Kesehatan Mental

Mudah Terganggu Suara Tertentu? Bisa Jadi Itu Sindrom Misophonia! Ini Penjelasannya!

February 16, 2021 | Richaldo Hariandja | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Beberapa orang kerap jengkel dengan suara tertentu seperti mengunyah permen karet, suara klik dari pulpen mekanik atau suara kecil lainnya. Jika kamu juga merasakan hal ini, bisa jadi kamu mengidap sindrom misophonia.

Apa itu sindrom misophonia?

Laman kesehatan Healthline menyebut istilah sindrom ini mulai diperkenalkan pada 2001. Kata misophonia sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno yang artinya benci terhadap suara.

Misophonia juga dikenal sebagai sindrom sensitif terhadap jenis suara tertentu. Sindrom ini merupakan kondisi abnormal murni otak dengan gejala psikologi dan fisiologi. 

Bahkan, laman healthline tersebut menyebut kalau penelitian terbaru yang melibatkan pemindaian MRI menunjukkan adanya perbedaan struktur otak pada pengidap sindrom misophonia dan otak mereka pun bereaksi berbeda ketika mendengar suara tertentu.

Sensitivitas yang berlebihan ini menghasilkan respons yang dapat membuat aktivitas harian pengidapnya terganggu. Kamu mungkin akan merasa resah, marah hingga panik terhadap suara tertentu. Hal ini bisa berujung pada isolasi hingga depresi, lho!

Apa penyebab misophonia?

Para peneliti tidak tahu persis apa penyebab misophonia. Kondisi ini paling banyak muncul pada orang dengan kelainan sebagai berikut:

  • Obsessive-compulsive disorder (OCD)
  • Anxiety disorder
  • Sindrom tourette

Sindrom ini juga lebih sering terjadi pada mereka yang memiliki kondisi tinnitus. Tinnitus merupakan kelainan yang membuat kamu mendengar suara seperti berdenging di telinga, tapi orang lain tidak mendengarnya.

Selama ini, para pengidap misophonia kerap salah didiagnosis dengan kelainan lain seperti cemas atau fobia. Tapi nyatanya misophonia ini merupakan satu kelainan yang unik dengan karakteristik yang spesial seperti:

  • Misophonia dirasakan pertama kali oleh para pengidapnya sebelum memasuki masa pubertas. Gejala yang timbul kebanyakan di usia 9-12 tahun.
  • Lebih banyak perempuan ketimbang laki-laki yang memiliki masalah ini
  • Orang dengan misophonia cenderung memiliki IQ tinggi
  • Suara pemicu pada awalnya merupakan suara yang berasal dari mulut orang tua atau anggota keluarga lainnya. Gejala lainnya bisa muncul seiring waktu berjalan
  • Ada kecenderungan kelainan ini dipengaruhi gen dan biasanya diturunkan dalam keluarga

Apa saja suara pemicu misophonia?

Suara-suara pemicu yang menyebabkan sindrom ini kambuh berbeda-beda pada tiap orang dan bisa berubah sewaktu-waktu. Dilansir Healthline, pemicu yang paling umum biasanya berasal dari mulut. Seperti:

  • Mengunyah
  • Menyeruput
  • Menelan
  • Berdeham
  • Mengecap bibir

Beberapa pemicu lainnya bisa meliputi:

  • Suara terisak
  • Suara gemerisik kertas
  • Detak jam
  • Suara menulis
  • Pintu mobil menutup
  • Suara burung, jangkrik atau hewan lainnya

Hampir setiap suara bisa jadi pemicu. Beberapa pengidap misophonia juga bisa terpicu oleh apa yang mereka lihat, bahkan untuk hal kecil seperti menggoyangkan kaki, menggosok hidung hingga memutar rambut.

Seperti apa yang dirasakan oleh pengidap misophonia?

Deskripsi paling mudah untuk menjelaskan apa yang dirasakan oleh pengidap sindrom misophonia ketika mereka mendengar atau melihat pemicunya adalah sensasi yang mirip dengan ketika kamu mendengar kuku yang digoreskan di papan tulis.

Saat mendengar suara itu, kebanyakan orang akan merasa kulit mereka seperti tertusuk duri, saraf jadi sensitif dan mereka ingin agar suara tersebut segera berhenti. Bagi pengidap sindrom ini, sensasi tersebut bisa dirasakan sehari-hari.

Dalam laman Healthline, Dr. Barron Lerner, seorang dokter dan pengidap misophonia dari New York, Amerika Serikat, menyebut suara-suara pemicu ini terasa mengerikan. “Darahmu terasa mendidih, sangat meresahkan seperti jantung yang berdetak cepat dan sakit perut,” kata dia.

Cara beradaptasi dengan misophonia

Karena sindrom ini merupakan kelainan yang terjadi seumur hidup dan tidak ada obatnya, maka ada cara berikut ini bisa dijalankan untuk beradaptasi supaya kamu bisa kelola sindrom ini. Yaitu:

  • Terapi tinnitus: Ada terapi yang disebut tinnitus retraining therapy (TRT). Di sini kamu diajarkan untuk lebih toleransi terhadap suara
  • Cognitive behavioral therapy (CBT): Sebuah terapi perilaku kognitif yang merubah asosiasi negatif kamu terhadap suara pemicu. 
  • Konseling: Konseling terhadap pengidap dan keluarganya merupakan satu hal yang penting karena kondisi ini bisa memengaruhi kehidupan dalam keluarga

Demikianlah berbagai penjelasan tentang sindrom misophonia. Selalu memeriksakan diri jika merasa ada hal yang tidak wajar dalam pendengaran kamu, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference
  1. Healthline, diakses 16 Februari 2021. Misophonia: Triggers, Treatment, and More
  2. Harvard Health Publishing, diakses 16 Februari 2021. Misophonia: When sounds really do make you “crazy” – Harvard Health Blog

 

    register-docotr