Kamus Obat

Mengenal Obat CTM: Apa Manfaat, Efek Samping, Hingga Dosis yang Diperlukan

July 30, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Obat CTM biasanya digunakan untuk mengatasi masalah alergi, namun bisa juga menghilangkan gejala demam lho! Namun, penggunaannya perlu diarahkan secara khusus oleh dokter dengan dosis yang telah ditentukan.

Apabila ingin mengonsumsi obat CTM, maka perlu melakukan konsultasi dengan dokter ahli karena memiliki beberapa efek samping. Nah, untuk mengetahui informasi lebih lanjut yuk simak penjelasan lengkapnya. 

Baca juga: Kondisi Kulit Kering dan Gatal? Yuk, Simak Beberapa Penyebab Dermatitis

Apa itu obat CTM?

Obat CTM merupakan antihistamin yang seringkali digunakan sebagai obat untuk menghilangkan gejala alergi, demam, dan pilek. Gejala-gejala ini termasuk ruam, mata berair, mata gatal, batuk, pilek, dan bersin.

Secara umum, obat ini bekerja dengan cara memblokir zat alami tertentu atau histamin yang dibuat tubuh selama reaksi alergi.

Dengan memblokir zat lain yang dibuat oleh tubuh atau asetilkolin, maka akan membantu mengeringkan beberapa cairan tubuh untuk meringankan gejala seperti mata berair dan pilek

Produk ini belum terjamin aman dan efektif pada anak yang berusia di bawah 6 tahun. Karena itu, jangan gunakan obat CTM untuk mengobati gejala pilek pada anak dengan usia 6 tahun ke bawah kecuali diarahkan secara khusus oleh dokter.

Beberapa produk, berupa tablet atau kapsul tidak direkomendasikan untuk digunakan pada anak di bawah 12 tahun. Tanyakan kepada dokter atau apoteker untuk detail lebih lanjut mengenai penggunaan produk yang aman.

Cara penggunaan obat CTM yang tepat

Dilansir Webmd, jika akan menggunakan produk secara bebas maka baca dengan teliti semua petunjuk yang ada pada produk sebelum penggunaannya. Konsultasikan segera dengan dokter atau apoteker apabila kamu memiliki pertanyaan mengenai resep yang diperlukan.

Cara mengonsumsinya cukup dengan mengambil obat tablet, kapsul, atau dalam bentuk cair dan masukkan melalui mulut dengan atau tanpa makanan. Ikuti petunjuk untuk menggunakan dosis yang sesuai pada label atau anjuran dari dokter ahli.

Obat CTM dapat diminum dengan menggunakan makanan pembantu atau susu jika gangguan pada perut terjadi. Jika kamu mengambil kapsul yang panjang, telan secara utuh dan jangan dihancurkan atau dikunyah karena akan memiliki pelepasan lebih lama.

Mengonsumsi obat dengan dihancurkan atau dikunyah bisa melepaskan semua obat sekaligus sehingga meningkatkan risiko efek samping.

Selain itu, jangan pisahkan tablet kecuali memiliki garis skor atau dokter yang memberi tahu untuk melakukannya. Telan tablet secara utuh atau terbelah tanpa menghancurkan atau mengunyahnya,

Apabila obat yang dikonsumsi dalam bentuk cair, maka gunakan alat pengukur obat untuk menentukan dosis dengan hati-hati. Jangan gunakan sendok makan dan selalu kocok botol sebelum penggunaanya.

Dosis obat CTM umumnya didasarkan pada usia, kondisi medis, dan respons terhadap terapi.

Jangan tambahkan dosis atau minum obat CTM lebih sering daripada yang direkomendasikan dokter atau tanpa persetujuan dari medis. Minumlah obat secara teratur, atau konsumsi pada waktu yang sama setiap hari agar selalu ingat.

Overdosis dapat terjadi jika kamu lupa dosis yang biasa digunakan. Karena itu, jika kondisi berlanjut atau semakin memburuk, maka segera hubungi medis untuk mendapatkan penanganan tepat.

Apa saja efek samping penggunaan obat CTM?

Setelah mengonsumsi obat CTM, biasanya pengguna bisa merasakan efek samping yang cukup umum.

Beberapa efek samping yang umum muncul adalah mengantuk, pusing, sembelit, sakit perut, penglihatan kabur, dan mulut atau tenggorokan terasa kering. Jika salah satu dari efek ini bertahan atau memburuk, segera beritahu dokter atau apoteker.

