Kamus Penyakit

Syndrome Baby Blues

October 2, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Moms, tahukah kamu bahwa melahirkan merupakan pengalaman emosional yang melelahkan yang dapat membuat hormon berubah secara drastis dalam beberapa hari pertama?

Melahirkan buah hati yang dinanti-nanti merupakan suatu hal yang membahagiakan. Merasa senang sekaligus bangga setelah berhasil melahirkan anggota keluarga baru merupakan kebahagian kan Moms?

Namun, ternyata banyak ibu yang justru mengalami perubahan suasana hati dan justru merasa kewalahan, lho kok bisa? Jika Moms mengalami hal ini mungkin Moms mengalami “baby blues”.

Apa itu penyakit syndrome baby blues?

Syndrome baby blues adalah perubahan suasana hati (mood swings), yang ditandai sering menangis, kecemasan, dan sulit untuk tidur. Umumnya ini terjadi setelah ibu melahirkan.

Berapa lama baby blues berlangsung? Kondisi ini biasanya dimulai dalam dua hingga tiga hari pertama setelah melahirkan, dan hal ini dapat berlangsung selama dua minggu.

Apa penyebab penyakit baby blues?

Menurut Harvard Health Publishing, salah satu bahaya baby blues adalah bisa berujung pada depresi postpartum dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah:

1. Perubahan hormon

Selama kehamilan, kadar hormon estrogen dan progesteron seorang wanita dapat meningkat secara drastis. Hormon ini membantu rahim mengembang, mempertahankan lapisan rahim, dan membantu mempertahankan plasenta (organ yang menyediakan nutrisi bagi janin).

Dalam 48 jam setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron dapat menurun drastis. Karena hormon reproduktif ini juga berinteraksi dengan neurotransmitter yang memengaruhi suasana hati.

Kecelakaan hormon postpartum ini dapat menyebabkan ketidakstabilan emosional yang membuat wanita lebih rentan secara biologis.

2. Depresi terdahulu

Wanita dan pria yang pernah mengalami depresi pada masa lalu lebih rentan terkena depresi post-partum dibandingkan dengan orang lain.

Sebagai contoh, 10% wanita yang tidak pernah mengalami depresi mengembangkan depresi post-partum, dibandingkan dengan 25% dari mereka yang mengalami depresi.

Pada akhirnya, 50% wanita yang pulih dari satu episode depresi post-partum juga dapat mengalami gejala setelah persalinan lainnya.

3. Stres

Kehamilan, melahirkan, dan menjadi orang tua merupakan pengalaman yang dapat membuat stres. Hal ini dapat memicu depresi post-partum.

Calon orang tua yang juga mengalami kondisi stres lainnya yang dapat disebabkan oleh ekonomi, kehilangan pekerjaan, atau kematian orang yang dicintai lebih rentan untuk terkena gangguan ini.

4. Kelelahan

Semua orang tua yang baru memiliki anak memiliki waktu yang lebih sedikit untuk tidur dibandingkan dengan keadaan normal biasanya. Tetapi orang yang mengalami gangguan depresi ini merupakan orang yang paling merasakan kurang tidur.

Sulit menentukan apakah gejala depresi post-partum mungkin disebabkan oleh kurang tidur, depresi, atau campuran keduanya.

Satu studi menemukan bahwa, gangguan tidur sendiri bahkan setelah mengendalikan faktor risiko lainnya meningkatkan seseorang untuk mengalami depresi post-partum.

5. Kurangnya dukungan

Faktor lainnya yang dapat membuat seseorang mengalami gangguan ini adalah kurangnya dukungan.

Konflik dalam pernikahan serta isolasi sosial dapat meningkatkan kemungkinan orang tua mengalami depresi post-partum.

Orang tua yang tidak memiliki lingkungan pertemanan dan keluarga untuk mendukung mereka secara emosional atau membantu mengurus bayi juga rentan terkena depresi ini.

Baca juga: Nutrisi Anak 12 Bulan, Moms Harus Perhatikan 6 Menu Ini

Siapa saja yang lebih berisiko terkena baby blues?

Diperkirakan sebanyak 70-80% ibu baru mengalami perasaan negatif atau perubahan suasana hati setelah melahirkan. Ibu baru menjadi lebih rentan terkena sindrom ini karena belum memiliki pengalaman mengurus bayi sebelumnya.

Namun, dalam suatu kasus tertentu ada juga beberapa ibu yang sudah memiliki anak mengalami bentuk depresi yang lebih parah dan lebih lama yang dikenal sebagai depresi post-partum (postpartum depression). Ini merupakan bentuk lain dari bahaya baby blues yang harus diwaspadai.

Apa gejala dan ciri-ciri penyakit baby blues?

