Kamus Penyakit

Mengenal Cerebral Palsy, Penyakit pada Anak yang Efeknya Sampai Dewasa

May 15, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Raja Friska Yulanda
no-image

Cerebral palsy adalah sekelompok kelainan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dan mempertahankan keseimbangan dan postur tubuh.

Penyakit ini merupakan disabilitas yang sering terjadi di masa kanak-kanak. Menurut CDC ini dapat muncul pada 1.5-4 dari 1000 kelahiran anak di dunia.

Yuk, kenali lebih lanjut tentang penyakit cerebral palsy dalam artikel berikut ini!

Definisi cerebral palsy

Secara harfiah, cerebral dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan otak. sementara palsy diartikan sebagai kesulitan menggunakan otot.

Penyakit ini memiliki beberapa gejala khas yang perlu diperhatikan dan lebih baik jika segera diperiksakan ke dokter.

Gejala cerebral palsy

cerebral palsy
Pahami gejala penyakit saraf ini untuk penanganan dini. Foto: Shutterstock.com

Gejala dari penyakit ini berbeda di tiap-tiap individu dan intensitasnya pun berbeda, mulai dari ringan sampai berat. Beberapa orang dengan cerebral palsy bisa kesulitan berjalan hingga duduk, namun ada juga yang kesulitan untuk menggenggam.

Gejala yang terjadi bisa lebih berat atau menjadi lebih ringan seiring waktu, perbedaan gejala ini juga tergantung dari bagian otak sebelah mana yang terpengaruh. Beberapa gajala umum yang terjadi antara lain:

  • Lambat dalam mencapai tahapan kemampuan motorik seperti berguling, duduk tanpa bantuan atau merangkak
  • Memiliki kesehatan otot yang berbeda, seperti terlalu lemas atau terlalu kaku
  • Terlambat dalam perkembangan berbahasa dan kesulitan untuk berbicara
  • Otot yang kaku atau kejang dan refleks yang berlebihan
  • Kurangnya koordinasi pada otot
  • Tremor
  • Air liur yang berlebihan dan kesulitan menelan
  • Kesulitan berjalan
  • Hanya mengandalkan satu sisi tubuh saja
  • Masalah saraf seperti kejang, intellectual disability atau tunagrahita, dan kebutaan

Banyak anak-anak yang lahir dengan cerebral palsy, tapi mereka tidak menunjukkan adanya kelainan sampai bulan atau tahun-tahun berikutnya. Gejala biasanya timbul sebelum anak mencapai usia 3 atau 4 tahun.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua agar segera menghubungi dokter ketika melihat adanya kelainan-kelainan tersbut. Diagnosis awal dan perawatan dini sangat penting untuk dilakukan.

Penyebab cerebral palsy

Perkembangan otak yang tidak normal atau cedera pada otak yang sedang berkembang dapat menjadi penyebab penyakit ini. Kerusakan yang terjadi memengaruhi bagian otak yang mengontrol pergerakan, koordinasi dan postur tubuh.

Kerusakan otak umumnya terjadi sebelum lahir, tapi ini juga dapat terjadi saat proses persalinan atau pada satu tahun pertama kehidupan. Pada banyak kasus, penyebab pasti dari cerebral palsy tidak diketahui, beberapa kemungkinan penyebab antara lain:

  • Asfiksia neonatorum, atau kurangnya oksigen ke otak selama persalinan
  • Mutasi genetik yang mengakibatkan perkembangan otak yang tidak normal
  • Kuning pada bayi yang parah
  • Infeksi masa kehamilan seperti campak jerman dan herpes simplex
  • Infeksi di otak seperti radang otak (encephalitis) dan meningitis
  • Intrakranial hemorrhage atau pendarahan di otak
  • Cedera otak yang disebabkan oleh kecelakaan saat berkendara, jatuh, atau kekerasan pada anak

Kondisi yang membuat seseorang jadi lebih berisiko

Beberapa faktor dapat membuat bayi menjadi lebih berisiko terkena cerebral palsy, yaitu:

  • Bayi yang lahir prematur
  • Bayi dengan berat badan rendah
  • Bayi kembar
  • Penilaian skor APGAR yang rendah, merupakan sebuah metode yang dipakai untuk mengkaji kondisi fisik bayi saat lahir
  • Bayi lahir sungsang, atau bagian kaki atau pantat keluar lebih dahulu ketimbang kepala
  • Inkompatibilitas Rhesus (Rh), terjadi saat tipe Rh darah dari ibu tidak cocok dengan tipe Rh darah bayinya
  • Terpapar zat racun seperti methylmercury saat kehamilan

Tipe cerebral palsy

Penyakit ini memiliki tipe yang berbeda-beda. Masing-masing tipe memiliki pengaruh yang berbeda juga pada bagian otak dan tiap tipe juga memiliki kelainan gerak yang spesifik.

