Kamus Penyakit

Tak Terduga, Ini 6 Cara Penularan HIV yang Perlu Diwaspadai

February 11, 2021 | Nik Nik Fadlah
no-image

HIV merupakan virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat ditularkan dari orang ke orang. HIV dapat ditularkan dengan beberapa cara, bahkan cara tersebut tidak kita duga. Lalu, bagaimana cara penularan HIV yang perlu kita pahami?

HIV sendiri sebenarnya tidak dapat ditularkan melalui udara, air, air liur dan air mata, keringat, ciuman, serangga atau hewan, serta bekas toilet. Banyak yang salah kaprah mengenai hal ini. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui cara penularan HIV yang sebenarnya.  

Baca Juga: Serba-serbi Tentang HIV dan AIDS yang Perlu Dipahami

Apa itu HIV?

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sel-sel yang membantu tubuh untuk melawan infeksi. Hal tersebut membuat seseorang lebih rentan untuk terserang infeksi atau penyakit. Jika dibiarkan dan tidak diobati, HIV dapat menyebabkan penyakit AIDS.

Kesadaran akan HIV terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 38 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV pada 2019. 

Meskipun terus menjadi masalah kesehatan global yang utama, tapi dengan peningkatan akses pencegahan HIV yang efektif, diagnosis dan pengobatan, infeksi HIV telah menjadi satu masalah kesehatan kronis yang bisa dikendalikan.

Kondisi ini membuat banyak orang bisa hidup dengan HIV serta memiliki kehidupan yang panjang dan sehat. Setidaknya, di akhir 2019 WHO menyebut 81 persen penderita HIV mengetahui status mereka.

Gejala HIV

Dilansir WHO, gejala dari HIV sangat tergantung dari stadium infeksinya. Meskipun pada beberapa bulan awal infeksi seseorang yang terkena infeksi bisa sangat menular, tapi banyak yang tidak menyadari status mereka sampai akhirnya mencapai stadium lanjut.

Di minggu pertama infeksi biasanya kamu tidak akan mengalami gejala atau bisa saja merasakan seperti sakit influenza dengan gejala berupa demam, sakit kepala, ruam atau sakit tenggorokan.

Karena infeksi penyakit ini dapat menyebabkan penurunan sistem imun secara bertahap, maka kamu bisa mengalami gejala lain seperti pembengkakan kelenjar getah bening, kehilangan berat badan, demam, diare dan batuk-batuk.

Tanpa pengobatan, kamu bisa mengalami penyakit serius seperti tuberculosis (TB), cryptococcal meningitis, infeksi bakteri yang parah dan kanker seperti limfoma dan sarkoma kaposi.

Faktor risiko penularan HIV

Perilaku dan kondisi yang dapat menyebarkan HIV adalah sebagai berikut:

  • Berhubungan seksual anal atau vagina tanpa pengaman
  • Memiliki penyakit menular seksual lain seperti sifilis, herpes, chlamydia, gonore dan bakteri vagina
  • Berbagi pakai jarum suntik terkontaminasi
  • Melakukan penyuntikan, donor darah atau transplantasi jaringan yang tidak aman.

Cara penularan HIV

Untuk menurunkan risiko penularan, maka kamu harus mengerti bagaimana cara penyebaran dari HIV ini.

Virus ini dapat menyebar dengan berbagai macam cara. Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah cara penularan HIV yang perlu kamu ketahui.

1. Kontak cairan tubuh dengan penderita

Cara penularan HIV secara umum yakni melalui cairan tubuh seperti, darah, air mani, cairan dubur, cairan vagina, atau bahkan ASI. Cairan tubuh tersebut masuk ke dalam darah melalui selaput lendir, misalnya lapisan vagina, rektum, atau lubang penis.

Tak hanya itu saja, seseorang juga dapat terinfeksi HIV jika cairan tubuh penderita masuk melalui kulit yang pecah, seperti luka.

Bisakah HIV menular melalui seks anal?

Kamu bisa terkena HIV dari seks anal kalau kamu melakukan hubungan seksual ini dengan penderita HIV tanpa pengaman. Mengenai hal ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat memberi catatan sebagai berikut:

  • Seks anal merupakan jenis seks yang paling berisiko menularkan HIV.
  • Pihak yang pasif dalam seks anal lebih berisiko terkena HIV .dibandingkan yang aktif. Hal ini disebabkan lapisan dubur sangat tipis dan bisa menjadi jalan masuk HIV saat seks anal.
  • Pihak yang aktif pun memiliki risiko terkena HIV karena virus ini bisa masuk ke tubuh melalui bukaan di kepala penis, kulit kepala penis bagi yang belum disunat, lecet atau luka yang terdapat di bagian penis manapun.

