Kamus Obat

Ibuprofen

April 29, 2020 | Husni Efendi | dr. Debby Deriyanthi
no-image

Ibuprofen biasanya digunakan untuk mengurangi demam dan mengobati rasa sakit atau peradangan. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, yuk simak informasi lengkap tentang obat ini dalam artikel berikut.

Untuk apa obat ibuprofen?

Obat ini adalah anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) yang bekerja dengan mengurangi hormon yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit di tubuh. Tak hanya itu, obat ini juga digunakan untuk penghilang rasa sakit setelah operasi, nyeri haid, osteoartritis, dan sakit akibat batu ginjal.

Apa fungsi dan manfaat obat ibuprofen?

Obat ini bekerja dengan menghalangi enzim yang membuat prostaglandin (zat mirip hormon yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh), yang menghasilkan kadar prostaglandin yang lebih rendah di dalam tubuh.

Kadar prostaglandin yang lebih rendah itulah yang berfungsi mengurangi rasa sakit, peradangan, dan demam. Umumnya, ibuprofen atau paracetamol ini diresepkan untuk mengobati penyakit dan kondisi yang menyebabkan nyeri, demam, dan peradangan ringan hingga sedang.

Merk dan harga obat ibuprofen

Obat ibuprofen terdia baik over the counter atau OTC dan dengan resep dari dokter. Produk umumnya tersedia dalam bentuk tablet kunyah, kapsul, hingga cairan atau sirup. Nah, untuk harga sendiri memiliki perbedaan antara obat generik dan obat merk.

  • Obat generik, biasanya dijual dengan nama ibuprofen 400 mg berisi 10 tablet. Untuk harga sendiri umumnya dijual antara Rp4.100 hingga Rp20.200 atau bahkan lebih tergantung pada masing-masing apotek.
  • Obat merk, umumnya tersedia dengan berbagai nama yakni Neo Rheumacyl, Oskadon SP, Procold, serta Paramex Nyeri Otot. Untuk harganya sekitar Rp1.900 hingga Rp10.300 atau lebih tergantung pada masing-masing apotek.

Bagaimana cara minum ibuprofen?

Gunakanlah obat ibuprofen atau paracetamol seperti yang dianjurkan pada aturan pakai, atau seperti yang ditentukan oleh dokter kamu.

Jangan gunakan dalam jumlah yang lebih besar atau lebih lama dari yang direkomendasikan. Gunakan dosis terendah yang efektif dalam mengobati kondisimu.

Overdosis dapat merusak perut atau usus. Jumlah maksimum ibuprofen untuk orang dewasa adalah 800 miligram per dosis atau 3200 mg per hari (4 dosis maksimum).

Gunakan hanya jumlah terkecil yang dibutuhkan untuk menghilangkan rasa sakit, bengkak, atau demam.

Dosis obat ini didasarkan pada usia dan berat badan anak. Lagi-lagi perhatikan dan ikuti instruksi dosis yang diberikan.

Kocok suspensi oral (jika ibuprofen berbentuk cair) dengan baik sebelum kamu mengukur dosis. Ukur obat cair dengan sendok pengukur dosis khusus atau gelas obat.

Jika bentuknya tablet, obat ini harus dikunyah sebelum kamu menelannya. Jika kamu menggunakan obat ini untuk jangka panjang, kamu mungkin perlu sering melakukan tes medis.

Berapa dosis obat ibuprofen?

Ibuprofen umumnya digunakan untuk mengobati sakit ringan, nyeri ringan hingga sedang, kram menstruasi, dan demam, dengan dosis dewasa yakni 200 atau 400 mg setiap 4 hingga 6 jam.

Untuk kondisi arthritis (peradangan sendi) bisa dengan mengonsumsi 300 hingga 800 mg, dalam 3 atau 4 kali sehari.

Saat dirawat oleh dokter, dosis maksimum ibuprofen adalah 3,2 g setiap hari. Jika tidak, maksimum yang digunakan adalah 1,2 g setiap hari, tergantung pada usia, berat badan, dan kondisi medis pasien saat dirawat.

Individu tidak boleh menggunakan obat ini selama lebih dari 10 hari untuk pengobatan rasa sakit atau lebih dari 3 hari untuk pengobatan demam kecuali sudah berkonsultasi dengan dokter.

Dosis obat ibuprofen untuk anak

Untuk anak-anak usia 6 bulan hingga 12 tahun biasanya diberikan 5-10 mg ibuprofen setiap 6-8 jam untuk pengobatan demam dan nyeri. Dosis maksimum adalah 40 mg setiap hari.

Apakah ibuprofen aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Tidak ada penelitian yang memadai tentang obat tersebut yang dikonsumsi pada ibu hamil. Karena itu, ibuprofen tidak dianjurkan selama kehamilan. Obat ini harus dihindari pada akhir kehamilan karena risiko penutupan dini duktus arteriosus di jantung janin.

