Kehamilan Ektopik: Ketahui Penyebab, Gejala, hingga Penanganannya

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Kehamilan adalah proses yang terjadi setelah sel telur berhasil dibuahi sperma, yang kemudian berkembang menjadi zigot dan embiro. Semua proses tersebut terjadi di dalam rahim. Namun, jika hal tersebut tidak terjadi, maka kondisi tersebut disebut sebagai kehamilan ektopik.

Kehamilan ini perlu mendapat perhatian serius, karena bisa membahayakan keselamatan janin. Lalu, apa yang bisa menyebabkan gangguan kehamilan ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: Semakin Canggih, Inilah Teknologi Bayi Tabung Embryoscopy dan PGS

Apa itu kehamilan ektopik?

Kehamilan di luar rahim. Sumber foto: www.stlukeshealth.org

Kehamilan ektopik adalah proses pembuahan sel telur oleh sperma di luar rahim. Proses tersebut biasanya berlangsung di tuba fallopi, bagian bawah perut, atau di mulut rahim (serviks) yang menghubungkan vagina dengan uterus.

Kondisi ini bukan sesuatu yang normal. Sehingga, dibutuhkan penanganan tepat agar pembuahan bisa tetap terjaga. Sel telur yang telah dibuahi akan sulit tumbuh dengan sempurna jika tidak berada di dalam rahim.

American International Medical University menjelaskan, trimester pertama adalah periode paling rentan untuk ibu dan janin jika mengalami kehamilan ini. Banyak kasus kematian janin atau keguguran terjadi pada usia satu hingga 12 minggu kehamilan.

Penyebab kehamilan ektopik

Mengutip Mayo Clinic, kehamilan ektopik atau yang juga disebut kehamilan tuba bisa terjadi karena banyak hal, yang paling umum adalah kerusakan struktur tuba fallopi oleh peradangan. Akibatnya, sel telur yang dibuahi tersangkut dalam perjalanannya menuju bagian dalam rahim.

Beberapa faktor yang juga bisa menyebabkan kehamilan ektopik di antaranya:

  • Riwayat kehamilan ektopik. Seseorang yang pernah mengalami gangguan kehamilan ini berisiko untuk mendapatkan kondisi yang serupa.
  • Infeksi menular seksual. Penyakit kelamin seperti klamidia dan gonore bisa memicu peradangan pada tuba fallopi.
  • Operasi tuba fallopi. Prosedur pembedahan pada saluran tuba dapat mengakibatkan perubahan struktur.
  • Perawatan kesuburan. Prosedur medis untuk meningkatkan kesuburan seperti in vitro fertilization dapat memengaruhi organ kewanitaan, termasuk bagian tuba fallopi.
  • Alat kontrasepsi. Penggunaan alat kontrasepsi yang keliru bisa merusak struktur saluran tuba pada wanita.

Baca juga: Ditakutkan Wanita, Pahami Gejala dan Penyebab Hamil di Luar Kandungan

Gejala kehamilan ektopik

Tanda-tanda dari kehamilan ini bisa terjadi sesaat setelah proses pembuahan berlangsung. Beberapa gejalanya hampir mirip dengan menstruasi, seperti:

1. Perdarahan di vagina

Perdarahan vagina adalah salah satu ciri kehamilan ektopik yang mudah dideteksi. Sebab, pada masa kehamilan, siklus menstruasi pada wanita akan berhenti. Oleh karena itu, jika terjadi perdarahan pada vagina saat hamil, kamu perlu mencurigainya.

Darah yang keluar dari vagina hampir mirip saat sedang menstruasi, yaitu berwarna merah gelap kecokelatan dan sedikit berair.

2. Nyeri di perut

Gejala lain dari kehamilan ektopik adalah sakit perut yang tidak biasa. Rasa nyeri akan muncul tiba-tiba atau secara bertahap pada satu sisi saja. Rasa sakit ini hampir mirip seperti nyeri haid atau dismenore.