Bisakah terkena HIV dari seks melalui vagina?

Kamu bisa terkena HIV dari hubungan seksual melalui vagina jika melakukannya dengan pasangan yang sudah memiliki HIV tanpa menggunakan pengaman (baik itu kondom atau obat-obatan untuk mengobati atau mencegah HIV).

Dalam hal ini CDC memberi catatan khusus:

  • Seks melalui vagina kurang berisiko menjadi cara penularan HIV ketimbang seks anal.
  • Baik pria ataupun pria yang melakukan hubungan seksual ini bisa terkena HIV saat berhubungan seks lewat vagina.
  • Kebanyakan wanita yang menderita HIV mendapatkannya dari aktivitas seksual ini. HIV biasanya masuk lewat selaput lendir yang melapisi vagina dan serviks.
  • Pria bisa terkena HIV dari aktivitas seksual ini. Pasalnya, cairan vagina dan darah bisa membawa HIV. Pria bisa terkena HIV dari bukaan di kepala penis, kulit kepala penis bagi yang belum disunat, lecet atau luka yang terdapat di bagian penis manapun.

Bisakah terkena HIV dari seks oral?

Walaupun langka, tapi teks oral pun bisa menjadi cara penyebaran HIV. Pasalnya, ada perpindahan cairan tubuh saat kamu melakukan aktivitas seksual ini.

Faktor risiko yang menyebabkan penyakit ini tertular adalah ejakulasi di dalam mulut dengan adanya masalah kesehatan seperti sariawan dan gusi berdarah. 

Risiko lainnya adalah keberadaan luka genital serta kehadiran penyakit menular seksual dalam diri kamu atau pasangan.

Praktik seks yang aman HIV

Menggunakan kondom secara reguler dan benar merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya. Kondom dapat berperan sebagai penghalang semen dan cairan vagina.

Selalu gunakan kondom lateks, bukan yang berbahan kulit domba atau buatan rumah tangga yang memiliki tingkat keamanan yang rendah. Menurut CDC, kondom dapat menurunkan risiko penularan hingga 80 persen saat kamu berhubungan seksual dengan penderita HIV.

Meskipun demikian, penggunaan kondom tidak 100 persen aman. Apalagi jika salah pasang atau kondom bocor. Oleh karena itu, jika kamu aktif secara seksual, selalu periksakan diri kamu terhadap kemungkinan adanya HIV atau penyakit menular seksual lainnya.

Jika kamu tidak memiliki HIV tapi pasangan merupakan pengidap penyakit ini, maka kamu dapat menurunkan risiko penyebaran HIV dari hubungan seksual dengan menggunakan pre-exposure prophylaxis (PrEP) yang dapat menurunkan risiko penularan hingga 92 persen.

2. Cara penularan HIV dari ibu ke anak

HIV bisa tersebar dari ibu ke anak saat masih di dalam kandungan, lahir atau menyusui. Meskipun demikian, cara ini termasuk jarang terjadi seiring dengan pencegahan dan penanganan HIV yang semakin maju.

Dalam hal ini CDC memberi catatan:

  • Penularan ini dinamakan perinatal transmission atau penularan dari ibu ke anak.
  • Transmisi dari ibu ke anak ini merupakan cara paling umum seorang anak memiliki penyakit HIV.
  • Ibu hamil direkomendasikan untuk melakukan tes HIV dan segera menjalani perawatan HIV jika memang terbukti positif. Hal ini untuk menurunkan kejadian bayi yang lahir dengan HIV.
  • Risiko penularan ke anak bisa ditekan hingga 1 persen jika ibu dengan HIV mengonsumsi obat dengan rutin sesuai resep selama kehamilan dan melahirkan serta pemberian obat HIV pada anak selama 4 hingga 6 minggu setelah dilahirkan.

3. Cara penularan HIV melalui pemakaian jarum suntik bersama-sama

HIV juga dapat ditularkan dengan cara berbagi atau menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita. Misalnya saja jarum suntik atau peralatan lain yang digunakan untuk menyuntikkan narkoba dengan seseorang yang memiliki HIV.

HIV dapat hidup dalam jarum suntik yang digunakan bersama dengan penderita hingga 42 hari. Hal ini juga bergantung pada suhu dan faktor lainnya.

Jarum suntik yang tidak disterilisasi dengan baik yang digunakan untuk membuat tato bisa menjadi media penularan HIV. Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini juga dapat ditularkan melalui tindik.

