Kamus Obat

Trimethoprim

February 25, 2021 | Arin Khurota | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Trimethoprim merupakan antibiotik yang diketahui paling aman dan efektif dalam pengobatan. Umumnya obat ini diberikan bersama dengan sulfametoksazol sebagai obat kombinasi cotrimoxazole.

Trimethoprim pertama kali digunakan pada 1962 dan kini telah menjadi salah satu obat dalam daftar obat esensial organisasi kesehatan dunia (WHO).

Berikut informasi selengkapnya mengenai obat trimethoprim, manfaat, dosis, cara penggunaan, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat trimethoprim?

Trimethoprim adalah obat antibiotik yang terutama digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih, infeksi telinga tengah, dan diare.

Saat dikombinasikan dengan sulfametoxazole, obat ini dapat digunakan untuk pneumocystis pneumonia.

Umumnya trimethoprim diberikan melalui mulut (per oral) sebagai sediaan tablet atau sirup. Trimethoprim telah tersedia sebagai obat generik yang dapat dijumpai di beberapa apotek.

Apa fungsi dan manfaat obat trimethoprim?

Trimethoprim berfungsi sebagai antibakteri yang bekerja menghambat metabolisme folat melalui dihidrofolat reduktase. Sifat ini dapat menyebabkan metabolisme bakteri terganggu sehingga bakteri mengalami lisis (mati).

Secara umum, obat ini memiliki manfaat untuk mengatasi beberapa kondisi yang berkaitan dengan masalah berikut:

1. Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih merupakan infeksi yang terjadi pada bagian saluran kemih. Misalnya, infeksi kandung kemih (sistitis) yang terjadi ketika infeksi mengenai bagian bawah saluran kemih.

Infeksi salurah kemih dapat disebabkan oleh Escherichia coli, Proteus mirabilis, Klebsiella pneumoniae, Enterobacter, atau Staphylococcus.

Gejala dari infeksi saluran kemih biasanya rasa nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, dan merasa ingin buang air kecil. Gejala lain yang sering mengikuti, seperti demam, nyeri pinggang, atau mungkin urine berdarah.

Pengobatan utama untuk gangguan infeksi saluran kemih adalah dengan antibiotik. Salah satu obat yang direkomendasikan adalah trimetoprim sebagai pengobatan awal. Obat ini telah digunakan sebagai obat tunggal untuk pengobatan sistitis akut tanpa komplikasi.

Namun, efektivitas penggunaan obat tunggal masih dipertanyakan di kalangan ahli medis sehingga kombinasi dengan sulfametoksazol sebagai cotrimoxazole lebih direkomendasikan untuk pengobatan utama.

2. Otitis media akut (OMA)

Otitis media akut adalah jenis infeksi telinga yang terjadi ketika area di belakang gendang telinga (telinga tengah) meradang dan terinfeksi.

Otitis media akut biasanya merupakan komplikasi dari disfungsi tuba eustachius yang terjadi selama infeksi saluran pernapasan atas akibat virus. Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis adalah organisme penyebab paling umum.

Pengobatan otitis media akut harus dimulai dengan obat analgesik kuat. Terapi antibiotik dapat diberikan apabila gejala infeksi telah berkembang menjadi sedang atau parah. Beberapa antibiotik lini pertama yang direkomendasikan adalah amoksilin atau clavulanate.

Saat antibiotik lini pertama telah menunjukkan resistensi, maka terapi alternatif harus dilakukan. Terapi alternatif yang direkomendasikan seperti pemberian cotrimoxazole, yaitu kombinasi sulfametoksazol dengan trimethoprim.

Sayangnya, kombinasi obat sulfametoksazol dan trimetoprim tidak diindikasikan untuk orang dewasa dan anak-anak usia di bawah 6 bulan. Obat ini juga tidak boleh digunakan sebagai profilaksis OMA jangka panjang.

3. Pneumocystis pneumonia

Pneumocystis pneumonia (PCP) adalah infeksi serius yang disebabkan oleh organisme Pneumocystis jirovecii. Kebanyakan orang yang terkena penyakit ini memiliki kondisi medis yang melemahkan sistem kekebalannya, seperti HIV/AIDS.

Gejala infeksi bisa berlangsung hingga beberapa minggu. Gejalanya termasuk demam, batuk, sulit bernapas, nyeri dada, panas dingin, dan kelelahan.

