Diet dan Nutrisi

Gemar Makan Tahu? Sederet Manfaat Ini Patut Kamu Pertimbangkan Lho!

June 10, 2020 | Richaldo Hariandja | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tidak hanya memanjakan lidah, ada beragam manfaat tahu bagi kesehatan kamu, lho! Faktor utamanya adalah kandungan kedelai yang merupakan material utama dalam pembuatan tahu.

Sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Balai Pangan dan Litbang Kementerian Pertanian menulis kandungan kedelai terdiri dari 40 persen protein, 20 persen minyak, 35 persen karbohidrat larut dan 5 persen abu.

Itu sebabnya, tahu menjadi makanan alami yang bebas gula dan rendah kalori. Tahu tidak mengandung kolesterol dan merupakan sumber zat besi dan kalsium yang baik.

Manfaat tahu

Untuk lebih mengetahui apa manfaat tahu bagi kesehatan, kamu harus simak penjelasan berikut ini:

Mengurangi risiko penyakit jantung

Kedelai sebagai bahan baku tahu memiliki kandungan isoflavon yang dapat menurunkan kandungan LDL atau kolesterol jahat dari dalam darah kamu. Meskipun demikian, belum ada bukti jika kedelai dapat meningkatkan HDL atau kolesterol baik.

Sebuah kajian yang dilakukan di Italia menyebut konsumsi harian kedelai dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk berat badan, indeks massa tubuh dan total kolesterol.

Dengan demikian, konsumsi tahu sebagai alternatif dari protein hewani dapat membantu kamu menurunkan kolesterol LDL. Konsumsi tahu juga bisa menurunkan risiko atherosclerosis dan tekanan darah tinggi.

Mengurangi risiko kanker payudara

Kandungan genistein dalam isoflavon kedelai yang menyusun tahu memiliki antioksidan yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Meskipun demikian, sebelumnya ada keraguan jika konsumsi kedelai dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Hal itu dikarenakan struktur kimia isoflavon yang mirip dengan estrogen dan level estrogen yang tinggi dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Namun, konsumsi kedelai dalam jumlah sedang atau kurang dari dua porsi sehari ternyata tidak mempengaruhi pertumbuhan tumor atau risiko perkembangan kanker payudara.

Sebaliknya, Academy of Nutrition and Dietetics membuktikan asupan teratur kedelai ternyata dapat menurunkan kemunculan kembali kanker payudara.

Mengurangi risiko kanker prostat

Manfaat tahu yang satu ini dapat dilihat dari meta analisis yang dilakukan para peneliti di Korea menemukan adanya penurunan risiko kanker prostat pada pria yang mengonsumsi kedelai, terutama tahu dalam jumlah besar.

Berdasarkan kajian tersebut, pengurangan risiko kanker prostat ini cukup signifikan karena dapat mencapai 32 hingga 51 persen.

Mengurangi risiko kanker pencernaan

Tahu memberikan sebuah manfaat dalam mengurangi risiko kanker pencernaan. Hal ini berdasarkan sebuah studi yang dilakukan pada 2013 mengaitkan asupan tahu yang tinggi dengan penurunan kanker pencernaan pada pria hingga 61 persen.

Sedangkan penelitian yang dilakukan di Korea menyebut hal yang sama juga terjadi pada perempuan hingga 59 persen.

Data yang lebih besar lagi ditemukan dalam penelitian di Australia yang melibatkan 633.476 orang. Konsumsi tahu yang tinggi dikatakan dapat menurunkan 7 persen risiko kanker pencernaan.

Baik untuk penderita diabetes tipe 2

Jika kamu menderita diabetes tipe 2, maka kamu juga akan memiliki penyakit ginjal yang membuat tubuh kamu mengeluarkan protein dalam jumlah besar lewat urine.

Akan tetapi, hal itu dikatakan dalam studi yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition dapat dicegah dengan mengonsumsi protein kedelai, termasuk tahu.

Oleh karena itu, salah satu manfaat tahu adalah membuat tubuh kamu tidak lagi mengeluarkan protein lewat urine lebih banyak daripada konsumsi protein hewani.

Meningkatkan fungsi ginjal

Protein pada kedelai mampu meningkatkan fungsi ginjal, hal ini sangat berguna bagi kamu yang akan melewati hemodialisis atau transplantasi ginjal.

Sebuah meta analisis yang dilakukan di Tiongkok menemukan adanya efek positif dari kedelai terhadap orang dengan penyakit ginjal kronis. Hal ini diduga disebabkan oleh kandungan protein dari kedelai, tetapi juga oleh pengaruhnya terhadap level lipid dalam tubuh.

Mengurangi kerusakan tulang

Salah satu manfaat tahu adalah membuat tulang kamu menjadi kuat dan mengurangi kerusakan seperti keropos. Hal ini disebabkan oleh kandungan isoflavon di dalamnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menilai jika isoflavon pada kedelai dapat mengurangi kerusakan tulang dan meningkatkan kepadatan mineral tulang, terutama setelah menopause.

Penelitian lainnya di Amerika Serikat menilai 80 mg isoflavon per hari sudah dapat menurunkan kerusakan tulang.

Mengurangi gejala menopause

Riset yang dilakukan di Belgia menyebut konsumsi produk kedelai dapat membantu meringankan gejala menopause, seperti hot flash atau rasa panas saat menopause. Hal ini dikarenakan adanya kandungan phytoestrogen dalam produk kedelai termasuk tahu.

Gejala dari menopause ini berbeda pada setiap perempuan, kejadian hot flash ini pun kurang bergaung di Asia karena kecenderungan konsumsi produk kedelai termasuk tahu yang tinggi di sini.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Pangan.litbang.pertanian.go.id (2017) diunduh 08 Juli 2020. http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/06-IPTEK12-01-2017-Ayda.pdf
  2. Moh-it.pure.elsevier.com (2016) diakses 08 Juli 2020. https://moh-it.pure.elsevier.com/en/publications/effect-of-soy-on-metabolic-syndrome-and-cardiovascular-risk-facto
  3. Oncologynutrition.org (2013) diakses 08 Juli 2020. https://www.oncologynutrition.org/on/erfc/healthy-nutrition-now/foods/soy-and-breast-cancer
  4. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2014) diakses 08 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24939439/
  5. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2009) diakses 08 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19838933/
  6. Ncbi.nlm.nih.gov (2011) diakses 08 Juli 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3383497/
  7. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2004) diakses 08 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15534433/
  8. Ncbi.nlm.nih.gov (2012) diakses 08 Juli 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3991438/
  9. Ncbi.nlm.nih.gov (2013) diakses 08 Juli 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3796344/
  10. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2013) diakses 08 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23812102/
  11. Pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2016) diakses 08 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25547973/
  12. Healthline.com (2018) diakses 08 Juli 2020. https://www.healthline.com/nutrition/what-is-tofu
  13. Medicalnewstoday.com (2017) diakses 08 Juli 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/278340
  14. Academic.oup.com (2004) diakses 08 Juli 2020. https://academic.oup.com/jn/article/134/8/1874/4688781
    register-docotr