Kamus Penyakit

Gatal pada Vagina? Mungkin Itu Penyakit Bacterial Vaginosis

July 1, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Gatal pada vagina bisa disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan. Bisa karena alergi, penyakit seksual menular atau adanya infeksi jamur. Selain itu gatal bisa juga disebabkan oleh penyakit bacterial vaginosis.

Penyakit bacterial vaginosis ini seringkali dialami oleh wanita yang sudah aktif melakukan hubungan seksual. Walaupun bisa saja dialami oleh usia remaja. Untuk lebih mengenal penyakit ini, yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Apa itu penyakit bacterial vaginosis?

Bacterial vaginosis adalah jenis peradangan pada vagina akibat pertumbuhan bakteri berlebihan. Biasanya penyakit ini dialami oleh wanita usia subur, antara 15 hingga 44 tahun.

Apa saja gejalanya?

Tidak semua mengalami gejala tertentu. Namun beberapa gejala umum pada penyakit ini antara lain:

  • Keputihan hijau, putih atau berwarna abu-abu
  • Vagina berbau amis atau berbau tidak sedap
  • Gatal pada vagina
  • Vagina terasa nyeri saat buang air kecil

Apa penyebab penyakit bacterial vaginosis?

Penyakit ini muncul saat keseimbangan alami mikroorganisme di vagina terganggu. Ada beberapa bakteri yang tumbuh terlalu banyak. Biasanya bakteri lactobacillus atau bakteri baik tumbuh melebihi dari jumlah bakteri anaerob atau bakteri jahat.

Ketidakseimbangan tersebut dipicu oleh beberapa faktor risiko. Faktor risiko tersebut meliputi:

Menggunakan sabun pembersih vagina

Mungkin kamu akan heran, kenapa sabun yang diklaim dapat membersihkan vagina justru menyebabkan munculnya penyakit. Karena menggunakan sabun pembersih vagina dapat memicu pertumbuhan salah satu bakteri di vagina. Ini yang menyebabkan ketidakseimbangan alami.

Berganti-ganti pasangan seks

Meski tidak ada penjelasan lebih lanjut, namun penyakit ini cenderung terjadi pada mereka yang memiliki lebih dari satu pasangan seks. Selain itu, dilansir dari mayoclinic.org, wanita yang berhubungan seks dengan sesama wanita juga rentan terkena penyakit ini.

Alat kontrasepsi

Alat kontrasepsi berbentuk intrauterine device (IUD) yang dipasang di dalam rahim sering kali dikaitkan dengan munculnya penyakit ini. Terutama pada wanita yang mengalami menstruasi tidak teratur.

Bagaimana mendiagnosis penyakit bacterial vaginosis?

Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan meminta pasien melakukan tes lainnya, seperti:

  • Pemeriksaan panggul. Dokter akan melihat tanda-tanda infeksi pada vagina pasien. Dokter juga akan menekan perut pasien dengan satu tangan dan di saat bersamaan dokter akan memasukan jari ke dalam vagina pasien untuk memeriksa kemungkinan penyakit lain.
  • Pemeriksaan ph atau tingkat keasaman vagina. Pasien akan dinyatakan terkena penyakit ini jika tingkat ph vaginanya mencapai 4,5 atau lebih.
  • Mengambil sampel cairan dari vagina untuk diperiksa lebih lanjut.

Bagaimana mengobati penyakit bacterial vaginosis?

Umumnya dokter akan memberikan resep obat minum berupa antibiotik. Atau berupa gel yang dimasukan ke dalam vagina pasien. Obat-obatan tersebut antara lain:

  • Metronidazole

Obat ini dapat diminum sebagai pil dan juga tersedia metronidazole dalam bentuk gel topikal yang dimasukkan ke dalam vagina.

Untuk mengurangi efek samping berupa sakit perut atau mual saat menggunakan obat ini, hindari alkohol selama perawatan dan setidaknya satu hari setelah menyelesaikan perawatan.

  • Clindamycin

Obat ini tersedia dalam bentuk krim yang penggunaannya dimasukan ke dalam vagina. Obat ini akan bereaksi pada kondom lateks. Hindari berhubungan seksual selama menggunakan obat ini.

  • Tinidazole

Obat ini biasanya berbentuk obat minum. Sama seperti metronidazole, obat ini dapat menimbulkan efek samping mual dan sakit perut. Untuk menghindari efek samping tersebut, hindari alkohol terlebih dahulu. Setidaknya hingga 3 hari setelah perawatan.

Perawatan penyakit ini memakan waktu sekitar 5 hingga 7 hari. Selesaikan pemakaian obat atau habiskan obat minum sesuai resep, walau gejalanya sudah mereda. Menghentikan pengobatan lebih awal dapat membuat penyakit muncul kembali.

Selain itu perlu diperhatikan, pasien akan diminta untuk tidak melakukan hubungan seksual hingga perawatan selesai dilakukan. Karena penyakit ini dapat menyebar melalui hubungan seksual.

Kemungkinan kambuh

Setelah pengobatan, penyakit ini bisa saja kembali muncul. Sekitar 30 persen wanita yang mengalami penyakit ini, kambuh setelah 3 bulan dinyatakan sembuh. Sementara itu ada juga yang mengalami kambuh setelah 6 bulan.

Dokter biasanya akan mengubah metode pengobatan jika pasien kembali mengalami penyakit ini untuk kedua kalinya. Jika pengobatan pertama menggunakan obat minum, maka yang berikutnya bisa menggunakan obat krim yang dimasukan ke vagina, atau sebaliknya.

Jika penyakit ini kambuh untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari setahun, maka dokter akan meresepkan obat untuk jangka panjang. Mulai dari 3 hingga 6 bulan pengobatan.

Kemungkinan komplikasi

Selain kemungkinan kambuh, kamu juga perlu mengetahui jika penyakit ini bisa memicu komplikasi, seperti:

  • Kelahiran prematur. Pada wanita hamil, terkena penyakit ini bisa menyebabkan kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan yang kurang.
  • Penyakit seksual menular. Mengidap penyakit ini dapat memicu timbulnya penyakit seksual menular seperti herpes simpleks, gonore dan HIV. Namun penyakit bacterial vaginosis tidak termasuk ke dalam penyakit infeksi seksual menular.
  • Risiko infeksi setelah operasi ginekologi. Mengidap penyakit ini membuat pasien rentan terhadap infeksi pasca bedah, terutama bedah histerektomi dan kuretase.
  • Penyakit radang panggul. Penyakit ini juga bisa memicu munculnya penyakit lain seperti radang panggul dan menyebar menjadi infeksi rahim, saluran tuba serta dapat meningkatkan risiko infertilitas.

Apakah penyakit bacterial vaginosis dapat dicegah?

Meski tidak menjamin terhindar dari penyakit ini, kamu bisa melakukan pencegahan berupa:

  • Berhubungan seksual dengan aman, menggunakan kondom.
  • Usahakan untuk tidak menggunakan sabun pembersih vagina.
  • Bersihkan vagina menggunakan air, dari arah depan ke belakang.
  • Jika menggunakan menggunakan sex toy, bersihkan dengan seksama setelah digunakan.


Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Mayoclinic.org diakses 25 Juni 2020 Bacterial vaginosis
  2. Webmd diakses 25 Juni 2020 Bacterial vaginosis (BV) 
  3. Medicalnewstoday diakses 25 Juni 2020 What is bacterial vaginosis?
    register-docotr