, kesehatan keseluruhan, dan riwayat medis.
  • Sejauh mana kondisinya.
  • Penyebab kondisi (primer atau sekunder).
  • Toleransi kamu terhadap obat, prosedur, atau terapi tertentu.

Perawatan rumah penyakit dismenore

Selain melakukan perawatan dengan obat-obatan, ada juga beberapa perawatan rumahan yang bisa kamu pilih untuk mengobati dismenore, seperti:

  • Meletakkan botol air panas di perut kamu atau punggung bagian bawah.
  • Mandi air hangat.
  • Melakukan olahraga ringan seperti peregangan, berjalan, atau bersepeda, olahraga dapat meningkatkan aliran darah dan mengurangi nyeri panggul.
  • Banyak istirahat.
  • Menghindari situasi yang penuh tekanan saat menstruasi mendekat.
  • Mengangkat kaki atau berbaring dengan lutut ditekuk.
  • Kurangi asupan garam, alkohol, kafein, dan gula untuk mencegah kembung
  • Yoga.

Kamu juga bisa memilih jenis perawatan lainnya seperti terapi alternatif, obat herbal, atau akupunktur. Jika kamu memilih obat herbal, kamu perlu berhati-hati, obat herbal memang alami tapi juga bukan berarti tidak ada efek samping.

Obat herbal juga dapat bereaksi dengan obat lain yang kamu sedang gunakan. Tanyakan terlebih dahulu pada dokter atau apoteker sebelum kamu menggunakan obat herbal.

Kapan harus menemui dokter

Jika nyeri haid mengganggu kemampuan kamu untuk melakukan tugas-tugas dasar setiap bulan, mungkin sudah saatnya untuk berbicara dengan dokter kandungan.

Bicaralah dengan dokter tentang gejala kamu dan jika kamu mengalami salah satu dari yang berikut ini:

  • Kram disertai diare dan mual.
  • Nyeri panggul saat tidak sedang menstruasi.
  • Muncul banyak gumpalan darah saat haid.
  • Rasa sakit yang berlanjut setelah pemasangan IUD.
  • Setidaknya tiga periode menstruasi yang menyakitkan.

Kram tiba-tiba atau nyeri panggul bisa menjadi tanda-tanda infeksi. Infeksi yang tidak diobati dapat menyebabkan jaringan parut yang merusak organ panggul dan dapat menyebabkan infertilitas.

Jika kamu memiliki gejala infeksi seperti berikut ini, segera dapatkan bantuan medis:

  • Demam.
  • Nyeri panggul yang parah.
  • Rasa sakit mendadak, terutama jika kamu mungkin sedang hamil.
  • Keputihan berbau busuk.

Saat pemeriksaan dokter akan menanyakan siklus haid dan gejala yang kamu rasakan.

Itulah hal-hal mengenai dismenore yang harus kamu ketahui. Jika kamu mengalami nyeri haid yang menyebabkan kram seperti penjelasan di atas, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter untuk melakukan diagnosis secara tepat. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline (2020). Diakses 27/06/20. What Causes Painful Menstrual Periods and How Do I Treat Them?

Hopkins Medicine (n.d). Diakses 27/06/06/20. Dysmenorrhea

Mayo Clinic (2020). Diakses 27/06/20. Menstrual cramps

Med Broadcast (n.d). Diakses 27/06/20. Dysmenorrhea

ACOG (2015). Diakses 27/06/20. Dysmenorrhea: Painful Periods

Web MD (2019). Diakses 27/06/20. What Are Menstrual Cramps?

Cleveland Clinic (2014). Diakses 27/06/20. Dysmenorrhea

    Berita Terkait
    register-docotr