Diet dan Nutrisi

Susu Rendah Lemak Lebih Menyehatkan Ketimbang Susu Murni, Benarkah Demikian?

February 28, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Jika dibandingkan dengan susu murni, susu rendah lemak dipercaya banyak orang dapat memberi efek lebih menyehatkan. Salah satunya adalah khasiat dalam membantu menurunkan berat badan. Benarkah demikian?

Dari sisi kandungan, apakah susu rendah lemak memang lebih menyehatkan ketimbang susu murni? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Susu Sapi vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Menyehatkan?

Mengenal tentang susu rendah lemak

Seperti namanya, susu rendah lemak adalah susu yang telah diolah melalui proses pengurangan cream yang mengandung lemak di dalamnya. Sering kali, banyak orang menganggap susu rendah lemak sebagai susu skim. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda.

Perbedaan mendasar antara susu rendah lemak (low-fat milk) dan susu skim terletak pada kadar lemak yang dimiliki. Low-fat milk memiliki lemak tersisa hingga 1 persen. Sedangkan susu skim, hanya mengandung lemak kurang dari 0,5 persen.

Jika dibandingkan dengan susu murni yang memiliki kandungan lemak 3,25 persen, low-fat milk dan susu skim mungkin cocok untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang ingin menghindari asupan lemak jenuh.

Mana yang lebih menyehatkan?

susu rendah lemak
Kandungan susu murni, low-fat milk, dan susu skim. Sumber foto: Healthline.

Pada dasarnya, proses pengurangan lemak pada low-fat milk dan susu skim tidak banyak mengubah kandungan nutrisi yang dimiliki. Baik susu murni, low-fat milk, dan susu skim memiliki kandungan mikronutrien yang sama.

Ketiga jenis susu tersebut sama-sama diperkaya oleh protein, kalsium, omega-3, dan vitamin D. Meski, kadar dari nutrisinya mungkin bisa berbeda karena telah melewati proses pengolahan yang tidak sama.

Low-fat milk dan susu skim memiliki kadar yang lebih tinggi untuk beberapa nutrisi, seperti kalsium, protein, dan vitamin D. Namun, jika berbicara soal omega-3, susu murni memiliki kadar kandungan yang jauh lebih tinggi. 

Haruskah menghindari konsumsi susu murni?

Selama bertahun-tahun, kamu mungkin sering mendengar pedoman nutrisi yang menginstruksikan orang-orang untuk menghindari konsumsi susu murni karena kandungan lemak jenuhnya.

Ini yang membuat banyak orang menganggap bahwa susu murni tidak cukup sehat jika sering dikonsumsi. Susu murni diklaim bisa meningkatkan kadar kolesterol yang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung.

Namun, menurut Healthline, belum ada bukti eksperimental yang dapat membuktikan bahwa klaim tersebut adalah benar. Klaim itu didasari kebijakan publik pada 1970-an yang mengasumsikan hubungan antara lemak jenuh dengan penyakit jantung.

Secangkir susu murni (237 ml) mengandung 4,6 gr lemak jenuh, setara 20 persen dari jumlah harian yang diperbolehkan. Jumlah itu masih dalam batas aman yang bisa dikonsumsi oleh orang sehat.

Benarkah susu rendah lemak bisa bantu turunkan berat badan?

Untuk alasan menurunkan berat badan, tak sedikit orang yang lebih memilih mengonsumsi susu rendah lemak dan susu skim ketimbang susu murni. Pertanyaannya, apakah susu rendah lemak dan susu skim bisa membantu mengontrol berat badan?

Jawaban singkatnya adalah ya, tapi melalui mekanisme yang tidak langsung. Susu rendah lemak dan susu skim memiliki kalori yang lebih rendah jika dibandingkan dengan susu murni. Seperti diketahui, semakin sedikit kalori yang masuk, maka pembakarannya bisa lebih optimal.

Dalam satu gelas berukuran 237 ml, susu murni memiliki kalori berjumlah 146, sedangkan low-fat milk sekitar 102 kkal. Pada susu skim, kalorinya lebih rendah lagi, yaitu 83 kkal.

Dikutip dari Harvard Medical School, risiko obesitas bisa meningkat jika kamu terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori dan tidak diimbangi dengan proses pembakaran yang seimbang. Akibatnya, terjadi penumpukan energi di dalam tubuh yang bisa memengaruhi berat badan.

Baca juga: Yuk, Cari Tahu Berapa Kebutuhan Kalori per Hari yang Diperlukan Tubuh

Manfaat susu rendah lemak untuk kesehatan

Secara umum, semua jenis susu memiliki manfaat yang hampir tidak berbeda untuk kesehatan. Sebab, nutrisi yang dibawanya sama, meski kadar kandungannya mungkin berbeda.

Berdasarkan sebuah penelitian pada 2013, susu dianggap sebagai sumber protein lengkap yang mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh dalam menjalankan banyak fungsi.

Bicara soal protein, low-fat milk dan susu skim memiliki kadar lebih tinggi. Ini bisa memberi manfaat yang baik seperti:

  • Membantu perbaikan sel
  • Meningkatkan sistem kekebalan
  • Mempertahankan dan meningkatkan massa otot

Selain protein, tingginya kalsium dan vitamin D juga sangat baik untuk kesehatan tulang, termasuk gigi. Sebuah publikasi menyebutkan, orang yang rutin minum susu memiliki risiko lebih rendah mengalami sejumlah gangguan pada tulang, seperti patah tulang dan osteoporosis.

Ini karena protein pada susu membentuk sekitar 50 persen dari volume tulang dan sepertiga massanya, menurut sebuah riset.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang susu rendah lemak yang perlu kamu tahu. Untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar, imbangi juga dengan pola makan bergizi serta olahraga teratur, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Healthline, diakses 19 Februari 2021, Is Whole Milk Better Than Low-Fat and Skim Milk?
  2. Healthline, diakses 19 Februari 2021, 5 Ways That Drinking Milk Can Improve Your Health.
  3. Harvard Medical School, diakses 19 Februari 2021, Why people become overweight.
  4. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Februari 2021, Natural proteins: Sources, isolation, characterization and applications.
  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Februari 2021, The association between osteoporosis and hypertension: the role of a low dairy intake[MH1] .
  6. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Februari 2021, Dietary protein and bone health: a systematic review and meta-analysis from the National Osteoporosis Foundation.

    register-docotr