Lakukan pemeriksaan bersama dokter apabila memiliki efek samping serius, termasuk perubahan mental atau suasana hati, sulit buang air kecil, dan detak jantung tidak teratur. Dapatkan bantuan medis segera jika memiliki efek samping sangat serius, termasuk kejang.

Reaksi alergi sangat serius terhadap obat ini jarang terjadi, namun segera cari bantuan medis jika terjadi. Gejala reaksi alergi yang serius dapat meliputi ruam, gatal atau bengkak terutama pada wajah, lidah, serta tenggorokan, pusing parah, hingga kesulitan bernapas.

Untuk meredakan mulut kering, kamu bisa menghisap permen, kunyah permen karet, atau perbanyak konsumsi air putih. Lakukanlah pemeriksaan segera apabila gejala yang dirasakan tidak kunjung sembuh.

Adakah interaksi dengan obat lain yang mungkin terjadi?

Interaksi obat umumnya akan mengubah cara kerja atau meningkatkan risiko untuk efek samping yang serius. Namun, kemungkinan interaksi obat sangat kecil terjadi sehingga perlu berbicara lebih lanjut dengan dokter.

Simpan daftar produk yang kamu gunakan, termasuk obat resep atau non resep dan produk herbal dari dokter. Jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat apapun tanpa persetujuan dari dokter. 

Nah, beberapa produk yang dapat berinteraksi dengan obat ini adalah antihistamin oles untuk kulit seperti krim diphenhydramine, salep, dan semprotan. Beritahu dokter atau apoteker jika kamu sedang menggunakan produk lain yang menyebabkan kantuk.

Obat yang bisa mengakibatkan efek mengantuk, di antaranya obat untuk nyeri opioid seperti kodein dan hidrokodon, alkohol, ganja, obat tidur, dan pelemas otot.

Periksa label semua obat yang kamu gunakan, seperti produk obat batuk dan pilek. Hal ini dikarenakan produk bisa saja mengandung bahan yang menyebabkan kantuk.

Chlorpheniramine atau CTM sangat mirip dengan dexchlorpheniramine sehingga hindari penggunaan kedua obat ini secara bersamaan. Tanyakan pada apoteker tentang produk-produk yang aman digunakan.

Obat ini dapat mengganggu tes laboratorium tertentu, termasuk tes kulit alergi yang menyebabkan hasil tes menjadi salah. Pastikan petugas laboratorium dan semua dokter mengetahui jika kamu sedang menggunakan obat ini.

Bagaimana dosis penggunaan chlorphenamine?

Dosis obat CTM biasanya diberikan sesuai dengan usia penderita dan kondisi medis yang diderita. Beberapa perbedaan dosis yang bisa diberikan dokter pada orang dewasa, antara lain sebagai berikut:

Dosis obat CTM dewasa biasa untuk alergi

Untuk penggunaan obat CTM dalam bentuk tablet atau sirup biasanya dikonsumsi sebanyak 4 mg oral setiap 4 hingga 6 jam.

Pelepasan berkelanjutan umumnya memerlukan 8 hingga 12 jam sesuai kebutuhan atau 16 mg oral sekali sehari. Dosis maksimum yang bisa diberikan adalah 32 mg per harinya.

Dosis dewasa biasa untuk reaksi alergi

Solusi injeksi untuk reaksi alergi terhadap infus darah atau plasma adalah 10 hingga 20 mg. Biasanya, pemberian dilakukan dengan menggunakan injeksi intravena, intramuskular, atau subkutan sebagai dosis tunggal.

Kondisi alergi tanpa komplikasi

Orang dewasa yang memiliki alergi tanpa komplikasi bisa diberikan obat dengan dosis 5 hingga 20 mg menggunakan injeksi intravena, submuskular, atau subkutan sebagai dosis tunggal. Sementara, dosis maksimum yang bisa diberikan dengan injeksi adalah 40 mg per hari. 

Dosis pediatrik biasa untuk rhinitis alergi

Pemberian dosis untuk usia 3 bulan hingga 5 bulan untuk obat dalam bentuk sirup adalah 0,5 mg oral setiap 12 jam. Sementara untuk anak usia 6 hingga 8 bulan, obat sirup diberikan sebanyak 1 mg oral setiap 12 jam.

