Kesehatan Mental

Suka Merekam Video Saat Berhubungan Seksual, Apakah Pertanda Gangguan Mental?

November 11, 2020 | Arianti Khairina
no-image

Akhir-akhir ini sedang dihebohkan oleh beredarnya sebuah video hubungan seksual yang direkam sendiri saat sedang melakukannya. Kondisi ini pun kerap dikaitkan dengan gangguan mental.

Namun apakah hal itu wajar atau adanya gangguan kejiwaan? Yuk simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apakah wajar merekam hubungan seksual dengan pasangan? 

Hal itu sebenarnya masih bisa dilakukan jika masih dalam batas sewajarnya. Namun, apabila salah satu pihak terobsesi untuk selalu mendokumentasikan aktivitas seksualnya, besar kemungkinan jika ia memang mengalami gangguan psikologis sehingga memerlukan terapi.

Banyak orang mengira bahwa merekam hubungan seksual dengan pasangan berarti orang tersebut memiliki gangguan kejiwaan. Padahal orang yang membuat video diri selama berhubungan intim tidak selalu terkait dengan gangguan psikologis tertentu, lho. 

Walaupun memang pada gangguan psikologis tertentu biasanya ditandai dengan ciri khas kesenangan untuk membuat dan menyimpan video-video porno, termasuk di dalamnya video diri saat melakukan hubungan intim. 

Pada dasarnya membuat video diri secara erotis ataupun saat berhubungan intim itu juga bisa terkait dengan imajinasi dan hasrat seksual seseorang. 

Kaitan dengan kesehatan mental 

Walaupun sebelumnya dijelaskan bahwa merekam hubungan seksual tidak melulu berkaitan dengan kesehatan mental tertentu, tetapi ada juga yang menghubungkan dengan sifat eksibisionisme atau voyeurisme.

Tetapi sifat di atas tentunya tidak bisa asal begitu saja tanpa adanya pemeriksaan maka tidak bisa dilakukan diagnosis. Istilah-istilah tersebut tidak bisa digunakan sembarangan karena memiliki implikasi dalam konteks kesehatan mental dan penegakan hukum.

Apa itu voyeurisme? 

Dilansir Healthline, voyeurisme didefinisikan sebagai ketertarikan untuk mengamati orang yang tidak risih saat mereka membuka pakaian, telanjang, atau melakukan aktivitas seksual. 

Minat biasanya lebih pada tindakan menonton, daripada sebagai orang yang diawasi.

Orang yang mengawasi disebut voyeur, tetapi kamu mungkin mendengarnya dengan sebutan disebut sebagai ‘si tukang ngintip’.

Elemen kunci dari voyeurisme adalah bahwa orang yang diawasi tidak tahu bahwa mereka sedang diamati. Orang tersebut biasanya berada di tempat di mana mereka memiliki ekspektasi privasi yang wajar, seperti rumah atau area pribadi lainnya.

Kemudian voyeurisme akan menjadi gangguan voyeuristik saat kamu mulai terangsang melihat seseorang membuka pakaian atau berhubungan seks dari jauh. Oleh sebab itu pentingnya saling terbuka dalam sebuah hubungan tentang kehidupan seks masing-masing. 

Bagaimana pemeriksaan dan diagnosis gangguan voyeuristik?

Gangguan voyeuristik membutuhkan diagnosis dari ahli kesehatan mental. Mereka akan mencari hal-hal tertentu sebelum membuat diagnosis, seperti:

  • Memiliki keinginan yang berulang dan kuat untuk menonton orang termasuk mereka yang telanjang, melepas pakaian, atau terlibat dalam perilaku seksual tanpa persetujuan mereka
  • Mengalami keinginan selama lebih dari enam bulan
  • Merasa bahwa keinginan ini menghalangi kehidupan sosial atau profesional mereka
  • Ingatlah bahwa gangguan voyeuristik tidak didiagnosis pada anak-anak atau remaja. Rasa keingintahuan dan daya tarik di sekitar tubuh dan aktivitas seksual orang lain adalah bagian normal dari tumbuh dewasa

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan jika terpikir ingin merekam video saat berhubungan intim 

Jika kamu sempat terpikir untuk merekam, coba pertimbangkan kembali. Ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu:

1. Pikir dahulu konsekuensinya

Pertama, pikirkan baik-baik sebelum mengambil foto atau merekam sesuatu yang berbau intim. Ingatlah bahwa saat ini era teknologi sudah canggih, foto dan video bisa tersebar dengan mudah bahkan jika kamu tidak berniat menyebarkannya.

2. Buatlah persetujuan dengan pasangan

Kedua, jika memang tujuan merekam kegiatan hal ini untuk evaluasi atau bahkan perangsang hasrat seksual dengan pasangan, maka diperlukan persetujuan dari kedua belah pihak. Jika pasangan tidak mau adegan ini diabadikan, lantas jangan memaksa atau bahkan merekam diam-diam, ya.

Baca juga: Rendahnya Dorongan Seksual hingga Rambut Rontok, Berikut 8 Ciri-Ciri Testosteron Rendah pada Pria!

Apakah gangguan voyeuristik bisa diobati?

Kamu tak perlu khawatir, seperti kebanyakan kondisi kesehatan mental lainnya, gangguan voyeuristik dapat diobati. Kuncinya adalah mengenali kapan membutuhkan bantuan.

Orang tua, pasangan, teman, atau otoritas hukum mungkin menjadi orang pertama yang merekomendasikan pengobatan. Seorang terapis dapat membantu dengan gangguan voyeuristik mendapatkan kembali kendali atas hidupnya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

healthline.com (2018) diakses pada 10 November 2020. Understanding Voyeurism

ncbi.nlm.nih.gov (2016) diakses ada 10 November 2020. Sexual orientation and symptoms of common mental disorder or low wellbeing: combined meta-analysis of 12 UK population health 

    Berita Terkait
    register-docotr