Kamus Penyakit

Penyakit Kusta

January 20, 2021 | Dani Kosasih | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Mengutip World Health Organization (WHO), kusta atau lepra merupakan penyakit yang tercatat pada banyak literatur peradaban kuno. Bahkan, dalam sejarah, orang yang menderita kondisi ini sering kali dikucilkan oleh masyarakat.

Penyakit ini terjadi di banyak negara terutama negara dengan iklim tropis atau subtropis. Penyakit ini dulunya ditakuti sebagai penyakit yang sangat menular dan mematikan. Saat ini, lepra sudah bisa diobati dengan efektif dan penularannya pun bisa ditekan.

Baca Juga: Selain Buang Racun Tubuh, Ini 7 Fungsi Ginjal yang Wajib Kamu Tahu!

Apa itu penyakit kusta?

Kusta adalah infeksi bakteri kronis dan progresif yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta lapisan hidung dan saluran pernapasan bagian atas.

Penyakit ini menyebabkan borok kulit, kerusakan saraf, dan kelemahan pada otot. Jika tidak dirawat, penyakit ini dapat menyebabkan cacat parah dan cacat signifikan.

Apa penyebab penyakit kusta?

Kusta di wajah maupun di area tubuh lain disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini tumbuh sangat lambat dan mungkin membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk mengembangkan tanda-tanda terjadinya infeksi.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena penyakit kusta?

Sebenarnya, penyakit kusta bisa menyerang siapa saja. Namun perlu juga kamu ketahui bahwa faktor risiko terbesar untuk tertular penyakit ini adalah melakukan kontak langsung dalam waktu lama dengan orang yang terinfeksi.

Tak lepas juga dengan orang-orang yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk, seperti rumah yang tidak memadai dan tidak memiliki sumber air bersih juga berisiko terkena penyakit ini.

Terlebih lagi jika kamu memiliki sistem imun yang lemah dan tidak didukung dengan asupan gizi yang baik, risiko penularan penyakit ini akan lebih besar.

Apa gejala dan ciri-ciri penyakit kusta?

Pada awalnya, gejala penyakit ini hampir tidak terlihat dengan jelas. Biasanya diperlukan sekitar 3 hingga 5 tahun agar gejalanya muncul setelah bersentuhan dengan bakteri penyebabnya.

Periode antara kontak dengan bakteri dan munculnya gejala disebut periode inkubasi.

Masa inkubasi bakteri yang lama membuat dokter sulit untuk menentukan kapan dan di mana penderita terinfeksi. Pada beberapa kasus bahkan tidak mengalami gejala hingga 20 tahun kemudian.

Penyakit ini paling utama menyerang kulit dan saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang yang disebut saraf perifer. Penyakit ini juga bisa mengenai mata dan jaringan tipis yang melapisi bagian dalam hidung.

Beberapa gejala yang dirasakan penderitanya, adalah:

  • Mimisan
  • Mata menjadi sering kering
  • Adanya benjolan pada kulit
  • Hilangnya alis atau bulu mata
  • Kulit terasa tebal, kaku atau kering
  • Bisul tanpa rasa sakit di telapak kaki
  • Masalah mata yang dapat menyebabkan kebutaan
  • Mati rasa pada area kulit yang terinfeksi
  • Mati rasa pada tangan, lengan, kaki, dan kaki
  • Kelemahan pada otot terutama otot kaki dan otot tangan
  • Pembengkakan tanpa rasa sakit atau benjolan di wajah atau telinga
  • Saraf yang membesar terutama di sekitar siku dan lutut serta di sisi leher
  • Lesi kulit yang menghasilkan penurunan sensasi pada sentuhan, suhu, atau rasa sakit

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat penyakit kusta?

Ada dua cacat fisik, jika kamu mengalami komplikasi akibat penyakit kusta yaitu:

Cacat primer

Kondisi cacat primer ini artinya penderita kusta bisa mengalami mati rasa. Tak hanya itu saja, bisa menimbulkan bercak kulit mirip panu yang biasanya muncul dengan cepat dan dalam waktu yang singkat.

Bercak dapat meradang, membengkak dan menyebabkan demam. Selain itu, claw hand alias tangan dan jari yang membengkok juga bisa terjadi.