Perawatan yang diberikan untuk mengobati infeksi ini adalah dengan memberikan antibiotik. Salah satu antibiotik yang direkomendasikan adalah cotrimoxazole.

Trimethoprim tunggal dapat diberikan, tetapi jarang direkomendasikan karena efek obat tidak seefektif terapi kombinasinya. Obat kombinasi cotrimoxazole dapat diberikan untuk kasus infeksi ringan hingga berat. Obat ini juga dapat diberikan pada pasien infeksi disertai HIV/AIDS.

Merek dan harga obat trimethoprim

Trimethoprim telah mendapatkan izin edar untuk penggunaan medis di Indonesia dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hanya saja obat ini lebih banyak dijumpai dalam bentuk kombinasinya.

Trimethoprim termasuk dalam golongan obat keras sehingga kamu harus menggunakan resep dokter untuk mendapatkannya.

Beberapa merek obat yang telah beredar beserta harganya, seperti:

  • Erphatrim Forte 960mg capsul. Sediaan kapsul mengandung trimetoprim dan sulfametoksazol yang diproduksi oleh PT Erlimpex. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp599/tablet.
  • Graprima 480mg tablet. Sediaan tablet mengandung trimethoprim 80mg dan sulfametoxazole 400mg yang diproduksi oleh Graha Farma. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp561/tablet.
  • Fasiprima 480mg tablet. Sediaan tablet mengandung sulfametoxazole 400mg dan trimethoprim 80mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp470/tablet.
  • Fasiprim 240mg/5ml Syrup 60ml. Sediaan sirup mengandung kombinasi sulfametoksazol dan trimetoprim yang diproduksi oleh Ifars. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp10.451/botol.
  • Primadex forte 960mg. Sediaan tablet kombinasi sulfametoxazole dan trimethoprim 960mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp810/tablet.
  • Sanprima 480mg tablet. Sediaan kombinasi sulfametksazol dan trimetoprim 480mg yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp1.366/tablet.
  • Lapikot Forte tablet. Sediaan tablet kombinasi cotrimoxazole yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp2.318/tablet.
  • Bactoprim 480mg tablet. Sediaan tablet kombinasi cotrimoxazole yang diproduksi oleh Combiphar. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp408/tablet

Bagaimana cara minum obat trimethoprim?

Untuk mengonsumsi trimethoprim, kamu bisa ikuti beberapa petunjuk di bawah ini:

  • Baca cara minum dan dosis yang tertera di label kemasan resep obat. Minum obat sesuai ketentuan yang diarahkan oleh dokter. Jangan minum terlalu banyak atau lebih lama dari yang direkomendasikan. Penggunaan lebih lama dapat menyebabkan risiko infeksi kedua.
  • Obat ini sebaiknya diminum bersama dengan makanan. Tanyakan lebih lanjut dengan dokter apabila kamu memiliki riwayat gangguan fungsi usus dan lambung.
  • Trimetoprim adalah antibiotik yang harus diminum hingga obat habis. Menghentikan pemakaian di tengah penggunaan dapat menyebabkan resistensi bakteri. Tetap minum obat meskipun kondisi kamu mungkin sudah tampak sembuh.
  • Jangan dihancurkan, dikunyah, atau dilarutkan dalam air kecuali atas arahan dari dokter. Minum obat sekaligus dengan air putih. Beritahu dokter apabila kamu mengalami kesulitan menelan tablet.
  • Trimethoprim mungkin dapat menyebabkan hasil abnormal pada beberapa tes medis. Katakan kepada dokter bahwa kamu menggunakan obat ini sebelum melakukan tes medis.
  • Minum obat dalam waktu yang sama setiap hari untuk memudahkan kamu mengingat dan mendapatkan manfaat yang maksimal.
  • Simpan obat trimethoprim pada suhu kamar jauh dari kelembapan dan panas matahari setelah digunakan. Pastikan tutup botol obat tertutup rapat saat tidak digunakan.

Berapa dosis obat trimethoprim?

Dosis dewasa

Infeksi yang rentan, infeksi saluran kemih

  • Dosis lazim: 100mg atau 200mg sehari.
  • Dosis alternatif: 200mg atau 300mg sekali sehari selama 3-14 hari tergantung pada tingkat keparahan.

Profilaksis infeksi saluran kemih berulang

Dosis lazim: 100mg sekali sehari pada malam hari.

