Kamus Penyakit

Mengenal Penyakit Chikungunya, Virus Akibat Gigitan Nyamuk

July 4, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Penyakit chikungunya disebabkan oleh virus yang disebarkan ke manusia oleh gigitan nyamuk. Kamu akan merasakan demam dan nyeri sendi saat terkena penyakit ini.

Gejala lain dari penyakit ini termasuk sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan di sendi atau ruam.

Sejarah penyakit chikungunya

Penyakit ini pertama kali dideteksi pada 1952 di Afrika, berkaitan dengan wabah yang terjadi di dataran tinggi Makonde, Mozambik dan Tanzania. Nama chikungunya sendiri berasal dari bahasa Makonde yang berarti melengkung.

Pemberian nama itu berkaitan dengan kondisi yang biasa ditunjukkan saat gejala penyakit ini muncul. Pada bahasa Swahili, chikungunya dapat diartikan sebagai penyakit pada orang yang melengkung.

Sejak wabah di Afrika pada tahun 1952 itu, wabah virus ini kadang-kadang terjadi lagi. Akan tetapi, wabah baru-baru ini telah menyebar ke belahan dunia lain seperti di Eropa dan Asia dengan interval waktu mencapai 2 hingga 20 tahun.

Penyebab penyakit chikungunya

Virus penyebab penyakit ini berpindah ke manusia dari gigitan nyamuk betina yang telah terinfeksi oleh virus. Umumnya, nyamuk yang menyebarkan virus ini adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Kedua spesies ini juga dapat menyebarkan virus lain yang identik dengan nyamuk, seperti virus dengue atau demam berdarah. Nyamuk-nyamuk ini menggigit pada saat jam pagi hingga sore, dengan puncak aktivitas mereka pada pagi dan menjelang malam.

Saat kamu digigit oleh nyamuk yang telah terinfeksi ini, biasanya serangan penyakit ini akan terjadi antara 4 dan 8 hari. tapi bisa juga beragam dari 2 hingga 12 hari.

Nyamuk Aedes, si penyebar penyakit

Baik demam berdarah maupun chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh serangga. Kedua penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Aedes, baik Ae. aegypti maupun Ae. albopictus.

Meskipun demikian, keduanya disebabkan oleh dua virus yang berbeda, Chikungunya oleh alphavirus Togaviridae, sedangkan demam berdarah oleh flavivirus Flavirideae. 

Kedua nyamuk, Ae. aegypti dan Ae. albopictus yang dikaitkan dengan wabah penyakit chikungunya ini hidupnya terbatas di wilayah tropis dan sub tropis. Nyamuk Ae. albopictus juga hidup di wilayah iklim sedang dan dingin.

Dalam beberapa dekade terakhir, nyamuk Ae. albopictus telah menyebar dari Asia dan menjadi dapat hidup di wilayah Afrika, Eropa dan Amerika. Nyamuk ini memiliki lokasi perkembangbiakan yang lebih luas ketimbang Ae. Aegypti.

Gejala penyakit chikungunya

Ketika virus chikungunya ini berhasil ditularkan oleh nyamuk Aedes, maka dia akan berkembang di dalam tubuh kamu. Virus ini menyerang siapa saja di segala golongan usia, baik anak-anak ataupun dewasa yang berada di wilayah endemi.

Penyakit ini ditandai dengan serangan demam. Biasanya demam akan dibarengi dengan nyeri di persendian, nyeri otot, sakit kepala, mual, letih dan ruam.

Ciri khas dari penyakit ini adalah nyeri sendi. Dan nyeri sendi ini akan membuat kamu menjadi sangat lemah, virus ini juga bisa menyebabkan penyakit akut dan kronis lainnya.

Beberapa orang mengalami gejala ringan hingga tidak terdeteksi sama sekali dalam menunjukkan penyakit chikungunya ini. Penyakit ini tidak bisa menyebabkan kematian, tapi gejala-gejala tersebutlah yang bisa membuat kamu menjadi tidak berdaya.

Komplikasi penyakit chikungunya

Penyakit chikungunya merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri atau self-remitting disease. Meskipun demikian, walau jarang terjadi, ada beberapa kasus komplikasi yang disebabkan oleh nyeri sendi yang berlangsung selama berbulan-bulan bahkan sampai tahunan.

Kelompok masyarakat yang rentan untuk terkena penyakit ini adalah bayi yang baru lahir, lansia, serta orang dengan kondisi medis tertentu seperti tekanan darah tinggi, diabetes atau penyakit jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada komplikasi kasus di mata, neurologis, gangguan saluran pencernaan dan penyakit jantung yang terjadi. Komplikasi serius dapat terjadi pada lansia yang dapat menyebabkan kematian.

Diagnosis Penyakit chikungunya

Beberapa metode dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit ini. Tes serologi dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya kehadiran virus ini di tubuh.

