Covid-19

Jari Lansia Pasien COVID-19 Menghitam dan Harus Diamputasi, Kok Bisa?

February 16, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Seorang lansia berusia 86 tahun di Italia yang terinfeksi COVID-19 mengalami manifestasi parah. Dilansir Daily Mail, pasien tersebut mengalami perubahan warna di ketiga jari tangannya.

Ya, tiga jarinya menghitam dan akhirnya perlu dilakukan amputasi. Menghitamnya jari-jari tersebut karena adanya kerusakan pembuluh darah yang kemudian menyebabkan penyumbatan yang berbahaya. Lalu bagaimana penjelasan medisnya? 

Kasus jari menghitam dan diamputasi karena COVID-19

Pasien asal Italia tersebut diyakini mengalami pembekuan darah yang memutus suplai darah ke jari-jarinya. Faktanya, kasus yang terjadi di Italia itu bukan kali pertama.

Sebelumnya, seorang pria berusia 54 tahun asal Studio City, California juga mengalami kerusakan jaringan pada dua jarinya. Kondisi ini ia alami setelah terinfeksi COVID-19 saat melakukan perjalanan ski di Italia Utara.

Selain itu, seorang ayah dua anak di Cardiff, Wales juga kehilangan jari-jarinya setelah tertular COVID-19. 

Mengapa COVID-19 dapat menyebabkan masalah pada jari? 

Peneliti memeriksa jari-jari yang telah diamputasi dari kasus lansia 86 tahun asal Italia tersebut. Hasilnya, di bawah mikroskop terlihat tanda penggumpalan darah. Gumpalan ini menghalangi peredaran darah ke jantung.

Jika memengaruhi otak, maka berisiko dapat menyebabkan stroke. Sementara itu, jika memengaruhi paru-paru maka berisiko dapat menyebabkan emboli (penyumbatan) paru-paru.

Nah, jari menghitam pada kasus-kasus tersebut diduga disebabkan pula oleh adanya gangguan aliran darah.

Namun bukankah virus penyebab COVID-19 menyerang sistem pernapasan? Prof. Graham Cooke, ahli dari National Institute for Health Research, mengatakan bahwa COVID-19 adalah penyakit multisistem.

Menurutnya, COVID-19 dapat memengaruhi terjadinya hiperkoagulasi atau kondisi saat darah membeku lebih dari yang diperlukan.

Pembekuan darah biasanya terjadi untuk menghentikan perdarahan saat seseorang terluka. Tapi, jika proses ini terjadi tanpa adanya luka atau cedera, maka bisa jadi berisiko karena dapat mengganggu aliran di dalam pembuluh darah. 

COVID-19 dan pembekuan darah

Masih belum diketahui jelas mengapa orang yang terinfeksi COVID-19 berisiko mengalami gangguan pembekuan darah. Namun, dilansir Healthline, penelitian mengungkap pembekuan darah pada pasien COVID-19 memang kerap terjadi. 

Sebuah penelitian yang melibatkan 184 pasien COVID-19 yang parah, 31 persen pasien yang diteliti mengalami komplikasi yang berhubungan dengan pembekuan darah. 

Penelitian lain yang melibatkan 68 pasien COVID-19, ditemukan 48 pasien dirawat di ICU (Intensive Care Unit )dan 20 pasien lainnya tidak. Darah dari 68 pasien tersebut dianalisis untuk melihat tanda pembekuan.

Hasilnya, pasien yang dirawat di ICU memiliki tingkat penanda pembekuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak dirawat di ICU.

Penyebab pembekuan darah pada pasien COVID-19

Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya ada tiga kemungkinan yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah pada pasien COVID-19, yaitu:

  • Serangan virus dapat merusak sel endotel, yang memicu mekanisme pembekuan darah di tubuh
  • Jika bukan karena sel endotel yang terpengaruh, mungkin karena kerusakan jaringan disekitarnya atau sebagai bentuk respons kekebalan tubuh yang akhirnya meningkatkan pembekuan darah
  • Adanya peningkatan molekul inflamasi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap virus, yang kemudian mengaktifkan pembekuan darah

Namun, sekali lagi hingga kini belum dipastikan apa yang membuat pasien COVID-19 juga berisiko mengalami masalah pembekuan darah.

Walau begitu, tetap penting diketahui bahwa tampaknya virus yang tengah menjadi pandemi ini memang dapat memicu aktivitas sel yang memulai proses pembekuan darah. 

Jika pembekuan darah telah terjadi, maka pengaruh selanjutnya yakni peningkatan risiko gangguan kesehatan seperti stroke dan serangan jantung. 

Siapa saja yang berisiko tinggi mengalami pembekuan darah? 

Pada pasien COVID-19, berikut adalah beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah:

Dirawat di rumah sakit

Sebagian besar terjadinya kasus pembekuan darah pada pasien COVID-19, dilaporkan terjadi pada pasien yang tengah dirawat di rumah sakit.

Adanya tanda terkait pembekuan darah

Penelitian yang melibatkan 300 orang pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit menemukan tingkat D-dimer (parameter ada atau tidaknya penggumpalan darah) dapat dijadikan prediksi kondisi pasien.

Pembekuan dan inflamasi lainnya juga dikaitkan dengan adanya pembekuan darah atau hasil yang buruk. 

Kondisi lain

Perhatikan juga kondisi lain yang dapat membuat pasien lebih berisiko mengalami pembekuan darah. Misalnya pengidap penyakit jantung, diabetes dan obesitas. 

Demikian informasi terbaru tentang komplikasi yang mungkin terjadi dari pasien yang terinfeksi COVID-19. Selalu lakukan konsultasi dengan dokter untuk perawatan lebih lanjut, ya.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Healthline, diakses 16 Februari 2021
What to know about COVID-19 and blood clots
Harvard Medical School, diakses 16 Februari 2021
COVID-19 and blood clots
Cleveland Clinic, diakses 16 Februari 2021
Should you be worried about blood clots with COVID-19?
Dailymail, diakses 16 Februari 2021
Covid-infected woman needs three fingers amputated after disease turned them black by ravaging her blood vessels

    register-docotr