Kamus Obat

Phenylephrine

May 1, 2021 | Arin Khurota | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Phenylephrine merupakan dekongestan yang termasuk dalam kelas obat agonis reseptor adrenergik alfa-1. Obat ini diketahui memiliki manfaat seperti halnya obat pseudoephedrine, tetapi jarang disalahgunakan sehingga banyak digunakan dalam beberapa merek produk obat.

Berikut informasi selengkapnya mengenai manfaat obat, dosis, cara minum, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat phenylephrine?

Phenylephrine adalah obat yang digunakan untuk membantu melegakan hidung tersumbat pada kondisi demam, flu dan batuk, atau karena alergi. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk membantu melebarkan pupil mata, meningkatkan tekanan darah, dan mengobati wasir.

Namun, penggunaan phenylephrine pada umumnya dikombinasikan dengan obat lain sebagai dekongestan. Sediaan obat sebagai obat generik cukup jarang dijumpai karena potensi risiko dan keefektifan obat.

Umumnya obat tersedia sebagai sediaan per oral, baik dalam bentuk sirup, tablet, atau kaplet. Beberapa merek obat tersedia sebagai obat bebas yang bisa kamu dapatkan tanpa resep dokter.

Apa fungsi dan manfaat obat phenylephrine?

Phenylephrine memiliki fungsi untuk menyempitkan pembuluh darah yang melebar dalam hidung. Ia dapat merangsang vasokonstriksi lokal yang bermanfaat untuk membantu mengurangi penyumbatan.

Selain itu, phenylephrine juga dapat memengaruhi reseptor α-adrenergik secara langsung dan merangsang pelepasan norepinefrine. Sifat ini akan memicu efek vasokonstriksi arteri sistemik yang berperan dalam sistem sirkulasi tubuh.

Berdasarkan sifat yang dimilikinya, phenylephrine memiliki manfaat untuk mengobati beberapa kondisi berikut:

Dekongestan

Umumnya phenylephrine tersedia sebagai sediaan kombinasi dengan obat lain, seperti acetaminophen, CTM, dextromethorphan, diphenhydramine, dan guaiafenesin. Selain sebagai obat oral, kamu juga bisa menjumpainya dalam bentuk sediaan semprotan hidung.

Penggunaan sebagai obat tunggal jarang diberikan karena efektivitas dan keamanan obat masih belum diketahui secara pasti. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa efek phenylephrine belum mampu memberikan manfaat yang memadai.

Namun, phenylephrine banyak digunakan sebagai alternatif dari pseudoephedrine karena risiko penyalahgunaannya yang lebih kecil. Sebuah studi oleh Wyeth Consumer Healthcare mencatat bahwa 7 studi pada 1976 mendukung keefektifan phenylephrine dalam dosis 10mg.

Sejak 2004, phenylephrine semakin banyak dipasarkan sebagai pengganti pseudoephedrine. Beberapa produsen farmasi telah mengubah bahan aktif produk untuk menghindari pembatasan penjualan obat.

Wasir

Wasir terjadi karena adanya pembengkakan pembuluh darah di area rektal. Sediaan phenylephrine anorektal, misalnya krim, gel, salep, suppositoria, diberikan secara topikal untuk meredakan gejala sementara pada wasir.

Ketika diaplikasikan secara topikal, sifat vasokonstriksi dari phenylephrine akan bekerja dengan memengaruhi reseptor alfa-adrenergik. Hal ini akan merangsang penyempitan otot polos pembuluh darah dan dapat mengurangi gejala sementara dari pembengkakan hemoroid.

Beberapa merek obat tersedia dalam kombinasi dengan zat yang dapat membentuk pelindung pada area yang meradang. Dengan demikian, obat dapat membantu mengurangi rasa sakit saat tinja keluar.

Pelebaran pupil

Phenylephrine dalam bentuk sediaan tetes mata berguna melebarkan pupil mata untuk membantu visualisasi retina. Biasanya tersedia dalam sediaan kombinasi untuk membantu mata yang letih setelah membaca dan mengurangi gejala iritasi mata non infeksi.

Selain itu, obat tetes mata juga tersedia dalam kombinasi dengan tropicamide untuk kondisi tertentu yang disebut penyakit mydriasis. Kombinasi ini dipertimbangkan karena efek obat dapat saling meningkat saat dikombinasikan ketika tropicamide saja tidak mencukupi.

Sediaan tetes mata biasanya diteteskan ke mata setelah anestesi topikal diterapkan. Obat ini juga telah digunakan sebagai suntikan intracameral ke dalam ruang anterior mata untuk menghentikan perdarahan intraokular. Biasanya hal tersebut terjadi selama operasi katarak dan glaukoma.

Namun, phenylephrine tidak dapat diberikan pada pasien yang menderita glaukoma sudut sempit karena dapat berisiko fatal terhadap tekanan mata.

Hipotensi selama anestesi

Phenylephrine diberikan melalui suntikan untuk meningkatkan tekanan darah pada pasien dengan hipotensi tidak stabil selama anestesi. Obat ini diberikan untuk kondisi tertentu, terutama akibat syok septik.

