Kamus Obat

Mengenal Obat Dumolid, Tablet Penenang yang Kerap Disalahgunakan

June 25, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Mendengar nama dumolid, mungkin sebagian orang akan langsung mengaitkannya dengan obat-obatan terlarang. Pendapat tersebut tak sepenuhnya salah, karena obat dumolid sendiri telah dikategorikan sebagai psikotropika oleh pemerintah.

Meski begitu, sampai saat ini, obat ini masih tetap digunakan untuk urusan medis, terutama bagi pasien gangguan tidur atau insomnia. Lalu, apa saja efek yang mampu diberikan oleh dumolid? Serta, seperti apa konsumsi yang bisa dikategorikan sebagai penyalahgunaan?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Mengenal obat dumolid

Dumolid merupakan merek dagang dari obat yang mengandung zat aktif nitrazepam. Istilah dumolid sendiri hanya digunakan di Indonesia. Di luar negeri, obat ini memiliki sebutan berbeda-beda, seperti alodorm, apodorm, insoma, megadon, nitravet, remnos, somnite, dll.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dumolid dikategorikan sebagai psikotropika golongan IV. Obat yang masuk golongan ini umumya masih boleh digunakan untuk urusan medis, tapi dengan kontrol yang ketat.

Dumolid digunakan dalam jangka pendek. Artinya, obat ini tidak boleh sembarangan dikonsumsi dalam kurun waktu yang lama tanpa persetujuan dokter. Penyalahgunaan dumolid bisa berujung pada sanksi hukum.

Kegunaan obat dumolid

kegunaan obat dumolid
Ilustrasi insomnia. Sumber foto: www.helpguide.org

Awalnya, obat ini digunakan untuk mengatasi gangguan sulit tidur yaitu insomnia. Tapi belakangan, setelah banyaknya riset yang dilakukan oleh para ilmuwan, obat ini juga dikembangkan untuk menangani berbagai gangguan kecemasan, depresi, dan sejenisnya.

Hal tersebut disebabkan oleh sifat yang menenangkan dari dumolid, meski hanya untuk sementara. Di negara-negara benua Amerika, obat dumolid juga umum dipakai sebagai penanganan epilepsi, atau yang lebih dikenal dengan penyakit ayan.

Baca juga: Mengatasi Insomnia, Yuk, Simak 7 Tips Sehat Tanpa Gangguan Tidur!

Cara kerja obat dumolid

Dumolid dikategorikan sebagai obat-obatan benzodiazepin, memiliki efek sedatif atau menenangkan. Nitrazepam yang merupakan kandungan utama dari dumolid bekerja pada reseptor di otak yang disebut GABA (gamma-Aminobutyric acid).

GABA sendiri adalah neurotransmiter yang mampu menghambat reaksi atau tanggapan yang bisa memunculkan rasa gelisah, cemas, stres, dan sejenisnya. Gejala-gejala inilah yang kemudian menyebabkan sulit tidur.

GABA membantu otak dalam menjaga aktivitas saraf agar tetap seimbang. Serta, ikut andil dalam menciptakan rasa kantuk. Saat nitrazepam bekerja memengaruhi GABA, otot-otot pemicu ketegangan mulai mengendur.

Yang perlu diingat, obat dumolid hanya bereaksi pada jangka pendek. Sehingga, ini dapat memicu ketergantungan konsumsi. Oleh karena itu, obat ini biasanya hanya diresepkan dokter untuk pasien insomnia akut.

Konsumsi obat dumolid

Karena rawan disalahgunakan, konsumsi obat dumolid saat ini ditekankan pada resep atau anjuran dokter. Penggunaannya pun diatur ketat agar tidak menyebabkan candu yang dapat berujung pada penyalahgunaan.

Dosis yang umum diberikan dokter adalah 5 mg, diminum sebelum tidur. Takaran ini bisa berubah, baik ditingkatkan menjadi 10 mg atau dikurangi waktu meminumnya. Itu semua tergantung pada pemeriksaan secara berkala yang dilakukan.

Meningkatkan dosis dumolid sangat berisiko menyebabkan candu, karena obat ini memiliki sifat adiktif. Meski begitu, jika ingin berhenti mengonsumsinya, kamu tetap harus meminta persetujuan dari dokter agar terhindar dari sejumlah dampak yang bisa muncul.

Bagaimana jika terlewat meminumnya?

Dalam beberapa kasus, pasien diharuskan mengonsumsi obat ini secara rutin. Tentunya, dengan resep dokter. Usahakan untuk tidak melewatkan dosis yang harus diminum.

Jika itu terjadi, segera minum dosis yang terlewat. Dengan catatan, tidak terlalu dekat dengan waktu minum obat selanjutnya.

Jika sudah mendekati waktu minum berikutnya, tak perlu mengonsumsinya dua kali dalam satu waktu sekaligus. Ini akan meningkatkan risiko overdosis. Lanjutkan dosis selanjutnya dan biarlah dosis sebelumnya terlewat.

