Kesehatan Mental

Dampak Psikologis pada Anak Korban Penculikan, Salah Satunya Muncul Stockholm Syndrome

May 13, 2022 | Arianti Khairina | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Belakangan ramai diberitakan kasus penculikan anak laki-laki berjumlah 10 orang di Jakarta, Tangerang dan Bogor. Kejadian ini meresahkan banyak orang khususnya para orang tua. Meskipun seluruh korban ditemukan dalam keadaan selamat, namun apakah akan ada dampak secara psikologis pada kesehatan mental anak?

Bagaimana keadaan psikologis anak korban penculikan?

Seperti yang kita tahu penculikan adalah sebuah tindakan melanggar hukum, di mana pelaku melakukan pengurungan secara paksa dan menjauhkan korban dari orang tuanya. Tak ayal tindakan kekerasan ini seringkali menimbulkan dampak psikologi pada korban. 

Melansir laman Forbes, ketika anak-anak kehilangan kasih sayang seorang ibu, mereka akan mengalami perubahan di otak yang menyebabkan kecemasan, depresi, dan lain-lainnya. Pasalnya fungsi otak dan sistem saraf yang sehat bergantung pada ikatan emosional yang kuat sejak lahir.

Jadi, sosok ibu yang menenangkan dapat merangsang produksi bahan kimia otak seperti dopamin dan oksitosin. Ini menciptakan perasaan aman dan gembira pada seorang anak. 

Sehingga anak-anak korban penculikan cenderung mengalami trauma. Bahkan seringkali mengalami kerusakan sistem saraf yang dapat berlangsung seumur hidup. 

Kerusakan pada sistem saraf otak ini sangat bervariasi tergantung pada usia anak, tingkat keparahan kondisi saat penculikan terjadi, dan beberapa faktor lainnya. Anak-anak terkadang tetap terjebak secara emosional pada usia mereka ketika trauma melanda. 

Sehingga saat berada dalam kondisi stres akibat sebuah peristiwa traumatis dapat menyebabkan penyusutan hipokampus yang merusak memori dan gangguan sistem saraf. Selain itu juga dapat mengganggu konsentrasi dan kontrol emosi.

Jika mengalami pelecehan seksual saat penculikan, apa dampak fisik dan mental pada anak?

Selama masa penculikan terjadi, anak mungkin mengalami berbagai macam hal. Bisa mendapatkan kekerasan fisik maupun pelecehan seksual. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tapi juga mental anak, seperti:

  • Kemungkinan mengalami self harm, yaitu korban cenderung sengaja melukai diri sendiri secara rahasia
  • Terjadinya sexually transmitted infections yaitu infeksi menular seksual karena adanya kontak vagina, anal, atau oral
  • Cenderung mengalami penyalahgunaan obat-obatan
  • Kemungkinan mengalami serangan panik, perasaan ketakutan dan kecemasan yang tiba-tiba muncul secara intens
  • Kemungkinan mengalami eating disorder atau gangguan makan 
  • Bisa terjadi kehamilan, akibat dari pelecehan seksual yang terjadi selama penculikan
  • Kemungkinan mengalami gangguan tidur
  • Berpotensi membuat korbannya berkeinginan untuk bunuh diri. 

Korban penculikan berpotensi mengalami Stockholm Syndrome

Artikel Medical News Today, menjelaskan stockholm syndrome adalah sebuah respons psikologis korban penculikan akibat dari penculikan dan situasi penyanderaan yang mengancam kesejahteraan fisik atau mentalnya. Uniknya, bukan rasa benci tapi sindrom ini justru memunculkan respons positif dengan mencoba memiliki hubungan baik dengan si penculik.

Bukan tanpa alasan, korban mengembangkan sindrom ini dengan maksud memilih bekerjasama baik (strategi) dengan penculik agar tetap selamat dan bahkan sebagai bentuk terimakasih bahwa penculik tidak memperlakukan lebih buruk dari kekerasan fisik yang korban terima.

Bagaimana cara pemulihan pada anak korban penculikan?

