Kesehatan Mental

Viral Tren Adopsi dan Rawat Spirit Doll seperti Anak Sendiri, Normalkah?

June 4, 2022 | Muhammad | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Tren mengadopsi dan merawat boneka atau spirit doll layaknya anak sendiri mulai menarik perhatian publik. Bukan tanpa sebab, beberapa selebritis terang-terangan memperkenalkan dan memperlakukan bonekanya sebagai anak.

Boneka yang dimaksud adalah spirit doll, berbentuk dan memiliki wajah serta postur seperti bayi sesungguhnya. Sebagian orang berpendapat bahwa orang-orang yang mengadopsi dan menganggap boneka sebagai anak sendiri sedang mengalami gangguan psikologis.

Lantas, apakah benar orang yang merawat dan menganggap spirit doll memiliki masalah pada kesehatan mentalnya? Yuk, cari tahu jawabannya dengan ulasan berikut!

Apa itu spirit doll?

Secara harfiah, spirit doll dapat diartikan sebagai boneka arwah. Boneka arwah sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sudah digunakan sejak zaman dahulu untuk keperluan ritual pemujaan atau urusan keagamaan.

Boneka juga kerap digunakan sebagai medium doa, meditasi, atau acara ibadah yang diletakkan di altar tempat persembahyangan. Di beberapa budaya, boneka ini bisa berupa patung yang merepresentasikan tokoh suci, dewa-dewi, malaikat, hingga leluhur.

Nah, di era modern belakangan ini, spirit doll dipakai sebagai metode healing. Orang-orang yang merawatnya seperti anak sendiri mungkin merasakan ketenangan atau kenyamanan batin saat mengasuh boneka.

Fenomena merawat spirit doll

Psikolog Stephani Raihana Hamdan, menjelaskan, fenomena mengasuh dan menganggap spirit doll layaknya anak sendiri muncul karena kebutuhan manusiawi. Di mana pada hakikatnya seseorang punya rasa ingin memelihara atau merawat sesuatu.

Sementara psikolog dari Universitas Kristen Maranatha, Efnie Indrianie, M.Psi, juga berpendapat, fungsi otak manusia terkadang menyukai konformitas, menciptakan secure feeling. Itu yang lalu menimbulkan perasaan sayang, baik pada anak, keluarga, sahabat, pekerjaan, hewan peliharaan, bahkan benda.

Mengadopsi spirit doll bisa menstimulasi area emosi dan perasaan pada otak. Kemudian, membentuk emosional attachment dan dorongan untuk merawatnya.

Selain itu, boneka dipilih karena tak membutuhkan komitmen panjang dan tidak perlu repot memberi makan atau minum. Ini tidak seperti merawat bayi sungguhan yang membutuhkan komitmen jangka panjang.

Apakah ada kaitannya dengan gangguan jiwa?

Menurut dr Andri, SpKJ, FAPM, psikiater, gangguan jiwa adalah kondisi saat terjadi masalah pada perilaku dan perasaan yang dapat menimbulkan penderitaan atau ketidakmampuan, sehingga berdampak ke kehidupan sehari-hari.

Jika orang yang merawat spirit doll tidak terganggu atau mengalami penurunan kualitas hidup, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kapan dianggap bisa mengganggu mental?

Menurut Rose Mini Agoes Salim, ketua program studi terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sebetulnya tak ada yang keliru dalam memainkan atau bahkan merawat boneka. Hanya saja, ini bisa menjadi berbahaya jika sudah menyebabkan halusinasi.

Dengan kata lain, jika seseorang sudah tak bisa membedakan antara realitas dan yang tidak, maka adopsi spirit doll telah berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Apalagi, bila sampai membentak atau memarahi orang lain yang menyebut boneka itu merupakan benda mati.

Gangguan tersebut bisa tercipta dengan sendirinya ketika imajinasi yang dibuat sudah bercampur dengan kehidupan nyata.

Maka dari itu, penting untuk memastikan apakah seseorang yang mengadopsi boneka masih menganggapnya sebagai benda atau justru sebagai makhluk hidup layaknya manusia yang memiliki perasaan.

Baca juga: Wajib Tahu, Ternyata Ini Tanda Anak Kurang Kasih Sayang Orangtua!

Tanda butuh kasih sayang

Mengadopsi dan menganggap spirit doll sebagai anak bisa menandakan bahwa seseorang sedang membutuhkan kasih sayang, lho.

Koentjoro, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan, ketika seseorang butuh kasih sayang namun tak mendapatkannya, maka pelampiasannya diarahkan ke hal lain, salah satunya adalah boneka.

Kondisi itu bisa disebut psikologis desplacement, yaitu sikap diri untuk meluapkan emosi ke orang atau benda lain yang tidak akan memberikan respons balik.

Benarkah bisa beri ketenangan?

Berdasarkan penjelasan psikiater Dr Gail Saltz, mengasuh dan merawat spirit doll bisa menjadi hal yang memberi ketenangan bagi orang yang menghadapi situasi seperti kehilangan orang tercinta, kesedihan, atau kecemasan.

Dengan kata lain, kondisi itu bisa membantu mengisi ‘kekosongan’ yang sedang dialami seseorang.

Nah, itulah ulasan tentang spirit doll yang sedang menyita banyak perhatian akhir-akhir ini. Apakah kamu tertarik untuk mengikuti tren ini?

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

register-docotr