Cacat sekunder

Jika bakteri yang menyebar sudah mengakibatkan kerusakan saraf. Penderita kusta akan mengalami kelumpuhan di bagian tangan, kaki, jari-jari tangan, atau refleks kedip yang berkurang. Kulit juga bisa menjadi kering dan bersisik.

Beberapa cacat fisik yang akan kamu alami apabila komplikasi penyakit kusta yaitu kerusakan septum hidung, glaukoma, buta, disfungsi ereksi, dan gagal ginjal.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati penyakit kusta?

Perawatan di dokter

Pada awal 1960-an, rifampisin dan clofazimine mulai ditemukan dan ditambahkan dalam pengobatan yang kemudian diberi label sebagai terapi multiobat atau multidrug therapy (MDT).

Kemudian pada 1981, WHO merekomendasikan MDT untuk membunuh patogen dan menyembuhkan pasien. Sejak 1995 WHO telah menyediakan MDT gratis.

Metode pengobatan utama penyakit ini adalah dengan obat antibiotik. Penderita akan diberi kombinasi beberapa jenis antibiotik selama satu hingga dua tahun. Penyakit ini dapat disembuhkan jika pengobatan selesai seperti yang ditentukan.

Dosis dan durasi penggunaan antibiotik ditentukan berdasarkan jenis yang diderita. Beberapa jenis antibiotik tersebut, adalah:

  • Dapson
  • Rifampin
  • Clofazimine
  • Minocycline
  • Ofloxacin

Penghapusan kusta secara prevalensi terdaftar kurang dari 1 kasus per 10.000 penduduk telah dicapai secara global pada 2000. Lebih dari 16 juta pasien telah diobati dengan MDT selama 20 tahun terakhir.

Pengobatan di Indonesia

Di Indonesia pengobatan dilakukan dengan metode MDT (multi drug therapy). WHO telah mengembangkan terapi MDT sejak 1995 untuk menyembuhkan semua jenis lepra.

Selain itu, dokter mungkin juga akan memberikan obat anti-inflamasi, seperti:

  • Aspirin
  • Prednison
  • Thalidomide

Jika kamu sedang hamil atau dalam perencanaan untuk hamil, dokter tidak akan menyarankan untuk mengonsumsi thalidomide. Karena penggunaan obat ini akan menghasilkan cacat lahir yang parah.

Cara mengatasi secara alami di rumah

Bagi penderita, ada beberapa hal yang harus diperhatikan selama perawatan berlangsung, seperti menjaga kebersihan dan melakukan deteksi dini, khususnya di daerah endemik.

Hal itu adalah langkah mudah yang dapat kamu lakukan selama menjalani perawatan di rumah agar tidak terjadi infeksi yang lebih parah pada penderita kusta.

Apa saja obat yang biasa digunakan untuk penyakit kusta?

Obat kusta di apotek 

Guna mengatasi penyakit lepra, dokter biasanya akan melakukan terapi obat kombinasi atau multi-drug therapy (MDT). Pada umumnya, pengobatan ini dilakukan dalam kurung waktu enam bulan hingga 1-2 tahun tergantung jenis lepra dan keparahannya.

Beberapa obat-obatan yang sering diresepkan dokter dalam melakukan terapi MDT di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Rifampicin
  • Clofazimine
  • Dapsone

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita penyakit kusta?

Tak hanya obat-obatan saja, pendertia dengan kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta. Di bawah ini adalah beberapa pilihan nutrisi yang harus dipenuhi oleh penderita kusta:

  • Vitamin E, konsumsi kacang-kacangan dan biji-bijian mentah, seperti almond, kuaci, dan kacang tanah
  • Vitamin A, konsumsi wortel, ubi jalar, bayam, pepaya, hati sapi, serta produk olahan susu dan telur
  • Vitamin D, asupan vitamin ini dari minyak ikan cod, salmon, sarden, makarel, telur, dan sereal yang diperkaya vitamin D
  • Vitamin C, kandungannya bisa ditemukan pada buah sitrus (jeruk dan lemon), mangga, stroberi, hingga sayuran seperti tomat, dan brokoli
  • Vitamin B, konsumsi ayam, pisang, kentang, dan jamur
  • Zinc, konsumsi tiram, keju, kacang mete, dan oatmeal

Sejauh ini belum ada pantangan makanan khusus untuk penderita kusta, tetapi sebaiknya hindari makanan siap saji dan lebih fokus melengkapi beberapa nutrisi makanan wajib yang telah disebutkan sebelumnya. 