Obat ini diekskresikan dalam ASI tetapi American Academy of Pediatrics menyatakan perlu diwaspadai ketika ibu masih menyusui. 

Jadi untuk ibu hamil dan yang sedang menyusui, harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu jika memang akan mengonsumsinya.

Efek samping obat

Obat yang mengandung ibuprofen bisa menyebabkan berbagai efek samping hingga menyebabkan ketidaknyamanan. Dapatkan bantuan medis darurat segera jika kamu memiliki tanda-tanda reaksi alergi

Nah, obat yang mengandung ibuprofen biasanya akan mengakibatkan efek samping seperti ruam atau gatal-gatal, bersin yang terus menerus, pilek atau hidung tersumbat, dada terasa sesak atau kesulitan bernapas, pembengkakkan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

Segera berhenti menggunakannya dan hubungi dokter segera jika kamu memiliki tanda-tanda berikut ini: pembengkakan atau penambahan berat badan yang cepat, tanda-tanda pendarahan lambung, seperti feses berdarah, batuk berdarah atau muntah yang terlihat seperti bubuk kopi.

Efek samping akibat ibuprofen atau paracetamol lainnya yang mungkin juga dirasakan adalah mual, sakit perut bagian atas, cepat lelah, kehilangan nafsu makan, dan urine menjadi gelap.

Peringatan dan perhatian obat

Obat yang mengandung ibuprofen dapat meningkatkan risiko serangan jantung, terutama jika kamu menggunakannya dalam jangka panjang atau mengambil dosis tinggi, atau jika kamu memiliki riwayat penyakit jantung.

Ibuprofen juga dapat menyebabkan perdarahan pada lambung atau usus, yang juga bisa berakibat fatal. Kondisi ini dapat terjadi tanpa peringatan saat kamu menggunakan ibuprofen, terutama pada mereka yang sudah berumur senja.

Jangan mengonsumsi lebih dari dosis yang disarankan. Overdosis dapat merusak perut atau usus kamu. Gunakan hanya obat dalam jumlah terkecil yang diperlukan untuk menghilangkan rasa sakit, bengkak, atau demam.

Jangan gunakan obat ini tepat sebelum atau setelah operasi jantung (coronary artery bypass graft, atau CABG).

Terlebih jika alergi terhadap obat tersebut, atau jika kamu pernah mengalami serangan asma, gatal-gatal, atau reaksi alergi parah setelah mengonsumsi aspirin dan asetaminofen.

Yang paling penting selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Terutama jika memiliki kondisi seperti:

  • Penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, atau jika kamu merokok
  • Riwayat serangan jantung, stroke
  • Riwayat radang lambung atau pendarahan
  • Asma
  • Penyakit hati atau ginjal
  • Lupus.

Hindari minum alkohol jika kamu sedang mengonsumsi obat ini. Ini dapat meningkatkan risiko pendarahan lambung.

Hindari mengonsumsi ibuprofen jika kamu mengonsumsi aspirin untuk mencegah stroke atau serangan jantung. Ibuprofen dapat membuat aspirin kurang efektif dalam melindungi jantung dan pembuluh darah.

Jika kamu harus mengonsumsi keduanya, minumlah ibuprofen setidaknya 8 jam sebelum atau 30 menit setelah kamu mengonsumsi aspirin (dan tentunya harus sepengetahuan dokter).

Untuk Moms yang sedang hamil, hati-hati juga mengonsumsi obat ini. Jangan menggunakan obat ini tanpa saran dokter. Ini juga berlaku kepada Moms yang sedang menyusui, ya. Yang juga harus diperhatikan, jangan berikan kepada anak di bawah 2 tahun tanpa saran dokter.

Ibuprofen untuk anak

Penggunaan ibuprofen untuk anak biasanya untuk mengobati gejala flu, tumbuh gigi, serta sakit gigi. Obat ibuprofen juga bisa dipakai untuk mengobati peradangan, seperti sakit dan nyeri setelah cederam dan masalah artritis pada masa kanak-kanak.

Untuk anak usia 3 bulan hingga 12 tahun, obat ibuprofen hadir dalam bentuk sirup cair. Sementara, untuk yang berusia 7 tahun atau lebih ibuprofen untuk anak tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan butiran yang larut dalam air.

Apa yang terjadi jika kamu overdosis?

Jika kamu mengonsumsi sesuai jadwal, gunakan dosis yang terlewat begitu kamu ingat. Lewati dosis yang terlewat jika sudah waktunya kamu untuk meminum dosis terjadwal berikutnya.

Jangan menggunakan obat tambahan untuk mengganti dosis yang terlewat. Cari pertolongan medis darurat secepatnya, atau hubungi dokter dan rumah sakit terdekat.

