Kesehatan Mental

Studi Buktikan Stres Bisa Picu Obesitas, Apa Kaitannya?

September 18, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Semua orang pasti pernah mengalami stres dalam hidupnya. Apapun penyebabnya, kondisi ini akan membuat siapapun menjadi kurang bersemangat dalam menjalani hidup.

Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa stres yang berkelanjutan dapat memicu terjadinya kelebihan berat badan.

Tentu kamu tidak ingin hal ini terjadi, kan? Untuk menghindarinya, yuk telusuri beberapa fakta tentang hubungan stres kronis dengan obesitas berikut.

Apa itu stres kronis?

Pada dasarnya stres adalah respons biologis tubuh terhadap situasi tertentu. Kondisi ini membuat tubuh melepaskan beberapa jenis hormon, seperti kortisol dan adrenalin.

Keberadaan hormon-hormon tersebut membantu tubuh memutuskan tindakan apa yang perlu diambil. Misalnya meningkatkan detak jantung atau bernapas dalam frekuensi yang lebih cepat.

Stres kronis sendiri adalah kondisi saat kamu mengalami tekanan dalam rentang waktu cukup panjang. Penyebabnya bisa karena beban pekerjaan yang tinggi, kesulitan keuangan, hubungan yang tidak harmonis dan sejenisnya.

Ketika mengalami stres kronis, tubuh akan di-setting ­berada pada kondisi tertekan, yang lama kelamaan akan mendorong timbulnya beberapa gangguan kesehatan, termasuk obesitas.

Hubungan antara tingkat hormon kortisol dengan kenaikan berat badan

Dilansir Medical News Today, seseorang yang secara konsisten memiliki kadar hormon kortisol dalam tubuhnya lebih rentan memiliki berat badan berlebih, indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi, dan lingkar pinggang yang lebih lebar.

Hal tersebut ditemukan lewat sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Sarah Jackson, dari Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Publik di University College London, Inggris.

Stres sendiri sudah sejak lama telah diketahui mendorong seseorang untuk mengalihkan rasa tertekan dengan makan dalam jumlah yang banyak. Tak heran jika orang yang mengalami stres menjadi lebih mudah gemuk.

Bagaimana para ahli tahu bahwa stres bisa meningkatkan risiko terjadinya obesitas?

Pada penelitian tersebut, Dr. Jackson dan koleganya menganalisis kadar kortisol dalam sampel rambut 2.527 orang dewasa berusia 54 tahun ke atas. Pemilihan rambut sebagai objek penelitian dinilai lebih akurat daripada mengukur kadar kortisol lewat darah, air liur, ataupun urine.

Sebagai permulaan, mereka mengambil seikat rambut dari setiap orang yang diteliti. Masing-masing memiliki panjang setidaknya 2 cm dan berat 10 mg.

Rambut tersebut diusahakan dipotong sedekat mungkin dengan kulit kepala. Tujuannya adalah agar sampel rambut dapat mewakili kondisi pertumbuhan sekitar 2 bulan terakhir.

Hasil penelitian tentang stres kronis dan obesitas

Dibandingkan dengan orang dewasa yang memiliki kadar kortisol rambut lebih rendah, peserta dengan jumlah kortisol lebih tinggi ternyata punya lingkar pinggang yang lebih lebar, IMT yang lebih tinggi, dan berat badan yang lebih besar.

Penelitian ini juga membuktikan bahwa orang dewasa yang memiliki berat badan berlebih (dicirikan salah satunya dengan lingkar pinggang lebih dari 102 cm pada pria, dan lebih dari 88 cm pada wanita), memiliki tingkat kortisol yang sangat tinggi pada rambutnya.

Bagaimana mengontrol stres agar tidak mengalami obesitas?

Menurut Mayo Clinic, saat kamu sedang mengalami stres, kamu akan merasa lebih sulit untuk makan sehat. Ini karena stres sering dijadikan alasan agar kamu boleh makan enak, demi membuat perasaan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya ketika kamu berada dalam situasi ini, kemungkinan besar kamu akan makan makanan berkalori tinggi, bahkan saat kamu tidak merasa lapar.

Untuk mencegah penambahan berat badan selama stres dan mengurangi risiko obesitas, coba kenali gejala stres yang ada dan alihkan perhatianmu dari pola makan tidak sehat. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:

  1. Sebelum makan, tanyakan pada diri sendiri mengapa kamu makan? Apakah kamu benar-benar lapar atau hanya makan karena mencemaskan sesuatu?
  2. Jika kamu tergoda untuk makan saat tidak lapar, cari pengalih perhatian dengan menghubungi pasangan, sahabat, atau keluarga.
  3. Biasakan makan makanan yang sehat, seperti biji-bijian dan berbagai macam buah dan sayuran
  4. Catat makanan tidak sehat yang sering menjadi pelarianmu ketika stres, dan upayakan tidak menyimpannya di rumah ataupun di kantor
  5. Coba berlatih beberapa keterampilan untuk menenangkan pikiran seperti yoga, peregangan, pijat, pernapasan dalam, atau meditasi
  6. Lakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur
  7. Tidur yang cukup, dan
  8. Minta dukungan dari teman dan keluarga tercinta

Itulah beberapa hal yang bisa kamu lakukan, agar bisa terhindar dari kelebihan berat badan yang dipicu oleh stres. Jangan biarkan kesehatan terganggu hanya karena merasa tertekan suatu masalah, ya.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Stress management, https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/expert-answers/stress/faq-20058497 diakses pada 17 September 2020.

Chronic stress may raise obesity risk, https://www.medicalnewstoday.com/articles/316074#Consistent-evidence-that-chronic-stress-is-linked-to-obesity diakses pada 17 September 2020.

What are the health effects of chronic stress? https://www.medicalnewstoday.com/articles/323324#chronic-stress diakses pada 17 September 2020.

    Berita Terkait
    register-docotr