Tipe-tipe cerebral palsy antara lain:

Cerebral palsy spastik

Tipe ini merupakan yang paling umum, karena terjadi pada rata-rata 80% penderita cerebral palsy. Ini mengakibatkan otot kaku dan refleks yang berlebihan, membuat penderitanya kesulitan berjalan.

Itu sebabnya banyak orang dengan tipe cerebral palsy ini memiliki kelainan berjalan, seperti menyilangkan lutut atau membuat gerakan seperti gunting dengan kaki mereka saat berjalan.

Kelemahan dan kelumpuhan otot juga bisa terjadi. Gejala yang terjadi bisa memengaruhi seluruh atau hanya satu sisi tubuh.

Cerebral palsy diskinetik

Pengidap tipe ini memiliki kesulitan untuk mengontrol pergerakan tubuh mereka. Kelainan yang diderita menyebabkan gerakan yang tidak normal dan tidak sadar di lengan, kaki dan tangan.

Di beberapa kasus, kelainan ini juga memengaruhi bagian wajah serta lidah. Pergerakannya bisa sangat pelan dan menggeliat atau bahkan cepat dan menyentak.

Kelainan ini membuat seseorang kesulitan untuk berjalan, duduk, menelan atau bahkan berbicara.

Cerebral palsy hipotonus

Tipe ini mengakibatkan kesehatan otot yang berkurang serta otot yang terlalu lemah. Pergerakan tangan dan kaki terlalu mudah dan terlihat terkulai seperti boneka kain.

Bayi dengan tipe penyakit ini memiliki kendali yang lemah di bagian kepala mereka dan membuat mereka sulit bernapas.

Saat mereka menua, mereka mungkin akan sulit untuk duduk tegak karena kelemahan ototnya. Mereka juga bisa sulit untuk berbicara, memiliki refleks yang buruk dan berjalan dengan tidak normal.

Cerebral palsy ataksia

Tipe ini merupakan yang sangat jarang terjadi. Cerebral palsy ataksia ini ditandai dengan gerakan otot yang sengaja tapi terkadang justru terlihat tidak teratur, terkesan ceroboh.

Mereka yang mengidap tipe ini biasanya memiliki kendala dengan keseimbangan dan koordinasi. Mereka bisa sulit untuk berjalan dan menunjukkan fungsi gerak yang baik, seperti menggenggam benda atau menulis.

Cerebral palsy campuran

Beberapa orang memiliki kombinasi gejala dari tipe cerebral palsy yang berbeda. Ini yang disebut dengan cerebral palsy campuran.

Pada banyak kasus tipe ini, pengidap biasanya mengalami campuran antara cerebral palsy spastik dan diskinetik.

Penggolongan cerebral palsy

Penggolongan penyakit ini dilakukan berdasarkan sistem yang bernama Gross Motor Function Classification System (GMFCS).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan Surveillance of Cerebral Palsy in Europe mengembangkan GMFCS sebagai standar baku global untuk menentukan kemampuan fisik pengidap penyakit ini.

GMFCS berfokus pada:

  • Kemampuan untuk duduk
  • Kemampuan untuk bergerak dan mobilitas
  • Memetakan independensi
  • Penggunaan teknologi adaptif

Ada 5 level GMFCS yang kini sudah diketahui. Semakin meningkat levelnya, semakin turun mobilitasnya:

Level 1

Pada tingkat ini penyakit ini masih bisa membuat orang melangkah tanpa ada batasan.

Level 2

Pada tingkat ini orang yang menderita cerebral palsy dapat melangkah jauh tanpa batasan, tapi mereka tidak bisa lari atau lompat.

Mereka mungkin membutuhkan perangkat bantuan seperti alat bantu jalan atau tongkat untuk gerak di dalam ruangan. Untuk di luar ruangan, mereka juga butuh alat bantu seperti kursi roda.

Level 3

Pada level 3, pengidap penyakit ini masih bisa duduk dengan sedikit bantuan dan berdiri tanpa bantuan sama sekali.

Mereka butuh alat bantu yang bisa digenggam seperti alat bantu jalan atau tongkat untuk gerak di dalam ruangan. Untuk di luar ruangan, mereka juga butuh alat bantu seperti kursi roda.

Level 4

Orang dengan cerebral palsy tingkat ini dapat berjalan dengan menggunakan alat bantu. Mereka dapat bergerak sendiri di kursi roda dan mereka butuh sedikit bantuan saat duduk.

Level 5

Mereka yang berada di tingkat ini butuh bantuan untuk mempertahankan posisi kepala dan leher mereka.