Karena efek vasokonstriksinya, phenylephrine dapat menyebabkan nekrosis parah jika masuk ke jaringan sekitarnya. Namun, kerusakan jaringan ini dapat dicegah atau dikurangi dengan memberikan injeksi subkutan phentolamine.

Oleh karena itu, sedapat mungkin obat harus diberikan melalui jalur sentral, baik secara epidural atau subarachnoid anestesi. Efek klinis dari satu dosis bolus intravena phenylephrine hanya bertahan singkat dan perlu diulang setiap 10–15 menit.

Merek dan harga obat phenylephrine

Beberapa merek obat dekongestan termasuk obat yang bisa kamu dapatkan tanpa resep. Berikut beberapa informasi mengenai merek obat mengandung phenylephrine beserta harganya:

  • Fludexine tablet. Sediaan tablet kombinasi dengan paracetamol 500mg, CTM 2mg, phenylephrine 7,5mg, dan dextromethorphan 15mg. Obat ini diproduksi oleh Dexa Medica dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp952/tablet.
  • Nipe Drop 15ml. Sediaan obat tetes oral untuk meringankan gejala flu yang mengandung kombinasi dengan paracetamol dan esothipendyl HCl. Obat ini diproduksi oleh Transfarma Medica Indah dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp93.540/botol.
  • Bronchitin expectoran syrup 60ml. Sediaan sirup oral untuk membantu mengeluarkan dahak yang mengandung kombinasi dengan paracetamol dan guaifenesin. Obat ini diproduksi oleh Nufarindo dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp12.145/botol.
  • Panadol Flu & Batuk capsule. Sediaan kapsul mengandung kombinasi dengan paracetamol dan dextromethorphan. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp15.692/strip isi 10 tablet.
  • Mersidryl Syrup 75ml. Sediaan sirup untuk membantuk meredakan gejala pilek yang mengandung kombinasi dextromethorphan, diphenhydramine, ammon Cl, dan natrium sitrat. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp9.394/botol.
  • Lodecon tablet. Sediaan tablet mengandung kombinasi dengan paracetamol, CTM, dextromethorphan, dan glyceryl guaiacolate. Obat ini bisa kamu dapatkan dengan harga Rp5.178/strip isi 10 kaplet.
  • Cendo augentonic eye drop 5ml. Sediaan obat tetes mata untuk mengurangi iritasi mata non infeksi. Obat ini mengandung kombinasi dengan vitamin A palmitat dan zinc sulfate. Kamu bisa mendapatkannya dengan harga Rp34.160/botol.

Bagaimana cara pakai obat phenylephrine?

Baca dan ikuti petunjuk penggunaan obat yang tertera di label kemasan resep atau berdasarkan petunjuk dari dokter. Obat biasanya cukup digunakan hingga gejala sembuh. Jangan gunakan obat lebih banyak atau lebih lama dari dosis yang direkomendasikan.

Obat sediaan tablet sebaiknya diminum bersama dengan makanan untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan. Namun, beberapa merek obat tertentu bisa kamu minum sebelum atau sesudah makan. Perhatikan cara minum yang tertera dalam kemasan resep obat.

Minum obat tablet atau kapsul oral utuh dengan segelas air. Obat jangan dihancurkan, dikunyah, atau dilarutkan kecuali ada instruksi dari dokter. Beritahu dokter atau apoteker apabila kamu mengalami kesulitan menelan tablet atau kapsul.

Sediaan sirup dikocok lebih dulu sebelum ditakar. Ukur obat dengan sendok takar atau alat pengukur dosis yang tersedia bersama obat. Tanyakan pada apoteker mengenai cara mengukur dosis, terutama jika kamu tidak menjumpai alat pengukur dosis.

Sediaan tetes mata bisa kamu teteskan 2 hingga 3 kali pada mata yang sakit tiga kali sehari. Pastikan bahwa iritasi mata yang kamu alami tidak disebabkan oleh mikroorganisme.

Gunakan obat secara teratur setiap hari dalam waktu yang sama setiap hari untuk mendapatkan efek pengobatan yang maksimal.

Hubungi dokter apabila dalam tujuh hari gejala tidak membaik atau bahkan semakin memburuk setelah kamu menggunakan phenylephrine.

Jika kamu memerlukan pembedahan, beritahu dokter bahwa kamu menggunakan phenylephrine.

Kamu bisa menyimpan obat phenylephrine pada suhu kamar terhindar dari kelembapan dan sinar matahari setelah digunakan. Pastikan botol obat tertutup rapat saat tidak digunakan.

Berapa dosis obat phenylephrine?

Dosis dewasa

Untuk dekongestan

  • Dosis sebagai sediaan larutan 0,25-1%: teteskan 2 sampai 3 tetes atau semprotkan di setiap lubang hidung tiap 4 jam sesuai kebutuhan hingga 3 hari.
  • Dosis sebagai sediaan tablet oral: 10mg setiap 4 jam sesuai kebutuhan hingga 7 hari. Dosis maksimal: 60 mg setiap hari.