Penularan HIV melalui perantara jarum tato dan tindik jika:

  • Penderita yang menjalani prosedur tato atau tindik tersebut memiliki banyak virus di dalam darah
  • Penderita mengalami perdarahan yang signifikan pada peralatan
  • Peralatan tidak disterilisasi antara pelanggan
  • Darah dari peralatan yang terkontaminasi kemudian masuk ke dalam tubuh seseorang dalam jumlah yang signifikan.

4. Penularan HIV melalui transfusi darah

Risiko penyebaran HIV melalui darah sangat tinggi. Menurut CDC, transfusi langsung merupakan risiko tertinggi transmisi HIV. Meskipun tidak umum, tapi menerima transfusi darah dari donor yang mengidap HIV bisa meningkatkan risiko penyebaran HIV.

Menurut CDC, untuk setiap 10.000 transfusi dari donor dengan HIV, maka virus ini bisa menyebar 9.250 kali, lho!

Tapi kamu jangan khawatir, karena sejak 1985, bank darah telah menerapkan langkah dan pengawasan ketat untuk mengidentifikasi darah dengan HIV. Sekarang semua darah yang didonasikan telah menjalani tes HIV dengan ketat.

Jadi setiap pendonor dengan HIV akan langsung dilarang. Akibatnya, risiko penyebaran HIV dari transfusi darah sangat rendah.

5. Cara penularan HIV dari salon mani-pedi

Meskipun penularan HIV dari alat menikur sangat rendah, akan tetapi seseorang juga harus berhati-hati bahwa alat mani-pedi juga yang tidak disterilisasi dengan baik dapat menularkan HIV atau hepatitis C.

Risiko penularan ini menjadi lebih besar jika seseorang memiliki luka atau kerusakan kulit lainnya.

Untuk mencegah penularan dari salon sebaiknya rawat peralatan salon dengan benar, seperti menggunakan air panas dan sabun antibakteri, kemudian mensterilisasi alat dengan merendamnya di dalam air panas atau mengelap peralatan dengan menggunakan alkohol.

Baca Juga: Cegah AIDS, Tangani Gejala HIV Sejak Dini

6. Penularan HIV terhadap petugas kesehatan

Petugas kesehatan juga berisiko terinfeksi HIV. Petugas kesehatan dapat terinfeksi jika mereka secara tidak sengaja tertusuk dengan jarum atau peralatan lainnya yang tajam yang telah terkontaminasi dengan HIV.

Dilansir dari familydoctor.org, risiko terinfeksi HIV dari jarum suntik kurang dari 1 persen, sedangkan risiko tertular dari kontak langsung dengan cairan kurang dari 0,1 persen.

Perawatan pencegahan dapat mengurangi kemungkinan HIV masuk ke dalam aliran darah tersedia untuk petugas kesehatan yang tidak sengaja tertusuk jarum suntik atau peralatan lain yang terinfeksi. Perawatan tersebut dikenal sebagai profiliaksis pascapajanan atau PEP.

Mengetahui cara penularan HIV dapat membuat kita lebih berhati-hati dan lebih sadar mengenai infeksi ini. Sebaiknya jika muncul gejala HIV kamu segera memeriksakan diri ke dokter agar tidak menimbulkan bahaya lainnya.

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Avert (2020). Diakses pada 15 Juli 2020. How Do You Get HIV?

Better Health Channel. Diakses pada 15 Juli 2020. HIV – Infection Control in Hospitals 

Centers for Disease Control and Prevention (2019). Diakses pada 15 Juli 2020. HIV Transmission 

Dr. Dana Stern Dermatology (2020). Diakses pada 15 Juli 2020. Nail News

Familydoctor.org (2019). Diakses pada 15 Juli 2020. Occupational Exposure to HIV: Advice for Health Care Workers 

HealthLinkBC (2019). Diakses pada 15 Juli 2020. HIV (Human Immunodeficiency Virus Infection) 

HIV.gov (2020). Diakses pada 15 Juli 2020. What Is HIV? 

Very Well Health (2020). Diakses pada 15 Juli 2020. Can You Get HIV From a Tatto or Body Piercing? 

CDC, diakses 11 Februari 2021. https://www.cdc.gov/hiv/basics/hiv-transmission/ways-people-get-hiv.html

CDC, diakses 11 Februari 2021.

https://www.cdc.gov/hiv/risk/estimates/riskbehaviors.html

CDC, diakses 11 Februari 2021.

https://www.cdc.gov/std/tg2015/clinical.htm

WHO, diakses 11 Februari 2021. https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

Healthline, diakses 11 Februari 2021. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/hiv-transmission-rates

    Berita Terkait
    register-docotr