Bagaimana cara mencegah penyakit kusta?

Hingga saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk pencegahan. Cara terbaik untuk pencegahan kusta adalah menghindari kontak jangka panjang dengan orang yang memiliki penyakit ini dan tidak diobati.

Melakukan deteksi dini, khususnya di daerah endemik merupakan langkah tepat untuk mencegah atau menghambat infeksi yang lebih parah.

Diagnosis penyakit kusta

Penyakit ini dapat diketahui melalui munculnya bercak-bercak kulit yang mungkin terlihat lebih terang atau lebih gelap dari kulit normal. Terkadang area kulit yang terinfeksi juga akan mengalami kemerahan.

Pada area yang terkena pun akan kehilangan rasa terhadap sentuhan ringan atau tusukan dengan jarum.

Untuk mengonfirmasi kondisi tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda dan gejala penyakit.

  • Dokter akan melakukan biopsi dan mengangkat sepotong kecil kulit atau saraf dan mengirimkannya ke laboratorium untuk pengujian.
  • Dokter mungkin juga akan melakukan tes kulit lepromin untuk menentukan bentuknya.
  • Dokter akan menyuntikkan sejumlah kecil bakteri penyebab kusta, yang telah dinonaktifkan ke kulit, biasanya terletak di lengan atas.
  • Hasilnya, orang yang menderita kusta tuberkuloid atau garis batas biasanya akan mengalami hasil positif di tempat suntikan.
  • Apabila hasil diagnosis dirasa cukup parah, kemungkinan dokter akan melakukan tes pendukung lainnya.

Beberapa jenis tes pendukung tersebut adalah:

  • Tes kreatinin
  • Tes fungsi liver atau hati
  • Biopsi saraf

Apakah kusta menular?

Penyakit ini hanya bisa ditularkan melalui kontak jangka panjang dengan penderita dan tidak diobati selama berbulan-bulan. Namun, di kalangan masyarakat, masih banyak mitos terkait penularannya.

Kamu tidak bisa tertular hanya melalui kontak biasa dengan orang yang menderita penyakit, seperti:

  • Berjabat tangan atau berpelukan
  • Duduk bersebelahan atau bersama sama dalam kondisi apapun

Penyakit ini tidak diturunkan dari ibu ke bayinya yang belum lahir selama kehamilan dan juga tidak menyebar melalui kontak seksual.

Karena sifat bakteri yang tumbuh lambat dan waktu yang lama untuk mengembangkan tanda-tanda penyakit, seringkali sangat sulit untuk menemukan sumber infeksi.

Baca Juga: Agar Asupan Gizi Terjaga, Yuk Kenali 8 Fungsi Protein bagi Tubuh!

Klasifikasi penyakit kusta

Ada tiga sistem untuk mengklasifikasikan lepra yang ditentukan berdasarkan respons kekebalan tubuh seseorang terhadap penyakit. Sistem klasifikasi ini dibagi menjadi tiga, yaitu:

  • Klasifikasi umum
  • Klasifikasi menurut WHO
  • Klasifikasi Ridley-Jopling

Klasifikasi kusta secara umum

Pada klasifikasi lepra umum banyak dikenal tiga jenis lepra yang dipengaruhi oleh respons kekebalan seseorang terhadap penyakit. Beberapa di antaranya seperti:

  • Kusta tuberkuloid

Orang yang memiliki kusta tuberkuloid memiliki respons imun yang baik dan infeksi yang dihasilkan hanya menunjukkan beberapa lesi. Penyakit jenis ini tergolong kusta ringan dan tidak mudah menular.

