Olahraga

Viral Dicurigai Dipakai Atlet Olimpiade Tokyo 2020, Kenali Fakta Doping Berikut

July 31, 2021 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Setelah sempat tertunda setahun akibat pandemi, akhirnya Olimpiade Tokyo diselenggarakan juga pada 2021 ini. Meski sebagian besar pertandingan berlangsung tanpa penonton, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para atlet untuk bertanding.

Sayangnya beberapa waktu yang lalu, lifter China, Hou Zhihui, yang memenangkan medali emas dicurigai menggunakan doping. Apa itu dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh?

Baca juga: Olahraga dapat Mencegah Penuaan Dini pada Tubuh, benarkah?

Apa yang dimaksud dengan doping?

Dilansir dari Medical News Today, istilah “doping” mungkin berasal dari kata Belanda “dop”. Artinya adalah minuman beralkohol yang terbuat dari kulit anggur. Ini digunakan oleh prajurit Zulu untuk membuat mereka lebih kuat dalam pertempuran.

Pada 1928, International Association of Athletics Federations (IAAF) atau Federasi Atletik Internasional menjadi organisasi olahraga pertama yang melarangnya.

Mengapa doping dilarang dalam kompetisi olahraga?

Konsep pencapaian diri, permainan yang adil, dan kerjasama tim merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap kompetisi olahraga.

Penggunaan doping tidak hanya merusak nilai-nilai tersebut. Tapi mengonsumsi zat yang satu ini, juga dapat menimbulkan risiko kesehatan yang besar.

Terakhir, doping adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan penonton dan sponsor yang telah mendukung seorang atlet. Dan ketika atlet itu bertanding atas nama negaranya, itu juga mengkhianati harapan suatu bangsa.

Jenis-jenis doping

Terdapat lima jenis obat-obatan yang dianggap sebagai doping dan dilarang oleh badan pengatur olahraga.

1. Stimulan

Stimulan meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan untuk mengatasi kelelahan dengan meningkatkan detak jantung dan aliran darah. Dalam olahraga, ini digunakan untuk meningkatkan intensitas sesi latihan.

Beberapa jenis stimulan yang dilarang dalam kompetisi olahraga di antaranya termasuk amfetamin, efedrin dan kokain.

2. Steroid anabolik-androgen

Kadang-kadang disebut steroid anabolik, obat ini membantu atlet untuk berlatih lebih keras, meningkatkan massa otot dan kekuatan, serta membantu pulih lebih cepat.

3. Diuretik

Diuretik dapat meningkatkan laju aliran urine sehingga bisa menghilangkan kelebihan cairan dari jaringan.

Meskipun dilarang dalam olahraga, baik di dalam maupun di luar kompetisi, sejak 1988, banyak atlet telah menggunakan diuretik karena dua alasan.

Salah satunya adalah menghilangkan air dari tubuh, untuk penurunan berat badan yang cepat, sehingga bisa membantu memenuhi kategori berat badan dalam sebuah kompetisi, misalnya, dalam tinju.

Alasan lainnya adalah untuk menutupi agen doping lainnya dengan mengurangi konsentrasinya di dalam urine.

4. Analgesik narkotik

Dalam istilah medis, narkotika analgesik adalah opioid. Ini adalah zat yang bertindak seperti morfin di mana sifat zatnya membuat si pemakai ketagihan.

Opioid menutupi rasa sakit yang disebabkan oleh cedera atau kelelahan. Ini juga memungkinkan atlet untuk tetap bekerja meskipun mengalami cedera, sehingga ia bisa tetap berlatih atau bersaing tanpa rasa sakit.

5. Peptida dan hormon

Beberapa yang umum digunakan dalam olahraga termasuk hormon pertumbuhan manusia (hGH), eritropoietin (EPO), insulin, human chorionic gonadotrophin (HCG) dan adrenocorticotrophin (ACTH).

Semua itu digunakan untuk membangun otot tetapi menyebabkan pertumbuhan yang abnormal. Efek samping lainnya adalah penyakit jantung, diabetes, masalah tiroid, hipertensi, kanker darah dan radang sendi.

Dampak doping terhadap tubuh

Alasan terpenting mengapa penggunaan doping dilarang adalah karena banyak kandungan dari zat-zat tersebut dapat memiliki efek samping yang berbahaya pada tubuh. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Membuat irama jantung tidak teratur, tekanan darah tinggi, serangan jantung, kematian mendadak.
  2. Memicu insomnia, kecemasan, depresi, perilaku agresif, bunuh diri, sakit kepala, kecanduan, psikosis, tremor, pusing, stroke
  3. Pada sistem pernapasan, bisa membuat mimisan, dan sinusitis
  4. Secara hormonal, doping bisa menyebabkan infertilitas, ginekomastia (payudara membesar), penurunan ukuran testis, gairah seks menurun, akromegali (tulang kasar di wajah, tangan, dan kaki), sampai kanker.

Mengingat dampak-dampak di atas bisa jadi baru muncul setelah beberapa tahun setelah pemakaian doping, maka penting untuk mencegah pemakaian doping sejak dini.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat atau olahraga lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Olympics diakses pada 30 Juli 2021

Medical News Today diakses pada 30 Juli 2021

Sports Med Today diakses pada 30 Juli 2021

Liputan 6 diakses pada 3 Agustus 2021

    register-docotr