Kesehatan Mental

Artis Aliando Syarief Idap OCD Ekstrem, Apa Penyebabnya?

May 28, 2022 | Muhammad Hanif | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Publik dikejutkan oleh kabar terbaru dari Aliando Syarief. Lama tak muncul di layar kaca, artis kelahiran Jakarta itu diberitakan sedang mengidap OCD, salah satu gangguan mental yang bisa memengaruhi perilaku sehari-hari.

Lantas, apa sih sebenarnya OCD itu? Apa penyebabnya? Yuk, simak lebih lengkap dengan ulasan berikut!

Apa itu OCD?

OCD adalah kependekan dari obsessive-compulsive disorder, yaitu kondisi ketika pola pikiran dan ketakutan tertentu muncul membentuk sebuah obsesi untuk melakukan perilaku berulang. Perilaku obsesif dan kompulsif ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Obsesi ini muncul tanpa kehendak diri sendiri. Semakin berusaha menahan atau mengabaikannya, maka dampaknya akan menjalar ke aspek psikologis dan mental, misalnya menjadi cemas. Namun, biasanya hanya berpusat di satu kondisi tertentu.

Misalnya, hanya khawatir atau takut berlebihan pada bakteri dan kotoran. Maka, perilaku yang ditonjolkan adalah selalu mencuci tangan secara kompulsif sampai terasa sakit atau pecah-pecah. Orang dengan kondisi tersebut sadar atas perbuatannya, sehingga tak jarang yang merasa malu.

OCD biasanya muncul pada masa remaja atau dewasa muda, tapi bisa juga dimulai pada masa kanak-kanak. Jenis obsesi dapat berubah seiring berjalannya waktu.

Dikutip dari Mayo Clinic, kondisi ini biasanya dianggap sebagai gangguan seumur hidup, bisa bergejala ringan, sedang, atau sangat parah.

Mengapa bisa terjadi?

Belum diketahui secara pasti apa penyebab dari OCD. Namun, beberapa hal berikut diyakini dapat menjadi faktor risikonya, yaitu:

  • Genetik: Menurut National Institute of Mental Health, seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan OCD berisiko mengalami kondisi serupa. Meski, gen spesiknya belum diidentifikasi secara jelas.
  • Struktur dan fungsi otak: Adanya kelainan pada struktur otak seperti bagian korteks frontal dan prefrontal serta nukleus akumbens dipercaya bisa memicu terjadinya perilaku obsesif. Ini berpengaruh pada fungsi sejumlah hormon, seperti serotonin dan dopamin.
  • Faktor lingkungan: Siapa sangka, OCD bisa saja berkembang akibat lingkungan sekitar, lho. Trauma saat masih kecil misalnya, dipercaya dapat menyebabkan kondisi tersebut di masa depan.
  • Gangguan mental: Orang dengan OCD biasanya juga memiliki masalah kesehatan mental, misalnya kecemasan, depresi, bipolar, hingga skizofrenia.

Bagaimana dengan OCD ekstrem?

OCD ekstrem adalah tingkat lanjutan dari kondisi yang sama sebelumnya. Edna Faoa dari University of Pennsylvania dalam Encyclopedia of Cognitive Behavior Therapy menjelaskan, OCD ekstrem ditandai dengan frekuensi yang lebih tinggi dari perilaku obsesif dan kompulsif.

Seseorang dengan OCD ekstrem bisa melakukan perilaku obsesif lebih sering dari biasanya. Tak lagi di satu kondisi, tapi di banyak aspek kehidupan, seperti pekerjaan, keluarga, hingga pergaulan sosial.

Orang dengan OCD ekstrem biasanya sudah lebih dulu memiliki gangguan psikologis, misalnya trauma.

Baca juga: Teknik Relaksasi Guided Imagery: Membayangkan Tempat yang Damai agar Rileks

Pemeriksaan dan penanganan

Pemeriksaan orang dengan kondisi tersebut bisa melibatkan dokter atau psikiater. Proses diagnosis dapat mencakup pemeriksaan fisik (apakah disebabkan oleh kondisi kesehatan) hingga tes psikologis (evaluasi tentang perasaan, ketakutan, obsesi, kompulsi, dan tindakan).

Namun, mendiagnosis kondisi OCD sebenarnya bukanlah perkara mudah. Sebab, keadaannya mirip dengan sejumlah gangguan psikologis, seperti depresi, skizofrenia, dan lain sebagainya.

Untuk penanganannya sendiri, bisa melalui psikoterapi dan obat-obatan. Psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif bisa membantu orang dengan OCD untuk menahan keinginan melakukan perilaku obsesif dan kompulsif.

Sedangkan obat-obatan digunakan agar bisa rileks dan tenang. Antidepresan adalah jenis obat yang sering diresepkan untuk orang dengan kondisi tersebut.

Kabar baiknya, pengidap OCD bisa sembuh total dengan perawatan yang tepat. Namun, ada juga yang masih harus berdamai dengan keadaan seumur hidup tapi dengan kontrol diri yang lebih baik.

Jangan diagnosis sendiri

Tidak sedikit orang yang suka melakukan self-diagnosing terhadap penyakit mental. Menurut sebuah survei, mudahnya akses informasi di internet menjadi salah satu pemicunya.

Padahal, hasil yang tidak tepat dari self-diagnosing justru bisa memunculkan masalah baru pada diri sendiri. Misalnya, salah dalam penanganan untuk masalah psikologis yang sebenarnya bukan OCD.

Perlu diketahui, kebanyakan orang yang benar-benar mengidap OCD sulit dalam menjalani hari, termasuk saat bekerja. Langkah terbaik yang bisa dilakukan saat kamu merasakan gejala atau tanda masalah pada kesehatan mental adalah berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.

Nah, itulah ulasan tentang OCD yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan. Jika mengalami gangguan psikologis, jangan malu untuk konsultasi ke ahlinya, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Sudah punya asuransi kesehatan dari perusahaan tempatmu bekerja? Ayo, manfaatkan layanannya dengan menghubungkan benefit asuransi milikmu ke aplikasi Good Doctor! Klik link ini, ya

Reference
  1. Mayo Clinic, diakses 28 Januari 2022, Obsessive-compulsive disorder (OCD).
  2. National Institute of Mental Health, diakses 28 Januari 2022, Obsessive-Compulsive Disorder.
  3. Research Gate, diakses 28 Januari 2022, Severe OCD.
  4. Healthline, diakses 28 Januari 2022, Understanding the Impact of Severe Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
  5. WebMD, diakses 28 Januari 2022, How Do I Know if I Have OCD?
  6. Psych Guide, diakses 28 Januari 2022, Living With: OCD (Obsessive Compulsive Disorder).
  7. Seasons in Malibu, diakses 28 Januari 2022, ARE MILLENIALS SELF-DIAGNOSING OCD?
  8. Kompas.com, diakses 28 Januari 2022, Alami OCD Ekstrem, Aliando Syarief: Gue Enggak Bisa makan
    register-docotr