Gejala overdosis mungkin termasuk mual, muntah, sakit perut, kantuk, tinja berwarna hitam atau berdarah, batuk berdarah, mengalami sesak pernapasan, pingsan, atau bahkan bisa mengalami koma.

Obat yang berinteraksi dengan ibuprofen

  • Obat ini dapat meningkatkan kadar litium dalam darah (Eskalith, Lithobid) dengan mengurangi ekskresi litium oleh ginjal. Peningkatan kadar lithium dapat menyebabkan keracunan lithium.
  • Ibuprofen dapat mengurangi efek penurun tekanan darah dari obat yang diberikan untuk mengurangi tekanan darah. Ini mungkin terjadi karena prostaglandin berperan dalam pengaturan tekanan darah.
  • Ketika digunakan dalam kombinasi dengan metotreksat (Rheumatrex, Trexall) atau aminoglikosida (misalnya, gentamisin), kadar metotreksat atau aminoglikosida dalam darah dapat meningkat, mungkin karena eliminasi mereka dari tubuh berkurang.
  • Meningkatkan efek negatif siklosporin pada fungsi ginjal.
  • Orang yang menggunakan pengencer darah oral atau antikoagulan, misalnya warfarin (Coumadin), harus menghindari ibuprofen karena bisa mengencerkan darah, dan pengencer darah yang berlebihan dapat menyebabkan pendarahan.
  • Jika aspirin dikonsumsi bersamaan, mungkin ada peningkatan risiko untuk meningkatkan risiko sakit maag.

Kemasan dan penyimpanan

  • Untuk tablet ada beberapa ukuran seperti: 100, 200, 400, 600, dan 800 mg
  • Untuk tablet kunyah ada beberapa ukuran seperti: 50 dan 100 mg; Suspensi: 100 mg / 5 ml dan 40 mg / ml
  • Sebaiknya disimpan pada suhu ruangan, antara 15 C hingga 30 C (59 F hingga 86 F). 

Ibuprofen untuk corona

Menurut informasi dari Badan POM, ibuprofen untuk corona tidak disarankan karena kemungkinan bisa memperburuk kondisi pasien. Bahkan dalam informasi untuk publik oleh WHO, 19 Maret 2020, dikatakan bahwa ibuprofen untuk corona tidak direkomendasikan.

Namun, obat ini dapat digunakan untuk corona dengan tetap memperhatikan informasi dari dokter ahli. Hal ini dikarenakan, obat ibuprofen harus dikonsumsi sesuai dengan dosis terutama pada ibu hamil dan menyusui.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

–  drugs.com, diakses 28 April 2020 – Ibuprofen

https://www.drugs.com/ibuprofen.html

 

– achospitalist.org, diakses 28 April 2020 – Non-opioid combo offers similar pain control to 3 opioid combos in ED after 2 hours

https://acphospitalist.org/weekly/archives/2017/11/15/3.htm

 

– time.com, diakses 28 April 2020 – Ibuprofen May Not Be As Safe As You Think

https://time.com/4568552/ibuprofen-naproxen-inflammation-safety/?xid=homepage%20%20

 

– drugs.com, diakses 28 April 2020 – Ibuprofen Dosage

https://www.drugs.com/dosage/ibuprofen.html

 

– time.com, diakses 28 April 2020 – Before You Take Ibuprofen, Try This

https://time.com/4784602/ibuprofen-natural-pain-relievers/

 

– telegraph.co.uk, diakses 28 April 2020 – Experts question official NHS advice over ibuprofen and coronavirus

https://www.telegraph.co.uk/global-health/science-and-disease/experts-question-official-nhs-advice-ibuprofen-coronavirus/

 

– medicinenet, diakses 28 April 2020 – Medical Definition of Ibuprofen

https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=11510

 

– ncbi.nlm.nih.gov, diakses 28 April 2020 – An Overview of Clinical Pharmacology of Ibuprofen

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3191627/

 

– link.springer.com, diakses 28 April 2020 – Clinical Pharmacokinetics of Ibuprofen

https://link.springer.com/article/10.2165/00003088-199834020-00002

 

– ncbi.nlm.nih.gov, diakses 28 April 2020 – Ibuprofen: pharmacology, efficacy and safety

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19949916

 

– Mayo Clinic (2020), diakses 11 September 2020 – Ibuprofen (Oral Route)

 

– NHS (2019), diakses 11 September 2020 – Ibuprofen for children

 

– Badan Pom (2020), diakses 11 September 2020 – PENJELASAN BADAN POM RI Tentang Informasi Keamanan Penggunaan Ibuprofen Pada Penyakit New Corona Virus 2019 (Covid-19)

 

– WHO (2020), diakses 11 September 2020 – WHO

    Berita Terkait
    register-docotr