Diet dan Nutrisi

Gula vs Lemak, Lebih Berbahaya Mana bagi Kesehatan Tubuh?

January 14, 2021 | Arianti Khairina | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Dalam program diet untuk menurunkan berat badan tentu saja kamu pasti lebih hati-hati dalam kandungan makanan yang dikonsumsi. Salah satunya dengan kandungan gula dan lemak. Lalu, gula vs lemak, manakah yang lebih membuat tubuh cepat gemuk? Berikut penjelasannya. 

Gula vs lemak

Kamu pasti sering membaca bahwa produk susu berlemak utuh lebih kecil kemungkinannya untuk menyebabkan penyakit kardiovaskular dibandingkan produk susu rendah lemak. 

Namun, keesokan harinya, dokter justru memberitahu bahwa lemak itu tidak sehat dan merekomendasikan diet rendah lemak. Kemudian kamu membaca bahwa lemak tidak seburuk gula. Apakah hal tersebut benar?

The American Heart Association (AHA) yang dilansir dari laman Diabetes.co.uk, terus mengikuti penelitian tentang topik seperti ini, bahwa antara gula vs lemak ternyata baik lemak serta gula buruk bagi kesehatan dan bisa membuat tubuh lebih cepat gemuk apabila dikonsumsi berlebihan.

Gula

Membatasi jumlah gula yang kita konsumsi harus menjadi prioritas bagi semua orang, bukan hanya penderita diabetes.

Sukrosa adalah bagian utama dari beberapa makanan ringan favorit kami di siang hari seperti kue dan biskuit, tetapi yang gagal diingat banyak orang adalah bahwa gula juga ada dalam berbagai macam makanan lain, seperti: 

  • Sereal
  • Minuman buah dan smoothie
  • Yoghurt buah
  • Makanan siap saji.

Selain energi (kalori), gula tidak memberikan nutrisi sehingga sering disebut sebagai ‘kalori kosong’.

Hal ini juga meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat, yang merupakan salah satu alasan mengapa penderita diabetes disarankan untuk membatasi asupan gula harian mereka.

NHS yang dilansir dari laman Diabetes.co.uk merekomendasikan untuk mengonsumsi gula kurang dari 70g sehari untuk pria dan di bawah 50g gula sehari untuk wanita. 

Faktanya, membatasi asupan gula adalah cara yang baik untuk mulai mengendalikan kadar glukosa darah.

Mengurangi jumlah makanan olahan yang kamu konsumsi juga disarankan karena sebagian besar mengandung gula tambahan dan di Inggris, produsen saat ini tidak diharuskan untuk menyatakan berapa banyak gula yang telah ditambahkan dalam pemrosesan.

Lemak

Walaupun dahulu lemak juga sangat dihindari, namun faktanya diet yang rendah karbohidrat dan tinggi lemak sekarang secara luas dianggap lebih sehat, terutama dalam hal pengendalian glukosa darah dan penurunan berat badan, daripada diet rendah lemak, dan tinggi karbohidrat.

Lemak adalah nutrisi yang paling padat energi dan membawa kalori dua kali lebih banyak dari berat karbohidrat murni yang sama. Meskipun ini tidak berarti kamu harus menghindari lemak sama sekali, kamu hanya cukup menyadari berapa banyak kalori yang dikonsumsi saat makan. 

Jenis-jenis lemak

Penting juga untuk diingat bahwa beberapa lemak jauh lebih buruk daripada yang lain.

Lemak yang berbahaya bagi tubuh adalah lemak jenuh dan lemak trans, karena dua jenis lemak ini bisa memicu munculnya kolesterol low-density lipoprotein atau LDL yang bisa menciptakan penyakit arteri koroner.

Konsumsi lemak trans bisa meningkatkan kadar kolesterol LDL, tapi menurunkan kadar kolesterol baik, yaitu HDL.

Selain itu, lemak trans juga menyebabkan peradangan, sehingga mempercepat penyakit arteri koroner. Lalu agar tidak membahayakan tubuh, sebaiknya batasi konsumsinya maksimal 10 persen dari total kalori.

Perlu kamu ketahui bahwa lemak jenuh banyak ditemukan terutama dalam produk hewani dan minyak yang berasal dari tanaman, seperti minyak kelapa dan minyak sawit. Lemak jenuh, tidak ada batas aman konsumsi lemak trans, karena sebaiknya jenis lemak ini tidak dikonsumsi.

Kadar lemak dan glukosa darah

Tidak seperti gula, lemak hanya memiliki sedikit efek langsung pada kadar glukosa darah dan inilah alasan utama mengapa diet rendah karbohidrat dan lemak lebih tinggi cenderung menghasilkan kontrol glukosa darah yang lebih baik.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa mengonsumsi lemak yang berlebihan, jika menyebabkan asupan kalori yang berlebihan, akan meningkatkan resistensi insulin dan karenanya meningkatkan kadar glukosa darah.

Baca juga: Ragam Jenis Keju Rendah Lemak yang Baik untuk Kesehatan Tubuh

Bagaimana dengan produk rendah lemak?

Produk rendah lemak adalah pilihan populer di kalangan konsumen karena cenderung memiliki lebih sedikit kalori, tetapi tidak selalu demikian.

Beberapa makanan rendah lemak, seperti yoghurt, mengandung lebih banyak gula secara signifikan sehingga menjadi ‘rendah lemak’ tidak selalu membuatnya lebih sehat. Menentukan produk rendah lemak juga tergantung pada pola makan.

Misalnya, jika kamu cenderung makan cukup banyak produk olahan susu, lebih baik memilih produk olahan susu rendah lemak.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Diabetes.co.uk (2019) diakses pada 5 Januari 2021. Sugar vs Fat
  2. Health.harvard.edu (2015) diakses pada 5 Januari 2021. The truth about fats: the good, the bad, and the in-betwee
  3. Health.clevelandclinic.org (2019) diakses pada 5 Januari 2021. Which Is Worse for You: Fat or Sugar? 
    register-docotr