Penyakit mydriasis

  • Dosis sebagai larutan tetes mata 2,5 atau 10%: teteskan 1 tetes ke setiap mata. Satu tetes anestesi lokal dapat diberikan beberapa menit sebelum pemberian phenylephrine.
  • Dosis dapat diulangi jika perlu dengan interval setidaknya tiap satu jam.
  • Dosis maksimal: 3 tetes per mata.

Keadaan hipotensi

  • Hipotensi ringan sampai sedang dapat diberikan dosis 2-5 mg melalui suntikan intramuskuler. Sebagai alternatif, dapat diberikan dosis 100-500 mcg melalui injeksi intravena lambat sebagai larutan 0,1%.
  • Hipotensi parah dapat diberikan dosis hingga 180mcg/menit melalui infus. Dosis dapat disesuaikan hingga 30-60mcg/menit sesuai respons klinis.

Wasir

Dosis sebagai sediaan krim/salep/gel topikal: oleskan pada area rektal yang bersih dan kering hingga 4 kali sehari.

Dosis sebagai sediaan suppositoria 0,25%: satu suppositoria dimasukkan ke dalam rektal hingga 4 kali sehari. Dosis obat sebaiknya tidak melebihi 2mg setiap hari.

Dosis anak

Untuk dekongestan

  • Dosis sebagai sediaan larutan 0,25-1%: usia di atas 12 tahun dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.
  • Dosis sebagai sediaan tablet oral: usia 6 hingga 12 tahun dapat diberikan dosis 1/2 tablet diminum tiga kali sehari.

Penyakit mydriasis

Dosis sebagai larutan tetes mata 2,5%: teteskan 1 tetes ke setiap mata dan tidak lebih dari 3 tetes per mata.

Apakah phenylephrine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan phenylephrine dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa obat ini dapat menimbulkan risiko merugikan pada janin (teratogenik). Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai. Penggunaan obat dapat diberikan apabila manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Phenylephrine belum diketahui apakah dapat terserap dalam ASI karena data yang tersedia masih terbatas. Obat sebaiknya tidak dikonsumsi oleh ibu menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Apa efek samping obat phenylephrine yang mungkin terjadi?

Hentikan pengobatan dan hubungi dokter apabila muncul gejala reaksi efek samping berikut setelah kamu menggunakan phenyelpehrine:

  • Gejala reaksi alergi, seperti ruam kemerahan pada kulit, gatal-gatal, kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan
  • Detak jantung cepat, berdebar, atau tidak teratur
  • Pusing atau perasaan gugup yang parah
  • Perasaan gelisah dan kecemasan
  • Gangguan tidur, seperti insomnia
  • Peningkatan tekanan darah yang ditandai dengan gejala sakit kepala parah, penglihatan kabur, berdebar-debar pada leher atau telinga.

Efek samping lain yang umum terjadi dari penggunaan phenylephrine, antara lain:

  • Kulit kemerahan dan terasa hangat
  • Pusing
  • Kehilangan nafsu makan
  • Merasa gelisah atau bersemangat, terutama pada anak-anak.

Peringatan dan perhatian

Jangan mengonsumsi phenylephrine apabila kamu pernah mengalami alergi dengan obat ini sebelumnya.

Kamu mungkin tidak dapat menggunakan phenylephrine apabila memiliki riwayat hipertensi berat, takikardia ventrikel, dan hipertiroidisme berat.

Kamu juga tidak boleh menggunakan sediaan phenylephrine larutan untuk mata (ophthalmic) jika memiliki riwayat glaukoma sudut sempit.

Sebaiknya kamu tidak mengonsumsi phenylephrine apabila telah menggunakan obat untuk mengobati depresi yang dikenal sebagai penghambat oksidase monoamine (MAOI) dalam 14 hari terakhir.

Beritahu dokter apabila kamu memiliki riwayat kesehatan berikut sebelum memutuskan menggunakan phenylephrine:

  • Penyakit jantung
  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit tiroid
  • Diabetes
  • Asma
  • Pembesaran prostat.

Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil atau menyusui bayi sebelum memutuskan menggunakan phenylephrine.

Obat ini sebaiknya tidak diberikan untuk anak usia di bawah 2 tahun tanpa konsultasi dengan dokter.

Beritahu dokter atau apoteker jika kamu menggunakan salah satu dari obat-obatan berikut ini:

  • Obat dekongestan lain, misalnya naphazoline, oxymetazoline, xylometazoline
  • Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi atau penyakit jantung, misalnya digoxin, prazosin
  • Obat-obatan untuk depresi, misalnya amitriptyline, nortriptyline
  • Obat asma misalnya bambuterol, salmeterol, terbutalin

Hindari alkohol, jeruk pahit, dan kafein saat kamu mengonsumsi phenylephrine. Efek samping tertentu dapat meningkat saat kamu mengonsumsinya bersamaan dengan obat ini.

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine | C9H13NO2 – PubChem

Drugsite Trust, diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine Monograph

MedlinePlus – Health Information from the National Library of Medicine, diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine: MedlinePlus Drug Information

Science Direct, diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine – an overview

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 5 April 2021, Sirup Flu dan Batuk | PIO Nas

DrugBank Online, diakses pada 5 April 2021, Phenylephrine

    register-docotr