Kesehatan Mental

Kekerasan pada Anak dan Dampak Trauma yang Berisiko Dialaminya

May 24, 2021 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Belum lama ini beredar video viral tentang seorang ayah yang menyiksa anak perempuannya. Kejadian itu dilatarbelakangi oleh ayah yang cemburu, karena setelah bercerai dengannya, ibu sang anak sudah memiliki pasangan baru. 

Bagaimana kondisi sang anak dan apa dampak kekerasan tersebut? Apakah tersebut akan mengalami trauma berkepanjangan setelah dianiaya ayah kandungnya? 

Mengenal tentang kekerasan pada anak

Saat mendengar kata-kata kekerasan pada anak, akan terlintas anak yang dianiaya dengan luka fisik saja. Padahal kekerasan pada anak juga bisa berupa pelecehan seksual dan kekerasan emosional. 

Menurut Web Md, kekerasan anak sulit dihentikan karena pada sebagian besar kasus pelakunya adalah orang yang dikenal. Karena itu, mungkin anak enggan melaporkan karena takut atau ingin melindungi pelaku. 

Untuk lebih mengetahui tentang kekerasan pada anak, berikut jenis dan ciri-cirinya. 

Jenis kekerasan pada anak dan ciri-cirinya

Ada empat jenis utama kekerasan pada anak. Selain kekerasan fisik, ada juga pelecehan seksual, kekerasan emosional dan pengabaian. 

Kondisi ini dapat membahayakan anak secara fisik atau memengaruhi kesehatan emosional, perkembangan dan kesejahteraan anak. 

Kekerasan fisik dan ciri-cirinya

Ini adalah kekerasan yang membuat anak mengalami luka fisik. Beberapa tindakan yang termasuk kekerasan fisik adalah:

  • Membakar
  • Memukul, menendang atau menggigit
  • Menenggelamkan
  • Membanting 
  • Melempar benda ke arah anak
  • Mengikat anak

Anak yang mengalami kekerasan fisik pasti akan menunjukkan tanda pada tubuhnya, di antaranya:

  • Memar
  • Adanya bekas luka
  • Luka bakar, seperti dari rokok
  • Bekas luka berpola, misalnya seperti sabetan ikat pinggang atau benda lainnya
  • Cedera yang lebih lama sembuh
  • Masalah medis atau gigi yang dibiarkan

Anak-anak yang pernah mengalami pelecehan fisik juga dapat menunjukkan ciri-ciri:

  • Menghindari segala jenis sentuhan atau kontak fisik
  • Takut pulang ke rumah
  • Selalu waspada
  • Mengenakan pakaian panjang untuk menutupi luka
  • Menarik diri dari pergaulan atau dari aktivitas lain

Pelecehan seksual

Bukan cuma menganiaya fisik, pelecehan seksual juga bagian dari kekerasan anak. Beberapa tindakan yang termasuk ke dalam pelecehan seksual pada anak anak antara lain:

  • Memaksa anak untuk ikut serta dalam pengambilan gambar atau video porno
  • Melakukan kontak seksual dengan anak, mulai dari berciuman hingga berhubungan seksual
  • Melakukan telepon, email, pesan lainnya yang bersifat vulgar
  • Menunjukkan alat kelamin kepada anak 
  • Menunjukkan hal berbau pornografi
  • Menceritakan kisah porno

Jika anak mengalaminya, kemungkinan akan menunjukkan tanda-tanda:

  • Menghindari orang tertentu tanpa alasan yang jelas
  • Pakaian dalam robek, bernoda atau berdarah
  • Memar atau berdarah di sekitar alat kelamin
  • Nyeri atau gatal di sekitar alat kelamin yang membuatnya sulit duduk atau berjalan
  • Hamil, terutama untuk anak di bawah 14 tahun
  • Menolak untuk berganti pakaian di depan orang lain
  • Kabur dari rumah
  • Mengetahui hal-hal seputar seksualitas yang umumnya hanya diketahui orang dewasa

Pelecehan emosional

Jika anak mendapat perlakuan yang membahayakan perkembangan emosi dan kesejahteraannya, maka itu termasuk pelecehan dan kekerasan kepada anak secara emosional. 

Beberapa perlakuan yang termasuk pelecehan emosional antara lain:

  • Melecehkan keluarga, orang tua atau saudara di depan anak
  • Tidak bisa memberikan atau menunjukkan kasih sayang pada anak
  • Tidak memberikan dukungan dan bimbingan emosional
  • Mempermalukan atau meremehkan anak
  • Mengancam, berkata kasar, berteriak atau mengatakan hal-hal tak pantas lainnya pada anak

Setelah mengalaminya, anak akan menunjukkan tanda-tanda:

  • Khawatir terus menerus, takut melakukan kesalahan
  • Masalah bicara atau keterlambatan belajar dan lambat dalam perkembangan emosional
  • Depresi dan harga diri rendah
  • Prestasi yang buruk di sekolah
  • Perilaku ekstrem seperti terlalu penurut atau terlalu menuntut
  • Sakit kepala atau perut tanpa alasan yang jelas
  • Tampak tidak dekat dengan orang tua atau pengasuh
  • Tidak menunjukkan minat berteman atau aktivitas umum

Pengabaian

Mengabaikan anak juga termasuk kekerasan pada anak, karena tidak memberikan pengasuhan dan perlindungan dasar pada anak. 

