Kamus Obat

Erdostein

March 8, 2021 | Arin Khurota | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Erdostein merupakan golongan senyawa turunan tiol. Namun, secara umum obat ini dimasukkan dalam golongan obat mukolitik, seperti ambroxol dan bromhexine.

Berikut informasi selengkapnya mengenai erdostein, manfaat, cara minum, dosis obat, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat erdostein?

Erdostein adalah obat yang digunakan untuk mengencerkan dahak (mukolitik) pada beberapa kondisi tertentu. Selain itu, obat ini juga digunakan sebagai pembasah (fluidifikasi) pada gangguan saluran pernapasan akut dan kronis.

Obat ini tersedia dalam bentuk sediaan oral dan inhalasi (obat semprot hidung). Umumnya, erdostein dijumpai sebagai sediaan kapsul 300mg.

Apa fungsi dan manfaat obat erdostein?

Erdostein berfungsi sebagai agen untuk mengurangi kekentalan mukus (lendir) yang dikeluarkan waktu batuk dan dahak purulen. Efek obat akan mencapai efek puncak setelah satu jam pemakaian dan akan diserap oleh saluran lambung usus.

Erdostein akan bekerja dengan mengganggu proses patologis yang berlangsung pada kasus gangguan pernapasan. Ia efektif bekerja saat produksi lendir dalam saluran pernapasan menebal atau meningkat.

Dan dalam dunia kesehatan, erdostein memiliki manfaat untuk mengatasi beberapa masalah yang berkaitan dengan kondisi berikut:

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Erdostein secara efektif mengurangi gejala yang terkait dengan penyakit paru obstruktif kronik. Penyakit ini merupakan kondisi penyakit radang paru kronis yang menyebabkan aliran udara dari paru terhambat.

Gejala PPOK dapat berupa kesulitan bernapas, batuk, produksi lendir (sputum) dan mengi. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh paparan jangka panjang dari gas atau materi partikulat yang mengiritasi.

Beberapa pengobatan diberikan untuk mengurangi gejala dan mencegah penyakit yang semakin parah hingga komplikasi.

Dalam sebuah studi klinis multinasional, lebih dari 450 pasien dengan PPOK menunjukkan bahwa erdosteine ​​mampu mengurangi frekuensi dan eksaserbasi gejala khas dari penyakit ini.

Sifat antimukolitik dan fluidifikasi erdostein efektif mengatasi gangguan pernapasan atas dan bawah (paru-paru). Sifat inilah yang akan mengubah viskositas lendir dan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan.

Bronkitis

Erdostein juga digunakan untuk mengobati bronkitis, yaitu suatu kondisi di mana saluran napas meradang dan menghasilkan banyak lendir. Orang yang menderita bronkitis sering batuk disertai lendir yang kental dan bisa berubah warna.

Penyakit ini sering berkembang karena flu atau infeksi saluran pernapasan lainnya dan juga paling sering karena merokok. Bronkitis kronis merupakan kondisi serius dimana telah terjadi iritasi atau pembengkakan terus-menerus pada lapisan saluran bronkial.

Karena umumnya disertai dahak, maka pengobatan yang disarankan adalah golongan obat dengan sifat mukolitik, termasuk erdostein. Di beberapa negara, obat ini telah disetujui untuk diberikan sebagai pengobatan bronkitis.

Obat juga akan menghambat penyatuan bakteri ke sel epitel saluran napas dan membuka ikatan disulfida di mukoprotein bronkial. Dengan demikian, hipersekresi mukus dan peradangan dapat dicegah.

Merek dan harga obat erdostein

Obat ini telah memiliki izin edar untuk penggunaan medis di Indonesia. Beberapa merek erdostein yang telah beredar adalah Dosivec, Edopect, Mucotein, Erdomex, Vectrin, dan lain-lain.

Untuk mendapatkan obat ini kamu harus menyertakan resep dokter karena erdostein termasuk dalam golongan obat keras.

Bagaimana cara minum obat erdostein?

Baca dan ikuti aturan minum dan dosis yang ada di label kemasan obat yang telah ditentukan oleh dokter. Jangan minum obat lebih banyak dari dosis yang telah direkomendasikan.

Minum obat dengan atau tanpa makanan. Apabila kamu memiliki gangguan gastrointestinal atau rasa tidak nyaman saat menelan, kamu bisa meminum obat bersama dengan makanan.