Dosis anak

Otitis media akut

  • Usia di atas 6 bulan: 10mg perkg berat badan per hari dalam 2 dosis terbagi.
  • Obat dapat diberikan tiap 12 jam selama 10 hari.

Infeksi yang rentan, infeksi saluran kemih

Dosis lazim untuk usia 4 bulan sampai 12 tahun: 6mg/kg sehari dalam 2 dosis terbagi.

Dosis alternatif:

  • Usia 4 bulan-2 tahun dapat diberikan dosis hingga 25mg atau dua kali lipat disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kondisi klinis.
  • Usia 2-6 tahun dapat diberikan dosis 50mg sesuai kondisi klinis.
  • Usia 6-12 tahun dapat diberikan dosis 100mg sesuai kondisi klinis.

Profilaksis infeksi saluran kemih berulang

Usia 4 bulan sampai 12 tahun dapat diberikan dosis 2mg/kg sekali sehari pada malam.

Dosis alternatif:

  • Usia 4 bulan sampai 2 tahun: 25mg pada malam hari
  • Usia di atas 2-8 tahun: 50mg pada malam hari
  • Usia di atas 8-12 tahun: 100mg pada malam hari.

Apakah trimethoprim aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan trimethoprim dalam golongan obat kategori C.

Studi pada hewan percobaan telah menunjukkan risiko efek merugikan pada janin (teratogenik). Namun, belum ada studi terkontrol yang memadai pada wanita hamil. Pengobatan dapat dilakukan apabila manfaat yang didapat lebih besar dari risikonya.

Obat ini juga telah diketahui dapat masuk dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk ibu menyusui.

Apa efek samping obat trimethoprim yang mungkin terjadi?

Segera hentikan pemakaian obat dan hubungi dokter apabila gejala efek samping berikut ini muncul:

  • Tanda-tanda reaksi alergi, seperti ruam, gatal-gatal, kulit merah, bengkak, melepuh atau mengelupas, serta pembengkakan pada mulut, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Demam
  • Mengi
  • Sesak di dada atau tenggorokan
  • Kesulitan bernapas, menelan, atau berbicara
  • Suara serak yang tidak biasa
  • Tanda-tanda methemoglobinemia, seperti warna biru atau abu-abu pada bibir, kuku, atau kulit
  • Pusing sangat parah atau pingsan
  • Merasa lelah atau lemah
  • Tanda-tanda masalah elektrolit seperti perubahan mood, kebingungan, detak jantung tidak normal, kejang, tidak lapar, sakit perut yang sangat parah atau muntah
  • Sakit tenggorokan
  • Kulit pucat
  • Memar atau perdarahan yang tidak dapat dijelaskan
  • Bercak ungu di kulit atau mulut.

Beberapa efek samping lain yang mungkin muncul setelah menggunakan obat trimethoprim, antara lain:

  • Sakit perut
  • Muntah
  • Diare

Peringatan dan perhatian

  • Jangan gunakan obat ini apabila kamu memiliki riwayat alergi trimethoprim sebelumnya.
  • Beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat anemia yang disebabkan karena kekurangan asam folat atau diskrasia darah, seperti anemia megaloblastik
  • Beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat penyakit hati atau penyakit ginjal.
  • Beritahu dokter apabila kamu juga menggunakan obat-obatan antikonvulsan kronis, malnutrisi, atau reterdasi mental.
  • Sebaiknya obat trimethoprim tidak diberikan bersamaan dengan rifampicin karena rifanpicin dapat menurunkan waktu paruh eliminasi obat ini.
  • Trimethoprim juga dapat meningkatkan konsentrasi obat tertentu apabila digunakn secara bersamaan. Obat-obatan tersebut termasuk fenitoin, digoksin, prokainamida, rosiglitazone, repaglinide, zidovudine, zalcitabine, lamivudine.
  • Trimethoprim yang digunakan bersamaan dengan silosprorin dapat meningkatkan risiko nefrotoksisitas.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

The National Health Service (NHS), diakses pada 25 Januari 2021, Trimethoprim – NHS

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 25 Januari 2021, Trimethoprim | C14H18N4O3 – PubChem

WebMD, diakses pada 25 Januari 2021, Trimethoprim Oral : Uses, Side Effects, Interactions

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 25 Januari 2021, Trimethoprim – MIMS.com

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 25 Januari 2021, KOTRIMOKSAZOL (KOMBINASI TRIMETOPRIM DAN SULFA METOKSAZOL DENGAN PERBANDINGAN 1:5)

    register-docotr