Biasanya sampel darah akan diambil dari tubuh kamu dalam minggu pertama setelah gejala menyerang. Sampel ini harus diuji oleh serologi dan metode virologi atau reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR).

Pengobatan penyakit chikungunya

Saat ini belum ada obat antivirus spesifik untuk chikungunya. Penanganan yang dilakukan biasanya hanya berupaya untuk meringankan gejala seperti nyeri sendi menggunakan antipiretik, analgesik optimal dan pemberian cairan.

Biasanya, untuk mengatasi gejala yang berlangsung kamu perlu menjalani tindakan sebagai berikut:

  • Istirahat yang cukup
  • Penuhi asupan cairan bagi tubuh untuk menghindari dehidrasi
  • Konsumsi obat seperti acetaminophen atau paracetamol untuk mengurangi demam dan nyeri
  • Jangan konsumsi aspirin dan obat antiinflamasi non-steroid lainnya

Mencegah penyakit chikungunya

Wabah ini dapat dikendalikan dengan melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Lokasi nyamuk vektor berkembang biak yang dekat dengan habitat manusia adalah faktor risiko yang signifikan terhadap chikungunya dan penyakit lain yang dapat disebarkan oleh nyamuk ini. 

Pencegahan dan kontrol penyakit ini sangat bergantung pada tindakan-tindakan untuk mengurangi perkembang biakan nyamuk dan mencegah gigitan nyamuk di kulit. Kamu bisa melakukan tindakan sebagai berikut:

Mencegah perkembangbiakan nyamuk

Kamu harus rajin untuk mengurangi atau menguras genangan air alami atau buatan yang dapat dijadikan tempat berkembang biak oleh nyamuk.

Pada saat penyakit ini mewabah, penyemprotan insektisida mungkin dibutuhkan untuk membunuh nyamuk. Semprotlah insektisida ke permukaan dan sekitar genangan air. 

Karena fase perkembangan nyamuk ini dimulai dari dalam air maka kamu juga harus gunakan insektisida untuk membunuh larva nyamuk yang belum dewasa di dalam air tersebut.

Untuk genangan atau tempat penampungan air yang digunakan, kosongkan dan kuras tempat itu setiap 3 hingga 4 hari sebagai tindakan pencegahan. Sebagai tindakan alternatif, kamu bisa tutup tempat-tempat ini supaya tidak digunakan oleh nyamuk untuk berkembang biak.

Mencegah gigitan

Saat ini tidak ada virus untuk mencegah penyakit ini, sehingga kamu perlu melakukan pencegahan dengan salah satunya menghindari tergigit oleh nyamuk ini. Kamu harus ekstra hati-hati saat siang hari, saat nyamuk ini sedang aktif.

Kamu bisa lakukan tindakan sebagai berikut:

  • Gunakan pakaian yang dapat menutup kulit yang dapat terkespos oleh gigitan nyamuk
  • Pakai penolak nyamuk di kulit yang dapat terekspos ataupun pakaian yang kamu gunakan
  • Gunakan jaring nyamuk untuk melindungi bayi, orang tua ataupun orang sakit yang biasanya beristirahat pada siang hari
  • Pakai obat nyamuk pada saat siang hari juga disarankan

Kasus di Indonesia

Demam Chikungunya di Indonesia pertama kali dilaporkan di Samarinda pada tahun 1973. Kemudian penyakit ini berjangkit di Muara Tungkal, Jambi, pada tahun 1980 dan merebak di Martapura, Ternate dan Yogyakarta pada tahun 1983.

Setelah hampir 20 tahun vakum, terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) demam chikungunya di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh pada awal tahun 2001. Lalu menyusul di Bogor pada bulan Oktober.

Penyakit chikungunya berjangkit lagi di Bekasi, Jawa Barat, Purworejo, dan Klaten di Jawa Tengah pada tahun 2002.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Who.int (2017) diakses 30 Juni 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chikungunya
  2. Who.int (2019) diakses 30 Juni 2020. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/what-is-chikungunya-fever
  3. Chp.gov.hk (2019) diakses 30 Juni 2020. https://www.chp.gov.hk/en/healthtopics/content/24/6122.html
  4. Chikungunyavirusnet.com diakses 30 Juni 2020. http://www.chikungunyavirusnet.com/history-of-chikungunya.html
  5. Cdc.gov (2019) diakses 30 Juni 2020. https://www.cdc.gov/chikungunya/index.html
  6. Pharmaceutical-journal.com (2015) diakses 30 Juni 2020. https://www.pharmaceutical-journal.com/cpd-and-learning/dengue-fever-and-chikungunya-identification-in-travellers/20068429.article?firstPass=false
  7. Ejournal.litbang.kemkes.go.id (2011) diunduh 30 Juni 2020. http://ejournal.litbang.kemkes.go.id/index.php/aspirator/article/viewFile/2964/2149
    register-docotr