Minum obat dengan teratur dan usahakan dalam waktu yang sama setiap hari untuk mendapatkan efek terapi obat yang maksimal. Kamu juga akan lebih mudah mengingat saat meminum obat secara tertib.

Jika kamu lupa minum obat, segera minum dosis yang terlewat sesegera mungkin. Apabila telah tiba waktu minum dosis berikutnya, lewati dosis yang terlewat dan minum obat sesuai dosis normal. Jangan menggandakan dosis yang terlewat dalam satu waktu minum.

Hubungi dokter apabila gejala yang kamu alami semakin memburuk saat kamu menggunakan erdostein. Pastikan kamu menghabiskan dosis obat sesuai durasi pengobatan yang telah ditentukan oleh dokter.

Setelah digunakan, simpan obat erdostein pada suhu sejuk jauh dari kelembapan dan sinar matahari.

Berapa dosis obat erdostein?

Dosis dewasa

  • Dosis lazim: 300mg diminum dua kali sehari dengan durasi pengobatan maksimal 10 hari.
  • Sedangkan dosis alternatif: 150mg-350mg diminum 2-3 kali sehari.

Dosis anak

  • Berat badan 15 kg hingga 19 kg: 175mg diminum 2 kali sehari
  • Untuk berat badan 20 kg hingga 30 kg: 175mg diminum 3 kali sehari
  • Berat badan di atas 30 kg: 350mg diminum 2 kali sehari.

Apakah erdostein aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Erdostein termasuk dalam golongan obat kategori kehamilan N. Obat ini masuk belum diketahui apakah dapat membahayakan bayi yang belum lahir.

Selain itu, erdostein juga tidak diketahui apakah dapat terserap dalam ASI sehingga belum diketahui mengenai efeknya terhadap bayi menyusui.

Kosnultasikan lebih dulu dengan dokter sebelum minum obat ini, terutama saat kamu sedang hamil atau menyusui.

Apa efek samping obat erdostein yang mungkin terjadi?

Efek samping obat mungkin terjadi karena penggunaan obat yang tidak sesuai dosis atau karena kesalahan respons tubuh. Berikut efek samping obat erdostein yang mungkin terjadi:

  • Nyeri epigastrium
  • Perubahan rasa saat menelan
  • Angioedema.
  • Gangguan gastrointestinal, berupa mual, muntah, atau diare.
  • Sakit kepala.
  • Gangguan pernapasan, toraks, dan mediastinal yang ditandai dengan kulit terasa dingin dan napas sesak.
  • Gangguan kulit dan jaringan subkutan berupa reaksi hipersensitivitas kulit, misalnya urtikaria, eritema, atau eksem.

Apabila reaksi efek samping muncul setelah kamu meminum obat ini, hentikan pengobatan dan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Peringatan dan perhatian

Jangan minum obat ini apabila sebelumnya kamu memiliki riwayat alergi erdostein atau turunan tiol lain yang sejenis.

Jangan minum obat apabila kamu memiliki riwayat sirosis hati dan kekurangan enzim sistathionin-sintetase.

Kamu mungkin juga tidak dapat minum erdostein apabila memiliki riwayat masalah kesehatan berikut:

  • Penyakit ginjal yang parah
  • Penyakit hati yang parah
  • Sakit maag
  • Ulkus peptikum aktif

Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil atau menyusui saat akan minum obat ini.

Beritahu dokter apabila kamu memiliki beberapa riwayat penyakit tertentu. Kamu mungkin perlu sangat berhati-hati saat meminumnya apabila memiliki riwayat penyakit berikut:

  • Riwayat tukak lambung tidak terlalu parah
  • Gangguan ginjal dan hati ringan sampai sedang

Hindari minum alkohol saat kamu minum erdostein karena alkohol dapat meningkatkan risiko efek samping dari obat.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 22 Februari 2021, Erdosteine | C8H11NO4S2 – PubChem

Pusat Informasi Obat Nasional (Pionas), diakses pada 22 Februari 2021, ERDOSTEIN | PIO Nas

The Monthly Index of Medical Specialities (MIMS), diakses pada 22 Februari 2021, Erdosteine: Indication, Dosage, Side Effect, Precaution

Science Direct, diakses pada 22 Februari 2021, Erdosteine – an overview

Jurnal Online Universitas Gadjah Mada, diakses pada 22 Februari 2021, EFFECTS OF ERDOSTEINE ADMINISTRATION IN SERUM C

R. J. Cremlyn. 1996.  An Introduction to Organosulfur Chemistry. Chichester: John Wiley and Sons.

    register-docotr