Seperti tidak memenuhi sandang, pangan papan yang layak. Juga tidak memberikan perawatan medis. 

Orang tua juga melakukan pengabaian pada anak jika meninggalkan anak sendirian dalam waktu lama atau dalam kondisi yang berbahaya. 

Tanda-tanda anak yang mengalami pengabaian di antaranya:

  • Selalu terlihat kotor
  • Ditinggal sendiri atau dalam perawatan anak kecil lainnya
  • Makan lebih banyak dari biasanya saat diberikan makanan atau justru menyimpan makanannya untuk nanti
  • Bolos sekolah
  • Berat badan yang buruk
  • Tidak mendapat perawatan medis, gigi atau mental

Anak yang mengalami pengabaian mungkin memiliki orang tua atau pengasuh yang menggunakan obat-obatan terlarang atau penyalahgunaan alkohol.

Apakah kondisi tersebut berisiko membuat anak trauma hingga dewasa?

Kekerasan pada anak dikaitkan dengan masalah kesehatan kronis, penyakit mental dan masalah penggunaan obat terlarang saat dewasa. 

Selain itu kekerasan juga bisa membuat anak kesulitan meraih prestasi di sekolah, memengaruhi kesempatan kerja dan potensi penghasilan.

Anak-anak korban kekerasan juga akan mengalami kesulitan membentuk hubungan yang sehat dan stabil. Mereka juga mungkin akan mengalami kesulitan keuangan, pekerjaan dan depresi sepanjang hidup.

Bahkan dampak negatif itu bisa diturunkan kepada anak mereka, setelah berkeluarga. Tapi kondisi tersebut dapat dicegah. 

Mencegah trauma kekerasan pada anak

Tentu saja yang perlu dilakukan adalah mencegah kekerasan itu sendiri, sehingga anak tidak perlu merasakan trauma. 

Menciptakan dan mempertahankan hubungan yang aman, stabil dan sejahtera di dalam keluarga dalam mencegah kekerasan pada anak. 

Beberapa strategi dan pendekatan mungkin dilakukan, seperti:

  • Menguatkan dukungan ekonomi keluarga dengan mengamankan keuangan rumah tangga dan menjalankan kebijakan keluarga yang ramah. 
  • Mempromosikan norma melindungi dari kekerasan dan kesulitan, dengan cara pendekatan pada anak untuk mengurangi hukuman fisik dan gencar mengampanyekan perlindungan anak dari kekerasan.
  • Mengenalkan dasar-dasar emosional dan keamanan yang kuat, misalnya pengayaan prasekolah dengan melibatkan sekolah atau memilih penitipan anak yang berkualitas.
  • Menjalin hubungan yang baik antara anak dan orangtua, serta aktif ikut serta mencegah bahaya langsung dan jangka panjang, seperti perawatan mencegah perilaku bermasalah dalam keluarga.

Bagaimana jika anak sudah terlanjur mengalami kekerasan?

Jika anak sudah mengalami kekerasan, beberapa cara yang perlu dilakukan untuk mencegah trauma berkepanjangan di antaranya:

  • Membuat anak merasa aman
  • Jangan menunjukkan kecemasan pada anak
  • Pertahankan rutinitas, dengan begitu meyakinkan anak-anak bahwa mereka masih baik-baik saja
  • Bantu anak untuk memahami yang terjadi
  • Bantu anak untuk aktif dengan kegiatan positif
  • Batasi informasi dari pemberitaan tentang apa yang dialaminya
  • Dengarkan anak, memahami sudut pandang anak, biarkan mereka untuk merasakan emosi mereka sendiri
  • Bantu anak untuk riles dengan latihan pernaapsan
  • Mengakui emosi pada anak, sehingga bisa melepas beban tanpa rasa takut dikritik
  • Anak membutuhkan orang yang bisa mendengarkan dan menerima mereka, sehingga membangun kepercayaan anak untuk kembali baik-baik saja. 

Namun untuk dapat memastikan kondisi anak, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga ahli kesehatan mental. Demikian beberapa informasi tentang kekerasan pada anak yang penting diketahui para orang tua. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

WebMd, diakses 21 Mei 2021
Signs of Child Abuse
WebMd, diakses 21 Mei 2021
Tough Childhoods Can Leave a Lifetime of Harm
CDC, diakses 21 Mei 2021
Preventing Adverse Childhood Experiences
Childmind.org, diakses 21 Mei 2021
Helping Children Cope After a Traumatic Event

    register-docotr