Baca juga: Mengenal Alprazolam, Obat Mengatasi Gangguan Kecemasan dan Panik

Efek samping obat dumolid

Penggunaan tidak sesuai anjuran atau resep dokter bisa meningkatkan efek samping. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Pusing setelah minum obat
  • Kebingungan
  • Rasa waspada yang berkurang
  • Gangguan visual seperti penglihatan ganda dan penglihatan kabur
  • Ataksia, yaitu tidak bisa berjalan atau berdiri dengan stabil
  • Otot-otot yang melemah
  • Ruam di kulit
  • Gangguan sistem pencernaan (sembelit, diare, dan mual)
  • Berkurangnya kadar urine di dalam tubuh
  • Menurunnya gairah seksual
  • Tekanan darah menjadi tidak stabil
  • Halusinasi
  • Manajemen emosi yang buruk, misalnya mudah marah
  • Kerusakan saraf dari konsumsi berlebihan

Efek samping di atas biasanya terjadi dalam skala ringan. Tapi jika kondisi tersebut berlangsung secara berulang dan sampai mengganggu aktivitas, tak perlu ragu untuk berkonsultasi ke dokter atau tim medis.

Interaksi dengan obat lain

interaksi obat dumolid
Antidepresan bisa berinteraksi dengan dumolid. Sumber foto: www.promisesbehavioralhealth.com

Dumolid adalah obat yang bisa berinteraksi dengan obat-obatan lain. Artinya, efek yang ditimbulkan bisa saja menurun, atau bahkan membuat efeknya tidak bekerja sama sekali.

Oleh karena itu, sangat penting mendapatkan anjuran dokter untuk mengonsumsi obat ini, agar efeknya bisa bekerja dengan maksimal.

Obat dumolid dapat berinteraksi dengan:

  • Baklofen, yaitu obat untuk mengatasi berbagai masalah otot, seperti kram, tegang, dan kaku.
  • Antipsikotik, yaitu obat untuk meredakan gejala psikosis pada pasien gangguan mental, misalnya skizofrenia. Obat antipsikotik meliputi klorpromazin dan klozapin.
  • Barbiturat, yaitu obat untuk menenangkan pikiran dan otak. Obat ini juga biasa digunakan sebagai bius sebelum prosedur operasi dan mengatasi kejang.
  • Antidepresan, yaitu obat untuk mengatasi berbagai gejala depresi dan gangguan kecemasan.
  • Nabilon, yaitu obat yang dipakai untuk mengatasi mual di perut.
  • Antihistamin, yaitu obat-obatan untuk mengatasi melemahnya daya tahan tubuh serta munculnya gangguan kulit, seperti alergi dan biduran.
  • Tinazidin, yaitu obat untuk mengatasi berbagai gangguan otot, seperti kram, kaku, hingga kejang.

Selain obat-obatan di atas, beberapa obat lain yang justru dapat merusak atau menghilangkan efek dari nitrazepam di dalam tubuh adalah:

  • Simetidin, yaitu obat yang biasa digunakan untuk mengatasi berbagai masalah pada lambung, seperti maag, tukak lambung, dan GERD (gastroesophageal reflux disease).
  • Pil kontrasepsi, yaitu obat yang mengandung kombinasi hormon progesteron dan estrogen untuk mencegah terjadinya proses ovulasi pada wanita.
  • Disulfiram, yaitu obat yang biasa digunakan untuk mengatasi kecanduan alkohol.
  • Probenesid, yaitu obat yang dipakai untuk mengatasi asam urat.
  • Rifampisin, yaitu antibiotik yang biasa dikonsumsi untuk melawan bakteri patogen pemicu lepra dan tuberkolosis.
  • Teofilin, yaitu obat untuk mengatasi menyempitnya saluran pernapasan. Obat ini biasanya digunakan untuk penderita asma.
  • Levodopa, yaitu obat untuk meredakan berbagai gejala dari penyakit parkinson.

Baca juga: Obat Chloramphenicol: Inilah Cara Penggunaan, Dosis, hingga Efek Samping yang Harus Kamu Ketahui!

Overdosis obat dumolid

Overdosis obat dumolid bisa terjadi saat konsumsi melebihi takaran normal. Oleh karena itu, BPOM selaku otoritas yang berwenang mengawasi peredaran obat-obatan di Indonesia sangat menekankan penggunaan obat ini dengan resep dokter.

Efek overdosis pada obat dumolid sama seperti semua jenis benzodiazepin, yang dapat berujung pada kematian. Meski begitu, penggunaan dosis melebihi takaran yang dianjurkan juga dapat memicu terjadinya berbagai gejala sebagai berikut:

  • Kebingungan
  • Perasaan mengantuk yang ekstrem
  • Keseimbangan tubuh yang terganggu
  • Disorientasi tubuh
  • Meningkatnya tekanan darah
  • Gangguan pernapasan
  • Gangguan pada organ kardiovaskular

Ibu hamil dan menyusui

Obat dumolid sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi ibu hamil dan menyusui. Selain karena dapat membahayakan diri sendiri, kandungan obat ini bisa mengancam keselamatan janin atau bayi yang masih memerlukan ASI.

Jika ibu hamil mengalami gejala sulit tidur atau insomnia, berkonsultasi dengan dokter adalah keputusan yang tepat. Dokter akan memberikan obat lain yang tidak membahayakan janin atau bayi.