  • Kusta lepromatosa

Kusta lepromatosa memiliki kemampuan untuk membuat imunitas orang yang mengidapnya kian memburuk. Penyakit jenis ini memengaruhi kulit, saraf, dan organ-organ lainnya. Kusta lepromatosa mudah menular dan ditandai dengan lesi yang terus meluas hingga membentuk benjolan besar.

  • Kusta garis batas

Kusta garis batas memiliki tipe gabungan antara kusta tuberkuloid dan lepromatosa.

Klasifikasi menurut WHO

Organisasi kesehatan dunia atau WHO mengklasifikasikan kusta berdasarkan manifestasi klinis, jenis dan jumlah are kulit yang terkena. Jenisnya sendiri dibagi menjadi dua, yaitu paucibacillary dan multibacillary.

  • Paucibacillary. Kusta paucibacillary memiliki setidaknya lima titik lesi. Penyakit jenis ini menimbulkan rasa kebal dan tidak memiliki bakteri yang mampu dideteksi dalam sampel kulit.
  • Kusta multibacillary. Penyakit jenis ini disebut juga sebagai kusta basah dan memiliki lebih dari lima lesi dan memiliki bakteri yang mampu dideteksi. Kusta multibacillary memiliki rasa kebal yang tidak jelas dan menyerang banyak cabang saraf.

Sangat penting untuk mengklasifikasikan kusta. Tujuannya adalah agar mampu memastikan pasien diobati sesuai jenis kustanya.

Klasifikasi kusta Ridley-Jopling

Menurut studi klinis menggunakan sistem Ridley-Jopling, kusta dikelompokkan ke dalam lima bentuk berdasarkan tingkat keparahan gejalanya.

Berikut pengelompokkan sesuai dengan klasifikasi Ridley-Jopling:

  • Kusta tuberkuloid

Kondisi jenis ini memiliki bentuk lesi yang datar, beberapa di antaranya berukuran besar dan mati rasa. Kondisi ini tergolong ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya.

  • Kusta tuberculoid Borderline

Kondisi jenis ini cukup serupa dengan tuberkuloid namun lebih banyak dan memengaruhi banyak titik saraf. Kusta ini tidak mampu sembuh dengan sendirinya dan akan bertahan atau terus berkembang ke bentuk yang lebih parah.

  • Plak kusta kemerahan garis tengah

Kondisi ini ditandai dengan mati rasa di beberapa area tubuh. Penyakit ini juga menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Jenis ini mampu mereda hingga ke bentuk tipe tuberkuloid borderline atau justru berkembang menjadi tipe yang lebih serius.

  • Kusta lepromatosa borderline

Kondisi ini memiliki banyak lesi termasuk lesi datar, peningkatan benjolan, plak, dan nodul yang menyebabkan mati rasa. Penyakit ini bisa mereda atau justru meningkat menjadi lebih parah.

  • Kusta lepromatosa

Kondisi seperti ini adalah bentuk terparah karena lesi yang muncul semakin banyak disertai bakteri. Kusta lepromatosa memengaruhi saraf yang sangat serius hingga menyebabkan kerontokan rambut bagi pengidapnya.

Penderitannya harus segera mendapat pengobatan karena akan terus memburuk.

  • Kusta tidak tentu

Ada juga bentuk yang disebut kusta tak tentu yang tidak termasuk dalam sistem klasifikasi Ridley-Jopling. Kusta ini dianggap sebagai bentuk yang sangat awal di mana seseorang hanya akan memiliki satu lesi kulit.

Selain itu, hanya mengalami sedikit mati rasa saat disentuh. Kusta tak tentu dapat sembuh atau berkembang lebih parah ke salah satu dari lima bentuk lain dalam sistem Ridley-Jopling.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

1. cdc.gov. Diakses 1 Juni 2020. https://www.cdc.gov/leprosy/index.html
2. healthline.co (2019). Diakses 1 Juni 2020. https://www.healthline.com/health/leprosy
3. who.int (2019). Diakses 1 Juni 2020. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/leprosy
4. who.int. Diakses 1 Juni 2020. https://www.who.int/lep/classification/en/
5. academic.oup.com. Diakses 1 Juni 2020. https://academic.oup.com/cid/article/44/8/1096/298106
6. webmd.com. Diakses 1 Juni 2020. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#2-5

    register-docotr