Info Sehat

Plus Minus Vasektomi dan Tubektomi, Prosedur Medis untuk Cegah Kehamilan

November 8, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
no-image

Baik vasektomi dan tubektomi adalah cara yang dinilai efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan. Dua metode tersebut merupakan prosedur medis yang hanya bisa dilakukan di rumah sakit.

Meski efektif mencegah kehamilan, ada beberapa efek dari vasektomi dan tubektomi yang bisa dirasakan tubuh.

Bagaimana prosedur vasektomi dan tubektomi dilakukan? Serta, apa saja plus minus dari kedua metode tersebut? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Semakin Canggih, Ini Dia Proses Bayi Tabung Embryoscopy dan PGS yang Perlu Diketahui!

Perbedaan vasektomi dan tubektomi

Seperti yang telah disebutkan, baik vasektomi dan tubektomi adalah prosedur untuk mencegah terjadinya kehamilan. Bedanya, vasektomi dilakukan untuk pria, sedangkan tubektomi untuk wanita.

1. Prosedur vasektomi

vasektomi dan tubektomi
Prosedur vasektomi. Sumber foto: Wikimedia.

Mengutip dari Mayo Clinic, vasektomi adalah satu bentuk kontrasepsi permanen pada pria dengan memotong atau menutup tabung atau saluran yang berfungsi membawa sperma ke cairan semen.

Artinya, ketika seorang pria mengalami ejakulasi, cairan yang keluar dari penis hanya semen, bukan sperma.

Vasektomi dilakukan dengan prosedur bedah menggunakan anestesi (bius) lokal. Pasien masih bisa terjaga tanpa merasakan sakit apapun. Biasanya, prosedur ini membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit.

Sebelum menjalani vasektomi, pasien harus benar-benar yakin tidak ingin menjadi ayah. Sebab, metode ini bersifat permanen, sulit untuk dilakukan pembalikan vasektomi.

2. Prosedur tubektomi

Prosedur tubektomi. Sumber foto: www.momjunction.com

Dalam dunia medis, tubektomi juga disebut dengan tubal ligation. Metode ini dilakukan dengan prosedur bedah untuk memotong, mengikat, dan memblokir tuba fallopi.

Tubektomi mencegah sel telur dari ovarium berjalan melalui toba fallopi, serta menghalangi sperma untuk naik ke bagian tersebut. Dengan melakukan tubektomi, seorang wanita tidak perlu lagi menjalani program kontrasepsi lainnya.

Tubektomi bisa dilakukan kapan saja, termasuk setelah melahirkan. Sama seperti vasektomi, tubektomi tidak bisa dipulihkan. Artinya, kondisi ini akan berlangsung permanen. Meski begitu, tubektomi tidak akan mengganggu siklus menstruasi pada wanita.

Baca juga: Mampu Cegah Kehamilan Secara Permanen, Ini Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi Tubektomi

Plus minus vasektomi

Nilai plus utama yang bisa didapat dari vasektomi adalah mencegah kehamilan secara permanen. Sebab, vasektomi bisa menghadang sperma untuk keluar, yang tentunya menyebabkan tidak adanya proses pembuahan.

Dilansir dari Planned Parenthood, vasektomi mampu mencegah kehamilan hingga 99 persen. Artinya, seorang pria tak perlu lagi khawatir ketika sedang melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Tenang saja, meski tidak ada sperma, libido atau gairah seksual tidak akan menurun. Sebab, vasektomi tidak akan berdampak pada kadar hormon seks seperti testosteron.

Hanya saja, ada beberapa risiko yang dapat muncul dari metode kontrasepsi ini, di antaranya adalah:

  • Sakit atau sensasi tertekan dan tidak nyaman pada testis
  • Granuloma sperma (benjolan keras atau peradangan yang disebabkan oleh sperma yang bocor)
  • Spermatocele (kista di dalam tabung atau saluran yang berfungsi mengumpulkan sperma)
  • Hidrokel (kantung cairan di sekitar testis yang menyebabkan pembengkakan di skrotum)
  • Perdarahan dan penggumpalan (hematoma) di dalam skrotum
  • Muncul darah di cairan semen, terutama setelah prosedur bedah dilakukan

Plus minus tubektomi

Sama seperti vasektomi, manfaat utama dari tubektomi adalah mencegah terjadinya kehamilan. Sperma akan kesulitan atau bahkan tidak bisa mencapai tuba fallopi dan bertemu sel telur. Tak hanya itu, menurut WebMD, tubektomi juga dapat menurunkan risiko kanker ovarium.

Meski begitu, ada beberapa risiko yang dapat ditimbulkan dari prosedur ini, di antaranya adalah:

  • Kehamilan ektopik, jika prosedur tidak dilakukan dengan tepat. Janin bisa berkembang di saluran tuba, bukan di rahim.
  • Tidak mencegah penyakit menular seksual, sehingga penggunaan kondom tetap diperlukan untuk meminimalkan penularan.
  • Kerusakan usus, kandung kemih, dan pembuluh darah di sekitarnya.
  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah berkepanjangan.

Baca juga: Kehamilan Ektopik: Ketahui Penyebab, Gejala, hingga Penanganannya

Vasektomi atau tubektomi?

Pasangan suami istri tak harus melakukan vasektomi dan tubektomi secara bersamaan jika ingin mencegah kehamilan. Istri bisa melakukan tubektomi, atau suami yang memutuskan untuk vasektomi. Komunikasi adalah hal yang penting sebelum mengambil keputusan.

Namun, jika pasangan suami istri benar-benar telah berkomitmen bersama untuk tidak memiliki anak di masa mendatang, kedua prosedur tersebut bisa dilakukan. Sebab, jika masing-masing telah ‘memutus’ jalan sperma dan sel telur, maka pencegahan pembuahan akan lebih optimal.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang vasektomi dan tubektomi beserta plus minusnya yang perlu kamu tahu. Sebelum mengambil keputusan, pertimbangkan secara matang agar tak menyesal di kemudian hari, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 26 Oktober 2020, Vasectomy.
  2. Mayo Clinic, diakses 26 Oktober 2020, Tubal ligation.
  3. NHS UK, diakses 26 Oktober 2020, Vasectomy (male sterilisation).
  4. PlannedParenthood.org, diakses 26 Oktober 2020, What are the benefits of vasectomy?
  5. PlannedParenthood.org, diakses 26 Oktober 2020, What are the disadvantages of tubal ligation?
  6. WebMD, diakses 26 Oktober 2020, Pros and Cons of a Vasectomy.
  7. WebMD, diakses 26 Oktober 2020, The Pros and Cons of Getting Your Tubes Tied.

    Berita Terkait
    register-docotr