Baca juga: Perut Sakit Saat Hamil? Bisa Jadi Tanda Bahaya Lho, Yuk Kenali Gejalanya

3. Nyeri di bahu

Saat mengalami gangguan kehamilan ini, kamu mungkin akan merasakan rasa sakit di area bahu. Mengutip NHS UK, kondisi ini disebabkan oleh perdarahan internal di dalam tubuh. Rasa nyeri tersebut biasanya muncul dari ujung bahu hingga lengan.

4. Nyeri saat buang air kecil

Kehamilan ektopik juga bisa menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil, terutama di area perut. Ini disebabkan oleh terganggunya saluran kemih yang bertugas mengalirkan urine. Meski, kondisi ini juga merupakan hal yang umum terjadi pada wanita yang sedang mengandung.

Diagnosis kehamilan ektopik

Biasanya, dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mengidentifikasi rasa nyeri yang muncul. Panggul merupakan area di mana tuba fallopi dan ovarium berada. Beberapa prosedur medis yang mungkin akan dilakukan meliputi:

  • Tes kehamilan, pemeriksaan ini biasanya dilakukan saat seseorang belum mengetahui adanya pembuahan sel telur.
  • Ultrasonografi, yaitu pemeriksaan menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar visual rahim, saluran tuba, dan indung telur.
  • Tes darah, digunakan untuk memeriksa kadar sel darah merah di dalam tubuh. Seseorang yang mengalami kehamilan ektopik akan sering mengalami perdarahan, sehingga kadar sel darah merah akan berkurang cukup banyak.

Penanganan kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik akan membuat embrio sulit untuk berkembang. Sehingga, perlu dilakukan penanganan sesegera mungkin untuk menyelamatkannya, yakni melalui prosedur:

1. Prosedur bedah

Prosedur bedah merupakan penanganan yang paling umum untuk mengatasi gangguan ektopik. Operasi ini bertujuan memperbaiki kerusakan struktur rahim, termasuk tuba fallopi. Dokter akan membuat sayatan kecil di sekitar perut untuk memulai prosedur ini.

2. Obat-obatan

Penanganan lain untuk kehamilan ektopik adalah dengan obat-obatan. Obat akan bekerja dengan mengurangi gejala yang muncul, misalnya perdarahan di vagina. Metotreksat adalah obat yang paling umum digunakan untuk mengatasi hal tersebut.

Baca juga: Perlu Diwaspadai! 6 Hal Ini Bisa Jadi Penyebab Wanita Sulit Hamil

Pencegahan kehamilan ektopik

Mengutip Healthline, belum ada cara yang efektif untuk mencegah kehamilan ini. Yang bisa dilakukan adalah menurunkan faktor risikonya, misalnya meminimalkan peradangan pada saluran tuba agar tidak mengalami kerusakan struktur.

Inflamasi di saluran tuba erat kaitannya dengan infeksi menular seksual. Sehingga, sangat penting untuk melakukan hubungan seks yang aman, salah satunya dengan menggunakan kondom.

Jika sedang menjalankan program menuju kehamilan, ada baiknya periksakan diri ke dokter terlebih dulu. Ini untuk memastikan tidak ada infeksi menular seksual pada dirimu dan pasangan yang bisa menyebabkan peradangan tuba fallopi.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang kehamilan ektopik yang perlu kamu tahu. Jika gejala-gejala di atas sudah muncul, segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat, ya!

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Akses layanannya 24/7 melalui aplikasi Grab Health sekarang juga. Kini, semua informasi kesehatan ada di genggamanmu!

  1. Mayo Clinic, diakses 26 Juli 2020, Ectopic pregnancy.
  2. Healthline, diakses 26 Juli 2020, Ectopic pregnancy.
  3. NHS UK, diakses 26 Juli 2020, Symptoms-Ectopic pregnancy.
  4. American Academy of Family Physicians,diakses 26 Juli 2020, Ectopic Pregnancy.
  5. American International Medical University, diakses 26 Juli 2020, Ectopic pregnancy : Diagnosis, Complications and Managment.
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin