Info Sehat

Sariawan di Gusi: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

January 15, 2021 | Nik Nik Fadlah | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Sariawan adalah lesi kecil yang dapat berkembang di dalam mulut atau di dasar gusi. Sariawan tidak muncul di permukaan bibir serta tidak menular. Meskipun demikian, sariawan di gusi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang dapat membuatmu kesulitan untuk makan ataupun berbicara.

Untuk mengetahui penyebab sariawan di gusi serta cara mengatasinya, yuk, simak ulasan selengkapnya di sini.

Baca juga: Sariawan di Lidah Bikin Tidak Nyaman, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Apa penyebab sariawan di gusi?

Sariawan memiliki bentuk bulat atau oval dengan bagian tengah berwarna putih atau kuning, yang disertai dengan bagian tepi berwarna merah. Seperti yang sudah diketahui bahwa, sariawan dapat terjadi di dalam mulut, baik di lidah, di dalam pipi atau bibir, hingga di dasar gusi.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Agar kamu lebih memahaminya, berikut adalah penyebab sariawan di gusi yang perlu kamu ketahui.

1. Penyebab sariawan di gusi: Cedera mulut dan iritasi

Penyebab pertama dari kondisi ini adalah cedera pada mulut. Sebab, kulit di dalam mulut merupakan area yang sensitif.

Cedera dapat terjadi ketika kamu menyikat gigi atau melakukan flossing gigi terlalu kasar. Di sisi lain, ini juga dapat terjadi akibat penggunaan gigi palsu atau kawat gigi, serta cedera mulut akibat olahraga.

Melansir dari laman Mayo Clinic, pasta gigi atau obat kumur yang mengandung Sodium lauryl sulfate (SLS) juga dapat memicu sariawan, terlebih lagi jika kamu sensitif terhadap kandungan ini.

2. Sensitivitas terhadap makanan dan minuman

Makanan dan minuman tertentu diketahui dapat memicu sariawan. Ini termasuk makanan yang terlalu asin, pedas, atau minuman serta makanan yang terlalu asam.

Cokelat, kopi, stroberi, telur, kacang-kacangan, keju, makanan pedas atau asam sebaiknya kamu hindari ketika mengalami sariawan.

3. Kekurangan nutrisi tertentu, bisa menyebabkan sariawan di gusi

Kekurangan vitamin tertentu seperti niacin (B3), asam folat (B9), cobalamin (B12) dapat membuatmu lebih rentan terkena sariawan, seperti dilansir dari Healthline.

Selain itu, kekurangan nutrisi tertentu seperti zinc, zat besi, atau kalsium juga dapat memicu atau bahkan memperburuk sariawan di gusi.   

Penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa asupan vitamin B12 yang mencukupi dapat mengurangi risiko sariawan.

Dalam sebuah studi dalam Journal of the American Board of Family Medicine, sebanyak 58 peserta yang mengalami sariawan berulang diberikan 1.000 mcg vitamin B12 pada waktu tidur selama 6 bulan.

Hasilnya, setelah para peserta mencukupi kebutuhan vitamin, sekitar 74 persen tidak lagi mengalami lesi pada akhir pengobatan.

4. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri juga bisa menyebabkan sariawan. Bakteri yang berkontribusi terhadap kondisi ini adalah Helicobacter pylori, yakni penyebab infeksi pada lambung yang memicu tukak lambung.

Terkadang H. pylori ditemukan di rongga mulut, yang mana dapat memicu sariawan pada sebagian orang.

5. Kondisi medis tertentu

Pada beberapa kasus, sariawan di gusi yang tidak kunjung sembuh dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti:

  • Penyakit Celiac
  • Radang usus, seperti penyakit Chron serta kolitis ulserativa
  • Penyakit Behcet
  • HIV/AIDS
  • Gangguan pada sistem kekebalan lain

6. Penyebab lain

Penyebab lain dari kondisi ini di antaranya adalah fluktuasi hormonal, stres, atau bahkan riwayat keluarga.

Cara mengatasi sariawan di gusi

Pada kebanyakan kasus, sariawan dapat sembuh dengan sendirinya dalam satu atau dua minggu.

Meskipun demikian, penting untuk mengetahui penyebab kondisi ini agar kamu bisa mengetahui penanganan yang tepat untuk mempercepat penyembuhan. Nah, berikut ini adalah beberapa cara mengatasi kondisi ini.

1. Menyikat gigi dengan lembut

Ketika mengalami sariawan di gusi, penting untuk selalu menjaga kebersihan gigi. Ini dilakukan untuk mencegah infeksi bakteri.

Penggunaan sikat gigi yang lembut dengan menyikat gigi secara berhati-hati dapat membantu untuk mencegah sariawan teriritasi. Menjaga kebersihan mulut yang baik dengan menjaga kebersihan gigi dan gusi sehingga mencegah timbulnya sariawan dari infeksi.

2. Hindari makanan pemicu

Agar dapat mempercepat proses penyembuhan, penting untuk menghindari makanan pemicu, ini termasuk makanan yang terlalu pedas, asam, atau asin. Di sisi lain, mengonsumsi susu atau yoghurt dapat membantu meredakan rasa sakit akibat sariawan.

Baca juga: Obat Sariawan Alami yang Bisa Diracik Sendiri di Rumah, Ampuh Lho!

3. Berkumur dengan air garam atau obat kumur

Berkumur dengan menggunakan air garam juga dapat mengurangi ketidaknyamanan akibat sariawan. Namun, yang perlu diingat adalah, berkumur dengan air garam sebaiknya tidak untuk menggantikan penggunaan obat kumur sebagai cara menjaga kebersihan mulut.

Selain itu, penggunaan obat kumur juga dapat membantu menangani kondisi ini. Sebaiknya, perhatikanlah kandungan yang terdapat di dalam obat kumur terlebih dahulu.

Akan lebih baik, jika kamu berkonsultasi terlebih dahulu mengenai obat kumur yang aman digunakan untuk menangani kondisi ini.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai sariawan di gusi. Jika sariawan berlangsung lebih lama atau tidak kunjung sembuh sebaiknya konsultasikan pada dokter, ya untuk mengetahui penyebab serta penanganan yang tepat.

Punya pertanyaan lain seputar kondisi ini? Silakan chat kami melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi, ya!

Reference

Kids Health (2017). Diakses pada 05 Januari 2021. Canker Sores 

Everyday Health (2018). Diakses pada 05 Januari 2021. What Causes Canker Sores, and How to Prevent Them 

Healthline (2018). Diakses pada 05 Januari 2021. Painful Sensation? Could Be a Canker Sore 

Mayo Clinic (2018). Diakses pada 05 Januari 2021. Canker sore

Medical News Today (2019). Diakses pada 05 Januari 2021. Nine ways to treat canker sores 

Volkov, Ilia, Inna Rudoy (2009). Effectiveness of Vitamin B12 in Treating Recurrent Aphthous Stomatitis: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. Journal of the American Board of Family Medicine (diakses pada 05 Januari 2021)

    register-docotr