Kesehatan Mental

Heboh di Facebook Pria ‘Bungkus’ Istrinya seperti Mumi, Punya Kelainan Fetis?

June 17, 2021 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Netizen di Indonesia kembali dihebohkan oleh kasus fetis di internet. Baru-baru ini, seorang pria dengan akun Facebook berisinial HZ diketahui kerap membagikan foto-foto istrinya yang telah ‘dibungkus’ layaknya mumi sambil berpose.

Sontak saja, para warganet bereaksi terhadap aktivitas tak wajar tersebut. Beberapa orang mengaitkannya dengan kasus fetis jarik oleh seorang mahasiswa yang viral tahun lalu. Lantas, apa sih sebenarnya fetis itu? Apa dampaknya bagi korban? Berikut ulasannya!

Mengenal tentang kondisi fetis

Fetis adalah ketertarikan secara seksual yang intens kepada sesuatu, baik pada benda mati atau bagian tubuh manusia non-genital. Istilah fetis sendiri berasal dari bahasa Portugis feitico, yang berarti ‘daya tarik obsesif’.

Psychology Today mengidentifikasi fetis sebagai suatu gangguan, di mana ada ketergantungan terus-menerus dan cenderung berulang. Pada benda mati, objeknya bisa berupa pakaian, sepatu, kain, alas kaki, sarung tangan, dan lain sebagainya.

Sedangkan jika objeknya adalah tubuh manusia, biasanya bagian yang tidak mempunyai fungsi seksual atau non-genital, misalnya kaki. Hanya dengan menggunakan objek-objek tersebut, seorang pengidap fetis dapat memperoleh kepuasan seksualnya.

Apa ciri-cirinya?

Bagi orang-orang yang mengidapnya, objek tertentu bisa membangkitkan gairah, meski hanya dilihat sekali pun. Namun, pada kebanyakan kasus, orang itu mungkin akan memegang, menggosok-gosok, dan mencium objek fetisnya.

Jika telah hidup berpasangan atau menikah, orang yang mempunyai fetis biasanya meminta pasangan untuk memakai objek tersebut selama berhubungan intim atau jika ingin mendapat kepuasan seksual.

Perlu diketahui, dalam tahapan yang sudah parah, orang yang punya fetis hanya bisa terangsang secara seksual dan mencapai klimaks atau orgasme ketika ada objek yang disukai. Tanpa ada benda itu, respons seksualnya menjadi lemah, atau bahkan tidak muncul sama sekali.

Berikut beberapa ciri lain yang bisa menandakan seseorang memiliki gangguan fetis:

  • Dalam jangka waktu setidaknya enam bulan, orang tersebut punya fantasi, dorongan, atau perilaku berulang yang berfokus pada benda mati atau bagian tubuh non-genital
  • Fantasi dan dorongan seksualnya terhadap benda atau bagian tubuh tertentu mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, atau kehidupan pribadinya.

Apa penyebabnya?

Fetis adalah salah satu cabang atau klasifikasi dalam payung besar parafilia, yaitu kelainan seksual yang setara dengan pedofilia dan perilaku seks sadisme. Tanda-tandanya biasanya memuncak selama masa pubertas.

Belum jelas apa hal yang bisa memicu kondisi tersebut. Hanya saja, beberapa ahli percaya bahwa fetis dapat berkembang karena pengalaman di masa lalu (termasuk saat kanak-kanak), di mana suatu objek dikaitkan dengan bentuk gairah atau kepuasan seksual yang cukup kuat.

Dengan kata lain, anak yang menjadi korban dari perilaku penyimpangan seksual orang lain bisa menjadi pelaku saat sudah dewasa. Tak hanya itu, seorang pria yang ragu atas maskulinitasnya juga dapat meluapkan dengan jenis fetis tertentu.

Dibandingkan dengan wanita, fetis merupakan gangguan seksual yang lebih umum terjadi pada pria. Umumnya, orang yang mengidap fetisisme telah memiliki gangguan mental lain, misalnya depresi, kecemasan, dan masalah psikotik.

Baca juga: 6 Alasan Korban KDRT Memilih Diam & Memaafkan Pelaku

Apa dampaknya bagi korban?

Menurut penjelasan dr. Alvina, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa, kondisi fetisisme bisa merugikan orang lain. Hal itu dapat melanggar hak-hak orang lain yang menjadi objek dari fetis, termasuk menciptakan perasaan tidak aman.

Jika tidak dilakukan secara suka sama suka, suatu hubungan seksual bisa diidentifikasi sebagai pelecehan atau sexual abuse. Tentu saja, ini dapat memengaruhi kondisi mental korban.

Dampaknya akan lebih parah jika korban masih di bawah umur. Menurut sebuah penelitian yang terbit di Journal of Culture Health Sex, hal itu bisa memicu trauma mendalam. Anak-anak juga rentan melakukan tindakan imitasi. Artinya, berpeluang menjadi pelaku saat tumbuh dewasa.

Untuk kasus fetis bungkus, dampaknya bukan hanya dari sisi psikis, tapi juga fisik. Selain keterbatasan gerak, korbannya mungkin akan kesulitan untuk bernapas. Jika korban punya riwayat penyakit pernapasan, hal tersebut dapat memperburuk kondisinya.

Nah, itulah ulasan tentang fetis sebagai gangguan seksual dan berbagai dampaknya bagi orang yang menjadi korban. Jika kamu atau pasangan cenderung berperilaku seperti itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. NCBI, diakses 17 Juni 2021, Impact of Childhood Sexual Abuse on the Emotions and Behaviours of Adult Men from Three Ethnic Groups in the USA.
  2. Medcom, diakses 17 Juni 2021, Dampak Fetisisme bagi Orang Lain.
  3. Suara, diakses 17 Juni 2021, Viral Suami Pamer Hobi Bungkus Istri, Berpose Bak Model Mumi.
  4. Psychology Today, diakses 17 Juni 2021, Fetishistic Disorder.
  5. WCSAP, diakses 17 Juni 2021, THE EFFECTS OF SEXUAL ASSAULT.
  6. WebMD, diakses 17 Juni 2021, Paraphilias and Mental Health.

    register-docotr