Pemulihan pada anak korban penculikan sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang tua. Ketika orang tua tidak memberikan kondisi yang membuat mereka merasa nyaman dan aman, maka anak-anak akan sulit untuk pulih. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengenal anak lebih dan mengetahui riwayat detail setelah penculikan. 

Menukil laman Huffpost, reaksi yang ditampilkan anak-anak saat ini, tentu akan sangat sebanding dengan trauma masa lalu yang pernah dialami. Sehingga, berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua untuk membantu proses pemulihan anak korban penculikan: 

  • Mendengarkan secara empatik kepada anak-anak setelah trauma, tanpa menghakimi. Sehingga mereka merasa dihargai dan diakui keberadaannya untuk mendapatkan kesempatan bercerita mengenai kondisi perasaannya. 
  • Yakinkan anak bahwa keadaan akan baik-baik saja sehingga mereka merasa aman dan percaya akan hal tersebut. 
  • Orang tua dan pengasuh bantu anak untuk membangun rasa aman saat melakukan aktivitas sehari-hari. 
  • Jangan memaksa atau menekan anak-anak untuk menceritakan secara rinci tentang kondisi yang terjadi selama penculikan. Tapi biarkan informasi tersebut terungkap dengan sendirinya saat anak ingin bercerita. 
  • Bantu dan yakinkan anak untuk bisa mengungkapkan perasaan mereka kepadamu, tanpa harus memaksanya.
  • Pastikan untuk memberi tahu mereka betapa kamu sebagai orang tua mencintainya dan bersyukur memilikinya. 

Tips untuk orang tua agar anak terhindar dari penculikan

Berikut ini beberapa tips untuk orang tua agar anak terhindar dari penculikan:

  • Hindari memposting informasi identitas atau foto anak secara online
  • Tetapkan batasan tempat yang dikunjungi anak 
  • Awasi anak saat mereka berada di tempat umum seperti mal, bioskop, taman, atau kamar mandi umum 
  • Jangan pernah meninggalkan anak-anak sendirian di dalam mobil atau kereta dorong, bahkan untuk semenit pun
  • Pilih pengasuh atau penitipan anak dengan sangat hati-hati. Pastikan untuk melakukan  pemeriksaaan tentang latar belakang mereka
  • Selain itu, ajarkan juga pada anak untuk lebih berhati-hati dengan orang asing atau orang yang  baru ditemui
  • Jangan pernah menerima permen atau hadiah dari orang asing
  • Jangan pernah pergi ke manapun dengan orang asing, meskipun kedengarannya menyenangkan
  • Ajarkan anak untuk melarikan diri dan berteriak jika seseorang mengikuti mereka atau mencoba memaksa masuk ke dalam mobil
  • Katakan tidak kepada siapa pun yang mencoba membuat mereka melakukan sesuatu hal-hal berbahaya 
  • Selalu minta izin kepada orang tua ketika ingin meninggalkan rumah. 

Baca juga: Viral Publik Figur Dighosting Mantan, Ini Tips Mudah agar Tidak Trauma!

Konsultasi lengkap seputar COVID-19 di Klinik Lawan COVID-19 dengan mitra dokter kami. Yuk, klik link ini untuk download aplikasi Good Doctor!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya.

Reference
  1. Bandung.kompas.com (2022) diakses pada 13 Mei 2022. Kasus Penculikan 10 Anak Laki-laki, Pelaku Beraksi di 12 TKP di Bogor, Tangerang, hingga Jakarta
  2. Forbes.com (2012) diakses pada 13 Mei 2022. Psychological Damage Likely For the Child Kidnapping Victims of Adam Mayes
  3. Medicalnewstoday.com (2020) diakses pada 13 Mei 2022. What is Stockholm syndrome?
  4. Rainn.org (2022) diakses pada 13 Mei 2022. Effects of Sexual Violence
  5. Huffpost.com (2013) diakses pada 13 Mei 2022. How to Help a Child Recover From Child Abduction Trauma
  6. Kidshealth.org (2018) diakses pada 13 Mei 2022. Preventing Abductions
    register-docotr