Kesehatan Mental

Bukan Hanya Tidak Nafsu Makan, Ini Penyebab Lain Berat Badan Turun Drastis ketika Depresi

November 11, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Depresi adalah gangguan mental yang harus sangat diperhatikan. Seringkali, depresi dikaitkan dengan masalah berat badan, seperti halnya penurunan berat badan yang drastis. Ternyata penurunan berat badan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, apa saja?

Baca juga: 7 Tips Mengatasi Kesepian dan Kesedihan agar Tak Berujung Depresi

Apa itu depresi?

Melansir dari Mayo Clinic, depresi adalah gangguan suasana hati yang dapat menyebabkan perasaan sedih serta kehilangan minat secara terus-menerus.

Depresi dapat memengaruhi perasaan, pemikiran, serta perilaku, yang mana hal ini juga dapat menyebabkan berbagai permasalahan emosional maupun fisik. Tak hanya itu, jika seseorang mengalami depresi mungkin ia juga bisa kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Penyebab depresi sendiri masih belum diketahui, namun ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu kondisi ini, seperti:

  • Pesimis atau selalu memberikan kritikan pada diri sendiri
  • Pernah mengalami peristiwa traumatis
  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, gangguan makan, atau post-traumatic stress disorder (PTSD)

Adapun gejala dari depresi meliputi:

  • Merasa sedih, hampa, atau bahkan putus asa
  • Mudah tersinggung atau frustasi, sekalipun karena hal-hal yang kecil
  • Kesulitan berkonsentrasi, berpikir, mengingat suatu hal, atau bahkan membuat keputusan
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang disukai, misalnya saja hobi atau olahraga tertentu
  • Merasa lelah dan kekurangan energi
  • Merasa bersalah atau tidak berharga, yang juga dapat membuat penderita menyalahkan diri sendiri

Lantas, apa penyebab berat badan turun drastis saat depresi?

Ketika depresi, seseorang mungkin saja akan mengalami penambahan berat badan, namun sebagian lainnya dapat mengalami penurunan berat badan yang drastis.

Perlu kamu ketahui bahwa depresi mungkin saja dapat bersifat ringan atau sementara, akan tetapi depresi juga bisa berlangsung parah atau terjadi secara terus-menerus hingga dapat berakibat fatal. Oleh karenanya, depresi tidak boleh diabaikan dan harus sangat diperhatikan.

Penurunan berat badan ketika depresi sendiri dapat disebabkan karena tidak nafsu makan. Tetapi di samping itu semua, berat badan yang turun secara signifikan juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor lain.

Berikut adalah beberapa penyebab berat badan turun drastis ketika sedang depresi.

1. Kehilangan nafsu makan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa penyebab penurunan berat badan yang drastis saat depresi dapat disebabkan karena tidak nafsu makan. Depresi yang berat dapat menyebabkan penderita kehilangan minat pada makanan akibat suasana hati yang buruk.

Melansir dari Livestrong.com, depresi juga dapat memengaruhi pola makan dan tidur penderitanya. Hal ini memungkinkan seseorang makan dalam jumlah yang relatif banyak, tetapi mengalami penurunan berat badan.

Baca juga: Tak Boleh Diabaikan, Kenali Ciri-ciri Depresi yang Rentan Dialami Remaja!

2. Gangguan makan

Melansir dari Webmd, depresi juga bisa menyertai gangguan makan.

Leslie Heinberg, PhD seorang psikolog yang memimpin Bariatric and Metabolic Institute di Cleveland Clinic, dalam prakteknya mengatakan bahwa pasien dengan anoreksia nervosa seringkali mengalami depresi.

Selain itu, jika seseorang mengalami penurunan berat badan yang drastis bahkan ketika ia telah makan banyak dan ia mengalami gejala depresi, ini bisa dikhawatiran sebagai bulimia nervosa.

Bulimia ditandai dengan makan secara berlebihan (binge-eating) yang diikuti dengan pembersihan diri dari makanan yang telah dikonsumsi secara paksa, baik melalui muntah yang diinduksi ataupun aktivitas tubuh yang berlebihan.

Bahkan, menurut University of Maryland Medical Center, depresi sangat terkait dengan bulimia.

3. Gangguan tidur

Sepeti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa depresi tidak hanya dapat memengaruhi pola makan saja, tetapi juga pola tidur. Jika depresi memengaruhi tidur, ini dapat berkontribusi pada penurunan berat badan yang signifikan meskipun penderita makan banyak.

Sebuah laporan dalam Journal of the American Dietetic Association, menyatakan bahwa terdapat lebih banyak jumlah kalori yang dibakar ketika seseorang bangun  atau terjaga dibandingkan dengan saat ia tidur.

Jika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tetap terbangun atau terjaga akibat depresi, kalori ekstra yang dibakar ketika terjaga dapat berkontribusi pada pengurangan kalori, yang mana hal ini dapat menyebabkan penurunan berat badan.

4. Pengaruh obat-obatan tertentu

Penyebab lain dari berat badan yang turun drastis saat depresi adalah pengaruh obat-obatan tertentu, seperti antidepresan.

Beberapa antidepresan yang dikenal sebagai selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) mungkin memiliki efek samping yang dapat berkontribusi pada penurunan berat badan.

Efek samping ini dapat termasuk insomnia, gugup, gelisah, atau bahkan diare. Gelisah atau insomnia dapat menyebabkan penderita lebih banyak membakar kalori secara keseluruhan sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan.

Selain itu, diare yang juga merupakan efek samping lainnya, juga dapat berkontribusi pada penurunan berat badan.

Depresi harus segera ditangani dan tidak boleh dibiarkan. Sangat penting untuk menangani depresi sejak dini. Hal ini berguna untuk menghindari bahaya lain yang dapat ditimbulkan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Livestrong.com. Diakses pada 10 November 2020. Why Does Depression Cause You to Lose Weight Even Though You Eat a Lot? 

Mayo Clinic (2018). Diakses pada 10 November 2020. Depression (major depressive disorder) 

Webmd (2010). Diakses pada 10 November 2020. Is Depression Wrecking Your Weight? 

Gottschlich, M M, M Jenkins, T Mayes (1997). Lack of effect of sleep on energy expenditure and physiologic measures in critically ill burn patients. NIH (diakses pada 10 November 2020)

    register-docotr