Seringkali mereka juga butuh bantuan untuk duduk dan berdiri, dan masih dapat mengontrol kursi roda dengan mesin.

Pemeriksaan dan diagnosis cerebral palsy

Dokter dapat melakukan diagnosis penyakit ini dengan melihat riwayat medis secara utuh, melakukan tes fisik termasuk tes saraf secara detail dan mengkaji gejala yang ada.

Beberapa tes tambahan yang bisa dilakukan antara lain:

  • Tes elektroensefalografi (EEG): dilakukan untuk memeriksa aktivitas listrik yang terjadi di otak. Ini biasa dilakukan jika seseorang menunjukan tanda epilepsi yang menyebabkan kejang
  • MRI Scan: dilakukan untuk menghasilkan gambaran detail otak. Ini untuk mengidentifikasi kelaianan atau cedera di otak
  • CT Scan: dilakukan untuk menghasilkan gambaran otak. Metode ini juga dapat memperlihatkan adanya kerusakan pada otak
  • USG otak: dilakukan untuk mendapatkan gambaran dasar dari otak pada janin berusia muda
  • Tes darah: dilakukan untuk melihat kemungkinan terjadinya kondisi lain seperti kelainan darah

Apabila dokter sudah mengonfirmasi adanya cerebral palsy, maka seseorang mungkin akan dirujuk ke dokter spesialis yang akan melakukan serangkaian tes masalah saraf. Tes itu berupa:

  • Hilang dan melemahnya penglihatan seperti penglihatn yang mengabur di salah satu atau kedua mata
  • Ketidakmampuan untuk mendengar
  • Bicara yang terlambat
  • Tunagrahita
  • Kelainan gerak

Gangguan yang dihadapi oleh pengidap cerebral palsy

Mereka yang menderita penyakit ini akan memiliki beberapa masalah seperti:

  • Kesulitan berkomunikasi, termasuk berbicara dan kelainan bahasa
  • Mengeluarkan air liur
  • Kelainan bentuk tulang belakang seperti skoliosis, lordosis dan kifosis
  • Osteoarthitis atau radang sendi
  • Kontraktur, yang terjadi saat otot terkunci di posisi yang sangat menyakitkan
  • Inkontinensia
  • Osteopenia, atau penurunan kepadatan tulang yang dapat membuat tulang patah dengan mudah
  • Masalah mulut

Perawatan dan pengobatan pada pasien cerebral palsy

Tujuan dari perawatan adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi. Perawatan dapat berupa penggunaan alat bantu, pengobatan hingga operasi.

Peralatan bantuan

Beberapa alat yang bisa jadi bantuan yang berguna bagi penderita penyakit ini adalah:

  • Kacamata
  • Alat bantu dengar
  • Alat bantu berjalan
  • Penyangga tubuh
  • Kursi roda

Pengobatan

Obat antikonvulsan dan relaksan otot biasanya dipakai sebagai garis depan untuk merawat cerebral palsy. Kemungkinan jenis obat yang diresepkan adalah:

Dokter juga bisa mengusulkan pengobatan suntik botulinum toxin tipe A (botox) atau terapi intrathecal baclofen.

Operasi

Operasi ortopedi bisa dilakukan untuk meringankan sakit dan meningkatkan mobilitas. Operasi juga bisa dibutuhkan untuk mengendurkan otot yang kencang atau memperbaiki kelainan tulang.

Selective dorsal rhizotomy (SDR) bisa direkomendasikan sebagai cara terakhir untuk mengurangi nyeri yang kronis.

Perawatan lain

Perawatan lain untuk cerebral palsy termasuk:

  • Terapi berbicara
  • Terapi fisik
  • Terapi dengan memberi pekerjaan tertentu
  • Terapi dengan rekreasi
  • Konseling dan psikoterapi
  • Konsultasi dan pelayanan sosial

Walaupun terapi stem cell sedang dikaji sebagai potensi perawatan untuk penyakit ini, namun penelitiannya masih berada di tahap awal.

Adakah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko cerebral palsy?

Mayoritas penyebab penyakit ini tidak selalu bisa dicegah. Meskipun demikian, jika kamu hamil atau berencana untuk hamil, kamu bisa melakukan beberapa pencegahan terukur untuk meminimalkan komplikasi.

Sangat penting untuk menerima vaksin terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan otak janin, seperti rubella. Tidak kalah penting juga untuk kamu mendapatkan perawatan prenatal yang tepat.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Healthline.com (2018) diakses 14 Mei 2020. https://www.healthline.com/health/cerebral-palsy
  2. Cdc.gov (2019) diakses 14 Mei 2020. https://www.cdc.gov/ncbddd/cp/facts.html
    Berita Terkait
    register-docotr