Moms dapat disebut mengalami sindrom baby blues jika merasakan: depresi postpartum jika merasakan:

  • Perubahan suasana hati secara cepat dari senang menjadi sedih. Satu menit, Moms akan merasa bangga dengan pekerjaan Moms sebagai ibu baru. Berikutnya, Moms menangis karena merasa tidak sanggup untuk melakukannya.
  • Tidak merasa ingin makan atau mengurus diri sendiri karena merasa kelelahan.
  • Merasa lebih sensitif atau mudah marah, kewalahan, serta gelisah.
  • Kurangnya konsentrasi.
  • Merasa tidak sabaran.
  • Sering merasa lelah.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat syndrome baby blues?

Jika baby blues berlangsung selama lebih dari dua minggu, ini bisa berkembang ke gangguan mental yang lebih serius misalnya depresi post-partum.

Depresi post-partum dapat melibatkan perasaan sedih yang belangsung lebih lama atau bahkan lebih buruk. Hal ini dialami sekitar 10% ibu yang baru melahirkan.

Depresi post-partum bukanlah merupakan kelemahan. Ini merupakan komplikasi melahirkan. Moms lebih cenderung dapat mengalami depresi ini jika Moms sudah mengalami depresi sebelumnya atau jika hal tersebut juga terjadi di keluarga.

Depresi post-partum biasanya memiliki gejala-gejala sebagai berikut:

  • Merasa putus asa, sedih, tidak berguna, atau kesepian sepanjang hari. Tak hanya itu saja, Moms juga dapat menangis lebih sering.
  • Merasa bahwa Moms tidak melakukan pekerjaan bagus sebagai ibu baru.
  • Tidak bisa makan, tidur, atau mengurus bayi yang baru dilahirkan karena Moms merasakan keputusasaan yang luar biasa.
  • Dapat mengalami gangguan kecemasan serta serangan panik.
  • Mengalami gangguan tidur.
  • Moms mungkin juga merasakan pikiran yang obsesif terhadap bayi yang baru dilahirkan.
  • Paranoia.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati syndrome baby blues?

Jika Moms mengalami depresi ini, Moms tidak perlu khawatir karena ada beberapa cara yang dapat Moms lakukan. Berikut adalah cara mengatasi depresi ini seperti yang dirangkum dari help guide.

Perawatan baby blues di dokter

Moms dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pengobatan yang biasanya dilakukan sebagai cara mengatasi baby blues ini adalah:

Terapi individu atau konseling pernikahan: Terapis yang baik dapat membantu menangani penyesuaian menjadi seorang ibu dengan baik.

Jika mengalami kesulitan dalam pernikahan atau tidak mendapatkan dukungan dari rumah, pengobatan dnegan melakukan cara ini merupakan pengobatan yang bermanfaat.

Terapi hormon: Terapi penggantian hormon estrogen juga dapat dijadikan cara mengatasi baby blues. Estrogen biasanya sering digunakan dengan kombinasi bersama dengan antidepresan.

Namun, ada risiko yang menanti jika melakukan hal ini. Maka dari itu, sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu pada dokter sebelum melakukannya.

Cara mengatasi baby blues secara alami di rumah

Selain memeriksakan diri pada dokter, Moms juga bisa melengkapi pengobatan yang dilakukan dengan melakukan beberapa hal ini secara mandiri di rumah.

Ciptakan ketertarikan yang nyaman dengan bayi

Proses ikatan emosional antara ibu dan anak yang dikenal sebagai kasih sayang merupakan hal yang terpenting yang harus dilakukan.

Keberhasilan hubungan tanpa kata ini memungkinkan seorang anak berkembang seperti yang dibutuhkannya. Ini juga memengaruhi bagaimana ia akan berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk hubungan sepanjang hidup.

Keterikatan yang aman terbentuk ketika Moms sebagai seorang ibu merespons dengan hangat dan konsisten terhadap kebutuhan fisik dan emosional bayi.

Ketika bayi menangis, sebaiknya Moms menenangkannya dengan cepat. Dan ketika bayi tertawa atau tersenyum Moms juga harus meresponnya dengan baik.

Gangguan baby blues yang berujung pada depresi post-partum dapat mengganggu ikatan ini. Ibu yang mengalami depresi ini terkadang bisa merespons dengan penuh perhatian, namun di lain waktu dapat bereaksi negatif atau tidak merespons sama sekali.

Bagaimanapun juga menciptakan ikatan dengan bayi tidak hanya dapat bermanfaat bagi bayi saja, tetapi juga bermanfaat bagi pelepasan hormon endorfin yang dapat membuat lebih bahagia serta nyaman menjadi seorang ibu.

Bersandar pada orang lain untuk bantuan dan dukungan

Manusia merupakan makhluk sosial. Memiliki kontak sosial yang positif dapat melepaskan stres lebih cepat dan lebih efisien dibandingkan dengan cara lain untuk mengurangi stres.

Cara yang dapat Moms lakukan untuk melakukan kontak dengan orang lain di antaranya adalah menjadikan hubungan Moms sebagai prioritas.

