Kesehatan Mental

Mengenal Savior Complex: Suka Menolong Tanpa Peduli Diri Sendiri

March 30, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Menolong orang lain adalah perbuatan yang terpuji. Namun, apa jadinya jika ada seseorang yang selalu ingin menolong dan menganggap dirinya sebagai satu-satunya yang bisa memberikan bantuan? Kamu perlu waspada, karena hal tersebut adalah ciri dari savior complex.

Lantas, apa sebenarnya savior complex itu? Apa saja dampak yang bisa ditimbulkan? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Baca Juga: Tidak Sama, Ini 5 Perbedaan Antara Selfishness dan Self-care

Apa itu savior complex?

Savior complex adalah kecenderungan untuk selalu menolong orang lain tanpa memikirkan kondisi diri sendiri. Frasa ‘suka menolong’ mungkin terdengar sebagai perilaku yang positif. Namun, savior complex merupakan kondisi yang bisa memberikan dampak buruk.

Orang yang mempunyai sifat tersebut akan terdorong untuk selalu menolong meski sebenarnya orang lain tidak membutuhkan bantuannya. Bahkan, orang dengan savior complex akan merasa bersalah atau tidak nyaman jika tak membantu orang lain.

Menurut Dr. Maury Joseph, seorang psikolog di Washington, orang dengan savior complex meyakini bahwa ada seseorang di luar sana yang mampu membuat segalanya menjadi lebih baik, yaitu dirinya sendiri.

Belum jelas apa yang bisa menyebabkan seseorang memiliki savior complex. Keadaan tersebut dipercaya berasal dari fungsi konstruksi psikologis yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Bagaimana ciri-cirinya?

Menolong orang lain memang merupakan hal yang terpuji. Namun, orang dengan savior complex cenderung memberikan bantuan dengan tanda seperti:

  • Empati berlebihan, mudah merasa kasihan kepada orang lain yang sedang kesusahan. Dari sini, muncul keinginan untuk menghilangkan penderitaan orang lain meski mengorbankan kepentingan diri sendiri.
  • Pengidap savior complex cenderung ingin mengubah orang lain dengan memberikan pengaruh, menganggap dirinya lebih tahu apa yang terbaik bagi orang tersebut (termasuk tentang perilaku, hobi, bahkan karir).
  • Pengidap savior complex merasa selalu ingin memperbaiki masalah orang lain, misalnya dengan memberikan nasihat yang sedikit memaksa.
  • Sering kali, pengidap savior complex merasa hanya dirinya yang bisa menyelesaikan masalah orang lain. Bahkan, tak sedikit pengidap savior complex yang rela mengorbankan waktu dan uang.
  • Pengidap savior complex cenderung rela mengabaikan masalahnya sendiri demi bisa membantu atau menolong orang lain.

Dampak buruk pada kehidupan

Mencoba menolong orang lain dari suatu masalah sering kali tidak membuahkan hasil yang diinginkan. Hal tersebut secara tidak langsung akan berdampak negatif pada kehidupan, baik fisik, mental, maupun sosial, seperti:

  • Menggunakan semua waktu untuk menolong orang lain membuatmu mempunyai lebih sedikit energi untuk menyelesaikan masalah diri sendiri.
  • Memaksakan pertolongan untuk orang yang sebenarnya tidak ingin ditolong bisa merusak hubungan yang telah terjalin, baik itu dengan keluarga, kerabat, teman, bahkan pasangan.
  • Pengidap savior complex bisa merasa kecewa jika usahanya dalam membantu orang lain gagal membuahkan hasil yang baik. Akibatnya, risiko untuk terkena gangguan mental bisa meningkat, seperti merasa bersalah, frustasi, dan penurunan rasa percaya diri.
  • Perasaan gagal bisa menyebabkan banyak masalah pada sisi emosional, seperti depresi, benci atau marah kepada orang yang tidak mau ditolong, hingga kehilangan kendali terhadap kontrol diri sendiri.

Baca juga: Mengenal False Memory: Ketika Ingatan Tak Sesuai dengan Kenyataan

Bagaimana cara mengatasinya?

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan agar terhindar dari kondisi savior complex, yaitu dengan:

  • Jadilah pendengar yang baik tanpa langsung bertindak. Orang lain mungkin hanya butuh menumpahkan curahan hatinya untuk sekadar meluapkan emosi.
  • Hindari untuk ingin selalu memberikan solusi. Beberapa orang hanya ingin berbagi cerita tanpa mengharapkan solusi.
  • Jika ingin membantu, jangan terlalu memaksa. Namun, tak ada salahnya untuk menawarkan bantuan dengan frasa seperti “beri tahu saya jika kamu butuh bantuan” atau “saya ada di sini jika kamu membutuhkan”.
  • Kendalikan diri. Disadari atau tidak, beberapa orang mungkin terdorong untuk membantu orang lain karena pernah mengalami masalah yang sama (trauma).
  • Biarkan orang yang kamu cintai, teman, atau kerabat bertanggung jawab atas tindakan dan masalahnya sendiri.
  • Mendatangi tenaga ahli profesional, terapis, atau psikolog untuk membantu mengubah pemahaman dan perilaku savior complex.

Nah, itulah ulasan tentang savior complex beserta ciri-ciri dan cara untuk mengatasinya. Jika kamu masih sulit untuk mengendalikan perilaku seperti yang telah disebutkan, jangan ragu untuk bicarakan dengan psikolog atau dokter di bidang terkait, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Psychology Today, diakses 29 Maret 2021, The Savior Complex.
  2. Healthline, diakses 29 Maret 2021, Always Trying to ‘Save’ People? You Might Have a Savior Complex.
  3. Bustle, diakses 29 Maret 2021, If You’re Doing These 10 Things In Your Relationship, You May Have Savior Complex.

    register-docotr