Pada kehamilan, terutama pada trimester tiga, obat dumolid harus benar-benar dihindari. Sebab, di periode ini, proses tumbuh kembang janin berlangsung secara masif.

Sedangkan pada ibu menyusui, obat dumolid bisa mengontaminasi ASI dengan kandungan berbahaya.

Baca juga: Waspadai Preeklampsia, Gangguan Kehamilan yang Jarang Disadari

Peringatan penggunaan obat dumolid

Selain ibu hamil dan menyusui, ada beberapa golongan yang tidak disarankan, bahkan dilarang, untuk mengonsumsi dumolid sebagai obat insomnia, di antaranya adalah:

  • Anak-anak di bawah 18 tahun.
  • Orang yang memiliki riwayat atau sedang mengalami penyakit paru-paru.
  • Orang yang memiliki alergi terhadap obat-obatan benzodiazepin.
  • Orang yang memiliki asma atau gangguan pernapasan lain.
  • Orang yang kerap mengalami sleep apnea, kondisi napas berhenti beberapa detik saat tidur.
  • Orang yang memiliki masalah pada lambung.

Penyalahgunaan obat dumolid

Ilustrasi penyalahgunaan obat dumolid. Sumber foto: www.todaysrdh.com

Menurut Kementerian Kesehatan, saat ini, banyak obat-obatan medis yang disalahgunakan sebagai penenang atau untuk menciptakan sensasi tertentu pada tubuh. Kategori penyalahgunaan sendiri mengacu pada pemakaian yang tidak sesuai dari fungsi utama obat-obatan yang digunakan.

Mengutip WebMD, obat-obatan penenang atau benzodiazepin sangat rawan disalahgunakan di seluruh dunia. Ini tak lepas dari efek yang dihasilkan oleh obat tersebut. Penyalahgunaan obat dumolid lebih sering dilakukan oleh seseorang yang ingin menenangkan diri stres dan depresi.

Pemicu penyalahgunaan obat dumolid

Perlu digaris bawahi, penyalahgunaan memiliki makna yang tidak sama dengan ketergantungan. Penyalahgunaan adalah hasrat yang muncul dari dalam diri untuk memakai obat-obatan tertentu demi mendapatkan efek di luar kegunaan yang seharusnya.

Sedangkan ketergantungan, mengacu pada konsumsi terus-menerus pada obat, disebabkan oleh tingkat keparahan penyakit yang diderita.

Untuk penyalahgunaan dumolid sendiri, bisa dipicu oleh dua hal, yaitu:

1. Faktor genetik

Faktor genetik di sini adalah tentang riwayat keluarga yang memiliki masalah kesehatan mental. Sebagian besar pengidap gangguan psikosis membutuhkan obat penenang.

Rasa candu dan penyalahgunaan obat bisa terjadi saat penyakit yang diderita telah sembuh, tapi tetap ingin mengonsumsinya.

2. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan adalah pemicu utama dalam banyak kasus penyalahgunaan obat dumolid. Ini berbanding lurus dengan fakta di lapangan, yang mana menurut BPOM, remaja adalah golongan usia yang paling banyak menyalahgunakan dumolid.

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Narkoba dan Bahaya yang Menyertainya

Regulasi obat dumolid di Indonesia

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan melakukan kontrol ketat atas peredaran dumolid. Sebagai obat-obatan yang digolongkan sebagai psikotropika, peredarannya diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Narkotika.

Mengutip pernyataan BPOM, obat ini tidak bisa didapatkan secara bebas. Masyarakat bisa mendapatkan obat-obatan medis yang masuk dalam golongan psikotropika hanya dengan resep dokter, termasuk dumolid.

Mendapatkan obat dumolid tanpa resep dokter merupakan pelanggaran hukum, yang bisa berujung pada sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang obat dumolid yang perlu kamu tahu. Jika sedang mengalami gejala sulit tidur atau insomnia, tak perlu pikir panjang untuk berkonsultasi ke dokter. Ini akan menghindarkanmu dari dampak buruk dan potensi penyalahgunaan obat.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), diakses 20 Juni 2020, Penjelasan Badan Pom Tentang Obat Dumolid.
  2. Kementerian Kesehatan, diakses 20 Juni 2020, Indonesia Darurat Narkoba.
  3. Medicine Net, diakses 20 Juni 2020, Nitrazepam.
  4. UK Rehab, diakses 20 Juni 2020, Nitrazepam Addiction Explained.
  5. WebMD, diakses 20 Juni 2020, Benzodiazepine Abuse.
  6. Medical News Today, diakses 20 Juni 2020, The benefits and risks of benzodiazepines.
  7. Narkonon.org, diakses 20 Juni 2020, Effects of Benzodiazepine Abuse.
  8. CNN Indonesia, diakses 20 Juni 2020, Polisi: Beli Dumolid Tanpa Resep Dokter Langgar UU
  9. Berita Satu, diakses 20 Juni 2020, BPOM: Dumolid Banyak Dikonsumsi Remaja.

    Berita Terkait
    register-docotr