Kesehatan Mental

Peran sebagai Ibu Bisa Memicu Burnout, Ini Tips Menghadapinya

December 23, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Moms, setiap ibu pasti pernah mengalami titik terendahnya selama mengasuh anak. Selain harus mengasuh anak, ibu juga harus membagi waktu untuk pekerjaan serta urusan lainnya.

Kondisi ini tidak jarang memicu stres serta rasa lelah berlebihan dalam waktu yang panjang atau bisa disebut sebagai “burnout”. 

Bila Moms juga sedang merasakannya, tenang, perasaan tersebut adalah hal yang wajar. Beberapa penelitian bahkan menemukan setidaknya 14 persen orang tua mendapatkan tekanan untuk menjadi sosok ibu yang “sempurna”. 

Namun, perasaan tersebut tidak bisa dibiarkan berangsur dalam waktu yang lama karena dapat berdampak buruk baik bagi Moms maupun si Kecil. Ketahui cara mengatasi burnout di bawah ini!

Apa itu burnout?

Burnout adalah fenomena kelelahan yang merupakan hasil dari ketidakseimbangan emosional dalam jangka waktu yang panjang. Di mana beban stres yang dirasakan melebihi kapasitas orang tersebut. Dalam konteks mengasuh anak, kondisi ini disebut sebagai parental burnout.

Dilansir dari Parents.com, menurut Mary C Kimmel, M.D., salah satu direktur Program Psikiatri Perinatal di University of North Carolina, parental burnout ini melibatkan kelelahan secara emosional, fisik, dan mental. 

Tidak jarang, burnout ini pun terjadi tanpa disadari. Terutama bagi orangtua yang baru saja memiliki anak pertama.

Pasalnya, bayi yang baru lahir harus diawasi lebih ekstra serta memiliki siklus perawatan yang berulang setiap hari. Kondisi ini tidak jarang membuat orangtua yang mengasuhnya merasa kelelahan.

Gejala parental burnout

Burnout merupakan kelelahan yang melibatkan fisik dan mental, gejalanya juga dapat menyerang seseorang baik dari segi fisik maupun mental. Supaya bisa mendeteksinya lebih awal, pahami gejala dari parental burnout berikut ini:

  • Menarik diri dari orang lain
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya pernah disukai
  • Perubahan nafsu makan
  • Masalah tidur
  • Merasa lelah atau kekurangan energi 
  • Kesulitan mengendalikan rasa khawatir
  • Merasa emosional (mudah sedih, marah atau tersinggung)
  • Ingin sendirian
  • Merasa kesal (pada bayi, pasangan, atau lingkungan sekitar)
  • Merasa bersalah

Perlu diingat, dalam beberapa kasus, rasa lelah yang tak kunjung hilang dapat menjadi gejala kecemasan atau depresi. 

Baca juga: Moms, Mari Memahami Sifat Posesif pada Balita Berikut Ini

Tips mengatasi burnout 

Lewat  lewat tulisannya dalam laman Psychology Today, seorang psikolog klinis asal Amerika, Konstantin Lukin, Ph.D mengingatkan kalau sebenarnya tugas seorang ibu akan sangat panjang dan berat.

Meski begitu, tetap ada beberapa langkah yang bisa Moms lakukan untuk mengatasi stres dan mengembalikan perasaan bahagia. Berikut tipsnya: 

Istirahat

Sistem fisiologis fisik, mental, dan emosional membutuhkan waktu istirahat agar dapat berfungsi kembali dengan baik. Untuk itu, memberi diri waktu istirahat sangat penting, terutama di saat anak sedang tidur. 

Meminta bantuan

Merawat anak memang membutuhkan tenaga ekstra. Untuk itu, di saat merasakan burnout, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan pihak lain. Mulai dari pasangan, keluarga, teman atau pengasuh profesional. Menurut Dr. Kimmel, bantuan tersebut dapat membantu mengatasi pikiran negatif.

Biarkan anak bermain 

Moms tidak perlu selalu mengajak bermain atau menghibur anak. Terkadang, ada beberapa waktu di mana Moms bisa mengizinkan si Kecil untuk membangun keterampilannya sendiri. Baik dalam bermain atau mengambil keputusan. 

Keluar rumah

Cobalah untuk menghabiskan waktu di luar, lebih tepatnya di alam. Luangkan beberapa saat untuk terhubung kembali dengan alam dan hiruplah udara segar. Meski sederhana, cara ini dapat menyegarkan kembali pikiran maupun tubuh Moms. 

Hindari overthinking

Overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan dapat memberikan tekanan yang besar pada diri sendiri.

“Jangan memusingkan hal-hal kecil. Habiskan energi pada pilihan-pilihan yang penting dan kurangi pilihan-pilihan yang akan berdampak lebih kecil padamu”, jelas Konstantin. 

Meluangkan waktu untuk merawat diri

Bila Moms adalah seseorang yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, cobalah untuk meluangkan waktu merawat diri. Terutama bila Moms sudah tak lagi mementingkan penampilan. Perawatan diri penting untuk menghargai diri sendiri. 

Membuat jadwal 

Memiliki jadwal dalam pola mengasuh anak sangatlah penting. Terutama jadwal untuk mengatur waktu tidur malam, tidur siang dan waktu makan anak.

Bagi anak yang masih berusia bayi dan balita, jadwal tersebut sangat bermanfaat untuk memastikan beberapa hal. Misalnya, Moms jadi bisa mendeteksi anak menjadi rewel karena sudah masuk waktu tidur siang tapi anak belum istirahat.

Di samping itu, dengan memiliki jadwal, Moms bisa menemukan waktu luang yang bisa digunakan untuk diri sendiri. 

Terapi dengan ahli profesional

Bila kondisi burnout ini berlangsung lebih dari dua minggu, memburuk, atau istirahat tidak cukup membantu, sebaiknya Moms lakukan terapi dengan ahli. 

Berkonsultasi dengan seseorang yang berpengalaman yakni psikolog. Dengan begitu, Moms bisa berbicara tanpa merasa dihakimi dan merasa lebih nyaman. Hal ini penting untuk mengatasi stres yang Moms alami.

Bagaimana Moms, sudah lebih paham bukan cara menghadapi kondisi burnout? Bila Moms sedang merasakannya saat ini, cobalah untuk lakukan beberapa tips di atas. Jangan tunggu hingga kondisi fisik dan mental Moms semakin menurun. 

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  • Psychologytoday. (2020). Diakses pada  22 Desember 2020. 8 Tips for Preventing Mom Burnout 
  • Parents.com. (2019). Diakses pada 22 Desember 2020. 15 Signs of Caregiver Burnout and How to Recover 
  • Hubert, S., & Aujoulat, I. (2018). Parental Burnout: When Exhausted Mothers Open Up. Frontiers in psychology, 9, 1021. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01021 
    register-docotr