Ketika Moms merasa depresi dan tidak berharga, sangat penting untuk tetap berhubungan dengan teman maupun keluarga dibandingkan dengan sendirian. Tak hanya itu saja, sebaiknya janganlah untuk meyimpan perasaan seorang diri.

Selain bantuan praktis yang dapat diberikan oleh teman dan keluarga, mereka juga dapat dijadikan sebagai saluran emosional yang sangat dibutuhkan.

Bagikan yang Moms alami yang baik maupun yang buruk setidaknya pada satu orang.

Menjaga diri sendiri

Salah satu hal terbaik untuk meredakan atau mencegah depresi ini adalah dengan menjaga diri sendiri. Perubahan gaya hidup sederhana  dapat membantu menjadi diri sendiri lagi.

Moms dapat melakukan cara seperti melewati pekerjaan rumah dan lebih memprioritaskan bayi, melakukan olahraga kembali, melakukan latihan meditasi agar merasa lebih tenang dan mengembalikan energi kembali, serta menyisihkan waktu berkualitas untuk diri sendiri.

Tak hanya itu saja Moms juga dapat menjadikan makan juga sebagai prioritas, serta Moms juga dapat keluar rumah untuk merasakan sinar matahari yang dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik.

Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan

Lebih dari setengah perceraian terjadi setelah kelahiran anak. Bagi banyak pria dan wanita, hubungan dengan pasangan mereka merupakan sumber utama ekspresi emosional dan hubungan sosial.

Tuntutan serta kebutuhan bayi yang baru dilahirkan dapat mematahkan hubungan ini, kecuali pasangan meluangkan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk menjaga ikatan mereka.

Tekanan pada malam hari yang dapat menyebabkan kurang tidur dan tanggung jawab untuk merawat bayi dapat membuat Moms merasa kewalahan serta kelelahan. Jika mengalami hal ini sangat mudah untuk melimpahkan perasaan frustasi pada pasangan.

Untuk mengatasinya, selalu ingatlah bahwa Moms tidak sendirian. Jika Moms dapat mengatasi masalah ini bersama dengan pasangan, Moms akan menjadi unit yang lebih kuat dalam merawat si kecil.

Sebaiknya jagalah jalur komunikasi tetap terbuka. Banyak hal yang berubah setelah kelahiran bayi, termasuk peran serta harapan.

Sangat penting untuk membicarakan masalah daripada membiarkannya. Jangan berasumsi bahwa pasangan mengetahui bagaimana perasaan Moms serta apa yang dibutuhkan.

Apa saja obat baby blues yang biasa digunakan?

Gangguan kesehatan ini ada kalanya memerlukan obat-obatan tertentu untuk mengatasinya.

Obat baby blues di apotik

Dokter mungkin akan merekomendasikan antidepresan. Namu perlu diingat, karena obat apa pun yang kamu minum akan masuk ke dalam ASI. Maka penting untuk mengonsumsi obat ini dengan sedikit risiko efek samping untuk si Kecil.

Obat baby blues alami

Dilansir dari Healthline, asupan makanan rendah omega-3 banyak dimanfaatkan untuk mengatasi perasaan tertekan selama kehamilan dan periode setelah melahirkan. Coba konsumsi suplemen dan tingkatkan asupan makanan seperti:

  • Biji chia
  • Ikan salmon
  • Sarden, dan
  • Ikan berminyak lainnya

Riboflavin, atau vitamin B-2, juga dapat membantu mengurangi risiko mengembangkan depresi setelah melahirkan. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, disebutkan bahwa riboflavin memiliki efek positif pada gangguan suasana hati.

Baby blues pada ayah

Gangguan ini tidak hanya menyerang ibu, namun bisa juga mengenai ayah. Kondisi ini dinamakan baby blues pada ayah. Ayah yang masih muda, memiliki riwayat depresi, mengalami masalah hubungan atau sedang berjuang secara finansial paling berisiko mengalami depresi pascapartum.

Depresi pascapartum pada ayah – kadang disebut depresi pascapersalinan paternal – dapat memiliki efek negatif yang sama pada hubungan pasangan dan perkembangan anak seperti halnya depresi pascapersalinan pada ibu.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Harvard Health Publishing (2011). Diakses pada 09 Mei 2020. Beyond The “Baby Blues” 

Help Guide (2019). Diakses pada 09 Mei 2020. Postpartum Depression and The Baby Blues 

American Pregnancy Association (2015). Diakses pada 09 Mei 2020. Baby Blues 

NHS.uk (2018). Diakses pada 09 Mei 2020. Feeling Depressed After Childbirth 

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 09 Mei 2020. Postpartum Depression 

Webmd (2019). Diakses pada 09 Mei 2020. Is It Postpartum Depression or ‘Baby Blues’? 

    Berita Terkait
    register-docotr