Dosis obat CTM sirup  untuk anak usia 9 hingga 18 bulan adalah 1 hingga 1,5 mg per oral setiap 12 jam. Nah, untuk anak usia 18 hingga 6 tahun obat sirup diberikan sebanyak 2 mg oral setiap 12 jam. Lakukan konsultasi juga dengan dokter untuk mengetahui dosis yang tepat pada anak.

Anak usia 2 hingga 5 tahun, pemberian obat tablet atau sirup adalah 1 mg setiap 4 hingga 6 jam. Pelepasan berkelanjutan diberikan sebanyak 2 mg oral dua kali dalam sehari dan tidak melebihi 8 mg dalam 24 jam dengan dosis maksimum 6 mg per hari.

Usia 6 hingga 11 tahun, penggunaan obat tablet atau sirup sekitar 2 mg setiap 4 hingga 6 jam. Untuk pelepasan berkelanjutan membutuhkan dosis 4 hingga 8 mg secara oral dua kali dalam sehari dan tidak melebihi 16 mg dalam 24 jam atau 8 mg secara oral pada waktu siang hari. 

Jika anak sudah berusia 12 tahun atau lebih, pemberian obat tablet atau sirup adalah 4 mg oral setiap 4 hingga 6 jam. Pelepasan berkelanjutan biasanya membutuhkan 8 hingga 16 mg per oral setiap 8 hingga 12 jam sesuai kebutuhan atau 16 mg per oral sekali sehari sesuai kebutuhan. 

Dosis pediatrik biasa untuk reaksi alergi

Solusi pemberian obat CTM injeksi untuk anak usia 2 hingga 11 tahun adalah 0,35 mg per hari dalam dosis terbagi setiap 4 hingga 6 jam sesuai dengan kebutuhan.

Anak usia 12 tahun atau lebih, reaksi alergi terhadap infus darah atau plasma adalah 10 hingga 20 mg dengan injeksi intravena, intramuskular, atau subkutan sebagai dosis tunggal.

Kondisi alergi tanpa komplikasi membutuhkan 5 hingga 20 mg dengan injeksi intravena, intramuskular, atau subkutan sebagai dosis tunggal. Dosis maksimum dengan injeksi adalah 40 mg per harinya.

Pemberian obat tablet atau sirup anak usia 2 hingga 5 tahun, yakni 1 mg setiap 4 hingga 6 jam dengan dosis maksimum 6 mg per hari. Anak dengan usia 6 hingga 11 tahun biasa diberikan 2 mg setiap 4 hingga 6 jam dengan dosis maksimum 16 mg per harinya.

Jika anak sudah berusia 12 tahun atau lebih, maka pemberian obat sekitar 4 mg oral setiap 4 hingga 6 jam. Umumnya, dosis maksimum yang dibutuhkan anak usia 12 tahun ke atas adalah 32 mg per hari. 

Baca juga: Gatal dan Sakit Tenggorokan? Ini Bisa Jadi Penyebab Batuk Kering, Lho

Apa yang harus dilakukan jika mengalami overdosis?

Ketika mengalami kasus yang serius, seperti overdosis akibat obat CTM maka hubungi penyedia layanan kesehatan lokal atau segera pergi ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat.

Biasanya, penanganan terhadap overdosis akan segera dilakukan untuk mencegah masalah menjadi lebih fatal. Karena itu, jika kamu melupakan dosis obat maka minumlah dosis yang terlupakan sesegera mungkin.

Namun, apabila sudah mendekati waktu dosis berikutnya, lewatkan dosis yang terlupakan dan kembali ke jadwal awal. Sebisa mungkin untuk tidak menggandakan dosis obat CTM karena bisa mengakibatkan overdosis jika dilanjutkan.

Perhatikan selalu instruksi penggunaan obat yang dokter berikan agar tidak terjadi overdosis. Gejala dapat menghilang jika konsumsi obat sesuai dengan resep yang telah dianjurkan. Perbaiki juga pola hidup untuk lebih sehat agar penyakit lain tidak menginfeksi tubuh.

Perbanyaklah konsumsi makanan sehat untuk melengkapi nutrisi tubuh yang tidak tercukupi. Lakukan juga olahraga secara rutin agar kondisi kesehatan tubuh tetap terjaga dan mencegah masuknya penyakit dengan mudah. 

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  1. Webmd, diakses 27 Juli 2020. Chlorpheniramine Maleate
  2. Drugs.com (2020), diakses 27 Juli 2020. Chlorpheniramine
  3. Everyday Health (2013), diakses 27 Juli 2020. Chlorpheniramine
    Berita Terkait
    register-docotr