Kamus Penyakit

Apa Itu SAHA Syndrome dan Bagaimana Cara Menanganinya?

August 1, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

SAHA syndrome pertama kali ditemukan pada 1982 silam. SAHA sendiri merupakan kependekan dari seborrhoea, acne, hirsutism, dan alopecia.

Sindrom ini biasanya dikaitkan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS). Karena sama-sama terkait dengan hormon androgen dan memiliki gejala yang mirip serta dapat menyebabkan infertilitas pada wanita. Untuk lebih jauh mengenal sindrom ini, berikut penjelasan selengkapnya.

Mengenal SAHA syndrome pada wanita

Sindrom ini umumnya terjadi pada wanita muda atau dalam masa produktif hingga wanita setengah baya. Dan sindrom ini melibatkan adanya peningkatan kadar androgen dalam darah. Berikut beberapa gejala SAHA syndrome serta cara penangannya.

1. Seborrhea

Seborrhea atau dermatitis seboroik adalah salah satu gangguan pada kulit yang tidak menular. Gangguan kulit ini dapat menyebabkan bercak merah, gatal, kulit bersisik dan menyebabkan serpihan putih pada kulit kepala.

Tidak cuma di kulit kepala gangguan kulit ini juga bisa terjadi di bagian tubuh lain, seperti di punggung atas, dada, wajah, belakang telinga, bahkan di bagian alis dan selangkangan.

Meski dapat diobati, namun kondisi ini bisa kembali muncul sewaktu-waktu atau kambuh dan kembali hilang setelah dilakukan pengobatan.

Bagaimana penanganannya?

  • Pada kasus ringan dan muncul di kepala, dapat diatasi dengan shampo khusus yang mengandung selenium, zinc pyrithione atau coal tar.
  • Jika memilih melakukan perawatan medis untuk kasus ringan, dokter mungkin akan meresepkan sampo yang mengandung ciclopirox atau ketoconazole.
  • Pada kasus sedang hingga berat, perawatan perlu dilakukan oleh dokter. Pasien akan mendapatkan resep sampo dengan kandungan betametason valerat, clobetasol dan fluocinolone.
  • Jika muncul di wajah dan tubuh bisa diatasi dengan kortikosteroid seperti hidrokortison dan obat antijamur oles seperti ciclopirox, ketoconazole atau sertaconazole.

2. Jerawat

Jerawat dapat dialami oleh wanita dewasa, dan jerawat ini umumnya disebut jerawat hormonal. Kemunculan jerawat ini dipengaruhi beberapa faktor seperti:

  • Siklus menstruasi
  • Menopause
  • PCOS
  • Serta peningkatan kadar androgen yang terkait dengan SAHA syndrome

Bagaimana penanganannya?

  • Jika mengalami jerawat ringan, kamu bisa menggunakan obat retinoid topikal yang dijual dengan bebas tanpa memerlukan resep.
  • Namun, jika melakukan perawatan medis, dokter mungkin akan meresepkan obat anti androgen untuk mengatasi jerawat.
  • Selain obat anti androgen kamu juga bisa mendapatkan resep pil kontrasepsi. Penggunaan pil kontrasepsi ini dapat mengatasi hormon yang menyebabkan masalah jerawat pada kulit.
  • Kamu juga bisa mengatasi jerawat hormonal dengan obat alami seperti menggunakan ekstrak teh hijau dan tea tree oil.

3. Hirsutism

Hirsutism adalah tumbuhnya rambut di area yang tak biasa pada wanita, seperti di bagian wajah dan punggung. Umumnya pertumbuhan rambut ini hanya dialami oleh pria.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya pengaruh hormon androgen pada wanita. Dan umumnya hirsutism pada wanita kerap dikaitkan dengan terjadinya PCOS, dan peningkatan risiko diabetes serta osteoporosis.

Bagaimana penanganannya?

Biasanya beberapa dokter, seperti endokrin atau spesialisasi gangguan hormon dan dokter kandungan akan bekerja sama untuk menangani kondisi ini. Dan beberapa perawatan yang mungkin dilakukan antara lain:

Memberikan obat memblokir efek hormon androgen
Obat anti androgen untuk mengurangi tubuh memproduksi androgen.
Jika dibutuhkan juga akan menggunakan pil kontrasepsi sebagai bentuk terapi hormonal, yang biasanya akan dilakukan selama enam bulan

4. Alopecia

Alopecia adalah kerontokan yang menyebabkan kebotakan yang umum terjadi pada pria dan wanita. Namun pada wanita, umumnya terjadi setelah menopause. Sementara jika kerontokan atau kebotakan terjadi lebih awal maka kamu perlu melakukan konsultasi dengan dokter.

Alopecia yang terjadi lebih awal biasanya akan berkaitan dengan adanya gangguan hormonal termasuk karena SAHA syndrome. Tapi bisa juga disebabkan faktor lain, seperti faktor genetika.

Bagaimana penanganannya?

  • Penanganan yang paling umum menggunakan minoxidil. Minoxidil awalnya hanya bisa digunakan untuk pria. Namun kemudian boleh digunakan wanita setelah disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat.
  • Selain itu, bisa menggunakan spironolakton. Spironolakton adalah diuretik, yang membantu mengeluarkan cairan berlebih dari tubuh. Namun ia juga dapat menghambat produksi hormon androgen dan membantu menumbuhkan rambut kembali pada wanita.
  • Satu obat lagi yang mungkin digunakan yaitu finasteride dan dutasteride. Namun, seperti dilansir dari Healthline, hanya beberapa dokter yang meresepkan obat ini untuk wanita, mengingat awalnya obat ini hanya diperbolehkan untuk mengatasi kebotakan pada pria.

Demikian penjelasan gejala SAHA syndrome dan juga penangannya. Perlu diketahui kondisi kesehatan setiap orang berbeda-beda, sebaiknya lakukan konsultasi pada dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Setelah mendapatkan diagnosis yang tepat, baru kemudian dokter akan memutuskan perawatan yang tepat juga. Sehingga obat yang digunakan dapat memberikan efek yang terbaik untuk mengatasi masalah yang timbul akibat SAHA syndrome.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. National Library of Medicine diakses 30 Juli 2020 The SAHA syndrome 
  2. Betterhealth.vic.gov.au diakses 30 Juli 2020 Hirsutism (excessive hair) – women 
  3. Healthline diakses 30 Juli 2020 Hormonal Acne: Traditional Treatments, Natural Remedies, and More 
  4. Healthline diakses 30 Juli 2020 Female Pattern Baldness (Androgenic Alopecia): What You Should Know 
  5. Clevelandclinic.org diakses 30 Juli 2020 Seborrheic Dermatitis: Management and Treatment 
    register-docotr