Kamus Obat

Apa Beda Amlodipin dan Captopril yang Bisa Mengatasi Hipertensi?

April 13, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Amlodipin dan captopril adalah dua obat yang kerap digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi atau hipertensi. Meski mempunyai fungsi yang sama, keduanya bekerja dengan cara yang berbeda. Lantas, apa bedanya amlodipin dan captopril?

Nah, untuk mengetahui apa saja perbedaan dari dua obat tersebut, simak penjelasan lengkapnya berikut ini, yuk!

Perbedaan amlodipin dan captopril

Baik amlodipin maupun captopril adalah obat yang sama-sama dapat membantu menurunkan atau menstabilkan tekanan darah. Namun, keduanya merupakan obat dengan jenis atau golongan yang berbeda. Sehingga, konsumsi dan aturan minumnya juga tidak sama.

Amlodipin

Amlodipin adalah obat yang dikonsumsi sendiri atau bersama obat lain untuk menurunkan tekanan darah, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Obat tersebut masuk dalam golongan calcium channel blocker (CBB) atau penghambat saluran kalsium.

Dikutip dari Mayo Clinic, obat ini bekerja dengan cara memengaruhi pergerakan kalsium ke dalam sel-sel jantung dan pembuluh darah. Mekanisme tersebut akan membuat pembuluh darah menjadi lebih rileks. Dengan begitu, peredaran darah dan tekanannya perlahan menurun.

Tak hanya itu, amlodipin juga bisa digunakan untuk meredakan angina kronis (nyeri dada) pada orang dewasa. Perlu diketahui, amlodipin adalah obat resep. Artinya, kamu hanya bisa mendapatkannya dengan resep dokter.

Captopril

Sama seperti amlodipin, captopril adalah obat yang dikonsumsi sendiri atau bersama obat lain untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Berbeda dengan amlodipin yang masuk golongan CBB, captopril merupakan obat berjenis angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor.

Captopril bekerja dengan cara membuka atau melebarkan pembuluh darah yang telah menyempit dan memperlancar aliran di dalamnya. Obat yang satu ini juga mampu memblokir zat di dalam tubuh yang bisa membuat pembuluh darah mengencang.

Dari dua mekanisme tersebut, tekanan darah bisa diturunkan dan suplai oksigen ke jantung dapat berjalan optimal. Bukan hanya hipertensi, captopril cukup efektif membantu mengobati gagal jantung, kondisi saat otot organ tersebut lemah.

Obat ini juga bisa digunakan untuk mengatasi masalah ginjal yang disebabkan oleh diabetes (nefropati diabetik). Sama seperti amlodipin, captopril merupakan obat yang hanya bisa didapat atau dibeli menggunakan resep dokter.

Dosis dan aturan minum

Meski sama-sama bisa membantu menurunkan tekanan darah, amlodipin dan captopril adalah obat yang bekerja dengan mekanisme berbeda. Sehingga, dosis dan aturan minumnya tentu perlu juga tidak sama. Berikut dosis atau takaran dari kedua obat tersebut:

Amlodipin

Dikutip dari laman Food and Drug Administration (FDA), amlodipin tersedia dalam bentuk tablet dan kapsul dengan dosis 2,5 mg, 5 mg, hingga10 mg. Untuk mengobati tekanan darah tinggi, dosis yang disarankan adalah sebagai berikut:

  • Dewasa: 5 mg diminum sekali dalam sehari, maksimal 10 mg per hari.
  • Lansia (termasuk yang mempunyai gangguan hati): 2,5 mg diminum sekali dalam sehari.
  • Anak-anak (6-17 tahun): 2,5 mg atau 5 mg diminum sekali dalam sehari.

Dosis yang dijelaskan tersebut mungkin dapat berubah, tergantung dari anjuran dokter yang melakukan pemeriksaan secara berkala.

Captopril

Captopril tersedia dalam bentuk tablet, baik generik maupun obat paten. Dosis yang tersedia adalah 12,5 mg, 25 mg, 50 mg, dan 100 mg. Untuk mengatasi tekanan darah tinggi, dosisnya adalah sebagai berikut:

  • Dewasa: 25 mg diminum 2 hingga 3 kali dalam sehari (dosis awal) selama 7-14 hari, dilanjutkan menjadi 50 mg dikonsumsi 2 sampai 3 kali dalam sehari (hanya berdasarkan anjuran dokter).
  • Anak-anak: Mengutip dari Healthline, obat ini belum diteliti lebih lanjut untuk anak-anak, sehingga sebaiknya tidak digunakan untuk seseorang yang berusia di bawah 18 tahun.
  • Lansia: Tidak ada rekomendasi dosis untuk lansia. Takaran akan diberikan oleh dokter sesuai dengan hasil pemeriksaan. Sebab, tubuh lansia mungkin memproses obat lebih lambat.

Baca juga: Bolehkah Paracetamol untuk Ibu Hamil? Ini Dosis Aman dan Alternatif Penggantinya!

Efek samping yang mungkin ditimbulkan

Setelah mengetahui apa bedanya amlodipin dan captopril dari cara kerja dan dosisnya, kamu juga perlu memahami risiko efek samping yang mungkin ditimbulkan. Keduanya bisa memberi efek samping seperti:

  • Amlodipin: Edema (pembengkakan) di beberapa bagian tubuh terutama kaki dan pergelangannya, sakit kepala, serta palpitasi (detak jantung menjadi lebih cepat atau tidak teratur).
  • Captopril: Batuk kering (akan hilang setelah berhenti mengonsumsi obat), pusing, muncul ruam di kulit, dan penurunan kemampuan indra pengecap.

Nah, itulah ulasan tentang apa bedanya amlodipin dan captopril yang perlu kamu tahu. Agar tak mengalami efek samping, konsumsilah obat tersebut sesuai dengan anjuran dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 5 April 2021, Amlodipine (Oral Route).
  2. Mayo Clinic, diakses 5 April 2021, Captopril (Oral Route).
  3. Medical News Today, diakses 5 April 2021, What to know about amlodipine.
  4. Healthline, diakses 5 April 2021, Captopril, Oral Tablet.
  5. Food and Drug Administration (FDA), diakses 5 April 2021, HIGHLIGHTS OF PRESCRIBING INFORMATION.

    register-docotr